TIGER WU

TIGER WU
KELICIKAN GURU TONG


__ADS_3

Seluruh orang yang berada di sana menjadi tegang tatkala Rubby memainkan jurus pedangnya di hadapan dosen Chu. Jurus pedang pendekar Chin level tiga dia pamerkan tanpa sebuah pertarungan. Di dalam ilmu bela diri itu artinya sebuah undangan kepada lawan untuk segera menyerang.


Dalam hati dosen Chu menciut melihatnya, namun dia tidak boleh menyerah. Dia harus mengeluarkan seluruh kemampuannya demi menjaga nama baik sektenya meskipun awalnya ini dilatarbelakangi oleh dendam pribadinya.


"Haaa!" Dosen Chu akhirnya maju dengan gagah berani.


Seragam sekte yang melekat di tubuhnya membuatnya terlihat berwibawa seperti saat menjadi dosen di kampusnya.


Pertarungan pedang diantara keduanya pun berlangsung sangat sengit. Rubby tidak menyangka ternyata dosen Chu juga memiliki kemampuan memainkan pedang yang cukup hebat. Berkali-kali mereka berhenti ketika pedang mereka saling berpotongan.


Jurus pedang level tiga milik Rubby memang terbilang masih berkecepatan sedang. Tidak ingin memberi kesempatan pada dosen Chu untuk bernapas lega, Rubby menaikkan level jurusnya dua tingkat ke level lima.


Kini keadaan berubah total, baju yang dikenakan oleh dosen Chu terkoyak di mana-mana. Bukan cuma bajunya saja yang robek, melainkan juga kulitnya tergores oleh pedang energi milik Rubby.


Semua orang yang berada di sana terlihat menahan napas melihat pertarungan yang semakin tidak seimbang itu.


Dosen Chu terus terdesak. Bisa menahan serangan dari jurus pedang Rubby saja sudah sangat luar biasa karena saat ini permainan pedang Rubby laksana iblis yang sedang mengamuk. Dia terus saja memberikan serangan mematikan pada dosen Chu.


Tidak ingin bertarung lebih lama lagi, Rubby memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan dengan menebas leher dosen Chu.


Rubby membagi aliran energinya pada kaki kanannya lalu menendang dada dosen Chu kuat-kuat. Tubuh dosen Chu terpental ke belakang beberapa meter. Pedang energinya menghilang setelah dia kehilangan fokus dengan pandangan matanya yang mulai kabur dan sempoyongan.


"Kamu yang memilih untuk mati di tanganku. Jadi jangan pernah menyesal telah mengatakan itu padaku!"


Rubby mengayunkan pedangnya bersiap untuk menebas leher dosen Chu yang pasrah.


Criingggggg!


Sebuah pisau kecil bergerigi meluncur ke arah Rubby dan mengincar pergelangan tangannya.

__ADS_1


Rubby menghindar dan melepaskan pedang energinya seketika itu juga, namun sayang, kecepatan pisau yang dialiri energi itu masih mengenai tangannya sedikit hingga tergores.


Melihat hal itu Wu Jin Ming segera bangkit dari duduknya dan berlari menyongsong Rubby. Matanya terlihat dingin dan kejam karena menahan amarahnya. Perkiraannya tidak meleset, tetua Sekte Air Api Suci tidak akan tinggal diam. Mereka tidak akan membiarkan Rubby dan dirinya menang dan keluar dari sekte sebelum kertas mantra itu kembali ke tangan mereka.


"Ternyata sekte ini begitu menjijikkan!" seru Rubby setelah mengobati luka goresnya hingga kulitnya kembali pulih.


Baginya itu hanyalah luka kecil, namun dia sangat membenci kecurangan yang dilakukan oleh Sekte Air Api Suci.


Jika Wu Jin Ming masih bisa menahan diri ketika marah, lain halnya dengan Rubby. Kemarahannya yang meluap-luap tidak bisa di bendung, apalagi dia tahan. Energi api Rubby akan segera bereaksi dan bocor dari dalam tubuhnya.


Meskipun saat ini Wu Jin Ming sangat marah namun dia berusaha untuk menenangkan Rubby agar api sucinya tidak bocor dan menghancurkan semuanya.


Dia memegang tangan Rubby dengan lembut dan memberinya tatapan yang seolah-olah mengatakan 'tenanglah semua akan baik-baik saja'.


