Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Maafkan Aku


__ADS_3

Cinta masih bertahan di taman walaupun Alvin sudah meninggalkan ia sendirian. Cinta berusaha untuk bisa memahami perasaan Alvin. Saat ia merenung, tiba tiba ia di kagetkan oleh Ivan.



"Ngapain di sini sendirian?" Tanya Ivan, padahal ia tau apa yang terjadi karena sebenarnya Ivan ada di sana saat Cinta dan Alvin lagi ngobrol. Hanya saja ia gak berani menampakkan dirinya karena ia tidak mau mengganggu omongan mereka berdua. Ivan juga tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka tapi mau gimana lagi, ia sudah mendengar semua obrolan mereka.



"Gak ada, cuma cari angin segar. Gimana tadi, lancar ngerjakannya?" Tanya Cinta bersemangat.



"Alhamdulillah lancar, soalnya tidak terlalu rumit. Jadi aku bisa mengerjakannya dengan mudah."



"Syukurlah. Elsa dan yang lain belum keluar?"



"Belum, Cin."



"Ah, mereka pasti kebingungan mengerjakannya. Tapi salah mereka sendiri kenapa tidak belajar tadi malam."



"Sudahlah, Cin. Jangan terlalu mikirin mereka. Yang penting diri sendiri dan jangan sampai seperti mereka."



"Iya, Van. Kamu benar."



"Udah adzan dhuhur tu. Kamu gak mau siap siap ke musholla."



"Iya, Van. Ini aku mau berangkat."



"Iya sudah, ayo bareng."



Cinta dan Ivan segera melangkahkan kaki menuju musholla, tiba tiba Elsa datang dan langsung gabung sama mereka.



"Mau kemana?" tanya Elsa penasaran.



"Ke musholla, mau shollat. Kamu mau ikut?" tanya Cinta.



"Enggak, Cin. Aku lagi Datang Bulan. Iya sudah aku ke kantin aja kalau gitu." Pamit Elsa, tak lupa ia melemparkan senyum kepada Ivan. Ivanpun membalas senyuman Elsa hingga membuat jantung Elsa berdebar debar.

__ADS_1



Setelah kepergian Elsa, Cinta segera pergi ambil wudhu di samping kanan musholla sedangkan Ivan pergi ambil wudhu di samping kiri musholla. Setelah selesai mereka langsung bergabung dengan para jamaah lainnya.



-----



Selesai sholat Ivan dan Cinta langsung pergi ke kantin menghampiri Elsa yang lagi asyik menikmati makanannya.



"Duh, yang lagi asyik makan. Gak nawar nawar." Sindir Cinta lalu duduk di samping Elsa. Ivan juga duduk di dekat Cinta



"Ah gimana mau nawar, kamunya tadi gak ada. Jawab Elsa sambil tersenyum, sesekali melirik ke arah Ivan. " Kamu gak mau makan siang, Van?" Tanya Elsa kemudian.



"Enggak, masih kenyang." Ucap Ivan sambil mengelus elus perutnya. "Kamu aja makan yang banyak, biar gemuk."



"Duh, aku udah gemuk. Gak mau gemuk lagi." Ucap Elsa yang terus menatap Ivan. Cinta seperti menyadari bahwa sahabatnya itu tertarik sama Ivan. Tapi ia berusaha untuk menetralkan perasaannya, jangan sampai rasa yang mulai tumbuh menghancurkan persahabatan dan cita citanya. Ia harus ingat tujuan ia sekolah untuk mencari Ilmu bukan mencari pacar.



"El, gimana tadi ulangannya. Bisa?" tanya Cinta berusaha mencairkan suasana agar ia tidak terbawa perasaan.




"Jangan sok sok sedih deh, salahnya sendiri kenapa gak belajar. Tadi malam sudah di ingatkan suruh belajar. Eh malah bilang mau nonton tivi. Sekarang rasakan sendiri akibatnya."



"Iya ya deh, aku salah." Elsa akhirnya mengalah karena memang dia sadar, ia yang salah karena lebih mementingkan lihat drama korea di tivi dari pada belajar.




