TIGER WU

TIGER WU
KETAKUTAN CINDY


__ADS_3

Hari ini Rubby tidak ingin pergi kuliah. Dia sudah memutuskan untuk berhenti kuliah. Wu Jin Ming akan menemani Rubby untuk mengurus administrasi ke kampusnya besok.


"Kak Tiger! Kamu jam berapa jadwal pemotretannya?" tanya Rubby sambil tidur terlentang. Dia masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur.


"Jam 3 sore sayang!"


"Kita belanjanya nanti saja ya! Aku masih malas. Lagian ini juga baru jam 9," ucap Rubby sambil melirik jam dinding.


"Boleh! Kita pergi mendekati makan siang aja." Wu Jin Ming menyentuh perut rata Rubby.


"Sayangggg...." panggil Rubby manja.


"Apa kamu butuh sesuatu sayang? Ada yang sakit kah?" tanya Wu Jin Ming khawatir melihat wajah memelas milik Rubby.


Rubby menggeleng pasti.


"Lalu?" Wu Jin Ming mengernyit heran.


Rubby menyatukan kedua ujung jari telunjuknya di depan dadanya. Wajahnya terlihat malu-malu saat ingin mengatakan maksud hatinya. Dalam hati Rubby berharap Wu Jin Ming akan segera tahu apa yang ada dipikirannya sebelum dia mengutarakannya.


"Katakan Sayang! Aku nggak tahu apa maksud dari ini." Wu Jin Ming menirukan Rubby menyatukan ujung jari telunjuknya.


"Emm... gimana ya? Aku cuma ingin tanya tentang...." Rubby kembali memotong kalimatnya.


"Tentang apa sayang? Tanyakan saja sayang!" seru Wu Jin Ming.


"Tentang making love Kak. Apa itu boleh?" Rubby akhirnya memberanikan diri mengatakannya.


Wu Jin Ming berpikir sebentar. Sejauh yang dia ketahui itu tidak akan jadi masalah jika keadaan Rubby tidak mengalami kendala berarti. Sepertinya tidak ada bedanya dengan kehamilan normal pada umumnya.


"Aku rasa nggak masalah selama kamu baik-baik saja Sayang. Tapi aku nggak akan membebani kamu dengan itu selama kamu hamil," jawab Wu Jin Ming dengan penuh kasih sayang.


"Kalau aku yang menginginkannya?" Rubby bergeser mendekat ke arah Wu Jin Ming.


"Kamu?!" Wu Jin Ming tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Rubby sudah membungkam bibirnya dengan ciuman.

__ADS_1


Selama hampir satu jam mereka memadu cinta. Mereka tidak mungkin pergi ke luar tanpa mandi lagi. Rubby terlihat lebih segar dan bersemangat, kebalikannya Wu Jin Ming seperti kehilangan sebagian kekuatannya.


"Aku mau mandi dulu Sayang!" Rubby mengecup bibir Wu Jin Ming sekilas sebelum meninggalkannya.


Reaksi pil anti mual dari ibunya masih terasa hingga saat ini. Perut Rubby tidak bergejolak saat mencium aroma wangi sabun yang dia ambil dari penyimpanan karena sebelumnya dia meminta Wu Jin Ming untuk membereskan semuanya. Siang itu Rubby mandi dengan tenang.


Mengingat hari sudah semakin siang, mau tidak mau Wu Jin Ming pun segera membersihkan diri. Matanya terasa berat dan mengantuk namun dia tahan. Sebentar lagi waktu makan siang akan segera tiba saatnya Rubby memberikan asupan nutrisi pada anaknya.


'Kenapa tubuhku jadi lemas seperti ini ya? Apa ada hubungannya dengan kandungan Rubby?' Beragam pertanyaan muncul di hati Wu Jin Ming. Mungkinkah sebagian energi jiwanya terserap ketika berhubungan intim dengan istrinya.


"Sayang!" panggil Wu Jin Ming melihat Rubby sedang asyik mematut diri di depan cermin.


"Hmm."


"Aku mau berkultivasi sebentar. Nggak papa kan?" Wu Jin Ming duduk bersila dengan nyaman di atas tempat tidur.


"Iya Sayang!" Rubby membiarkan Wu Jin Ming berkultivasi. Sepertinya saat ini dia benar-benar membutuhkan itu. Kalau tidak dia tidak akan berbicara padanya untuk meminta ijin berkultivasi siang-siang.


