
Setelah menempuh perjalana beberapa jam akhirnya merekapun tiba di kebun binatang yang paling terkenal di Bogor. Yaitu Taman Safari Indonesia. Lokasi Taman Safari Indonesia I berada di Cisarua, Bogor. Kebun binatang ini memiliki fasilitas yang lengkap dan menarik. Berbagai fasilitas seperti Bus Safari, kereta mini, kolam berenang, danau buatan beserta sepeda air dan kano. Hewan-hewannya dapat dilihat dengan menaiki bus safari.
Taman Safari Indonesia adalah tempat wisata keluarga berwawasan lingkungan yang berorientasi pada habitat satwa di alam bebas. Taman Safari Indonesia terletak di Desa Cibeureum Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat atau yang lebih dikenal dengan kawasan Puncak.
Sesampai di Taman Safari, Alina seperti terlihat antusias. Alina menunjuk ini dan itu saat ia melihat berbagai macam binatang dan hewan. Binatang adalah kata yang merujuk pada makhluk liar yang hidup di alam bebas atau tidak terpelihara, seperti misalnya singa, badak, macan, dan lain sebagainya. Jika merujuk pada penggunaan kata tersebut di atas, hewan seperti kucing dan anjing dapat digolongkan sebagai hewan juga sekaligus binatang.
Setelah puas jalan jalan, Jay dan Ila pun berhenti dan memesan makan di warung yang ada di Taman Safari. Jay memesan nasi pecel sedangkan Ila memesan mie ayam. Alina sendiri ia belikan biskuit.
Saat menikmati makanannya, tiba tiba seseorang datang.
"Eh, Pak Jay. Ada di sini juga?" tanya seorang wanita yang sok akrab.
"Hemm iya. Ibu Mira juga di sini?" tanya Jay sambil takut karena Ila menatapnya dengan sangat intens.
"Iya, ini anak saya minta ke kesini." jawab Mira sok akrab.
"Hemm gitu, oh ya perkenalkan ini istri dan anak saya." ujar Jay berusaha mencairkan suasana.
"Hallo ibu, saya Mira asisten Pak Jay di Kantor." ucap Mira sok imut yang membuat Ila seperti mau muntah saja.
"Saya Ila, istri Adi Wijaya dan ini putri saya namanya Alina." jawab Ila pura pura tersenyum manis walau hatinya seperti terbakar.
"Bolehkah saya duduk disini, soalnya di tempat lain sudah penuh hanya ada ada dua kursi ini yang kosong?" tanya Mira seperti tak faham dengan perasaan Ila.
"I..Iya boleh." jawab Jay, karena ia tak mungkin bilang gak, nanti apa kata dunia. Tapi di satu sisi, ia juga takut kena semprot oleh istrinya jika nanti sudah pulang ke rumah.
"Bapak pesen nasi pecel ya, saya itu dari dulu paling suka nasi pecel karena nasi pecel itu adalah makanan favorite saya." ucap Mira nyerocos panjang lebar yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Jay.
Mira pun memesan makanan yang sama dengan yang di pesan oleh Jay.
Setelah makanan datang, Mira makan sambil terus berusaha mengajak Jay berbicara.
"Oh ya mas, mas kalau di luar gini terlihat lebih wow ya, wajahnya juga terlihat normal beda dengan di kantor, yang selalu terlihat serius bahkan wajahnya selalu datar dan jarang senyum." ujar Mira yang membuat Ila cemburu besar.
"Tapi aku suka dengan semua ekspresi yang mas tampakkan. Maaf ya, saya dari tadi manggil mas, soalnya ini kan di luar kantor dan saya lihat kita juga seumuran. Gak papakan jika berbicara bebas kayak gini?" tanya Mira yang tak dapat jawaban dari Jay sama sekali. Jay hanya menikmati nasi pecelnya karenaa ia ingin segera buru buru pergi. Kalau langsung pergi gitu aja, eman nasinya. Jika gak di makan, nanti malah terbuang sia sia.
"Oh ya kemaren aku sempat chat mas lewat aplikasi WhatsAppa, tapi gak di bales bales, kenapa mas? sibuk ya?" tanya Mira yang seperti sudah hilang urat kemaluannya hingga ia masih saja bisa ngomong panjang lebar padahal ucapannya tak ada yang di respon.
Memang benar, kemaren sempat ada pesan masuk dari nomor yang tak di kenal. Tapi Jay cuekin gitu aja, toh kalau memang penting pasti langsung di telvon. Apalagi waktu itu chat itu masuk saat Jay baru aja pulang kerja dan menikmati hari harinya bersama anak istri. Dan untunglah gak ia bales, jika di bales bisa tambah runyam urusannya. Ila pun hanya menatap Jay, seakan akan bertanya, kenapa suaminya gak ngasih tau dirinya jika ada nomer baru masuk.
