
Sudah satu tahun Will mencari keberadaan Aisyah namun Aisyah seperti hilang di telan bumi. Cinta, Taufiq, Pram, Jay dan papanya Taufiq pun mulai menyerah. Tapi tidak dengan Will, ia masih terus mencari keberadaan Aisyah.
Will sudah mulai masuk kerja lagi sejak beberapa bulan yang lalu. Will harus terus bekerja agar bisa mendapatkan uang untuk membayar orang orang yang Will sewa untuk mencari keberadaan istrinya. Will pun juga tiap sabtu minggu selalu menyempatkan waktu untuk datang kelokasi jadian.
Cinta dan Taufiq merasa sedih melihat hidupnya Will yang seperti itu. Cinta ingin Will bisa ceria lagi seperti dulu saat ia belum menikah. Pram dan Jay mencoba untuk terus berusaha mengembalikan semangat hidup Will tapi Will selalu saja menghabiskan waktunya untuk menyendiri. Kadang menghabiskan waktunya di rumah sakit.
Pram dan Jay juga gak bisa 24 jam ada di samping Will mengingat Ica yang kini sudah hamil 7 bulan. Sedangkan istri Jay juga sedang mengandung dan kini usia hamilnya sudah lima bulan. Cinta berusaha untuk menjodohkan Will dengan wanita lain agar Will bisa melupakan kesedihaannya tapi boro boro mau, Will malah menolak dengan keras bahkan membentak siapapun yang mencoba untuk mendekatkan dirinya dengan wanita di luaran sana.
Karena Will percaya kelak, ia pasti akan bertemu dengan istrinya. Walaupun semua orang bilang kalau Aisyah sudah meninggal tapi entah kenapa hati kecil Will mengatakan kalau Aisyah baik baik saja dan kini ada di suatu tempat.
Hari ini setelah pulang kerja, Will menyempatkan diri datang ke lokasi jadian. Will dudukk duduk di sana sambil menatap jurang yang begitu dalam.
__ADS_1
"Sayang, aku kangen dirimu. Kamu ada di mana?" gumam Will.
"Apakah kamu gak kangen diriku. Sayang, jika kau selamat dari kecelakaan itu. Tolong temuilah aku. Aku di sini menderita karena merindukanmu.
Sayang, kau adalah wanita yang sangat aku cintai. Hanya kamu yang aku inginkan. Ayah dan bunda selalu saja memaksa aku untuk menikah dengan wanita lain tapi aku selalu menolaknya. Bagaiaman mungkin aku mau menerima perjodohan itu sedangkan aku tak tau engkau ada di mana. Aku takut, aku akanĀ menyesal di kemudian hari. Aku juga gak mau di cap suami penghianat. Aku akan selalu setia menunggumu sampai kau datang ke pelukanku. Aku juga akan selalu berdoa untuk dirimu.
Sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ucap Will.
Setelah hampir 2 jam ia duduk di sana sendirian, Will pun memutuskan untuk pulang.
Cinta dan Taufiq hanya bisa menghela nafas melihat putranya yang kini berubah 180 derajat. Cinta pun mencoba untuk menemui Will di kamarnya.
__ADS_1
"Sayang, apa boleh bunda masuk?" tanya Cinta.
"Iya." Jawab Will tak bersemangat.
Cinta pun masuk ke kamar Wil dan duduk di sampingnnya.
"Kamu kenapa nak?" tanya Cinta, Will hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan bundannya.
"Jangan seperti ini terus Will. Masa depan kamu masih panjang, sayang. Bunda gak tega liat kamu seperti ini. Ikhlaskanlah Aisyah nak, lupakan dia dan belajar lah untuk membuka hati untuk orang lain." Ucap Cinta lembut.
"Aku gak akan pernah melupakan Aisyah bun, dia istriku dan selamanya akan selalu menjadi istriku. Aisyah adalah istriku yang pertama dan terakhir. Aku gak akan pernah menghianatinnya apapun yang terjadi. Bahkan jika perlu aku rela hidup sendiri selamanya dari pada harus mencari istri lagi dan membuat Aisyah jadi sakit hati. lagian aku yakin, kelak dia pasti akan kembali." Jawab Will dingin.
__ADS_1
"Tapi nak..........."
"Sudahlah bun. Jika bunda hanya bahas masalah ini, silahkan bunda keluar dari kamarku. Karena kau lelah dan butuh istirahat." Ucap Will, Cinta pun hanya bisa menghela nafas. Ia keluar dari kamar putranya dan langsung menghampiri suaminya yang kini ada di ruang keluarga.