Penampilan Rubby sudah sangat rapi. Beberapa kali dia berputar di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah menarik. Melihat Wu Jin Ming masih fokus untuk berkultivasi, Rubby berjalan ke ruang makan untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.


Di kulkas ada tersisa potongan buah dan yogurt. Rubby mengambilnya kemudian mencampurnya menjadi satu. Tidak lupa dia juga menambahkan serutan keju di atasnya. Lumayan untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar setelah bergulat di atas ranjang.


Akhirnya Rubby kembali berjalan ke ruang makan dan menghabiskan makanannya.


"Ponsel kamu terus berbunyi sayang!" Wu Jin Ming muncul dengan tiba-tiba membeat Rubby tersentak dan menjatuhkan sendoknya.


"Ya ampun! Ngagetin aja!" Rubby memegang dadanya yang berdetak kencang.


"Maaf Sayang! Aku pikir kamu melihatku datang menghampiri kamu."


"Aku terlalu fokus menikmati hidangan lezat ini," ucap Rubby sambil kembali menikmati makanannya.


Wu Jin Ming melihat makanan itu dengan tatapan kurang suka. Membayangkannya saja perutnya sudah merasa penuh. Dia terheran-heran melihat selera makan Rubby yang berubah drastis dari sebelum-sebelumnya.


"Kamu mau?" tanya Rubby. Dia salah mengartikan tatapan Wu Jin Ming yang terus melihat makanannya.

__ADS_1


"Ahh... tidak... tidak!" Wu Jin Ming langsung melambaikan kedua tangannya di depan sebelum Rubby memaksanya mencicipi makanan itu.


...


Di pusat perbelanjaan tujuan pertama Wu Jin Ming dan Rubby yaitu langsung menuju ke counter penjualan ponsel. Mereka merasa ada yang penting dari si pemanggil karena ponsel itu terus saja berdering nyaring. Wu Jin Ming memilihkan ponsel yang sama dengan miliknya untuk Rubby. Awalnya Rubby menolak karena baginya itu terlalu mahal untuknya, tetapi Wu Jin Ming bersikukuh untuk membayarnya.


Setelah diputuskan, pegawai counter memasang kartu SIM milik Rubby di sana. Pengawai itu kemudian menyerahkan ponsel baru dan ponsel yang telah rusak itu pada Rubby. Rubby mengotak atik ponsel di tangannya dan melakukan pemulihan data dan file penting yang dia sinkronkan dengan akun miliknya.


"Bisa sayang?" tanya Wu Jin Ming.


"Bisa! Ayo kita duduk di sana biar tidak mengganggu pembeli lain!" seru Rubby sambil menunjuk kursi yang berjajar di depan sebuah super market di dalam mall itu.


Wu Jin Ming berjalan mengikuti Rubby. Saat mereka berjalan, ponsel Rubby kembali berdering. Di layar tertulis nama Cindy.


Rubby berpikir sejenak sebelum mengangkat telepon itu. Dia teringat jika sebelumnya sikap Cindy sangat acuh padanya. Bahkan dia terlihat seperti sedang memusuhinya.


"Kenapa nggak di angkat?" tanya Wu Jin Ming.


"Cindy...." Rubby menunjukkan ponselnya pada Wu Jin Ming.


Seolah mengerti apa yang ada di pikiran Rubby, Wu Jin Ming meyakinkan Rubby untuk mengangkatnya.


"Hallo!" jawab Rubby.


"Hallo By! Akhirnya kamu mengangkatnya juga! By... tolongin aku!" nada bicara Cindy terdengar ketakutan.


"Ada apa Cin? Bisakah kamu mengatakannya dengan jelas?" ucap Rubby mencoba menenangkan Cindy.


"Aku sedang dalam bahaya By! Beberapa bayangan hitam terus mengejarku. Sepertinya mereka ingin membunuhku!" seru Cindy di sela isak tangisnya.


"Sekarang kamu di mana Cin? Bisa kamu sebutkan alamatnya?" tanya Rubby tak tega.


"Aku share alamatnya setelah ini By. Sekarang aku sedang berada di sebuah kuil kuno untuk beribadat bersama kedua orang tuaku. Ceritanya panjang By, aku tutup dulu teleponnya! Ada yang datang! Aaaaaaaaaa! Tut... tut... tut...." panggilan Cindy terputus setelah terdengar teriakannya terakhir kali.


Rubby menunggu Cindy mengirimkan alamat di mana dia berada sekarang namun tak kunjung dia kirimkan.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2