Tapi Jay hanya memberikan senyuman manisnya kepada Ila agar istrinya itu tak terus menatap dirinya yang seakan akan ingin membunuhnya saja. Namun senyuman itu malah terlihat oleh Mira yang membuat Mira merah merona padahal Jay tersenyum kepada istrinay tapi malah Mira yang baper.
"Mas, kalau senyum gitu tambah manis. Tampannya jadi nambah berkali kali lipat." ujar Mira tersenyum malu. Sedangkan putranya hanya diam saja mendengarkan. Mungkin ia tak tau apa yang sedang di bicarakan oleh ibunya mengingat usia anaknya masih sekitar umur 3 tahun.
"Mbak, mbak punya perasaan?" tanya Ila yang sudah hilang kesabarannya.
"Maksud mbak apa ya?" taya balek Mira tak mengerti.
"Mbak ini adalah bawahan suami saya, istilahnya mbak itu adalah budak dan suami saya adalah tuannya. Pantaskah seorang budak berbicara seperti itu kepada tuannya sedangkan permaisurinya ada di sampingnya? Pantaskah seorang wanita memuji laki laki yang berstatus laki orang terlebih istrinya ada di dekatnya? Apakah mbak sudah gak punya rasa malu? Aku benar bener tak habis fikir bagaimana perusahaan bisa memasukkan mbak mengingat perusahaan yang di pinpin suamiku sangatlah ketat.
Dari tadi saya berusaha untuk sabar tapi mbak terus berbicara padahal dari tadi suami saya tidak merespon seharusnya mbak sadar diri kenapa dari tadi suami saya memilih untuk diam? Atau mbak seorang janda yang kesempian yang butuh perhatian dari laki laki lain?" tanya Ila dengan sinisnya.
"Eh, mbak kog jadi marah marah gini sih. Saya kan cuma berbicara aja, gak ngapa ngapain?" ucap Mira yang merasa dirinya benar.
"Pertama, Anda sudah menganggu liburan saya dan suami saya. Hingga saya merasa gak nyaman.
Kedua, Dan Anda dari tadi tidak berhenti berbicara hingga membuat saya muak.
Ketiga, Anda dari tadi berusaha mencuri pandan suami saya, jangan di kira saya tidak memperhatikan Anda.
__ADS_1
Keempat, Anda bahkan memanggil suami saya dengan sebutan mas, padahal Anda hanya bawahan suami saya, hanya seorang budak yang butuh pekerjaaan. Bahkan Anda tidak setara dengan suami saya.
Kelima, Anda berusaha mendapatkan perhatian dari suami saya.
Kelima, Anda memuji suami saya di depan istrinya tanpa memikirkan bagaimana perasaan saya dari tadi.
Keenam, Anda tidak menghormati saya sebagai istri dari atasan Anda.
Ketujuh, Anda dari tadi sok cantik, sok imut hingga membuat saya jijik dan muak.
Kedelapan, Jika Anda ada di posisi saya bagaimana perasaan Anda? Mikir gak kesana. Bukankah kita sama sama perempuan, seharusnya Anda tau bagaimana sakit saya hari ini.
Kesembilan, Anda itu wanita rendahan yang mencoba untuk mempermalukan diri Anda sendiri di depan saya dan suami saya bahkan di depan anak Anda sendiri.
Dan yang terakhir, Anda di pecat. Mulai besok Anda tak perlu lagi datang ke kantor, dan saya pastikan Anda tidak akan bisa memasuki area kantor itu atau perusahaan suami yang manapun.
Ayo, mas." ujar Ila yang menarik tangan suaminya, dan satunya lagi gendong sang putri. Sebelum pergi, Ila membayar makanannya terlebih dahulu.
"Jangand di tarik tarik gini yank, sakit." ujar Jay yang merasa kesakitan karena istrinay mencengkram tangannya secara tidak sadar.
"Eh, maaf, habis aku kesel sih sama cewek itu. Gak punya rasa malu. Lain kali kalau cari sekertaris itu cowok, bukan cewek kecentilan kayak dia." ucap Ila yang masih emosi.
"Maaf, sebenarnya dia itu baru satu bulan kerja jadi asisten aku yank. Karena asisten yang lama memundurkan diri karena ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kampungnya. Aku juga waku itu sangat terdesak banyak berkas yang harus aku tangani, jadi pas ada yang melamar pekerjaan jadi sekertaris, langsung aku terima aja. Maaf ya." ucap Jay merasa bersalah.
"Tapi kenapa mas diam aja dari tadi saat dia muji muji mas di depan aku?" tanya Ila
"Karena aku tau dan percaya, kamu gak akan tinggal diam jika ada seorang wanita merayu suami tampannmu ini secara terang terangan. Makanya aku membiarkan kamu yang bertindak dan aku memililh diam dan jadi penontonnya saja." jawab Jay tersempun tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Aih mas mah, padahal tadinya aku pengen mas yang buka suara tapi di tunggu tunggu cuma diam saja hingga aku gak bisa nahan emosiku." ucap Ila cemberut.
