
Jam 3 sore. Ani dan Ana menunggu jemputan. Tapi yang di tunggu tunggu gak segera datang padahal Ani dan Ana sudah lebih dari lima belas menit menunggu. Ingin rasansya mereka numpang ke Ica dan Ila. Tapi Ica sudah pulang satu jam yang lalu sedangkan Ila masih ada tugas kuliah dan baru bisa pulang nanti jam 4 sore. Ica dan Ila memang tidak mengambil jurusan yang sama untuk itulah mereka kadang tidak bisa pulang bareng jika bukan karena hal hal tertentu. Beda sama Ani dan Ana yang selalu pulang bareng karena satu jurusan.
Ani menelvon Pram tapi Hp Pram gak aktiv. Ia pun mencoba untuk nelvon sopir pribadinya tapi juga gak di angkat.
"Kenapa sih Hp Kak Pram gak aktiv?" tanya Ani kesal.
"Dan kenapa juga aku nelvon Pak Dar gak di angkat angkat." Tanya Ani lagi kesal sedangkan Ana yang diam dan males ngoceh sana sini.
"Sudahlah, mungkin hari ini kita harus naik taxi atau bis atau angkot. Mungkin seru kalau kita naik angkot. Kita kan belum pernah naik angkot tuh. Gimana kalau sekarang kita coba naik itu" Usul Ana.
"Baiklah, ayo kita coba naik angkot." Ujar Ani tersenyum.Ia ingin merasakan sensasi yang berbeda. selama ini ia hanya naik mobil aja dan belum pernah naik angkotan umum.
Merekapun pergi ke halte dan menunggu angkot yang berhenti. Setelah ada angkot yang berhenti, Ani dan Ana pun langsung masuk ke dalam angkot yang penuh sesak dan panas.
"Kog panas ya?" tanya Ani.
"Karena di sini gak ada AC ataupun kipas angin. Tahan aja deh." Jawab Ana kesal yang juga merasa dirinya sangat gerah dan panas.
"Nyesel deh naik angkot." ucap Ani dengan suara kecil agat tak ada yang mendengarnya.
"Sudahlah gak perlu menyesal. Dengan begini kita bisa tau bagaimana hidup susah biar kita bisa menghargai uang dan tidak sembarangan menggunakan uang dengan seenaknya. Kelak jika kita boros, kita bisa ingat banyak di luar sana yang pengen dapat uang tapi harus bekerja keras dan berpanas panasan." Ucap Ana menasehati.
"Iya jugas sih. Tapi aku gak tahan ada di sini." Ucap Ani kesal sambil mengelap keringatnya yang mulai bercucuran.
"Sudahlah bersabar aja. Apa susahnya bersabar dikit aja. Kita kan selama ini selalu hidup enak dan gak pernah tau bagaimana rasanya hidup susah. Mungkin sekarang waktunya kita belajar agar bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Oke." Ucap Ana menasehati.
"Baiklah. Aku akan belajar untuk bersabar." Ucap Ani.
Tiba tiba angkog berhenti karena ada penumpang yang ingin naik dan betapa kagetnya mereka melihat ada bapak bapak bawa ayam masuk ke dalam angkot membuat Ani dan Ana harus tutup hidung mereka karena baunya yang menyengat.
"Astaga, apalagi ini." gumam Ani yang tadinya mencoba untuk bersabar tapi malah di buat kesal lagi. Ana hanya tersenyum melihat wajah Ani yang di tekut menahan rasa amarah.
Tak lama kemudian lagi lagi angkot berhenti karena ada ibu ibu yang tua renta membawa kedua anaknya masuk ke dalam angkot hingga Ani dan Ana harus bergeser dan duduk saling sempit sempitan.
__ADS_1
"Ana, aku sudah gak tahan lagi. Kita turun yuk. Kita naik bis aja, gimana?" tanya Ani.
"Baiklah, ayo kita turun." Jawab Ana yang gak tega melihat saudara kembarnya yang setengah mati menahan rasa kesal.
"Pak, turun depan ya." Ucap Ana ke pak sopirnya. Sopir itu hanya mengangguk lalu memberhentikan angkotnya di depan di pinggir jalan.
"Berapa pak?" tanya Ana.
"Lima ribu neng." Jawab sang sopir.
"Ini pak." Ucap Ana sambil memberikan uang lima puluh ribu.
"Ini neng kembaliannya." Ucap pak sopir sambil menyodorkan uang kembalian.
"Gak usah ambil bapak aja." Jawab Ana sambil turun dari angkot bersama dengan Ani.
