
Tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Wu Jin Ming berhenti tanpa sebab di sebuah jalanan sepi. Bahan bakar masih full dan kondisi mesin sebelumnya juga baik-baik saja. Berkali-kali dia mencoba untuk menyalakan mesinnya namun tidak bisa.
"Kenapa Kak mobilnya? Perasaan tadi baik-baik saja." Rubby melirik ke arah Wu Jin Ming yang tampak serius menyalakan mesin.
"Entahlah! Tunggu di sini, biar aku periksa sebentar."
Rubby mengangguk, Wu Jin Ming turun dari mobilnya.
Dia memang bukan montir, namun apa saja bahkan yang di luar nalar sekalipun bisa dia kerjakan.
Mobil itu tidak ada masalah, semuanya terlihat baik-baik saja. Mengherankan jika saat ini mobil ini sama sekali tidak menyala. Wu Jin Ming mulai berpikir untuk memeriksa dengan kekuatannya.
"Rubby! Turunlah!" panggil Wu Jin Ming.
Rubby pun turun dan berdiri di samping Wu Jin Ming yang terus memandangi mobilnya tanpa banyak bicara. Dia tahu jika saat ini suaminya itu sedang kesal. Kata-katanya yang banyak akan membuat Wu Jin Ming semakin pusing dibuatnya.
"Aku harus memeriksanya dengan kekuatanku. Tolong kamu awasi sekitar tempat ini, untuk segera memberitahu aku jika ada orang yang lewat."
"Baiklah!" Rubby melongok ke sana ke mari untuk memastikan bahwa keadaan aman.
Rubby berjalan untuk mendapatkan posisi strategis yang memungkinkan dirinya bisa melihat ke segala arah tanpa berpindah tempat.
Rubby mengacungkan jempol sebagai isyarat untuk Wu Jin Ming sudah bisa memulai aksinya.
__ADS_1
Wu Jin Ming mengangguk dan langsung mengeluarkan energi spiritual miliknya pada telapak tangannya. Kedua telapak tangannya hendak dia tempelkan pada permukaan mobilnya, namun tidak di sangka mobil itu bergerak mundur dengan sendirinya. Saat dia hendak mengejarnya maju, mobil milik Wu Jin Ming itu berjalan melewatinya dan masuk ke dalam sebuah pelataran rumah.
Rubby terbengong-bengong melihatnya, mulutnya sudah siap-siap untuk bertanya kepada Wu Jin Ming dan bergerak-gerak seperti ikan yang kehabisan oksigen.
Namun, dia tidak punya kesempatan lagi karena Wu Jin Ming buru-buru mengangkat bahunya tanda tidak mengerti terlebih dahulu sebelum Rubby bertanya.
Mereka berdua berjalan mengikuti mobil mereka yang telah terparkir rapi di sebuah halaman luas. Di belakangnya berdiri sebuah pondok yang besar namun terkesan kuno. Menilik secara menyeluruh, tempat itu sangat mirip dengan perguruan bela diri.
Dari dalam mobil Wu Jin Ming keluar cahaya kuning emas yang sangat terang. Sepertinya mereka mengenali cahaya itu namun tidak berani berspekulasi mengingat cincin yang memiliki cahaya itu mereka tinggalkan di laci meja kerja Rubby. Mereka tidak yakin jika cincin itu tiba-tiba sampai di sini dengan sendirinya.
Keraguan mereka runtuh seketika ketika cincin itu benar-benar melayang keluar dari dalam mobilnya.
Rubby dan Wu Jin Ming saling berpandangan tidak mengerti.
"Eemmm ... ehmmm ...!"
Seorang kakek tua dan si dosen killer Chu Alexander tiba-tiba muncul dan berada di belakang mereka.
"Selamat datang di Sekte Air Api Suci," ucap kakek tua itu menyambut kedatangan Wu Jin Ming dan Rubby.
"Ini ... ini ... maksudnya apa?" tanya Rubby bingung.
Rubby melirik dosen Chu dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Maafkan kelancangan kami, menurut informasi dari murid, kamu menyimpan surat kuno milik sekte kami yang telah hilang beberapa tahun yang lalu," ucap kakek tua itu lagi.
"Maaf, Kakek Tua! Aku tidak mengerti maksud Anda. Biarkan kami pergi dari sini. Kalian sudah merusak moodku berbelanja saja," gerutu Rubby mengingat rencananya bersenang-senang di mall harus gagal.
Wu Jin Ming berjalan maju, mengingat sifat kekanak-kanakan Rubby akan membuat semua menjadi kacau.
"Namaku Wu. Bolehkah saya tahu surat seperti apa yang Tuan maksud?" tanya Wu Jin Ming sopan.
Kakek Tua itu terlihat tersenyum meskipun samar-samar.
"Mari ikut saya! Baiknya kita bicarakan di dalam," ucapnya kemudian.
Mereka berdua berjalan di depan dan Wu Jin Ming mengikutinya di belakang. Rubby masih berdiri mematung dengan wajah kesalnya. Mau tidak mau dia pun menyusul, apalagi Wu Jin Ming memberinya tatapan yang tidak bisa dibantah.
Kakek tua itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang cukup luas. Rupanya mereka sudah di tunggu oleh beberapa orang lainnya yang duduk rapi di kursi masing-masing. Semua orang yang ada di ruangan itu bangkit dan memberi hormat pada ketua sekte mereka.
'Rupanya kakek tua itu seorang ketua sekte. Kok, perasaanku tidak enak, ya?' Rubby memegang tenguknya yang meremang.
"Silakan duduk!" Kakek tua itu meminta Wu Jin Ming dan Rubby duduk di kursi yang paling dekat dengannya.
Wu Jin Ming dan Rubby memilih tempat duduk yang saling berdekatan.
Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Tidak ada yang berani membuka mulutnya, seolah mereka tidak bisa bicara. Rubby merasa jika pengaruh kakek tua itu sungguh sangat kuat di sana, melihat dari kepatuhan para anggota sekte saat ini.
__ADS_1
****
Bersambung...