"Maaf ya, iya sudah kita ke sana lagi biar aku bela kamu dan maki maki dia, mau?" tanya Jay pura pura.
"Enggak usah deh, lagian aku tadi sudah puas memaki maki dia dengan kata kasar dan sangat menyakitkan, habisnya dia sih, kayak orang gak punya etika dan rasa malu." ucap Ila yang masih tersorot emosi.
"Langsung pulang aja deh, aku sudah gak mood mau liburan lagi." ucap Ila yang masih saja terlihat sangat kesal.
"Jangan gitu dong, mumpung ini hari Minggu, besok kita sudah gak bisa jalan jalan lagi dan nunggu hari Minggu, biar bisa jalan jalan." ujar Jay.
"Tapi aku beneran sudah gak mood buat jalan jalan. Mending di rumah aja, gak ada gangguan." ucap Ila bersikeras dengan apa yang ia ucapkan.
"Baiklah, kita pulang sekarang." ujar Jay yang tak mau jika istrinya tambah marah.
\===================
Sedangkan Mira, ia menangis saat dirinya di pecat secara tidak hormat hanya karena ucapannya yang tak ia jaga. Mira benar benar menyesal, padahal tadinya ia hanya ingin bergurau aja tapi ternyata gurauannya malah membuat dirinya kehilangan pekerjaan yang mana semua orang menginginkannya apalagi dengan gaji yang sangat besar, dua kali lipat saat ia bekerja di tempat orang lain.
"Mama, kenapa menangis? Apakah orang tadi nyakitin mama?" tanya putranya itu yang terlihat sedih melihat mamanya menitikkan air mata.
"Mama gak nangis sayang, mata mama perih karena kemasukan debu. Oh ya kita pulang yuk." ajak Mira.
"Tapi ma, aku masih belum puas main di sini." ucap putranya itu.
"Belum puas ya, iya sudah kita main lagi yuk." ujar Mira yang tak ingin mengecewkan putranya itu.
Mira membayar nasi pecel yang ia pesan, bahkan nasinya pun belum ia habiskan karena sudah tak mood lagi setelah mendengarkan ucapan istri dari atasannya itu. Ah salah, lebih tepatnya lagi, istri dari mantan atasannya karena ia sudah di pecat secara tidak hormat. Mira ingin rasanya minta maaf, tapi ia sangat malu dan ia sadar dengan apa yang ia lakukan barusan dan itu memang sudah kelewat batas.
"Ah, kenapa aku begitu bodoh banget sih." gumam Mira kesal, ia sangat kesal dengan dirinya sendiri. Kesal dengan kebodohannya.
Mira adalah seorang janda beranak satu. Suaminya menceraikannya karena ia memilih selingkuhannya. Awalnya Mira gak tau kalau suaminya itu selingkuh, Mira awalnya hanya merasa aneh saja, karena uang bulanan yang di berikan selalu aja kurang tiap bulannya. Dan suaminya itu seringkali nelvon tengah malam bahkan ia juga sering chatan dan senyam senyum sendiri hingga melupakan Mira dan juga putranya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Mira cari tau sendiri dan ternyata suaminya itu selingkuh dengan sahabatnya. Jujur Mira gak terima akhirnya Mira datang ke rumah sahabatnya yang kebetulan saat itu suaminya ada di rumah sahabatnya dan sedang melakukan hubungan badan. Mira sempat maki maki mereka berdua karena mereka telah melakukan perzinahan bahkan Mira juga sangat kecewa dengan suami dan juga sahabatnya yang terga mempermainkan perasaannya dan berkhianat. Padahal selama ini Mira sangat menyayangi dan mencintai suaminya bahkan ia sangat mempercayai apa yang di ucapkan oleh suaminya tapi inikah balasannya. Bahkan Mira juga gak nyangka sahabatnya itu tega menusuknya dari belakang padahal selama ini sahabatnyalah yang selalu menjadi tempat ia mencurahkan isi hatinya.
Saat Mira menghina sahabatnya habis habisan, sahabatnya hanya bisa diam dan setelah itu suaminya berkata bahwa mereka tidak berzina karena mereka berdua sudah nikah sirri selama 5 bulan dan itu seperti petir di siang bolong. Mira benar benar tak menyangka suaminya tega menikahi sahabatnya tanpa sepengetahuan dirinya.