"Udah bell tu, yuk masuk." Cinta segera mengakhiri obrolannya ketika ia mendengar bell masuk berbunyi. Ivan hanya mengangguk sedangkan Elsa segera membayar makanannya. Setelah itu mereka langsung pergi ke kelas.



Di kelas, Cinta langsung mengambil buku dan pulpen di dalam tas. Ia selalu menyiapkan buku dan alat tulisnya sebelum gurunya datang. Beda dengan Elsa yang masih sibuk ngobrol dengan teman yang ada di belakangnya.



Setelah pak Doni masuk, pelajaranpun di mulai.



Saat Cinta membuka buku, ia melihat sebuah amplop yang berisi surat. Ia hanya membaca surat itu dari siapa lalu menaruhnya di saku bajunya karena ia tak ingin surat itu mengacaukan fikirannya. Cinta kembali fokus ke arah Pak Doni yang lagi asyik menjelaskan Sejarah.


__ADS_1


Setelah 90 menit kemudian, akhirnya pelajaran sejarahpun salesai. Pak Doni segera keluar dan Cinta pun seperti biasa membereskan buku dan alat tulisnya dulu.



"Ayo, Cin. Pulang bareng aku." Ajak Elsa kebetulan ia bawa sepeda motor jadi bisa ngajak Cinta pulang bareng walaupun rumahnya agak berjauhan tari arah jalannya sama.



"Enggak, Cin. Hari ini aku ada acara. Maaf ya. Tapi lain kali aku ikut kamu deh, pulang bareng."



"Baiklah, hati hati ya Cin. Kalau ada apa apa langsung von aku."



"Oke, kamu hati hati juga ya."



"Siap, bos." Elsa segera meninggalkan Cinta dan pergi ke tempat parkir untuk mengambil sepeda motonya.



"Kamu gak pulang, Van?" tanya Cinta melihat Ivan masih duduk di kursinya.



"Enggak, Cin. Aku masih nunggu papa. Tadi dia ngajak pulang bareng. Mungkin 15 menit lagi aku pulang."



"Oh gitu, iya sudah aku pulang duluan."




Cinta segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar menuju jalan raya. Sesampai di pinggir jalan, ia menghentikan angkot yang kebetulan lewat.



"Mau kemana, neng". tanya pak sopir.



" Panti Asuhan Al Hidayah, pak." Jawab Cinta, ia tak menunjukkan alamatnya hanya memberi tahu ia mau pergi kemana karena ia yakin pak sopir pasti tau alamat panti asuhan itu.



Di dalam angkot hanya ada dua orang, dirinya dan seorang bapak bapak. Cinta tak memperdulikannya. Tiba tiba ia ingat akan surat yang ia simpan di saku bajunya. Iapun mengambil surat itu dan membacanya..



"Assalamu'alaikum, Cin. Ini aku Ferdi, kamu pasti tahu kan?... Sebelumnya, aku minta maaf sudah lancang mengirim surat ini sama kamu. Tapi jujur aku tak berani jika harus tatap muka apalago ngomong secara langsung sama kamu. Aku menulis surat ini hanya ingin mengutarakan perasaanku. Jujur, aku suka sama kamu saat pertama kali kita ketemu. Maaf, sekali lagi maaf. Mungkin aku tak pantas bicara seperti ini. Tapi aku juga gak bisa lama lama memendam perasaan ini sendiri. Aku tersiksa dengab perasaanku. Aku tak meminta kamu untuk jadi pacar aku dan juga tidak berharap kamu membalas perasaanku. Aku hanya ingin kamu tau tentang perasaanku. Hanya itu. Baiklah, sampai sini surat dariku. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca surat dariku ini. Salam " Ferdian".



Itulah isi surat dari Ferdi, kakak kelasnya sekaligus teman Alvin. Cinta hanya menghela nafas membaca surat itu. Ia melipat kembali surat dari Ferdi dan menaruhnya di dalam tas.


__ADS_1


__ADS_2