TIGER WU

TIGER WU
Bab 272. Serangan Mendadak


__ADS_3

Di Kerajaan Harimau Suci.


Tian Yu menepi dari keramaian istana untuk memperkuat dirinya, dia berlatih seorang diri di sebuah tempat yang terletak di belakang istana.


Walaupun tempat itu berdekatan dengan istana, namun suasana yang seram membuatnya jarang dikunjungi.


Pohon-pohonnya yang besar dan tinggi dengan sebuah danau yang dikelilingi oleh tanaman perdu liar, juga jurang curam yang ada di salah satu sisinya membuatnya di kenal sebagai tempat berbahaya terutama bagi anak-anak.


Lain halnya dengan Tian Yu, semua itu tidak pernah berlaku. Fisiknya memang anak-anak namun ketajaman pemikiran dan kekuatan yang dia miliki melampaui orang dewasa. Tian Yu ingin memiliki kehebatan seperti ayahnya, dia tidak suka bermain seperti anak-anak lain yang seusianya.


Jurus-jurus yang telah dia kuasai, terus diasahnya dan dia kembangkan menjadi lebih hebat. Tian Yu juga tidak segan menggabungkan dua jurus menjadi satu hingga menghasilkan jurus baru yang luar biasa. Seperti hari ini, dia menggabungkan jurus pedang ayahnya dengan jurus membelah lautan milik klan harimau suci yang kemarin diajarkan oleh gurunya di akademi.


Tangan kanannya membawa pedang energi sedangkan tangan kirinya bersiap dengan gelombang energi lain untuk disatukan di pedang energinya.


Pyarr!


Pedang energinya hancur ketika tersentuh oleh gelombang energi pembelah lautan.


"Arghh! Sial! Kenapa jurus ini tidak berhasil?" Tian Yu menendang sebuah pohon untuk meluapkan emosinya, seketika pohon besar itu tumbang.


Bukan itu saja, Tian Yu juga melepaskan kekuatannya membabi buta sehingga hutan itu menjadi sangat kacau.


"Astaga! Apa yang sudah aku perbuat? Bisa-bisa ayah akan murka jika melihat ini semua."


Tian Yu segera bergerak cepat untuk membereskan kekacauan yang dia buat. Jurus meringankan tubuh yang dia keluarkan membuatnya gerakannya hampir tak terlihat seperti bayangan. Pohon-pohon yang tumbang dan semua semak belukar yang terbakar, dia singkirkan ke dalam jurang.


"Huh! Akhirnya semuanya selesai." Tian Yu mengamati lingkungan tempatnya berada sekarang.


"Tempat ini ternyata sangat indah. Ternyata kekacauan yang aku buat membawa hasil yang baik. Hahaha!" Tian Yu menertawakan dirinya sendiri.


Hari sudah hampir malam. Matahari tingal sejengkal saja di atas cakrawala. Tian Yu harus segera pulang sebelum ibunya kebingungan mencarinya, namun dia ingin mencoba jurusnya yang tadi gagal sekali lagi.


Telapak tangan kanan Tian Yu mulai mengeluarkan pedang energinya dan telapak tangan kirinya mengeluarkan energi pembelah lautan.


Sebelum Tian Yu menyatukannya, dia dikejutkan oleh suara yang sangat dia kenal.


"Itu tidak akan berhasil. Coba pakai ini," ucap Rubby sambil melemparkan pedang meteor miliknya.


Rubby datang ke sana setelah mendengar suara berisik yang ditimbulkan oleh amukan Tian Yu.


"Wo ... wo ... wo ...! Besar sekali pedangnya!" Tian Yu yang belum siap, sedikit terhuyung-huyung ketika menangkap pedang yang dilemparkan oleh ibunya itu.


"Mau, tidak? Kalau tidak mau, sini ibu ambil lagi!" seru Rubby.


"Mau, Ibu! Mau banget! Pedangnya keren sekali!" seru Tian Yu memperhatikan pedang itu sambil dia bolak-balik dengan teliti.


"Ya, sudah. Sekarang lakukan penggabungan jurus yang kamu mainkan tadi," ucap Rubby sambil tersenyum memberi semangat pada Tian Yu.


"Baik, Bu. Eh, tapi dari mana ibu tahu kalau aku mau menggabungkan dua jurus?" Tian Yu merasa heran.


"Sudah cepat lakukan hari sudah hampir malam. Aku ibumu, jadi aku hafal semua sifatmu!" seru Rubby meminta agar Tian Yu tidak membuang-buang waktu.


"Baik, Ibu!"


Tian Yu mengulang hal yang sama dengan yang dia lakukan sebelumnya. Bedanya kali ini dia memakai pedang sungguhan yang dialiri energi. Benar apa yang dikatakan oleh ibunya, energi pedang dan energi pembelah lautan itu bisa menyatu dengan baik. Tian Yu merasa sangat senang akhirnya jurus itu berhasil dia gabungkan.