Mira benar benar sangat frustasi dan akhirnya ia pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa putranya yang saat itu masih berusia satu tahun. Mira juga meminta bantuan pamannya, adi kandung ayahnya untuk mempercepat perceraiannya. Awalnya suaminya menolak tak mau bercerai tapi Mira yang sudah terlanjur sakit hati, tak bisa memaafkan suami dan sahabatnya bahkan Mira sangat jijit setiap bertemu dengan sahabat dan mantan suaminya itu karena setelah ia meminta bantuan pamannya hanya dalam waktu kurang lebh satu bulan, Mira sudah resmi bercerai dengan suaminya.
Dan setelah itu, Mira merantau dengan membawa putranya ke Jakarta. Bahkan kedua orang tuanya juga ikut dirinya ke Jakarta. Sesampai di Jakarta, Mira sulit mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya ia memilih menjadi asisten rumah tangga sambil terus mengirim surat lamaran pekerjaan. Setelah 4 bulan bekerja jadi asister rumah tangga, Mira di terima menjadi admin di salah satu toko. Mira pun memutuskan untuk berhenti kerja jadi ART dan bekerja jadi admin tapi tak hanya sebentar karena dirinya di fitnah mencuri uang temannya padahal gak dan Mira juga gak tau kenapa uang temannya itu ada di dalam tasnya.
Dan saat itu juga Mira di pecat. Mira sempat pengangguran beberapa bulan dan akhirnya ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan sebagai asisten namun tak lama kemudian, ia lagi lagi di pecat hanya karena ia seringkalli melakukan kesalahan dan terakhir kalli ia bekerja di perusahaan Jay, tapi baru satu bulan. Ia sudah di pecat untuk yang kesekian kalinya.
Dan sekarang, Mira benar benar bingung, kemana lagi ia harus mencari pekerjaan padahal sebenarnya ia sangat betah kerja di perusahaan Jay tapi karena dirinya yang kecentilan dan gak bisa jaga sikap akhirnya ia pun harus rela kehilangan pekerjaannya.
Entah apa yang akan ia bilang kepada kedua orang tuanya itu, ia tak mungkin bilang kalau dirinya di pecat lagi. Padahal Mira butuh banyak uang buat bayar kontrakannya yang 6 juta pertahun dan dua bulan lagi masa kontrakannya sudah habis dan Mira gak bisa memperpanjang masa kontrakannya jika dirinya tak ada uang. Mira juga butuh uang buat terus bertahan di kota yang sangat keras ini, ia bukan hanya menghidupi dirinya sendiri tapi juga ada anak dan kedua orang tuanya yang sangat bergantung pada dirinya.
Ah, andai waktu bisa berputar kembali. Mira tak ingin di pertemukan dengan bosnya itu atau ia akan pura pura tak kenal dan menjauhinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan ia hanya bisa meratapi nasibnya saat ini.
\=========================
Sedangkan di dalam mobil sepanjang jalan, Ila memilih untuk bungkam dan tak berbicara sepatah katapun. Sedangkan Alina sudah tertidur pulas setelah minum Asi. Jay sendiri fokus menyetir dan sesekali melihat ke arah istrinya yang dari tadi diam seribu bahasa.
"Yank, jangan diem terus dong?" ujar Jay yang gak enak rasanya jika di perjalanan hanya saling diam seperti ini.
"Yank, aku janji lain kali aku akan berhati hati lagi dan tak akan menerima asisten perempuan. Aku juga akan bela kamu jika ada wanita yang memujiku, aku akan bentak dia di hadapan kamu agar kamu puas." ucap Jay yang berusaha merayu istrinya.
"Yank, ngomong dong, jangan bikin aku jadi stres kayak gini." ucap Jay yang mulai frustasi.
"Yank?" panggil Jay dengan suara melasnya hingga membuat Ila jadi gak tega.
"Aku maafin, tapi janji lain kali kamu harus bisa bersikap tegas." ucap Ila tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Iya aku janji, senyum dog. " ucap Jay lega karena sudah mendapatkan kata maaf dari istrinya.
"Hehe." Ila tersenyum dengan sangat terpaksa.
"Aih senyumnya gak ikhlas gitu sih, jadi jelek." ujar Jay.
"Kalau jelek, ngapain nyuruh aku senyum." ucap Ila ketus.
"Aku kan cuma ingin lihat senyuman manismu, bukan senyumanmu yang seperti terpaksa gitu." ujar Jay yang membuat Ila kembali diam dan tak mendengarkan ucapan suaminya. Ila mengambil handponnya di dalam tas dan memakai headsetnya, ia memutar ayat ayat suci Al Qur;an. Hingga akhirnya tanpa sadar, Ila pun tertidur.
Sedangkan Jay hanya bisa menghela nafas. Jay menepikan mobilnya dan dengan pelan pelan, ia mengambil headset yang ada di telinga Ila dan mematikan hp nya lalu menaruh kembali hp dan headsetnya ke dalam tas. Setelah itu, Jay pun melanjutkan perjalanannya menuju kediamannya.
__ADS_1