
Siluman buaya berwajah buruk rupa itu mulai memasang kuda-kuda. Beberapa kali dia bersendawa dan mengeluarkan bau yang tidak sedap dari mulutnya. Rubby harus menahan mual karenanya.
"Ih, jorok sekali sih kamu! Berapa tahun kamu tidak sikat gigi?" Rubby menutup hidungnya dan hampir kehabisan napas karena tidak tahan dengan bau mulut siluman buaya.
"Sikat gigi? Jurus apa itu?" siluman itu terlihat kebingungan.
"Astaga! Jadi kamu nggak pernah sikat gigi. Pantas...." Rubby menutup wajahnya dengan cadar. Dengan begitu indera penciumannya terlindungi dari bau mulut siluman buaya.
Mereka bersiap untuk bertarung. Mengingat hari sudah larut malam, Rubby ingin mempercepat pertarungan itu. Dia harus segera mengalahkan siluman buaya itu.
Pedang Sakti Mata Elang itu juga sangat menarik untuk dimiliki. Rubby semakin bersemangat untuk mengalahkannya. Dia menggunakan kekuatan spiritualnya di telapak tangannya.
Kedua telapak tangan Rubby di satukan dan terbentuklah sebuah pedang cahaya. Pedang itu memang tidak nyata namun kekuatannya bisa melebihi pedang aslinya. Jika mengenai lawannya, pedang ini juga bisa melukai.
"Hebat juga kamu Nona. Sepertinya aku telah salah meremehkanmu."
Siluman buaya itu juga tidak mau kalah. Dia juga mengeluarkan pedang energi seperti yang dilakukan Rubby. Pedang mereka hampir sama hanya warnanya saja yang berbeda. Milik Rubby berwarna biru terang sedangkan milik siluman buaya itu berwarna hijau tua.
"Kenapa kamu ikut-ikutan, sih? Dasar siluman buaya buntung nggak kreatif. Bisanya cuma meniru!" seru Rubby kesal.
"Hahaha, kamu pikir cuma kamu saja yang bisa. Ayo tunjukkan kemampuan kamu. Aku ingin lihat sehebat apa permainan pedang kamu."
"Oke! Siapa takut!"
Ini saatnya bagi Rubby untuk mempraktekkan jurus pedang yang diwariskan oleh ayahnya. Tangan dan kaki Rubby melakukan gerakan-gerakan indah yang mematikan. Jurus permainan pedang yang teratur dan sulit di tebak.
"Aku seperti mengenal pemilik jurus ini. Tidak mungkin anak ingusan sepertimu mempelajari jurus ini dari dia," ucap siluman buaya yang merasa akrab dengan jurus yang di pakai oleh Rubby.
"Benarkah? Mungkin dulu kamu musuh ayahku." Rubby menjawab sambil terus menyerang. Dia tidak ingin lengah.
"Ayah? Hahaha... Pendekar Sakti Chin adalah sahabat karib ayahku," jelas siluman buaya itu.
"Hoho... sungguh dirimu anak yang membanggakan. Kau tahu siapa wanita yang baru saja kamu goda tadi, haaa?"
"Apa maksud kamu?"
__ADS_1
"Tadi adalah Ratu Ivo istri sahabat karib ayahmu!"
"Apa?!" siluman buaya itu terperanjat.
Rubby mengambil kesempatan dari kelengahan musuhnya. Segera dia memojokkan siluman buaya dan membuatnya terkapar tak berdaya di lantai. Ujung pedang Rubby mengarah ke urat nadi di leher siluman buaya. Darahnya menetes karena kulitnya sedikit tergores.
"Aku adalah Virs. Putri Pendekar Sakti Chin Mao Zhan! Kamu ingin menyerah atau memilih mati di tanganku. Aku tidak peduli dengan persahabatan ayah kita karena kamu sudah lancang menggoda ibuku!" suara Rubby terdengar lembut namun penuh penekanan yang membuat kata-katanya itu terasa menusuk.
'Percuma aku melawannya lagi. Jika dia benar-benar putri Pendekar Sakti Chin, aku tidak akan mungkin menang melawan,' gumam siluman buaya
"Aku... menye... rah...." pedang cahaya di tangan siluman buaya itu memudar seiring kekalahannya.
Rubby menarik pedangnya dari leher siluman buaya dan membuat pedang cahayanya menghilang begitu saja.
"Pedangnya aku ambil, ya? Makasih... Daaa!" Rubby mencabut pedang milik siluman buaya yang menjadi taruhan.
"Tunggu!" panggil siluman buaya menghentikan langkah Rubby.
"Apa lagi?" Rubby berhenti dan berbalik menghadap siluman buaya itu.