"Sekarang lepaskan jurus itu pada tebing di sana!" Rubby menunjuk sebuah tebing yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka berada. Tebing itu berlokasi jauh di luar istana.


Tian Yu membulatkan matanya mendengar perintah ibunya, menurutnya itu sangat jauh. Dia tidak yakin jika kekuatannya mampu mencapainya.


"Tap-tapi, Ibu!" seru Tian Yu ragu-ragu.


"Lakukanlah apa yang ibu minta. Jurus pembelah lautan mampu bekerja untuk menyerang musuh dari jarak yang jauh. Kamu hanya perlu meningkatkan sedikit energi yang kamu alirkan untuk menyesuaikan dengan jarak yang ingin kamu capai."


Tian Yu tidak menyangka jika ibunya punya pemikiran yang jeli mengenai jurus ini. Sungguh bakat yang tidak pernah dia tunjukkan pada semua orang termasuk pada ayahnya. Setahu Tian Yu, ibunya jarang sekali mau terlibat dengan obrolannya dengan sang ayah ketika mereka sedang membicarakan ilmu beladiri.


"Baik, Bu!"

__ADS_1


Tian Yu melakukan apa yang diajarkan oleh ibunya. Aliran energi yang berpusat pada telapak tangan kanannya dia tingkatkan menjadi dua ratus persen. Energi yang sebanding dengan jarak tebing yang akan dia serang.


Pedang meteor yang semula berwarna hitam legam itu berubah berkilauan karena diselimuti oleh energi yang berwarna putih dan kuning keemasan.


Tian Yu mengangkat pedang itu ke atas dengan kedua tangannya hingga sejajar dengan tubuhnya, setelah itu dia mengayunkannya ke depan ke arah tebing dengan gerakan membentuk sudut sembilan puluh derajat.


Energi yang terkumpul mengalir dari ujung pedang dan terlepas dengan sangat cepat meluncur ke arah tebing.


Duaarrr!


Suara ledakan dahsyat terdengar sangat keras meskipun jaraknya lumayan jauh.


Tebing itu terbelah menjadi dua bagian dan tumbang seperti pohon yang mati.


Mata Tian Yu berbinar senang melihat keberhasilannya kali ini. Walaupun dia berhasil karena bantuan ibunya, tapi dia sangat senang. Dia juga mendapatkan pedang yang sangat hebat dari ibunya.


"Terimakasih, Ibu!" Tian Yu berlari lalu memeluk ibunya erat.


"Hari sudah mulai gelap. Ayo kita pulang!" Rubby membalas pelukan putranya itu lalu mengelus rambutnya dengan sayang.


Tian Yu melepaskan pelukannya lalu menatap wajah ibunya. Masih ada satu hal yang ingin dia tanyakan.


"Ibu. Apakah pedang ini boleh aku miliki?" tanya Tian Yu penuh harap.


"Tentu saja. Ibu masih punya pedang yang lain. Tapi ingat, keluarkan pedang itu di waktu menghadapi musuh yang berat saja karena pedang itu banyak diincar oleh para kultivator. Berhati-hatilah membawanya."


"Wah! Berarti ini adalah pedang yang hebat. Aku akan berhati-hati menyimpannya, Ibu."


"Hmm." Rubby mengangguk sambil tersenyum.


Mereka berdua meninggalkan tempat berlatih Tian Yu dan kembali ke istana Kerajaan Harimau Suci.


••••


Di ruang pertemuan istana Kerajaan Harimau Suci, para pembesar istana dan panglima pilihan sedang terlibat diskusi serius dengan Wu Jin Ming sebagai raja mereka.


Pasukan yang mereka miliki tidak akan mencukupi untuk menghadapi serangan itu. Wu Jin Ming memutar otak untuk memperbanyak pasukan dengan menarik warga sipil yang memiliki kemampuan bela diri untuk memperkuat pasukan. Wu Jin Ming juga akan memanggil siluman yang dia taklukkan untuk datang membantunya bersama bala bantuannya.


"Aku juga siap bertarung, Ayah! Jangan melupakanku!" seru Tian Yu.


Kemunculannya membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut memandangnya tidak percaya. Mereka sangat salut dengan keberanian Tian Yu meskipun usianya masih belum dewasa. Para pembesar istana belum melihat perkembangan Tian Yu namun kemampuannya ketika menyerang Ratu Erlong masih sangat berkesan bagi mereka.


"Kamu harus menjaga istana ini dan seluruh Ibu Kota, Sayang," bujuk Wu Jin Ming.


"Jadi ayah meragukan kemampuanku?" Tian Yu merasa sedikit marah.


