
Wu Jin Ming berdiri di depan bunga Aolin yang terpisah menjadi dua. Sesuai dengan petunjuk dari Ratu Ivo, dia harus menggunakan darahnya untuk mengetahui bunga itu cocok dengannya atau tidak. Salah satu tangan Wu Jin Ming dia ulurkan ke depan dan tangan yang lainnya memegang pisau kecil.
Pisau itu dia goreskan ke ujung jarinya. Wu Jin Ming menekan jari yang tergores itu dengan ibu jarinya dan membiarkan darahnya menetes di atas sepasang bunga itu. Tetesan darah Wu Jin Ming menyebar ke seluruh permukaan bunga dan membuat salah satu di antaranya menyala terang.
Bunga yang menyala itu terlepas dari tangkainya sementara bunga yang lain tidak bergeming. Ini berarti hanya satu bunga yang berhasil di dapatkan oleh Wu Jin Ming.
"Ibu, aku hanya mendapatkan sebuah saja," ucap Wu Jin Ming dengan perasaan yang sedikit kecewa.
Ratu Ivo berjalan dengan anggun mendekati Wu Jin Ming.
"Bunga Air Mata Kehidupan dan Air Mata Suci adalah bunga yang berpasangan. Kamu berhasil mengambil bagianmu dan bunga yang lain adalah milik Virs," jelas Ratu Ivo.
Wu Jin Ming terdiam sambil berpikir. Keadaan Rubby saat ini tidak mungkin untuk bangun dan mengambil bunga ini. Sepertinya Wu Jin Ming harus merelakan pasangan bunga miliknya tertinggal di sini.
"Biarkan bunga itu tertinggal di sini, Ibu. Aku akan menggenapinya dengan energi seribu bulan milik kami berdua."
Wajah Wu Jin Ming terlihat pasrah.
"Tidak bisa. Kedua bunga ini tidak boleh terpisah. Tidak satu maka tidak pula untuk keduanya."
Ucapan Ratu Ivo membuat Wu Jin Ming terhenyak.
Hatinya semakin merasa dilema. 'Haruskah dia juga mengembalikan bunga di tangannya yang susah payah dia dapatkan?'
Ratu Ivo mengerti akan kegamangan yang melanda hati Wu Jin Ming. Dia berjalan menghampiri menantunya itu untuk menenangkannya.
"Menantu! Mungkin ini akan sedikit berguna." Ratu Ivo menyerahkan tongkat milik Rubby yang terdapat tetesan darah Rubby.
Mata Wu Jin Ming berbinar senang seperti menemukan segudang harta karun yang sangat berharga.
"Semoga darah itu cocok dengan bunga itu," ucap Ratu Ivo lagi.
"Semoga saja, Ibu Ratu."
__ADS_1
Wu Jin Ming melangkah maju mendekati bunga Aolin yang tersisa. Dia menempelkan tongkat Rubby yang memiliki tetesan darahnya. Darah Rubby yang hanya setitik itu menyebar ke seluruh permukaan bunga.
Bunga itu tidak langsung bersinar seperti saat Wu Jin Ming mendapatkannya. Melihat hal itu, Wu Jin Ming menundukkan wajahnya dengan mata terpejam. Mencoba mengusir kekecewaan yang singgah di hatinya.
Rupanya bunga Aolin hanya bisa menyala di hadapan orang yang berhasil menaklukkannya. Namun darah Rubby yang cocok dengannya membuat bunga itu terlepas dari tangkainya dan bisa diambil Wu Jin Ming. Terlepas dari tangkainya tanpa nyala terang membuat Wu Jin Ming tidak menyadari keberhasilan kedua yang dia raih.
"Menantu. Cepat ambilah! Jangan pisahkan kedua bunga itu terlalu lama!" seru Ratu Ivo yang merasakan bukit Virs sedikit berguncang.
Wu Jin Ming baru sadar jika bunga itu sudah terlepas dari tangkainya. Sebelumnya dia merasa bunga itu tidak merespon darah Rubby. Apapun itu, saat ini Wu Jin Ming sangat bahagia.
Sinar terang dari bunga Aolin yang baru diambilnya membuat Wu Jin Ming memicingkan matanya agar tidak silau. Dia segera menyimpan kedua bunga itu di dalam satu tempat.
Ratu Ivo ikut tersenyum senang bercampur sedikit terharu melihat sepasang bunga itu berhasil didapatkan.
