
Keesokan harinya, dengan penuh semangat Naila pergi ke kamar Elsa.
"El, kamu sudah bangun belum?" ucap Naila dari luar pintu.
"Iya, aku udah bangun Nai. Bentar ya......" Jawab Elsa dari dalam kamar. Setelah 2 menit Naila menunggu akhirnya Elsa pun membukakan pintu untuknya.
"Masuk Nai." Ucap Elsa menyuruh Naila masuk ke dalam kamarnya.
Setelah mereka ada di kamar, Naila pun mengutarakan niatanya untuk menyewa sebuah RUKO
"Ada apa Nai?" tanya Elsa tanpa basa basi.
"Emmm gini El, nanti sepulang kuliah. Aku ingin ngajak kamu cari kontrakan RUKO." Jawab Naila tersenyum.
"Kontrakan RUKO. Buat apa?" tanya Elsa tidak mengerti.
"Aku ingin buka usaha mulai sekarang. Aku fikir lebih cepat lebih baik, kalau nunggu lulus kuliah kayaknya terlalu lama deh."
"Oh gitu. Iya sudah aku bantu. Oh ya aku baru inget, kayaknya mama punya RUKO deh dan udah lama gak di pakek. Jika kamu mau, kamu bisa pakek RUKO itu untuk sementara waktu. Gimana kamu mau? Dari pada kamu nyewa punya orang lain lebih baik uangnya kamu gunakan untuk keperluan yang lebih penting."
"Kamu serius El punya RUKO yang gak kepakek?' tanya Naila
"Iya, aku serius. Iya sudah nanti, sepulang kuliah aku akan mengantarkan kamu ke sana."
__ADS_1
"Makasih ya El. Kamu memang temanku yang paling baik deh. Aku bersyukur bisa kenal sama kamu. Walaupun kita baru saja ketemu tapi kamu sangat baik dan peduli sama aku. Makasih ya." Ucap Naila terharu.
"Kita kan sesama teman harus saling membantu. Jadi selama aku bisa, aku akan bantuin kamu. Kalau sudah gak ada yang di bicarakan lagi, aku mau ke dapur dulu ya."
"Ngapain ke dapur El?"
"Aku mau masak."
"Tapi kan sudah ada bunda. Kalau perlu aku juga akan masakin buat kamu."
"Aku ingin masak sendiri Nai soalnya ini buat orang sepesial."
"Oh. Jadi kamu gak butuh bantuanku?"
"Iya sudah, aku ke dapur dulu ya."
"Oke deh, aku juga mau keluar mau bantuin bunda beres beres."
"Iya sudah terserah kamu. Tapi jam 06.20 kamu harus sudah siap karena kita akan berangkat lebih pagi." Ucap Elsa memperingati. Ia emang harus berangkat lebih pagi karena ia harus mampir dulu ke kantor Taufiq.
"Oke, siap."
Setelah selesai ngobrol, Elsa langsung pergi ke dapur untuk masak sedangkan Naila pergi menghampiri sang bunda. Naila bantu bunda menyapu halaman sedangkan bunda sendiri, ia menyiram bunga yang bungannya sudah bermekaran. Setelah selesai menyapu, Naila langsung mengambil kain pel untuk mengepel ruangan. Setelah hampir 15 menit, Naila pun sudah selesai semua. Sekarang ia tinggal mandi dan siap siap.
__ADS_1
Tepat jam 6, Naila sudah siap, ia segera pergi ke dapur untuk sarapan.
"Nai, kamu sudah siap. Sini makan dulu, tadi aku udah masak banyak, buat aku kamu dan juga bibi. Aku juga udah nyiapkan bekal untuk orang lain. Jadi yang di meja bisa kita habisin sampek ludes." Ucap Elsa yang sudah duduk santai di kursi.
"Kapan kamu yang mandi, kog tiba tiba sudah siap?" tanya Naila heran.
"Tadi waktu kamu selesai bersih bersih, aku juga sudah selesai masak. Terus aku cepetan mandi deh, lalu habis mandi n pakek baju. Aku langsung menyiapkan makanannnya dan duduk santai nunggu kamu."
"Oh.." Naila hanya manggut manggut.
"Bibi, jangan sungkan sungkan. Ayo makan. Sini duduk di dekatku." Ucap Elsa.
Mereka bertiga pun makan dengan sangat lahap. Selesai makan, Elsa dan Naila segera meluncur menuju kantor Taufiq. Di sana ia melihat kantor masih sepi. Seperti biasa Elsa langsung masuk ke dalam ruangan Taufiq. Tapi ia tak melihat siapapun di sana. Karena merasa hawatir, Elsa pun membuka hp nya dan segera chat Taufiq.
"Assalamu'alaikum. Ka, kaka ada di mana? Tumben kaka gak ada di kantor jam segini?
Tak lama kemudian ada pesan masuk.
"Waalaikum salam. Kaka ada di rumah. Tadi malem, mama nyuruh kaka pulang. Jadi kaka nginep di rumah. Kamu pasti ke kantor bawa makanan ya. Kamu taruh aja di meja makan nanti jam 8 kaka akan berangkat. Makasih makanannya."
Setelah membaca balasan dari Taufiq, Elsa hanya senyum kecut. Ia pun menaruh bekal yang ia masak dengan sepenuh hati. Setelah itu ia pergi menuju mobilnya.
"Maaf ya nunggu lama." ucap Elsa setelah ia duduk di mobilnya.
__ADS_1
"Iya gak papa." Naila hanya senyum ke arahnya.