"Tidak ... tidak ... bukan begitu maksud ayah. Jika semua orang kuat pergi bertarung ke perbatasan dan kota-kota kecil, lalu kota ini siapa yang akan menjaganya, Sayang? Bukankah musuh bisa saja datang sewaktu-waktu ke sini?" Wu Jin Ming memberi alasan.


Tian Yu memegang dagunya dan bergaya layaknya orang dewasa yang sedang berpikir.


"Kamu benar, Ayah. Baiklah, kelihatannya ini juga merupakan tugas yang lumayan." Tian Yu mengangguk-angguk.


Gayanya yang berlagak dewasa menjadi hiburan tersendiri bagi pembesar istana yang sedang di landa ketegangan. Sejenak mereka terhibur dengan kehadiran Tian Yu di sana. Tingkahnya sangat lucu terkadang sangat konyol, namun itu semua dia lakukan secara alami dan tidak dibuat-buat.


"Aku akan meminta bantuan pada ibu juga." Rubby yang sedari tadi diam kini ikut andil bicara.


"Apakah ibu punya pasukan yang cukup, Sayang?" tanya Wu Jin Ming yang tidak mengetahui jika Ratu Ivo memiliki pasukan rahasia yang hanya dia kerahkan ketika keadaan mendesak.


"Lebih dari cukup. Ibu sengaja menyembunyikan pasukan rahasia di sebuah kamp khusus tempat di mana mereka berlatih setiap hari. Orang istana saja yang tahu tentang keberadaan mereka. Aku tidak diberitahu oleh ibu namun aku sengaja mencari tahu diam-diam mengenai hal ini." Rubby tersenyum menyeringai mengenang tingkah nakalnya.


"Ah, kamu ini. Semoga Tian Yu tidak tertular kenakalanmu, Sayang," bisik Wu Jin Ming.


"Ayah, Ibu. Apa yang kalian bicarakan?" Tian Yu terlihat kesal melihat orang tuanya bicara berbisik-bisik.


"Ini obrolan orang dewasa, Sayang. Kamu tidak boleh mendengarnya!" seru Rubby dengan santainya.


Tian Yu tersenyum senang. Menurut gurunya kedua orang dewasa yang saling bicara rahasia terkadang yang mereka bicarakan itu berhubungan dengan membuat keturunan. Tian Yu termakan omongan itu dan berpikir jika sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik.

__ADS_1


Wu Jin Ming kembali melanjutkan diskusi bersama para pembesar istana dan membagi pasukan yang ada untuk berangkat ke lokasi penyerangan. Dari semua pasukan yang ada hanya mampu memengisi beberapa titik saja. Untuk gerakan selanjutnya, Wu Jin Ming masih menunggu bala bantuan yang akan segera datang.


Beberapa saat yang lalu Wu Jin Ming mengirimkan mantra pemanggilan darurat pada seluruh siluman yang berada di bawah kendalinya.


Rubby juga mengirimkan mantra yang berisi tentang permohonan bantuan pada ibunya agar segera datang bantuan.


Keadaan Kerajaan Harimau Suci benar-benar genting. Serangan tak terduga dan dilakukan secara besar-besaran itu cukup membuat Wu Jin Ming kalang kabut. Tidak ada pemberitahuan tantangan untuk perang atau desas-desus pemberontak, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.


Pasukan musuh jumlahnya terus bertambah dan mengepung hampir seluruh wilayah Kerajaan Harimau Suci. Beruntung bala bantuan terus berdatangan sehingga korban jiwa dari warga sipil bisa diminimalisir. Pasukan Kerajaan Harimau Suci memang memiliki jumlah yang tidak banyak, namun kemampuan mereka jauh melampaui lawan-lawan mereka.


Jauh dari perkiraan Wu Jin Ming, rupanya pasukan musuh berhasil memasuki Ibu Kota. Mereka bukanlah lawan biasa terbukti dari kemampuan mereka menembus pertahanan di perbatasan tanpa diketahui. Sepertinya mereka memiliki kemampuan menyembunyikan hawa kehadiran mereka dari para prajurit yang berjaga, di mana diketahui kemampuan itu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki tingkatan yang cukup tinggi di dunia kultivasi.


Jumlah pasukan yang menyerang Ibu Kota memang tidak terlalu banyak namun mereka dengan mudah mampu menerobos masuk ke wilayah istana.


Istana Kerajaan Harimau Suci diberi mantra pelindung oleh Wu Jin Ming yang tidak mampu ditembus oleh siapapun yang tidak diberi tanda energi olehnya.


Keributan terjadi di sekitar istana akan terdengar hingga ke dalam istana, begitupun hari ini. Suara jeritan memilukan orang yang terbunuh dan dentuman keras dari hantaman energi yang terlepas membuat istana Kerajaan Harimau Suci bergetar. Tian Yu yang semula sedang bersantai bersama Rubby mulai menyadari ketidakberesan yang terjadi di luar istana.


