
Rubby dan Wu Jin Ming berjalan meninggalkan belakang rumah pak Feng. Mereka pergi ke kamar yang telah disediakan oleh pak Feng untuk mereka. Namun itu tidak berlangsung lama, Wu Jin Ming mengajak Rubby pergi ke luar karena hari masih terlalu sore untuk beristirahat.
Rubby berinisiatif untuk membantu Feng Lu memasak di dapur. Sebenarnya dia kurang suka dengan gayanya yang mirip seperti wanita penggoda tapi dia harus bisa membawa diri dimana pun dia berada. Dengan langkah kaki yang berat, Rubby berjalan mendekati dapur di mana Feng Lu berada.
“Ada yang bisa aku bantu kak Lu?” tanya Rubby yang sedikit mengagetkan Feng Lu karena dia tidak melihat kedatangannya.
“Memangnya kamu bisa masak? Apa tidak sayang tangan halusmu itu terkena getah sayuran?” Feng Lu bertanya setengah mengejek pada Rubby.
Kata-kata Feng Lu memang syarat dengan sindiran namun Rubby tidak mempedulikan hal itu.
“Aku tidak terlalu pandai memasak hanya masakan sederhana saja,” jawab Rubby jujur.
“Tidak perlu membantuku. Aku takut masakanku nanti akan berubah rasa jika kamu menyentuhnya. Pergilah nikmati liburanmu!” seru Feng Lu tidak ingin Rubby membantunya. Hanya dia yang boleh mendapatkan pujian atas masakannya yang lezat.
“Baiklah kalau begitu.” Rubby pergi dengan sedikit rasa kecewa atas penolakan Feng Lu.
Di halaman Wu Jin Ming nampak sedang mengobrol bersama pak Feng. Mereka sedang menata ulang pot- pot yang ada di taman milik pak Feng ketika Rubby tiba di sana.
“Katanya mau bantuin kak Lu masak?” tanya Wu Jin Ming.
“Kak Lu bilang dia tidak ingin di bantuin,” jawab Rubby berkata apa adanya.
Mendengar cerita Rubby, pak Feng menghentikan aktifitasnya lalu berjalan mendekati mereka.
"Maafkan putriku, Nak! Dia memang sedikit ketus bicaranya tapi sebenarnya dia anak yang baik. Dia pasti merasa iri dengan kebersamaan kalian karena sampai saat ini dia belum mempunyai pasangan." Ungkapan pak Feng membuat Rubby dan Wu Jin Ming saling berpandangan.
Belum sempat Wu Jin Ming membalas ucapan pak Feng tiba-tiba ada sekelompok warga yang berlarian menuju ke desa Yao. Mereka terlihat tergesa-gesa menuju ke sana. Ini sangat aneh karena malam sebentar lagi akan turun.
Pak Feng berjalan keluar dari pekarangannya ke jalan lalu mendekati salah seorang warga untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Menurut dari cerita orang itu, ada dua orang anak gadis yang terjebak di desa Yao. Mereka ingin menyelamatkan mereka sebelum terpengaruh oleh racun energi bunga itu. Apalagi sebentar lagi hari sudah malam. Usaha penyelamatan akan semakin sulit karena selain racun bunga juga akan ada serangan dari siluman lainnya.
Sebagai orang asing Wu Jin Ming dan Rubby hanya mendengarkan dari jauh saja. Mereka tidak berani untuk mengeluarkan pendapatnya kecuali bila di minta. Lagi pula tidak ada yang tahu identitas mereka yang sebenarnya.
Wajah pak Fen terlihat sangat sedih karena kedua gadis itu masih kerabatnya juga. Dia adalah putri dari saudara laki-lakinya. Desa Yao memang menjanjikan banyak sekali sumber daya alam. Rata-rata para gadis itu pergi ke sana untuk mencari tanaman obat dari rerumputan hutan untuk di jual.
Itu adalah salah satu alasan mengapa penduduk desa Yao tidak ingin pindah dari sana walaupun banyak misteri yang tersimpan di sana. Selain itu bukit batuan yang memiliki jenis batu mineral, sumber mata air mineral, dan tanaman berkualitas yang banyak di buru dipasaran. Banyak sekali wisatawan yang berkunjung setiap harinya walaupun tidak ada yang berani bermalam di sana.
