Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Panti Asuhan


__ADS_3

Sesampai di Panti Asuhan, Cinta langsung di hampiri oleh anak kecil yang berwajah imut...



"Temen temen sini...kak Cinta datang." Teriak anak kecil itu yang memanggil teman temannya ..Putri langsung menghampiri Cinta dan memeluknya. "Ka, aku kangen. Kenapa kakak lama banget gak datang. Aku dan teman teman sering nanya kaka. Aku fikir, kakak gak akan datang ke sini lagi." Isak tangis Putri...Cinta, memeluk Putri dengan erat dan mencium pipinya beberapa kali. Cinta merasa menyesal karena udah hampir satu bulan ia gak datang mengunjungi panti asuhan ini. Bukan karena ia malas tapi karena ia di sibukkan oleh pekerjaan kantor. Yah selain sekolah, putri juga kadang bantu ayahnya di kantor. Lumayan, ayahnya akan ngasih uang upah jika ia bantu ayahnya. Dan uang itu bisa ia tabung dan bisa ia berikan kepada Ibu Laila, pengurus panti ini.



"Maafin kaka ya sayang." Sekali lagi, Cinta mencium pipi Putri. "Jangan nangis lagi sayang, kaka janji akan lebih sering datang kesini." Ucap Cinta...



"Beneran ya ka. Janji dulu." Putri menunjukkan jari kelingkingnya dan Cintapun juga menunjukkan jari kelingkingnya dan menyatukan jari kelingking mereka berdua. Setelah itu, mereka tersenyum bersama.



Anak anak panti sudah berkumpul mengelilingi Cinta, membuat Cinta merasa bahagia bisa ada di tengah tengah mereka. Mereka mencium tangan Cinta bergantian. Yah itulah mereka, setiap Cinta datang, mereka akan salaman..



"Cin. kamu datang. Sini, masuk dulu nak." Bu Laila melihat ke arah dirinya dan menyuruhnya untuk masuk. "Adik adik, kaka ke dalem dulu ya. Nanti kita ngobrol dan main bareng."



"Oke ka." Jawab mereka hampir bersamaan.



Cinta segera masuk dan duduk di samping Bu Laila. Cinta lumayan akrab dengan bu Laila, mungkin karena selama 3 tahun ini Cinta sering datang ke Panti dan sering bantu Bu Laila untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dulu nasib anak anak Panti sangat menghawatirkan bahkan bu Laila sudah pasrah dan putus asa, ia ingin menutup panti ini tapi ia bingung memikirkan nasib dan masa depan anak anak panti yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Akhirnya bu Laila memutuskan untuk bertahan. Dan tak lama kemudian Cinta datang dan membantu meringankan beban bu Laila.



Cinta menyisihkan uang sakunya untuk bu Laila. Sebenarnya Cinta di jatah 3 juta tiap bulan. Tapi Cinta hanya menghabiskan perbulannya satu juta dan uang yang dua juta ia tabung. Ia juga sering bantu ayahnya dan biasanya sekali bantu, ayahnya akan memberikan ia uang sebesar 200 sampai 500 ribu. Sehingga perbulan ia bisa mengumpulkan uanv 5-6 juta dan uang itu ia berikan kepada bu Laila tanpa sepengetahuan ayah dan vundanya. Cinta emang sengaja menyembunyikan ini semua, ia tak ingin orang lain tau termasuk kedua orang tuanya.



"Oh ya, nak Cinta mau minum apa?" tanya bu Laila. Karena Cinta kalau datang biasanya hanya minum air putih kadang air es bahkan kadang teh hangat sesuai cuaca aja dan sekarang Cinta hanya ingin air putih saja.



"Air Putih saja, bu."



"Baiklah." Bu Laila segera mengambil segelas air putih dan beberapa jajan gorengan.



"Minum, nak." Ucap Bu Laila setelah selesai menaruh air dan sepiring jajan gorengan di atas meja.



"Makasih, bu." Cinta segera meminum air itu karena ia emang haus sejak ada di angkot tadi.



"Nak Cinta kenapa lama gak ke sini?" tanya bu Laila.



"Saya sepulang sekolah langsung pergi ke kantor bu, bantu bantu ayah. Makhlum sekarang lagi sibuk sibuknya dan pulang jam 5 sore. Jadi gak sempet ke sini dan malamnya juga harus belajar. Maaf ya, bu."



"Iya gak papa, nak Cinta. Ibu faham. Anak anak sering nanya nak Cinta, katanya mereka kangen. Ibu juga khawatir takut nak Cinta kenapa napa."



"Lain kali saya akan kasih kabar jika lama gak datang. Sekarang saya izin mau nemenin anak anak main."



"Baiklah, nak."



"Oh ya ini." Cinta memberikan Amplop yang berisi uang yang sudah ia siapkan sejak di rumah.



"Makasih, nak. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu."



"Amin."