Mereka pergi ke luar istana bersama-sama untuk melihat apa yang terjadi.


Sebelum ke luar, Rubby mencekal lengan Tian Yu untuk mengingatkannya akan sesuatu.


"Saat ini negeri kita dalam keadaan berperang. Jangan keluar dari istana ini dengan tangan kosong. Siapkan senjatamu sebelum melangkah dari batas aman!" seru Rubby pada Tian Yu.


"Aku mengerti, Ibu." Tian Yu mengeluarkan pedang energi di tangan kanannya.


Rubby percaya pada putranya itu. Meskipun usianya masih sangat belia, dia bisa diandalkan dalam menghadapi lawan. Jika kemampuannya diukur dan dibandingkan dengan para prajurit, mungkin saat ini dia sudah setara dengan jenderal bintang lima.


Tian Yu dan Rubby melenggang keluar dari dalam istana dengan penuh percaya diri. Mereka terlihat santai meskipun mereka tahu sebentar lagi akan bertaruh nyawa untuk melawan musuh-musuhnya. Kepanikan hanya akan melemahkan mental mereka dan membuatnya sulit berkonsentrasi.


Ada sekitar 15 orang musuh yang menunggu mereka di luar istana. Semua prajurit yang berjaga di luar gerbang tewas mengenaskan dengan keadaan yang berbeda-beda. Keganasan musuh terkesan sangat sadis, mereka bukan cuma melukai melainkan juga membuat lawannya menjadi tidak berbentuk lagi.


"Hahaha! Jadi kerajaan ini sudah kehabisan pasukan, ya! Sampai-sampai seorang wanita dan anak kecil di minta untuk maju berperang. Sungguh menyedihkan!"


Ejekan demi ejekan terus keluar dari mulut musuh menyambut kemunculan Rubby dan Tian Yu. Keduanya memang sengaja memakai pakaian warga sipil biasa dan menanggalkan atribut kemewahan mereka. Mereka juga menekan energi mereka sehingga benar-benar tersembunyi dan tidak mudah terdeteksi oleh lawannya.


"Memang benar. Kalian boleh maju untuk melawan anak-anak dan wanita ini. Mungkin kalian semua akan merasa berkesan dan menjadikan ini sebagai dongeng pengantar tidur panjang kalian." Rubby bersiap dengan pedang energinya dan mengayunkannya ke sembarang arah untuk memancing emosi lawannya.


"Aku salut pada nyali kalian yang begitu besar. Semoga kalian bisa melewati pertarungan hingga berakhir satu jurus." orang berjubah hitam itu maju ke depan diikuti yang lainnya, namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.


"Kalian tunggu saja, biar aku yang menghadapi mereka berdua," ucapnya penuh percaya diri.


Orang itu melenggang maju seorang diri karena mengira jika Rubby dan Tian Yu adalah lawan yang mudah.


Di sisi lain mata kejam Tian Yu terlihat berkilat. Sejak tadi dia hanya berdiam diri mendengar ejekan mereka, namun dalam hati dia berkata 'Kalian semua harus mati di tanganku!'.


"Biarkan aku saja yang maju, Ibu!" Tian Yu mengambil posisi di depan Rubby.


"Baiklah! Jangan terlalu kejam, Sayang. Sepertinya mereka butuh untuk dikasihani." Rubby berdiri bersandar pada sebuah tembok untuk berteduh.


"Beraninya kamu menghinaku, Wanita Bodoh! Memangnya sehebat apa iblis kecil ini!" orang itu terlihat sangat marah melihat Rubby malah bersantai.


"Cepat lawan aku, atau biarkan kamu ingin aku membunuhmu dalam satu serangan saja?" Tian Yu maju dan berada jarak yang dekat dengan lawannya.


"Kecil-kecil banyak sekali bicaramu. Hiyaaaa!" orang itu menyerang Tian Yu yang telah siap dengan pedangnya.


Tubuh kecilnya begitu lincah melompat ke segala arah dengan jurus yang sangat terlatih. Gerakannya hampir tidak terlihat karena kecepatan gerakan yang dia lakukan. Hanya terdengar suara pertarungan dan kilatan energi yang bertabrakan yang terlihat oleh orang lain. Dan belum jelas siapa yang kalah ataupun menang dalam pertarungan itu.


"Arrrghhh!" teriakan panjang laki-laki berjubah hitam menandakan dia telah menemui ajalnya. Sesaat kemudian, potongan-potongan tubuhnya mulai berjatuhan ke tanah.


Semua kawan-kawannya terngaga melihat itu semua dan menatap ngeri pada Tian Yu yang berdiri dengan tenang melayang di udara.


"Kalian pikir, hanya kalian saja yang bisa kejam!" pekik Tian Yu sambil tersenyum menyeringai.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2