
Hari ini Wu Jin Ming harus bekerja sementara Rubby libur kuliah. Wu Jin Ming ingin membawa Rubby ke lokasi pemotretan, awalnya dia menolak tapi akhirnya setuju. Tanpa Wu Jin Ming dia pasti akan merasa bosan di rumah.
Wu Jin Ming membantu Rubby untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah semuanya beres mereka bersiap untuk pergi ke tempat Wu Jin Ming bekerja. Mereka memakai kaos couple yang dibeli oleh Rubby berapa hari yang lalu.
Mereka benar-benar terlihat sangat serasi hari itu. Wu Jin Ming menyetir mobil dengan santai karena waktu pemotretan masih lumayan lama. Mereka menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Apakah kamu suka melihat pemandangan ini?" tanya Wu Jin Ming. Dia sengaja melewati jalur yang tak biasa.
"Aku sangat menyukainya. Aku baru tahu kalau di pinggir kota ini ada tempat seindah ini," ucap Rubby sambil tersenyum senang melihat keluar jendela.
"Hei, lihat itu! Terlihat ada beberapa tenda, sepertinya ada yang sedang berkemah di sana!" tunjuk Rubby.
"Benar. Kelihatannya tempat itu sangat cocok untuk berkemah. Apakah kamu ingin pergi berkemah?" tanya Wu Jin Ming.
"Enggak aku pernah punya kenangan buruk saat berkemah. Untung waktu itu aku bertemu denganmu, kalau nggak mungkin aku sudah dimakan oleh siluman ular itu." Rubby bergidik mengingat kejadian di Hutan Larangan.
"Jika kamu mau, aku bersedia untuk menemanimu berkemah," ucap Wu Jin Ming.
"Untuk saat ini aku belum ingin berkemah. Aku akan mengajakmu jika aku menginginkannya." Rubby berbicara sambil terus menikmati pemandangan indah yang hampir berganti. Mobil yang mereka tumpangi kini mulai memasuki jalan perkotaan lagi.
"Baiklah," ucap Wu Jin Ming sambil fokus menyetir.
Mobil mereka sampai di halaman sebuah gedung yang menjadi tempat pemotretan. Banyak pasang mata melihat kedatangan Wu Jin Ming dan Rubby. Catherine melirik dengan tatapan tidak suka.
Hari ini Wu Jin Ming kembali berpasangan dengan Catherine. Mereka menjadi brand ambassador sebuah produk aparel. Mau tidak mau mereka harus berpose sedikit menantang.
Rubby ikut masuk dan melihat proses pengambilan gambar. Hatinya bergejolak hebat melihat pose-pose menantang suaminya dan Catherine. Dia merasa sangat gerah karena cemburu.
'Jika tahu seperti ini mending tadi aku nggak usah ikut,' guman Rubby dalam hati.
Segera Rubby memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain. Sekarang dia berjalan menuju tepi ruangan yang berdinding kaca. Dari sana terlihat pemandangan perkotaan karena saat ini mereka berada di lantai paling atas.
__ADS_1
Ketika Rubby sedang fokus mengamati sebuah tempat perbelanjaan yang berada di seberang gedung, perasaannya sedikit terusik. Dia merasakan hawa kejahatan yang muncul di sana. Mata batinnya hanya melihat sesosok bayangan hitam.
Wu Jin Ming datang menghampiri Rubby. Ada sedikit waktu sebelum dia melakukan pemotretan season 2.
"Hai, Sayang! Maaf kalau membuatmu merasa nggak nyaman di sini," ucap Wu Jin Ming dengan perasaan bersalah.
"Nggak papa. Kamu lanjut aja. Oh iya, aku ingin pergi membeli minuman dan camilan sebentar ke luar," ucap Rubby.
"Biar aku menyuruh OB untuk membelikan apa yang kamu mau," ucap Wu Jin Ming.
"Enggak usah. Biar aku pergi sendiri saja. Cuma ke situ tuh!" tunjuk Rubby.
Wu Jin Ming melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Rubby. Sebuah minimarket yang tidak terlalu jauh dari gedung tempat mereka berada. Wu Jin Ming berpikir sejenak.
"Kamu boleh pergi, tapi jangan lama-lama!" seru WU Jin Ming.