"Makasih ya neng." Ucap pak Sopir tersenyum sedangkan Ana hanya membalasnya dengan senyuman juga. Setelah angkot nya pergi, Ani dan Ana nunggu bis di trotoar.
"Kenapa kamu memberikan uang lima puluh ribu?" tanya Ani.
"Terserah kamu deh." Ucap Ani yang gak mau berdebat hanya karena uang sepele.
Ani dan Ana menunggu bis yang lewat tapi gak ada satupun yang lewat.
"Panas An." Ucap Ani mengeluh karena ia harus nunggu bis di trotoar tanpa pelindung kepala kecuali hijab yang melekat di kepalanya.
"Sabar, ntar lagi pasti juga ada." Ujar Ana tersenyum dan benar saja, tak lama kemudian bis datang namun bis itu sudah terlihat sesak karena bis itu merupakan angkotan umum yang harganya pun terbilang murah hingga banyak sekali yang naik bis itu.
"Gimana naik gak?" tanya Ana.
"Naik ajalah. Dari pada di sini cuma berdiri kepanasan." Jawab Ani yang sudah tak tahan berdiri di trotoar.
Ani dan Ana langsung masuk bis dan berdiri sambil desak desakan dengan penumpang lain.
__ADS_1
"Aku gak nyangka ternyata begini ya hidup orang orang yang hidupnya di kalangan bawah. Hanya karena murah, mereka rela desak desakan." Ucap Ani sedih.
"Untuk itu kalau kita di kasih uang sama ayah dan bunda. Kita gak boleh boros boros mending uangnya di tabung atau di kasihkan ke orang yang jauh lebih membutuhkan dari pada kita." Jawab Ana.
"Iya kamu benar." Ucap Ani tersenyum.
HIngga tak terasa mereka pun sudah sampai di jalan yang tak jauh dari rumahnya. Ana segera membayar uang angkotnya ke kernet lalu merekapun segera turun dari bis dan berjalan ke arah rumahnya yang cukup jauh jika harus jalan kaki.
Sampai di rumahnya Ani dan Ana sudah bermandikan keringat.
"Assalamu'alaikum." Ucap Ani dan Ana sambil masuk ke dalam rumah. Cinta yang mendengar kedua putrinya sudah pulang, langsung pergi menghampirinya.
"Waalaikumsalam. Loh nak, kog wajah kalian kucel gitu. Baju kalian juga basah. Ada apa sayang?" tanya Cinta kaget melihat wajah putrinya yang sudah kucel kayak kain gak di setrika bahkan bajunya juga basak karena keringat.
"Tadi kami naik angkot bun. Jadinya kayak gini deh." Ujar Ani sambil duduk di sofa. Begitupun dengan Ana. Cinta segera pergi ke dapur dan membuatkan juz alpukat untuk ke dua anaknya.
"Ini sayang minum dulu." Ucap Cinta yang gak tega melihat kedua putrinya kelelahan.
"Iya, bun. Makasih ya juznya." Ucap Ana sambil meminum juz itu sampai habis begitupun dengan Ani.
"Kalian kenapa kog bisa naik angkot? Emang Kak Pram gak jemput kalian tah?" tanya Cinta.
"Gak bun. Aku juga sudah menelfon Kak Pram tapi hp nya gak aktiv. Terus aku telvon Pak Dar tapi juga gak di angkat." Ucap Ani kesal.
"Hemm mungkin Kak Pram ada meeting sayang. Kalian kan tau sendiri jika Kak Pram ada meeting gak mungkin mengaktifkan Hp nya. Terus kalau Pak Dar, dia tadi bantu bunda ngurusin halaman belakang jadi hp nya di tinggal. Maaf ya sayang." Ucap Cinta.
"Gak papa bun. Aku seneng kog naik angkot." Ucap Ana tersenyum karena gak mau membuat sang bunda sedih dan merasa bersalah karena gara gara ia meminta bantuan Pak Dar sampai membuat kedua putrinya terpaksa naik angkotan umum.
"Iya bun. Aku juga seneng lho naik angkot." Ucap Ani melihat Ana yang menatap dirinya agar pura pura tersenyum di hadapan sang bunda.
"Syukurlah. Jika kalian seneng. Oh ya jika sudah gak capek lagi. Kalian langsung mandi ya lalu turun ke bawah. Bunda akan masakin masakan kesukaan kalian." Ucap Cinta tersenyum
"Baik bun, kami akan segera mandi." Ujar Ana yang merasa senang karena akan di masakain masakan kesukaannya.
__ADS_1
Ani dan Ana segera masuk ke dalam kamar untuk segera mandi sedangkan sang bunda langsung pergi ke dapur untuk memasak.