Bertahun-tahun lamanya dia berusaha mendapatkannya namun tidak berjodoh dengan bunga itu hingga penyihir jahat Wang Yu berhasil mengikat bunga ini dengan jiwa jahatnya. Ambisi dan kejahatannya menghasilkan racun ilusi yang membawa kehancuran desa ini.
"Apa yang harus saya lakukan, Ibu?" tanya Wu Jin Ming meminta pendapat Ratu Ivo.
"Saya mengerti, Ibu Ratu." Wu Jin Ming membungkuk hormat.
Setelah berpamitan pada mertuanya Wu Jin Ming menggendong tubuh Rubby dan membawanya pergi ke istana langit. Dari bawah sosok tubuh Wu Jin Ming dan Rubby hanya terlihat seperti kilatan cahaya yang kian mengecil seiring jarak mereka yang menjauh.
Setelah kepergian Wu Jin Ming dan Rubby, Ratu Ivo tidak terburu-buru meninggalkan tempat itu. Melihat wajah-wajah penduduk Desa Yao yang bercampur antara perasaan senang dan kecemasan, Ratu Ivo merasa iba pada mereka.
"Mungkin ketika aku tinggal di sini dahulu kalian semua belum lahir ke dunia."
Ratu Ivo mencoba mengikis ketegangan di tengah penduduk desa yang melihat peristiwa malam ini.
"Aku adalah Dewi Ivo yang menamai bukit ini dengan nama calon buah hati kami. Tidak aku sangka nama itu abadi hingga saat ini. Virs putriku yang kalian lihat tadi sedang terluka."
Pernyataan Ratu Ivo membuat seluruh warga desa ternganga. Dewi Ivo yang sangat mereka puja dan agung-agungkan kini berdiri di depan mereka. Itulah mengapa mereka tidak segera pergi dari sana.
"Terimalah hormat kami, Dewi Ivo!" pekik salah satu penduduk Desa Yao sambil menjatuhkan diri di hadapannya.
__ADS_1
"Bangunlah! Aku sudah menerima penghormatan kalian." Ratu Ivo melirik ke arah mereka semua.
"Dewi! Tolong bebaskan kami dari semua penderitaan ini, Dewi."
"Bersabarlah! Kalian berbarislah di depanku. Aku akan menghilangkan mantra sihir Wang Yu yang telah menyatu di tubuh kalian bertahun-tahun lamanya."
"Terimakasih, Dewi Ivo."
Para penduduk menata barisan dan mengantri untuk diobati.
Dengan penuh kesabaran, Ratu Ivo melayani penduduk Desa Yao dan menghilangkan racun energi di tubuh mereka satu-persatu.
Sayang sekali Ratu Ivo tidak bisa membagi kekuatannya selain untuk pengobatan saja.
Melihat Ratu Ivo kewalahan, Panglima Dao pun meminta ijin padanya untuk membantunya.
Bukan rahasia lagi jika Panglima Dao juga ahli dalam pengobatan selain pandai dalam strategi perang militer. Dia juga memiliki beberapa kemampuan lain yang membuat Ratu Ivo selalu mengandalkannya. Tidak jarang Panglima Dao pulang membawa kemenangan dalam setiap peperangan.
"Bantu aku menyingkirkan racun energi di tubuh mereka semua!" seru Ratu Ivo ketika panglima Dao sudah sampai di hadapannya.
"Baik Yang Mulia! Hamba akan melakukannya segera."
Panglima Dao mulai berkeliling untuk membantu penduduk Dao yang masih ragu-ragu untuk diobati. Bagi mereka Ratu Ivo dan panglima Dao tetaplah orang asing.
Penduduk yang selesai diobati akhirnya memberi kesaksian pada yang lainnya agar mereka mau untuk disembuhkan. Racun ilusi bukanlah sembarang racun energi. Butuh keahlian khusus untuk menetralkannya.
Semakin banyak yang selesai diobati, semakin banyak pula yang berdatangan. Hari sudah lewat tengah malam namun kesibukan itu juga belum tahu kapan selesainya.
Penduduk Desa Yao yang telah sembuh kembali menjadi manusia seutuhnya. Pengaruh sihir di desa itu harus benar-benar dihapuskan agar semua penduduk bisa hidup normal.
****
Bersambung...
__ADS_1