"Stop!" Rubby mendorong telapak tangannya ke depan untuk membuat siluman buaya itu berhenti. "Sudah, di situ saja. Aku bisa mual jika kamu terlalu dekat."
"Baiklah! Jawab pertanyaanku tadi!" siluman buaya itu menurut. Dia berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengan Rubby.
"Tentu saja. Makanya jadi orang jangan sombong! Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja!" hardik Rubby.
"Terimakasih kamu sudah bermurah hati memaafkanku, tapi aku ingin tahu satu hal. Di mana Pendekar Sakti Chin berada sekarang?" tanya siluman buaya. Setelah terpukau dengan jurus pedang Rubby, dia tertarik untuk berlatih jurus pedang pada Pendekar Sakti Chin.
"Di alam baka. Kamu ingin menyusulnya?" ketus Rubby. Dia tidak suka dengan sikap siluman buaya itu yang bertolak belakang dengan sikap awalnya setelah dia tahu jika Rubby adalah putri seorang pendekar.
Siluman buaya terdiam. Dia merasa tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu dengan Pendekar Sakti Chin. "Tidak... tidak... Aku hanya bertanya saja."
"Ada lagi yang ingin ditanyakan sebelum aku pergi?" tawaran dari Rubby terucap dengan kalimat yang malas. Tawaran yang dia ucapkan hanya sebagai basa basi saja karena sebenarnya dia tidak mau berlama-lama di sana.
"Ti... tidak ada...." melihat sorot mata Rubby yang sangat tajam, siluman buaya itu merasa ngeri. Dia memilih untuk menyudahi percakapan di antara mereka.
__ADS_1
"Oke. Aku pergi! Awas kalau sampai kamu panggil lagi!" ancam Rubby.
Rubby berjalan meninggalkan area pesta dengan membawa pedang milik siluman buaya yang dimenangkannya. Pedang itu dia seret dengan ujungnya yang menyentuh lantai. Gesekan antara ujung pedang dengan lantai menimbulkan suara berberisik dan menimbulkan percikan nyala api.
Selama berjalan Rubby menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Tiga wujud yang dia miliki dia tampilkan bergantian. Mereka minggir untuk memberi jalan dengan rasa takut dan kagum yang bercampur menjadi satu. Pesta yang semula kacau kini tertib kembali dan tidak ada lagi yang berani membuat keributan.
Tepat di hadapan Wu Jin Ming, Rubby kembali memakai baju pengantinnya. "Lihat pedangku! Keren, kan?" Rubby memamerkan pedangnya di depan Wu Jin Ming.
"Lumayan. Tapi kamu nggak seharusnya membuat keributan di pesta pernikahan kita, By."
"Yeee... aku kan cuma mau nolongin panglima Ang saja tadi. Eh, nggak tahunya malah ada yang ngajak taruhan. Ya, terpaksa aku layanin dong. Mayan kan, sekalian melatih jurus pedang dari ayah."
"Sudah jangan banyak bicara! Simpan pedangmu! Kamu nggak lihat tuh dari tadi para tamu ketakutan melihatmu," ucap Wu Jin Ming meminta Rubby untuk duduk.
"Masa sih!" Rubby melihat ke arah tamu undangan. "Eh, iya, bener. Ups!"
Segera Rubby memasukkan pedang miliknya ke dalam cincin penyimpanannya lalu duduk di samping Wu Jin Ming. Pesta hampir berakhir karena malam semakin larut. Rubby juga sudah sangat merasa lelah dan mengantuk. Beberapa kali dia terlihat menutup mulutnya yang menguap.
"Kamu mengantuk? Sabarlah! Sebentar lagi pesta ini akan berakhir." Wu Jin Ming menyandarkan kepala Rubby di bahunya.
"Hmm... malam ini kita bobok di sini atau pulang?" tanya Rubby.
"Kamu maunya gimana?" Wu Jin Ming malah balik bertanya.
"Bobok sini juga nggak papa. Tapi besok harus bangun pagi dan segera pulang. Aku besok ada jadwal kuliah pagi."
"Baiklah! Aku tungguin kamu di kampus. Aku free besok," ucap Wu Jin Ming.
"Hmm."
Wu Jin Ming dan Rubby menunggu pesta selesai. Mereka mengabaikan rasa lelah dan mengantuk demi menghormati para tamu undangan. Satu persatu para tamu berpamitan pulang.
Setelah semua tamu pulang ke asal masing-masing, Wu Jin Ming membawa Rubby masuk ke dalam istananya. Rubby tidak sanggup lagi berjalan karena tidak bisa menahan rasa kantuknya. Melihat Rubby berjalan terseok-seok, Wu Jin Ming segera menggendongnya. Wu Jin Ming takut Rubby terjatuh karena berjalan sambil menutup mata.
****
__ADS_1
Bersambung...