TIGER WU

TIGER WU
BUKIT SAN MENGHILANG


__ADS_3

Lisa yang telah terkena jurus pengunci jiwa milik Rubby tidak dapat lagi mengeluarkan energinya. Lagipula energi miliknya juga sudah banyak terkuras untuk bertarung melawan Wu Jin Ming. Dalam keadaan terduduk di tanah, Lisa beringsut mundur ketika Rubby melangkah maju ke depan.


"Aku datang untuk menagih hutangmu padaku, Lisa!" Rubby terus berjalan maju meskipun Lisa terus mundur untuk mencoba menghindar.


"Aku tidak merasa punya hutang padamu! Kamu jangan mengada-ada!" teriak Lisa yang tidak sadar semakin dekat dengan sangkar perenungan.


Rubby mengangkat tangannya ke atas dan mengeluarkan energi spiritual miliknya membentuk sebuah cambuk cahaya berwarna biru.


"Akan aku ingatkan jika kamu lupa!" seru Rubby.


Cetaarr!


Sebuah cambukan keras menghantam tubuh Lisa.


"Aaarrggghh!" teriak Lisa kesakitan.


"Itu untuk penghianatanmu pada Bella dan Cindy!" pekik Rubby.


Rubby kembali mengangkat tangannya dan memberikan cambukan yang kedua.


"Aarrrggghhh! Tolong hentikan Rubby!" pekik Lisa memohon.


"Aku akan berhenti jika aku sudah selesai. Tiga buah cambukan saja untuk Cindy dan Bella. Bukankah itu sebuah hukuman yang ringan di banding dengan penderitaan yang kamu berikan untuk mereka? Heemm!" ucap Rubby sambil menunduk dan mencengkeram dagu Lisa.


Cetaarr!


Cambukan yang ketiga membuat kulit Lisa yang semula memerah menjadi memar dan berdarah.


"Aaarrggghh!" Lisa berusaha menahan rasa perih bekas cambukan Rubby.


Cambuk energi bukan cambuk biasa. Rasa sakit yang ditimbulkannya merasuk hingga ke tulang sungsum. Bisa dikatakan lebih dasyat dari sebuah sengatan listrik ribuan Volt. Jika Lisa adalah seorang manusia biasa, satu cambukan saja mungkin sudah membuatnya tidak bernyawa.


"Sekarang hukuman untuk membayar hutangmu padaku. Kamu sudah berani menghancurkan rumahku yang penuh dengan kenangan masa kecilku. Satu-satunya harta peninggalan keluargaku!" Kilat amarah menguasai hati Rubby membuat api suci biru di tubuhnya bocor.


Wu Jin Ming sangat khawatir melihat keadaan Rubby yang sedang dikuasai emosi. Api suci miliknya bisa membakar apa saja yang tersentuh olehnya. Jika dia tidak memadamkannya maka tidak ada kekuatan apapun yang bisa memadamkannya.

__ADS_1


Kobaran api berwarna biru yang berkobar di tubuh Rubby menarik perhatian para pemburu kekuatan. Mereka yang tidak tahu dengan api langka itu mengira jika itu adalah kekuatan yang sangat hebat. Beberapa orang yang gila akan kekuatan berlari mendekati Rubby dan bersiap menyerangnya dari belakang.


Rubby bisa merasakan kedatangan mereka dan melepaskan cambukan saat mereka berada dalam jangkauan cambuk panjang milik Rubby. Cambuk yang telah dialiri api suci biru membuat tubuh pemburu kekuatan yang tersabet olehnya langsung terbakar. Teriakan mereka terdengar memilukan ketika api biru itu membakar mereka hidup-hidup.


Wajah Lisa menjadi pucat pasi membayangkan hal itu sebentar lagi juga akan terjadi padanya. Melihat Rubby berjalan maju ke depan dia semakin ketakutan. Tubuhnya menggigil ketika tidak ada tempat lagi baginya untuk lari saat tangannya menyentuh sebuah sangkar besar di belakangnya.


Perlahan Lisa berdiri dengan berpegangan pada ruji-ruji sangkar itu. Hal yang tidak terduga pun terjadi. Energi negatif di tubuhnya membuat Lisa tersedot masuk ke dalam sangkar perenungan itu. Dia tidak tahu harus merasa senang atau bersedih. Sepertinya sangkar itu akan membuatnya terkurung selamanya di sana.


"Kamu beruntung Lisa! Kekuatan apapun tidak akan menembus sangkar ini. Tapi jangan senang dulu, kamu bisa saja selamanya terkurung di sini jika tidak bisa melepaskan kejahatan dari hatimu!" Api biru di tubuh Rubby terlihat memudar seiring amarahnya yang mereda.


"Tidak! Lepaskan aku Rubby! Lepaskan aku! Aku sedang mengandung sekarang. Apa kamu tega menyiksa orang yang sedang hamil, Rubby!" teriakan Lisa diiringi isak tangis membuat Rubby terhenyak.


'Hamil? Lisa hamil? Apa mungkin itu adalah anak Raja Kegelapan yang menguasai tubuh Moza?'


"Terlambat, Lisa! Tidak ada yang bisa mengeluarkanmu dari sini kecuali dirimu sendiri. Kamu hamil atau tidak hukum di sangkar perenungan tidak bisa di ubah. Aku ucapkan selamat atas kehamilanmu semoga anakmu tidak menjadi penjahat seperti kedua orang tuanya." Rubby tersenyum sinis lalu pergi berlalu dari hadapan Lisa.


