
Malam harinya sesuai janjinya, Pram mengajak kedua adik kembarnya itu ke jalan jalan ke Mall.
"Ani, kamu mau beli apa?" tanya Ana yang dari tadi hanya keliling keliling tanpa tau apa yang mau di beli.
"Entahlah, aku bingung." Jawab Ani.
"Aku juga bingung nih mau beli apa. Beli baju, di rumah banyak, beli jam tangan, di rumah juga banyak, belli hp. Hp ku masih bagus, belum rusak. Beli tas, aku sudah punya banyak di kamar. Beli apa ya enaknya?" tanya Ana.
"Kita makan aja kalau gitu." Ucap Pram
"Bener tu apa kata Kak Pram. Kita makan aja, kita kan juga belum makan malam nih." Ucap Ana.
"Iya udah ayo." Ujar Ani sambil menggandeng tangan Ana.
Sesampai di resto, mereka pun memesan banyak makanan.
"Ini siapa yang mau ngabisin? Kenapa harus mesan makanan sebanyak ini?" tanya Pram kaget melihat meja yang begitu penuh.
"Tenang aja, ini pasti habis kog." Ucap Ana tersenyum. Pram hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang satu ini.
Pram, Ani dan Ana pun makan dengan begitu lahapnya. Bahkan ketika Ana dan Pram sudah selesai makan, Ani masih aja terus mengisi perutnya dengan berbagai macam makanan hingga ludes tak tersisa.
"Aku gak nyangka, badanmu kecil tapi makannya sampek segunung gitu." Ucap Pram.
"Gak papalah walau aku makan banyak. Toh ini lho restoran milik bunda. Jadi kita gak perlu bayar." Ucap Ani tersenyum.
"Lama lama bunda akan bangkrut jika kamu makan di resto terus." Sindir Pram.
"Bunda gak akan bangkrut hanya karena aku makan banyak. Bahkan harta bunda dan ayah gak akan habis 7 turunan apalagi di tambah harta Oppa dan Omma dan juga punya kakek dan nenek. 10 turunan pun tak akan habis." Ucap Ani tersenyum.
"Kamu tuh ya............." Ujar Pram gemas sambil mencubit pipi sang adik.
"Aw...sakit tau gak." Ucap Ani kesal. Setelah mereka mau pulang, tiba tiba mereka bertemu dengan Ila dan Ica.
"Loh Kak Ila, Kak Ica. Kalian di sini juga ternyata?" tanya Ana.
"Iya, aku baru aja selesai belanja." Jawab Ila sambil menunjukkan barang yang baru ia beli.
"Hemmm gitu terus kalian mau kemana skarang?" tanya Ani.
"Aku mau beli sepatu." Jawab Ila.
"Oh sepatu ya. Aku juga mau beli sepatu deh." Ucap Ani yang suka ikut ikutan.
"Iya udah kalau gitu ayo bareng." Ujar Ica.
Mereka pun pergi ke toko yang jualan berbagai macam sepatu dari yang sepatu biasa sampai yang bermerk. Sedangkan Pram hanya mengikutinya dari belakang.
Ila, Ani dan Ana sibuk memilih sepatu sedangkan Ica hanya memperhatikan mereka bertiga. Ica males sebenarnya cari sepatu soalnya di rumah ia sudah mempunya belasan sepatu tapi karena saudara kembarnya yang suka ngoleksi berbagai macam barang, mau gak mau Ica pun harus menurutinya karena bagaimanapun jika Ila sudah beli maka mau gak mau Ica juga harus beli agar pas di pakai mereka selalu memakai penampilan yang sama dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ica sebenarnya gak terlalu peduli dengan barang barang yang gak penting tapi ia gak mau mengecewakan saudara kembarnya itu. Makanya dengan amat sangat terpaksa ia harus mengikuti kemauan Ila. Dan kini ia hanya berdiri memantau saudara kembarnya itu, toh jika ia yang memilih pasti gak akan cocok di mata Ila jadi buat apa ia milih. Mending diam dan menunggu Ila selesai memilih. Toh Ila pasti akan mengambil dua barang untuk dirinya dan juga untuknya.
"Kamu gak mau milih sepatu?" tanya Pram yang ada di dekat Ica.
"Males." Jawab Ica cuek.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Pram.
__ADS_1
"Sudah barusan." Jawab Ica dengan nada dingin.
"Kenapa kamu selalu aja cuek padahal dulu kamu gak kayak gini ke aku?" tanya Pram sambil melihat wajah Ica.