Cinta segera pamit dan keluar. Ia bermain dengan adik adik yang tinggal di panti asuhan itu. Cinta bener benar merasa bahagia. Ia selalu berdoa agar Allah memberikab kebahagiaan untuk mereka semua.



Setelah satu jam lebih Cinta bermain sama merepa, cintapun pamit ke bu Laila untuk pulang karena ia takut bundanya hawatir jika pulang terlalu sore.




----------------------


__ADS_1



Setelag keluar dari lingkungan panti, ia menunggu Angkot. Sebenarnya ia bisa saja naik ojek online atau grab. Tapi itu berarti ia harus mengeluarkan uang sebesar 45 ribu sedangkan jika ia naik angkot, cukup lima ribu aja. Yah itulah enaknya naik angkot, deket jauh cuma bayar lima ribu. Emang sih di angkot panas terus desak desakkan tapi Cinta menikmati semua itu. Setelah ia memberhentikan salah satu angkot yang melintas, ia segera naik. Dan 1 jam kemudian, ia sampai di tikungan yang tak jauh dari rumahnya.



Biasanya kalau naik grab, setengah jam udah sampai tapi jika naik angkot butuh waktu 1 jam karena angkotnya harus berhenti sana sini untuk mencari penumpang. Dan enaknya kalau naik grab itu bisa langsung berhenti di depan rumah, beda sama angkot yang hanya mengantarkan sampai tikungan saja. Setelah itu ia akan jalan kaki selama 10 menit, baru deh nyampek.



Sesampai di rumah, Cinta langsung ucap salam dan mencari bundanya.



"Bun, Cinta sudah pulang." Teriak Cinta sambil cari bundanya di kamarnya tapi gak ada, ia cari di dapur juga gak ada, ia cari du kamar mandi juga gak ada akhirnya ia mencari bundanya ke taman samping rumah dan yah, ia menemukan bundanya lagi menyiram bunga.



"Bun." Panggil Cinta yang langsung menghampiri bundanya dan mencium tanganya



"Kenapa sore sayang, pulangnya?" tanya Maya, ibunya Cinta.



"Maaf bun." Hanya itu yang keluar dari mulut Cinta. Ia tak berani mencari alasan ini itu karena ia gak mau berbohong. Ia juga gak bisa jujur. Jadi satu satunya adalah dengan bilang kata maaf.



"" Baiklah, gak papa. Kamu udah makan?"



"Belum, bun."



"Iya sudah kamu mandi dan ganti baju dulu. Bunda akan menyiapkan makanan untuk kamu."



"Iya, bun."



Cinta segera pergi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur untuk menghilangkan rasa lelah. "Duh, capeknya...." Keluh, Cinta...



Tiba tiba ia di kagetkan dengan bunyi hp yang ada di dalam tasnya. Ia ambil hp itu dan ia lihat ada pesan masuk.



Dari : 085234xxxxx



Cinta membaca pesan itu dan ia tak mengenali nomer itu.



"Maaf ini siapa ya?" tanya Cinta



Dari : 085234xxxxxxx


Aku Ivan




Deg, entah kenapa lagi lagi jantungnya berdetak lebih cepat. Ia selalu merasa ada yang beda jika berhadapan dengan Ivan.



"Oh kamu Van. Nomermu aku save ya."




Dari : Ivan


Iya, Cin.



Dari : Cint


Kamu tau dari siapa nomerku?



Dari : Ivan


Elsa. Maaf, gak izin dulu sama kamu.


__ADS_1


Dari : Cinta


Iya gak papa.



Dari : Ivan


Kamu lagi apa?



Dari : Cinta


Tidur tiduran. Kamu sendiri lagi apa?



Dari : Ivan


Lagi mikirin kamu, Cin hehe



Dari : Cinta


Ah, kamu ada ada aja Van



Dari : Ivan


Hehe...By the way kamu udah makan, lom?



Dari : Cinta


belum



Dari : Ivan


kenapa?



Dari : Cinta


Belum mandi. Iya sudah aku mandi dulu ya, pakek baju lalu makan.



Dari : Ivan


Oke




Entah kenapa Cinta merasa bahagia bisa chat an dengan Ivan padahal sebelumnya ia belum pernah seperti ini. Tapi, Cinta tak mau memikirkannya. Ia segera bangun dan pergi ke kamar mandi. Hanya dalam 10 menit, cinta sudah selesai mandi. Ia segera pakek baju lalu turun ke bawah menghampiri bundanya yang masih sibuk masak.



"Belum matang, bun." Ucap Cinta mengagetkan bundanya, ia mengambil air lalu meminumnya



"Ini udah selesai, sayang. Tinggal naruh di piring."



Cinta hanya manggut manggut, ia melihat bundanya masak ayam goreng dengan bumbu merah kesukaan Cinta.



"Wah kayaknya enak tu." Goda Cinta..



"Pasti enak dong, siapa dulu yang masak, BUNDA."



"Iya ya." jawab Cinta sambil tersenyum.








__ADS_1


__ADS_2