TIGER WU

TIGER WU
CERMIN AJAIB


__ADS_3

"Jadi aku tidak akan mati, ya?" Rubby kembali bertanya.


Ratu Ivo membungkuk sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Rubby berdiri.


Rubby menyambutnya lalu berdiri di hadapan Ratu Ivo. Begitu juga dengan Wu Jin Ming. Kini mereka bertiga berdiri dan saling berhadapan.


"Ibu juga memakai jantung pengganti, Sayang. Sudah sangat lama, sejak sebelum menikah dengan ayahmu. Kamu lihat, ibu masih baik-baik saja kan sampai sekarang?"


Penuturan Ratu Ivo membuat Rubby bernafas lega.


"Fiuuhh!" Rubby menghembuskan nafasnya ke wajahnya sendiri.


"Syukurlah, Ibu. Pantas saat terbangun tadi ada sedikit rasa nyeri di dadaku, padahal aku hanya menggeliat saja." Rubby menceritakan apa yang dialaminya.


"Kamu akan segera baik-baik saja, Sayang. Beristirahatlah untuk beberapa hari maka kamu akan segera pulih." Ratu Ivo tersenyum bahagia melihat putrinya kini sudah baik-baik saja.


"Beristirahatlah, Ibu!" Wu Jin Ming mempersilakan Ratu Ivo untuk pergi beristirahat.


Ratu Ivo terlihat berpikir. Dia menimbang-nimbang untuk tinggal semalam atau kembali ke negerinya.


"Sepertinya ibu tidak bisa tinggal malam ini. Ibu harus kembali ke istana." Ratu Ivo mengambil keputusan.


"Kak Wu! Aku juga ingin pulang. Ayo kita pulang saja!" rengek Rubby.


"Bukankah biasanya kamu senang tinggal di sini, Rubby?" Wu Jin Ming mengernyit heran.


Rubby menggigit bibir bawahnya, dia bingung untuk mengatakan apa yang mengganggu pikirannya atau tidak.


"Kita belum memberitahu kak Lin. Mereka pasti bingung karena kita tiba-tiba menghilang."


Rubby bicara sangat hati-hati.


"Aku sudah meminta cuti padanya. Kamu tidak perlu khawatir. Beristirahatlah! Setidaknya untuk malam ini."


"Humm. Baiklah!" Rubby menghela nafas pasrah lalu beralih menatap Ratu Ivo.


"Ibu akan pulang malam ini?" tanya Rubby.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Ibu harus berkultivasi untuk memulihkan kekuatan jiwa ibu."


Jika harus jujur, Rubby merasa kecewa karena masih ingin bersama dengan ibunya itu. Tapi di sisi lain dia juga tidak boleh egois karena ibunya juga seorang ratu yang memikul tanggung jawab besar di negerinya. Di lihat dari auranya sepertinya ibunya juga terlihat kurang sehat saat ini.


"Baiklah, Ibu. Aku akan mengunjungimu nanti. Aku menyayangimu, Ibu." Rubby berhambur memeluk Ratu Ivo.


"Aku juga sangat menyayangimu, Sayang. Ingat, jangan melakukan aktifitas berat dulu sampai kamu benar-benar pulih!"


Rubby mengangguk di dalam pellukan Ratu Ivo.


Seorang dayang datang menghampiri mereka. Dia datang untuk menyampaikan kabar jika saat ini Dewa Langit sedang menunggu mereka di ruang perjamuan. Itu adalah sopan santunnya untuk menyambut Ratu Ivo sebagai tamu di sana.


Wu Jin Ming, Rubby, dan Ratu Ivo segera datang memenuhi undangan dari Dewa Langit.


Di ruang perjamuan sudah sangat ramai. Para dewa dewi sudah berkumpul di sana. Mereka terpana dengan kecantikan dari Rubby dan Ratu Ivo yang paripurna. Mungkin saat ini hanya mereka berdua saja yang tersisa dari ras bidadari setelah kehancuran negeri mereka.


Ratu Ivo mengucapkan salam setiap kali berpapasan dengan dewa dewi yang ada di sana.


Rubby mengikuti apa yang dilakukan ibunya. Dalam urusan etika istana dan sopan santunnya dia memang masih nol besar. Setiap kali datang ke lingkungan istana dan dihadapkan pada situasi yang resmi dia hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Wu Jin Ming.