"Bukankah Mas Pram dulu yang cuek sama aku. Mas ninggalin aku ke luar negeri dan gak pernah ngasih kabar ke aku." Ucap Ica kesal.
"Maafkan aku Ica. Aku kulyah ke luar negeri karena di suruh oleh ayah dan bunda. Dan aku gak bisa menolaknya. Dan kenapa aku gak memberimu kabar, itu karena aku gak mau ganggu kamu belajar. Lagian aku di sana juga jarang megang hp, hari hariku hanya di sibukkan dengan belajar belajar dn belajar agar cepat lulus." Ucap Pram memberitahu.
"Alasan aja. Bilang aja kalau Mas Pram lupa sama aku dan gak mikirin gimana perasaan aku. Iya kan? Aku kecewa mas sama kamu." Ucap Ica dengan nada sedih.
"Maafkan aku Ica. Aku gak tau kalau kamu akan sesedih ini. Maafkan aku. Aku tau aku salah tapi aku akan coba untuk memperbaiki semuanya." Ujar Pram memohon.
"Sudahlah mas. Aku sudah maafin kamu dan mas gak perlu memperbaiki semuanya karena sesuatu yang sudah hancur dan retak. Tak akan bisa kembali lagi seperti semula. Jikapun kembali lagi pasti hasilnya tak akan sempurna." Jawab Ica.Lalu ia pun pergi meninggalkan Pram dan menghampiri Ila yang sudah terlihat memegang dua sepatu.
"Gimana sudah nemu?" tanya Ica.
"Sudah. Menurutmu ini bagus gak?" tanya Ila sambil memperlihatkan sepatu yang ia pilih.
"Bagus kog. Aku suka." Jawb Ica.
"Iya sudah kalau gitu kita langsung bayar aja ya." Ujar Ila dan Ica hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Ani, Ana. Kalian sudah nemu sepatu yang kalian suka belum? Soalnya aku udah nemu nih." Ucap Ila.
"Iya ka, aku juga udah kog." Jawab Ani sambil menghampiri Ila dan memperlihatkan sepatu yang ia pilih bersama dengan Ana.
"Iya udah ayo ke kasir." ujar Ica yang ingin cepet cepet segera pulang.
Sesampai di kasir, saat Ica ingin membayar belajaan saudara kembarnya. Pram dengan gesitnya langsung memberikan kartu kepada mbak kasir.
Setelah selesai belanja, Ica dan Ila langsung pulang naik mobil. Sejak Ila dan Ica lulus SMA, mereka sudah di izinkan untuk bawa mobil sendiri.
Sedangkan Ani dan Ana pulang bersama kakaknya.
"Ka, kog diam aja sih?" tanya Ani karena sepanjang jalan Pram memilih bungkam dan gak mau mengeluarkan suara.
"Kakak capek, dek." Jawab Pram murung.
"Hemmm kalau capek kenapa kakak masih ngajak jalan aku dan juga Ana jalan jalan?" tanya Ani.
"Karena kakak tadi sudah gak jemput kalian pas pulang kuliah. .Jadi kakak ingin menebus kesalahan kakak." jawab Pram.
Dan setelah itu mereka pun diam membisu hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Ani dan Ana segera keluar dari mobil sedangkan Pram memarkirkan mobilnya di garasi.
"Assalamu'alaikum." Ucap Ani dan Ana bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Cinta yang lagi duduk bersama dengan Taufiq dan kedua putranya yaitu Will dan juga Jay.
"Wah.......beli apa sayang?" tanya Cinta
"Beli sepatu bun." Jawab Ani sambil duduk di samping sang bunda sedangkan Ana duduk di samping sang ayah.
"Sini bunda mau lihat seperti apa sepatunya." Ucap Cinta, Ani pun langsung mengambil sepatu itu dan memberikannya kepada sang bunda.
"Sepatunya sangat bagus. Berapa ini sayang?" tanya Cinta.
__ADS_1
"2.100.000 bun." Jawab Ana.
"Wah mahal juga ya?" tanya Cinta.
"Iya dong bun, kan sepatunya bagus dan bermerk." Jawab Ani tersenyum.
"Kak Pram mana?"tanya Taufiq.
"Itu masih naruh mobilnya di garasi." Jawab Ana.
"Oh ya Kak Jay besok jadi kan nganterin aku sama Ani ke kampus?" tanya Ana.