"Tentu saja. Aku akan segera kembali." Rubby tersenyum senang.
Langkah Rubby melambat. Sekarang dia harus berhati-hati. Hawa jahat itu semakin terasa.
Penjaga minimarket menarik pintu kaca dari dalam. Dia membukakan pintu untuk Rubby. Rubby merasa aneh. Sepertinya orang-orang di sana dikendalikan oleh sebuah kekuatan.
Benar saja. Aura energi hipnotis menyelimuti tempat itu. Rubby menghentakkan kaki kanannya untuk menghalau energi itu masuk ke tubuhnya. Tubuh Rubby kini seperti terbungkus oleh cahaya putih terang yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa.
Rubby berusaha tetap tenang. Dia berjalan ke arah deretan minuman yang tertata rapi di sebuah rak. Dia mengambil beberapa. Rubby bersikap acuh dengan tatapan dingin semua orang yang berada di sana. Sepi. Mulut mereka seperti terkunci.
Rubby berjalan ke kasir dan mengambil beberapa camilan yang berada di dekatnya sebelum membayar apa yang dia beli. Aneh. Semuanya akan seperti berhenti bergerak. Waktu seakan terhenti.
Sesosok makhluk berjubah hitam mendekatinya. Wajahnya tak terlihat karena kepalanya tertutup hingga sebatas hidung. Hanya mulutnya saja yang tampak.
"Akhirnya kamu muncul juga." Rubby tersenyum miring.
__ADS_1
"Aura energi yang kuat. Raja Kegelapan pasti akan sangat senang jika kamu mau bergabung," ucap makhluk berjubah hitam itu.
"Aku orang yang bebas. Aku nggak suka di perintah. Apalagi untuk berbuat jahat dan mengganggu manusia," ketus Rubby.
"Aku menyukai kesombonganmu. Kamu akan menyesal menolak ajakanku. Mungkin kamu ingin aku menghajarmu dulu sampai kamu menyerah baru mau bergabung!" seru makhluk berjubah hitam.
"Boleh di coba, Siluman Kucing!" Rubby memanggil pria berjubah hitam itu dengan ejekan. Dia tahu sebenarnya pria itu seorang siluman macan tutul.
"Kamu sembarangan menamaiku bocah tengik! Aku semakin tak segan untuk menghajarmu!" Siluman macan tutul menyerang Rubby.
Rubby menghindari serangan itu. Rubby melepaskan cincinnya dan membacakan mantra. Cincin itu segera berubah menjadi pisau belati dan mengejar siluman macan tutul.
Siluman itu sedikit kewalahan. Dia tidak menyangka gadis yang dia remehkan bisa sehebat itu. Dalam hati siluman macan merasa ciut nyali. Lawannya sedikitpun belum mengeluarkan energi spiritualnya.
'Tidak boleh dibiarkan! Aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku!' siluman macan tutul mulai merubah strategi.
Siluman itu melapisi tubuhnya dengan roh energi jiwa. Pisau Rubby terpental setiap kali mengenainya. Pertahanannya sulit untuk di tembus.
Rubby berpikir sejenak. Jika dia merubah dirinya menjadi Dewi Bulan, maka Wu Jin Ming akan merasakan keberadaannya. Akan lebih aman jika dia merubah dirinya menjadi Putri Virs untuk saat ini.
"Ssi... siiapa kamu?" tanya siluman itu.
"Aku cuma wanita lemah. Kenapa? Kamu takut?" tanya Rubby.
"Penampilanmu sangat mirip dengan Ratu Ivo. Tidak mungkin kamu merebut tongkat itu darinya. Siapa kamu sebenarnya?" tanya siluman itu merasa segan. Sepertinya misinya kali ini akan gagal. Dia harus segera lari dari sana.
"Baiklah. Aku tidak suka membuat orang penasaran. Aku Virs. Putri satu-satunya dari Ratu Ivo."
Ucapan Rubby yang lembut terdengar seperti petir yang menggelegar di telinga siluman macan tutul. Siluman itu merasa sedikit lega. Dia pikir kekuatan yang di miliki Rubby belum seberapa di banding Ratu Ivo. Siluman itu kembali bersiap untuk bertarung melawannya.
****
__ADS_1
Bersambung...