Sebelum menyantap makan malam, mereka berbincang-bincang singkat dengan Dewa langit dan para dewa pendukung. Ratu Ivo merasa tersanjung dengan sambutan mereka. Para dewa tidak menganggapnya sebagai orang asing di negeri langit.


Kehangatan suasana di ruang makan tidak berlangsung lama. Sebagian dewa dewi sudah kembali ke istana mereka masing-masing setelah menyelesaikan makan malam mereka. Kini hanya tersisa beberapa orang saja di sana.


Dewa Langit dan beberapa dewa pendukung mengajak Ratu Ivo, Rubby dan Wu Jin Ming pergi ke aula yang merangkap sebagai ruang pertemuan.


Ratu Ivo sekalian berpamitan untuk kembali ke negerinya.


"Apa tidak sebaiknya, Yang Mulia Ratu kembali ke istana esok pagi saja?" ucap Dewa Langit.


"Singgahlah di istanaku, Yang Mulia!" Dewi Kemakmuran meminta Ratu Ivo untuk singgah ke istanannya.


"Saya sangat berterimakasih atas sambutan yang membuat saya tersanjung, tapi saya belum pernah meninggalkan negeri saya terlalu lama. Para pembesar kerajaan pasti sangat menantikan kepulangan saya."


Rati Ivo menolak dengan sopan.


"Waku semalam tidaklah lama, Yang Mulia. Bukankah Yang Mulia memiliki cermin ajaib yang bisa melihat keadaan istana dari jauh." Dewi Kemakmuran terlihat sangat ingin ratu Ivo untuk tinggal.

__ADS_1


Tidak bisa beralasan lagi. Mungkin tidak masalah jika dia tinggal saja semalam untuk menemani putrinya. Di negeri langit juga memiliki energi spiritual yang sangat kuat. Dia bisa berkultivasi dan menyerap energi yang sangat besar di sini.


Setelah mempertimbangkannya, Ratu Ivo akhirnya mengikuti pendapat Dewi Kemakmuran dan mengeluarkan cermin ajaibnya.


Semua yang ada di ruangan itu terpukau melihat cermin ajaib milik Ratu Ivo, kecuali Rubby. Rubby pernah melihatnya sekali saat berlatih bersama ibunya itu. Ini kali kedua dia melihatnya.


Ratu Ivo mengangkat cermin itu ke atas lalu membaca mantra. Seketika cermin itu bersinar terang dan menampilkan sebuah gambaran istana kerajaannya. Untuk memperjelas gambaran dan ukurannya, Ratu Ivo melepaskan cermin itu dan membuatnya melayang di udara.


Keadaan yang tergambar di sana membuat semua orang yang melihatnya terkejut. Di sana terlihat sebuah keributan besar di ruang penyimpanan sangkar perenungan. Tidak jelas siapa yang mengacau di sana. Mereka berpakaian serba hitam dan menutup kepala mereka.


Semua tahanan di dalam sangkar perenungan memang tidak mungkin bisa dilepaskan oleh kekuatan apapun, hanya saja istana ratu Ivo terlihat sangat kacau.


Beberapa orang prajurit terlihat sedag bertarung melawan mereka.


"Rupanya apa yang aku khawatirkan menjadi kenyataan."


Wajah Ratu Ivo terlihat murung. Saat ini tidak mungkin baginya untuk bertarung begitu juga denga Rubby. Kekuatan jiwa Ratu Ivo bisa menghilang jika dia memaksakan diri untuk bertarung.


Dewa Langit dan para dewa tampak berpikir serius.


Wu Jin Ming maju kehadapan Ratu Ivo.


"Ibu Ratu jangan khawatir! Aku akan pergi ke istana Ibu dan mengatasi kekacauan yang terjadi," ucap Wu Jin Ming yakin.


Ratu Ivo menatap Wu Jin Ming tanpa mengatakan apa-apa. Dia masih berpikir.


"Aku juga ikut!" Rubby tidak ingin berada di istana langit seorang diri tanpa ibu dan suaminya.


Wu Jin Ming tampak berpikir. Jika Rubby dan mertuanya ikut di dalam kerusuhan itu, dia akan sangat sulit berkonsentrasi. Bisa saja musuh mengincar keselamatan keduanya.


"Dewa Bintang Timur dan Dewa Gunung akan ikut bersama kalian!" seru Dewa Langit.


Mendengar itu Ratu Ivo merasa sedikit lega.


"Terimakasih atas bantuannya, Yang Mulia Dewa Langit. Mohon perkenankan kami untuk segera berangkat," pamit ratu Ivo.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2