"Jadi." Jawab Jay yang sibuk dngan hp nya.
"Emang besok kamu mau nganterin mereka Jay?" tanya Will kepada Jay.
"Iya." Jawabi Jay singkat.
"Tumben?" tanya Will.
"Besok aku gak ada kerjaan dan cuma meeting jam satu siang. Jadi aku bisa berangkat siang." Jawab Jay singkat, jelas dan padat.
"Enak kamu ya. Sedangkan aku harus masuk jam 7 pagi pulang jam 5 sore. Kadang tengah malam pun lagi enak enaknya tidur, di suruh pergi ke rumah sakit untuk oprasi. Dan hampir tiap hari selalu aja ada orang yang mau di oprasi. Padahal aku yang punya rumah sakit tapi kadang aku harus turun tangan walaupun banyak dokter spesialis di sana. Kalau aku pulang jam 2 siang, pasti ayah akan nyuruh aku ke kantornya untuk bantuin ayah ngurusin berkas berkas yang numpuk di atas meja hadeeeeeeeeeh pusing." Ucap Will yang membuat semua orang tertawa mendengar keluhannya
"Salahmu sendiri kenapa dulu kulyah ambil jurusan dokter spesialis jantung. Pusing sendirikan? orang lagi enak enaknya tidur, eh kamu malah sibuk mengoprasi orang. Hahaha." Jay tertawa melihat saudara kembarnya yang kadang jarang tidur malam.
"Ayah juga minta bantuan kamu kan karena ayah ini sudah tua sedangkan Pram dan Jay sudah megang perusahaan sendiri sendiri. Jadi kalau kamu lagi santai, ayah hubungin kamu aja untuk menggantikan posisi ayah untuk menyelesaikan semua tugas ayah. Emang kamu tega sama ayah yang udah tua ini harus ngurusin berkas seebanyak itu apalagi jika harus pergi keluar kota n keluar negeri. Ayah sekarang gak sekuat dulu, sekarang ayah gampang capek." Ucap Taufiq berbohong padahal tubuhnya masih segar bugar bahkan wajahnya masih kelihatan seperti orang yang umurnya 35 tahun. Taufiq meminta bantuan Will karena ia ingin terus berduaan dengan sang istri di rumah hehe.
"Tapi kan ayah tau aku kadang capek ingin istirahat." Jawab Will yang gak mau kalah.
"Kamu kan bisa istirahat setelah selesai oprasi. Mengoprasi orang kan gak 24 jam. Kamu juga punya teman teman yang bisa di handalkan." Ujar Taufiq.
"Ah ayah mah gitu. Gak ngerti perasaanku." Ucap Will pura pura marah.
"Sudahlah. Kamu terima nasib aja. Nanti kalau Ani sudah umur 17 tahun, baru lah perusahaan itu akan di pegang oleh Ani seutuhnya jadi kamu gak perlu ke kantor lagi bantuin ayah." Ucap Taufiq.
"Tapi kan masih 4 tahun lagi." Ucap Will kesal.
"Nanti biar pulang kulyah, aku akan ke kantor ayah buat bantuin Kak Will." Ucap Ani. Walaupun Ani baru 13 tahun tapi ia sangat faham tentang sebuah bisnis.
"Benarkah?" tanya Will senang.
"Iya." Jawab Ani tersenyum.
"Ana juga akan bantuin bunda membantu mengembangkan restoran punya bunda." Ucap Ana.
"Ah anak anakku emang pada pintar dan bisa di handalkan semua." Ucap Cinta senang samabil memeluk Ani dan Ana.
Tak lama kemudian Pram datang melewati mereka dan langsung masuk kamar tanpa menya kedua orang tuanya dan juga saudara saudaranya.
"Kakakmu kenapa?" tanya Taufiq.
"Entahlah sejak dari Mall, wajahnya murung terus." Jawab Ani yang juga bingung kenapa kakakknya berubah drastis. Padahal pas makan malam tadi di resto, wajahnya masih baik baik aja. Tapi setelash beli sepatu, Ani melihat wajah kakaknya sudah berubah menjadi menyeramkan. Kusut dan menakutkan.
"Coba Jay dan Wil samperin Pram dan tanyakan ada apa." Ucap Taufiq. Jay dan Will pun langsung pergi ke kamar Pram dan menanyakan ada masalah apa. Sedangkan Ani dan Ana tetep ada di ruang keluarga bersama ayah dan bundannya.
__ADS_1