TIGER WU

TIGER WU
FELLY VS RUBBY


__ADS_3

Wu Jin Ming terus mengamati gerak gerik Felly. Dia tidak memberi tahu Rubby tentang siapa Felly sebenarnya mengingat sifat Rubby yang ekspresif. Bisa - bisa Rubby langsung berteriak atau melompat lari jika dia tahu sekarang.


"Rubby, aku duluan, ya!" Lisa berdiri setelah jam kuliah miss Felly berakhir.


Hari ini hanya ada satu mata kuliah saja.


"Iya. Kalian duluan saja." Rubby masih sibuk membereskan barang - barangnya.


"Ok, bye!" Lisa berlalu bersama Bella dan Cindy.


"Bye!" Rubby menahan napas lalu membuang jauh pikiran buruknya tentang tugas yang akan diberikan Miss Felly.


"Hai, cantik!" Ron sudah menunggunya di depan kelas Felly.


"Aaaa!" teriak Rubby saking kagetnyakagetnya melihat Ron tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Sorry... sorry..." Ron menutup mulutnya menahan tawa.


"Eh, malah ketawa. Jantungku mau copot nih. Huft!" Rubby memegang dadanya yang masih berdebar.


Rubby mendelik kesal menatap Ron. Mulutnya di buat kembang kempis menahan emosi. Wajahnya terlihat semakin menggemaskan.


"Jangan gitu lah, By. Aku semakin gemas padamu. Gimana kalau aku khilaf dan ingin menciummu?" alis Ron di gerakkan naik turun.


"Nggak mau, ihh!" sebuah buku melayang di atas kepala Ron. Buku itu mengenai bahunya setelah Ron berusaha menghindar.


"Galak amat, sih! Biasanya orang galak itu sedang laper. Ke kantin, yuk!" ajak Ron.


"Nggak. Udah dibilangin aku dah punya pacar, Nggak mau nyerah juga!" Rubby mendengus kesal.


"Alah, pacar doang. Selama belum married aku masih ada kesempatan dong buat deketin kamu," ucap Ron tak mau menyerah.


"Terserah. Minggir! Aku mau lewat!" Rubby berjalan lengannya sedikit menyenggol lengan Ron. Dia tidak ingin membuang - buang waktu lagi.


"Mau kemana sih? Buru - buru amat." Ron masih berusaha mengejar langkah Rubby.


Pandangan Rubby bergerak ke sana ke mari mencari sosok Wu Jin Ming yang sedari tadi tak terlihat.


"Aku di minta menemui dosen buat remidi." Rubby masih saja celingukan mencari Wu Jin Ming.


"Ya udah, aku tunggu diparkiran, ya?" masih juga tidak menyerah. Ron terus berusaha untuk mendapatkan perhatian Rubby.


"Hmm. Kalau aku lama kamu tinggal aja," ucap Rubby sambil lalu.

__ADS_1


Ron berdiri terpaku melihat kepergian Rubby. Dia berdecak kagum menatap Rubby meski hanya melihatnya dari belakang. Ron baru beranjak dari tempatnya berdiri setelah Rubby tak terlihat lagi.


"Kak Tiger! Kakak! Kamu di mana?" panggil Rubby dengan suara hatinya.


"Aku berada di dalam liontin giokmu, Rubby. Kamu tenang saja. Aku selalu bersamamu." suara Wu Jin Ming menggema di pikiran Rubby.


Seulas senyum menghiasi wajah Rubby. Kekhawatirannya menguap seketika. Dia lebih percaya diri untuk menghadap Miss Felly.


Tokk... Tokk...


Rubby mengetuk pintu. Tangan Rubby berhenti di depan muka Miss Felly ketika mau mengetuk untuk ketukan ketiga. Dia buru - buru menariknya dan tersenyum kikuk.


"Maaf, Miss. Saya tidak tahu kalau Miss Felly akan membuka pintu secepat ini." Rubby membungkuk memohon maaf.


"Tidak apa. Aku kebetulan sedang berada di dekat pintu tadi," jawab Felly mencoba bersikap ramah.


"Ayo silakan masuk!" Felly berjalan mendahului Rubby lalu duduk di kursi kebesarannya.


Sorot mata Felly yang tajam terus melirik ke arah Rubby. Sekilas dia terlihat senyum menyeringai.


"Apa yang harus saya kerjakan untuk perbaikan nilai saya, Miss?" tanya Rubby setelah duduk saling berhadapan dengan dosen seksi itu.


"Mudah saja. Ada beberapa poin penting yang perlu kamu tulis ulang di sini." Felly menyodorkan sebuah modul yang merupakan tugas Rubby sebelumnya.


"Rubby, ada yang mau saya tanyakan." wajah Miss Felly tampak serius.


"Silakan, Miss." ada desir aneh yang hinggap di hatinya.


"Aku tertarik dengan kalungmu. Maksudku liontin yang kamu pakai, dari mana kau mendapatkannya?" Felly memutar otak untuk bisa mencari kesempatan agar liontin itu berada di tangannya.


Spontan tangan Rubby langsung menggenggamnya. Dia menatap Miss Felly penuh curiga. 'Jangan - jangan dia tahu tentang ilmu spiritual dan keberadaan dimensi lain juga.' Rubby terus berpikir dalam hati sambil bersikap waspada.


"Jangan takut! Aku akan memberimu nilai sempurna tanpa kau mengerjakan perbaikan nilai lagi jika kamu mengijinkan aku memegang liontinmu sebentar saja. Bagaimana?" Felly menawarkan pilihan yang menggiurkan pada Rubby.