Tatapan Wu Jin Ming bagaikan air satu ember yang menyirami api amarah Rubby. Tatapan itu mampu meredam amarahnya yang berkobar ketika api sucinya hampir keluar. Kini Rubby terlihat lebih tenang meskipun sisa-sisa kemarahan itu masih ada.


Suasana semakin terasa tegang ketika Guru Tong maju ke hadapan keduanya beserta para tetua dan penasehat Sekte Air Api Suci.


"Rubby! Berhati-hatilah! Kelihatannya mereka bukan lawan yang mudah," bisik Wu Jin Ming ketika mereka mengambil posisi dengan berdiri saling memunggungi.


"Aku tahu. Jangan sia-siakan pengorbananku! Tetap sembunyikan identitasmu," balas Rubby.


"Aku tahu, Sayang." Lagi-lagi Wu Jin Ming mengucapkan kata-kata manis berharap agar Rubby tidak mudah tersulut emosi.


Guru Tong mengangkat tangannya ke samping memberi tanda agar para tetua Sekte berhenti pada tempatnya sekarang. Dia berjalan maju seorang diri ke hadapan Rubby dan Wu Jin Ming untuk meluruskan masalah yang sudah terlanjur berkembang menjadi permusuhan. Tampak jelas jika dia ingin perdamaian namun dia tidak bisa dipersalahkan.


"Nona! Maaf jika aku mengganggu pertarunganmu barusan." Ucapnya berbasa-basi.


"Maaf katamu? Kamu hampir saja membuat tanganku putus! Bukan ... bukan itu yang aku permasalahkan namun kelicikan yang kamu lakukan saat mencampuri sebuah pertarungan," ucap Rubby berapi-api.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyelamatkan aset yang aku miliki." Guru Tong masih tidak ingin disalahkan.


"Bagus! Guru yang patut untuk di contoh." Rubby mengangguk-angguk dan tersenyum mengejek.


'


"Ingat batasanmu, Nona. Segera kembalikan kertas mantra penyatuan jiwa, maka aku akan melepaskan kalian!" Nada bicara Guru Tong sedikit meninggi.


Wu Jin Ming maju selangkah ke hadapan Guru Tong dan menukar posisinya dengan Rubby.


"Tuan Guru! Aku ingin bertanya padamu sekali lagi. Bukankah kamu sudah setuju untuk meminjamkan mantra itu jika Rubby bisa membuktikan dirinya benar-benar akan melakukan penyatuan jiwa dengan mantra itu?"


Wu Jin Ming berbicara tentang namun penuh penekanan.


"Aku berubah pikiran. Gadis itu pasti tidak akan mengembalikan kertas itu setelah selesai melakukan penyatuan jiwa."


"Picik! Kalau begitu, aku juga berubah pikiran, aku tidak akan mengembalikan kertas itu pada kalian. Siapa pemegang terakhir kertas itu adalah pemiliknya yang sekarang!" seru Wu Jin Ming.


Semua tetua Sekte Air Api Suci dan Guru Tong terlihat emosi. Kata-kata yang dilontarkan oleh Wu Jin Ming layaknya seperti genderang perang yang ditabuh. Tidak bisa di tahan lagi, karena bendera permusuhan telah dikibarkan.


Ada sekitar dua puluh orang tetua yang mengepung Wu Jin Ming dan Rubby, itu belum termasuk Guru Tong dan dosen Chu serta murid-murid sekte yang berjaga di sekeliling ruangan.


"Aku tidak bertanggung jawab atas darah yang tertumpah atau nyawa yang kurenggut setelah ini," ucap Wu Jin Ming yang mulai mengeluarkan energi putih dari dalam tubuhnya.


Para tetua itu terkejut melihatnya. Tekanan energi yang dikeluarkan oleh Wu Jin Ming pun lebih kuat daripada energi milik Rubby. Mereka berpikir apakah mereka telah menantang orang yang salah?


Terlambat untuk menyesal. Guru Tong dan para tetua itu akhirnya juga mengeluarkan energi spiritual mereka masing-masing dan bersiap untuk menyerang. Ruangan itu kini dipenuhi oleh gelombang energi dasyat yang membuatnya seakan menjadi sempit.


****

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2