Wu Jin Ming yang terus mengawasi Rubby merasa lega ketika melihat api suci milik istrinya itu telah padam. Sejak tadi hatinya merasa ketar ketir takut akan semakin banyak korban yang berjatuhan karena ulahnya.


Suasana di bukit San sudah semakin sepi mungkin para pemburu kekuatan yang tersisa sudah mulai lelah. Bau anyir darah dari mayat-mayat yang bergelimpangan menyeruak memenuhi wilayah itu. Setelah mengirimkan sangkar perenungan ke istana Ratu Ivo dengan kekuatannya, Wu Jin Ming dan Rubby berjalan menghampiri Ham yang sedang terluka.


Rubby dan Wu Jin Ming memberinya pil penambah energi dan mengajaknya kembali untuk pulang.


Setelah kepergian Arlan, keanehan kembali terjadi di bukit San. Bukit itu seolah menjadi kuburan massal bagi para kultivator pemburu kekuatan yang gugur di sana. Tidak ada yang tahu pasti berapa orang yang mati dalam kekacauan di malam seribu bulan. Tanpa di sadari mereka adalah tumbal yang diinginkan oleh bukit San setiap seribu bulan sekali. Mengerikan.


Di hari-hari biasa bukit San kembali tertutup kabut tebal. Tidak ada binatang apapun yang hidup di sana. Bahkan sehebat apapun teknologi manusia saat ini tidak dapat melacak dan menemukan keberadaannya.


"Ham! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Wu Jin Ming ketika mereka sudah berada di luar area bukit San.


Rasa heran menyelimuti hati Rubby setelah menoleh ke belakang dan melihat jembatan menuju bukit San menghilang tiba-tiba.


"Hamba baik-baik saja, Tuanku!" jawab Ham yakin.


"Bagus! Kita lanjut terbang setelah ini!" Tangan Wu Jin Ming menepuk bahu Ham sambil tersenyum.


"Tunggu! Kak Wu... aku mau tanya!" rengek Rubby kembali dengan gaya kekanak-kanakannya.

__ADS_1


"Ingin tanya apa, Sayang? Kita bisa berbicara sambil terbang." Wu Jin Ming menjawabnya dengan lembut.


"Aku capek! Aku tidak ingin terbang." Rubby melupakan pertanyannya dan malah mendudukkan tubuhnya di tanah dengan meluruskan kaki.


Kepala Wu Jin Ming menggeleng tidak habis pikir dengan tingkah Rubby. Kesabarannya kembali di uji dalam keadaan seperti ini. Untung dia sudah terbiasa dengan sikap istrinya yang suka seenaknya dan kekanak-kanakan itu.


"Kamu mau aku gendong?" tanya Wu Jin Ming setelah duduk berjongkok di samping Rubby.


"Nggak! Aku ingin kamu membawaku pulang dalam sekejap mata. Apa namanya itu... tele... tele...?" Rubby mencoba mengingat-ingat.


"Teleportasi, Sayang. Ya udah, ayo kita pulang! Aku akan membawa kamu dan Ham berteleportasi."


"Tunggu! Kamu belum menjawab pertanyaanku! Jawab dulu!" ucap Rubby kesal dia merasa jika Wu Jin Ming mengabaikan pertanyaannya.


"Pertanyaan? Pertanyaan yang mana? Kamu belum mengatakannya, Sayang. Mana bisa aku menjawab pertanyaan dalam hati."


"Masa, sih? Perasaan tadi aku udah ngomong. Hmm.... Baiklah aku ulangi! Kenapa jembatan menuju ke bukit San itu tiba-tiba menghilang?" Tidak mau dipersalahkan, Rubby tetap bersikukuh jika tadi dia sudah bertanya.


"Jembatan itu hanya akan muncul di saat malam seribu bulan. Bukan hanya jembatannya saja namun bukit San juga seolah menghilang dan akan muncul kembali 3 hari menjelang malam purnama seribu bulan," jelas Wu Jin Ming yang di balas anggukan oleh Rubby.


"Oh, jadi begitu."


"Sekarang mari kita pulang!" Wu Jin Ming membantu Rubby berdiri.


"Bentar!" teriak Rubby sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor akibat duduk di tanah. "Bantuin dong, Kak!"


"Hemmh! Siapa suruh duduk sembarangan!" dengan malas Wu Jin Ming membantu membersihkan debu yang menempel di tubuh Rubby.


Ham menghembuskan napas kasar melihat adegan mesra yang setiap saat tersuguh di hadapannya. Awalnya dia ingin melajang seumur hidupnya namun ketika melihat pasangan ini jiwa kelelakiannya berkata lain. Dia berharap akan segera menemukan pasangan.


Seperti permintaan Rubby, mereka bertiga kembali ke tempat tinggal mereka dengan cara teleportasi. Dalam waktu sekejap mata mereka sudah berada di kediaman Rubby dan Wu Jin Ming. Ham sedikit heran ketika mereka di sambut oleh dayang-dayang yang bekerja di rumah itu. Hati Ham berdesir ketika melihat salah seorang dayang yang begitu cantik.


****


Bersambung...

__ADS_1



Rubby


__ADS_2