Rubby bukan orang yang bod*h. Semakin Felly menunjukkan ketertarikannya dia semakin curiga.


"Maaf, Miss. Saya lebih baik mengerjakan tugas dari Miss Felly. Liontin ini sangat berharga bagi saya." tangan Rubby tetap memegang erat liontinnya.


"Ayolah, Rubby! Aku hanya ingin memegangnya sebentar." Felly berdiri hendak menghampiri Rubby.


Melihat Felly bergerak, Rubby tak tinggal diam. Dia mengambil modul lalu membawanya. Rubby ingin buru - buru pergi dari tempat itu.


"Saya permisi Miss. Saya harus segera pulang. Teman saya menunggu diparkiran," elak Rubby memberi alasan.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa pergi sekarang, Rubby. Kamu baru bisa pergi setelah mendapat ijin dariku." tangan Felly di angkat ke atas. Dia memetik jarinya dan tiba-tiba suasana ruangannya berubah.


Rubby terperangah. Sepertinya dia sekarang berada di dimensi yang berbeda. 'Bagaimana mungkin seorang dosen seperti Miss Felly bisa melakukannya? Atau jangan - jangan... Miss Felly bukan manusia. Nggak... semoga pikiranku ini nggak bener.'


"Kamu jangan pura-pura terkejut seperti itu, Rubby. Kamu suka biasa kan masuk ke dimensi lain. Aku tahu ada dimensi lain di kalung yang kamu pakai itu." Felly tertawa keras. Tidak ada yang mendengarnya selain mereka berdua karena saat ini mereka sedang berada di dimensi milik Felly.


"Apa yang kamu inginkan? Siapa kamu sebenarnya?" Rubby mundur beberapa langkah.


"Aku menginginkan pemilik dimensi dalam liontinmu keluar. Kamu akan tahu siapa aku setelah itu." Felly menyeringai dan memunculkan taring tajamnya.


"Miss Felly, kamu pasti bukan manusia!" pekik Rubby ketika melihat warna mata Felly juga berubah.


"Ha ha ha." Felly tertawa. Tubuhnya mulai berubah juga. Dia memakai hanfu dan dandanan kuno ala jaman dahulu.


"Aku nggak takut padamu!" Rubby juga mengganti penampilannya. Dalam satu kedipan mata Rubby pun telah berubah memakai hanfu.


"Sangat mengejutkan. Ternyata mahasiswaku seorang kultivator. Tapi sayang sekali. Basis energimu masih sangat rendah dibandingkan dengan kekuatanku." Felly sangat yakin jika dia bisa dengan mudah mengalahkan Rubby. Dengan begitu, dia akan segera bertemu Raja Harimau Putih. Siluman yang sangat populer di kalangan para siluman wanita.


"Kamu terlalu yakin, Miss Felly. Suamiku pasti akan datang menyelamatkanku jika aku kalah."


"Suami? Mana suamimu panggil dia ke sini. Aku ingin lihat seberapa hebatnya dia." Felly mendengus memperlihatkan kesombongannya.


"Belum saatnya dia keluar. Aku ingin merasakan bertarung dengan siluman untuk pertama kalinya lebih dulu." kaki Rubby mulai meninggalkan tanah lapang di bukit berbatu di dimensi milik Felly. Sepertinya hanya mereka berdua yang ada dalam dimensi itu.


"Ha ha ha... bagus. Semoga suamimu itu tidak terlambat menyelamatkanmu. Sehebat apapun dia belum tentu bisa menembus alam dimensi kecuali dia seorang siluman sepertiku." seringainya semakin menakutkan.


Felly memusatkan kekuatannya di ujung jarinya. Dia mengarahkan serangan jarak jauhnya ke arah Rubby. Dengan sigap Rubby melompat ke arah lain.


"Hebat juga!" puji Rubby. Tak mau kalah dengan aksi Felly, Rubby memusatkan kekuatan spiritualnya di kedua telapak tangannya.


Tanpa sungkan lagi Rubby menyerang karena Felly sudah memulai serangannya terlebih dahulu. Tangannya bergantian melempar bola api ke arah Felly. Felly menghindarinya. Setelah merasa lumayan kewalahan, Felly mengeluarkan sayap dari punggungnya. Sayap Felly berwarna abu silver berkekuatan 2 bidadari. Felly terbang mendekati Rubby dengan sayapnya untuk bertarung jarak dekat.


Rubby menanggapi serangan Felly dengan serius. Dia terus berkonsentrasi untuk menangkis dan membalas serangan Felly. Pertempuran sengit pun terjadi.


Tak ingin kalah dari Rubby, Felly segera meningkatkan level kekuatannya. Tekanan energi yang kuat membuat Rubby sulit mendekatinya. Rubby terdorong ke belakang saat Felly bergerak mendekatinya.


Wu Jin Ming melihat pertarungan Rubby dari dalam dimensinya. Dia belum ingin muncul selama Rubby masih bisa mengatasinya. Ini saatnya Rubby berlatih bertarung untuk menjaga dirinya. Dengan sering berlatih dia akan semakin hebat dalam mengatasi serangan musuhnya.


"Terima ini!" Felly mengeluarkan bola energi besar dan dilempar ke arah Rubby.


Saat terpojok Rubby ingat jika semalam dia mendapatkan sayap bidadari level 3. Secepat kilat tangannya menggambar simbol dan melakukan gerakan pengaktifan. Sayap itu muncul di saat yang tepat. Terlambat sedikit saja ledakan serangan Felly akan mengenai tubuhnya.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2