"Pak Feng! Apa Anda ingin pergi ke desa Yao?" tanya Wu Jin Ming setelah pak Feng terlihat sedikit tenang.
"Ayo kita ke dalam! Kita harus membicarakan ini dengan Lu!" Pak Feng berjalan di depan memimpin masuk ke dalam rumah.
Rubby dan Wu Jin Ming mengikuti pak Feng di belakangnya. Baru sampai di teras, Lu sudah menyambut kedatangan mereka. Kelihatannya dia sudah selesai memasak. Penampilannya sudah rapi dengan dandanannya yang sedikit norak menurut Rubby. Beruntung dia tidak memakai wewangian yang membuatnya mual.
"Baru aku mau memanggil kalian untuk makan. Ayo masuk!" seru Feng Lu.
Mereka berempat berjalan mengikuti Feng Lu menuju ke ruang makan dan duduk lesehan di sana. Aroma masakan Feng Lu begitu menggugah selera. Walaupun hanya ada 2 jenis menu yang berbeda namun porsinya lebih dari cukup untuk mereka berempat.
"Maaf kami tidak bisa menjamu kalian dengan baik. Hanya ini yang kami punya hari ini." Pak Feng
"Ini sudah lebih dari cukup pak Feng," jawab Wu Jin Ming sambil tersenyum.
"Makanlah yang banyak Wu, kamu terlihat sangat kurus. Pasti istrimu tidak melayanimu dengan baik. Dari tangannya saja aku sudah bisa menilai kalau dia jarang sekali memasak." Feng Lu kembali menyindir Rubby.
'Apa salahku pada wanita ini? Kenapa dia selalu menyindirku dengan kata-kata yang tidak mengenakan hati.' Rubby melirik Feng Lu tajam.
Wu Jin Ming menggenggam tangan Rubby di bawah meja untuk menenangkannya. Pengendalian emosi Rubby masih sangat payah. Akibatnya akan sangat fatal jika sampai api suci Rubby bocor di saat yang tidak tepat.
"Lu!" pekik pak Feng sambil menatap putrinya tajam.
__ADS_1
Pak Feng merasa tidak enak dengan sikap Feng Lu yang suka berkata pedas.
"Aku hanya berbicara fakta, Ayah. Benar kan Wu?" Feng Lu mencoba mencari pembelaan dari Wu Jin Ming.
"Istri saya memang jarang memasak tapi itu bukan karena dia tidak bisa memasak atau malas. Di rumah kami ada 9 orang pelayan yang siap melayani kami 24 jam. Jadi aku melarangnya untuk melakukan pekerjaan rumah," jelas Wu Jin Ming membela Rubby.
"Apahh? Sembilan orang pembantu? Aku mau jadi istrimu juga Wu. Aku tidak keberatan berbagi dengannya." ucapan Feng Lu membuat Rubby kehilangan selera makannya.
"Maaf aku sudah kenyang!" Rubby berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan.
"Sebentar! Maaf aku harus menyusul istriku!" Tidak ingin masalah bertambah runyam, Wu Jin Ming pun pergi meninggalkan ruang makan dan menyusul Rubby yang berdiri di teras rumah pak Feng.
Suasana di luar rumah sudah tampak gelap. Rubby berdiri mematung dengan bersandar pada sebuah tiang penyangga rumah itu. Hatinya teramat sakit mendengar kata-kata Feng Lu.
"By! Maafkan aku!" ucap Wu Jin Ming meminta maaf atas kesalahan yang tidak dia perbuat.
"Buat apa? Wanita itu yang bersalah. Bukan kamu," ucap Rubby datar.
Dari dalam Feng Lu dan pak Feng keluar menyusul mereka berdua.
"Istrimu benar. Aku yang salah. Maafkan aku! Aku hanya mencoba jujur saja pada perasaanku." Feng Lu berjalan mendekati Wu Jin Ming dan Rubby.
****
Bersambung....
NUMPANG PROMO NOVEL KARYA TEMANKU KAK...
__ADS_1
----