Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Pulang ke rumah Rachel


__ADS_3

Kini Will sudah ada di rumah Rachel. Aisyah mengajak Will untuk masuk ke dalam kamarnya. Kini kamar Aisyah adalah kamar Will juga. Will tercengan melihat kamar Aisyah. Walaupun dirinya sangatlah kaya tapi ia yakin bahwa Rachel jauh lebih kaya ketimbang dirinya dan juga ayahnya.



"Ini kamarku. Maaf ya kecil soalnya aku gak terlalu suka yang besar. Tapi coba kamu buka pintu itu." Ucap Aisyah. Will pun menurut. Ia membuka pintu yang di tunjuk oleh Aisyah.


"Loh kog ada kamar lagi?" tanya Will.



"Iya. Kata Kak Rachel kalau aku bosan tidur di sini. Aku bisa pindah ke kamar tidurku yang satunya. Sebenarnya ini satu kamar tidur hanya saja di belah jadi dua. Cuma terhalang pintu aja. Hehe." Ujar Aisyah.


"Terus kamar kakakmu ada di mana?" tanya Will.


"Ayo kita liat kamar kakakku. Kakakku  ada di kamar utama lantai tiga. Ayo naik lift." Ucap Aisyah. Will upun hanya menurut.


Lift adalah angkutan transportasi vertikal yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang. Lift umumnya digunakan di gedung-gedung bertingkat tinggi; biasanya lebih dari tiga atau empat lantai. Gedung-gedung yang lebih rendah biasanya hanya mempunyai tangga atau eskalator.


Ketika udah sampai di  kamar Rahcel. Aisyah pun membuka pintunya.


"Ini kamar Kak Rachel." Ucap Aisyah.

__ADS_1



"Nanti kita akan mengelilingi rumah ini tapi sekarang kita ke kamar kita dulu  yuk. Yang penting sekarang kamu tau di mana kamar kakakku." Ujar Aisyah. Will hanya tersenyum lalu mengangguk. Semua pelayan yang ada di sana hanya diam. Mereka menunduk, mereka hanya akan mengeluarkan suara jika majikannya bertanya. Jika tidak, maka Rahcel melarang mereka untuk mengeluarkan suara ataupun membuat suara yang bikin telinga jadi bising.


"Kakakmu biasanya pulang jam berapa?"  tanya Will setelah mereka ada di kamar Aisyah. Ups di kamar Aisyah dan Will.


"Gak nentu mas. Biasanya jam lima sore tapi kdan jam 7 malam bahkan pernah sampai jam 8 malam." Jawab Aisyah. Wil hanya menganggukkan kepala pertandan ia faham dan mengerti. Setelah itu, mereka pun mandi bareng lalu tidur bersama.


Setelah bangun tidur, mereka turun ke bawah untuk makan. Untunglah semua makanan sudah tersaji di atas meja.


Aisyah dan Will makan saling menyuapi satu sama lain.


Rachel duduk di kursi kosong di depan mereka.


"Jam berapa kalian datang?" tanya Rachel tegas.


"Jam 3 sore ka." Jawab Aisyah tersenyum.


"Sudah makan?" tanya Rachel.


"Sudah kak."

__ADS_1


"Sip, jangan sampai telat makan. Nanti kamu sakit lagi. Oh ya Will mau menginap di sini kan nanti malam?" tanya Rachel sambil melihat adik iparnya.


"Iya ka." Jawab Will.


"Baguslah. Kalian tinggal di sini selamanya juga gak papa. Aku malah senang dan bahagia bisa kumpul dengan adik dan adik ipar." Ucap Rachel.


"Hemm pengennya sih gitu tapi ayah sudah membelikan aku rumah pas pernikahan kami. Kalau kakak kangen, kakak bisa tidur di ruman kami nanti. Atau kami yang akan ke sini untuk menginap di sini pas liburan." Jawab Wil. Will sangat bahagia karena ternyata kakak iparnya sangat baik dan menerima kehadirannya.


"Maafkan aku karena aku sudah membawa istrimu dengan waktu yang sangat lama." Ujar Rachel.


"Gak papa ka. Aku tau kakak melakukan itu karena kakak memikirkan kondisi dan kesehatan istriku." Ucap Will tersenyum.


"Kamu sangat beruntung Ai. Mendapatkan suami yang begitu sabar dan tidak memikirkan ego nya sendiri." Puji Rachel.


"Bukan Aisyah yang beruntung ka. Tapi aku, aku yang beruntung mendapatkan istri seperti Aisyah." Ucap Will sambil memeluk istrinya.


"Baiklah kalau gitu aku ke kamar dulu ya, mau mandi gerah." Ucap Rachel.


"Iya." Jawab Aisyah dan Will bersamaan.


Rachel sangat bahagia melihat adeknya yang sangat senang dan ceria apalagi melihat keromantisan mereka benar benar membuat Rachel senang. Ia tak lagi hawatir memikirkan nasib adiknya karena sudah ada suaminya yang akan terus melindunginya di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2