TIGER WU

TIGER WU
Bab 262. Tian Yu


__ADS_3

Wu Jin Ming dan Rubby berjalan cepat meninggalkan area pesta diikuti oleh dewi penjaga taman seribu jiwa.


Para dewa yang berada di sana terlihat kebingungan melihat kepergian mereka yang tiba-tiba. Dewa Langit yang melihat itu segera menyusul mereka diikuti oleh dewa inti. Sebelum pergi Dewa Langit berpesan pada semua yang ada di sana untuk melanjutkan pesta.


Suasana di aula kembali tenang dan pesta terus berlanjut.


Di taman seribu jiwa.


Wu Jin Ming dan Rubby segera bergegas memasuki taman dan menghampiri teratai putih raksasa yang menyimpan telur emas yang berisi janin mereka.


Mereka sangat terkejut ketika melihat ukuran telur yang sangat besar. Ukurannya mungkin menjadi sepuluh kali lipat dari ukuran sebelumnya. Mungkin jika cangkangnya di buka, bisa di masuki oleh lima orang bayi.


Telur emas itu mengeluarkan cahaya keemasan yang berkedip-kedip seperti detak jantung yang sedang berdegup.


Wu Jin Ming dan Rubby kini sudah berada di dekatnya. Mata Rubby terlihat berkaca-kaca melihat bayinya yang masih terbungkus oleh cangkang telur itu. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk melihatnya dan berharap hari ini telur emas itu akan menetas.


Rubby melangkah pelan untuk berada lebih dekat dengan telur emas yang memiliki tinggi hampir setinggi separuh tinggi badannya itu. Tangannya mengulur ke depan dan berharap untuk bisa menyentuh telur itu. Wu Jin Ming yang melihatnya segera memegang tangan Rubby, agar tidak menyentuhnya.


Rubby menoleh ke arah Wu Jin Ming dengan perasaan campur aduk.


"Sebaiknya, kamu jangan menyentuhnya dulu. Mari kita pergunakan kekuatan kita untuk membuat anak kita terbebas dari cangkang yang mengurungnya. Sepertinya, sudah saatnya anak kita lahir," jelas Wu Jin Ming.


Rubby mengangguk sambil tersenyum senang.


Di sana mereka dikelilingi oleh sembilan dewi penjaga dan Dewa Langit, serta dewa inti yang baru saja bergabung.


Wu Jin Ming menatap Rubby lalu mengangguk sebagai isyarat untuk mulai menyalurkan kekuatan mereka.


Wu Jin Ming membuka telapak tangannya menghadap ke atas lalu keluarlah energi berwarna putih dari sana. Setelah mengatur besarnya energi yang akan dia pancarkan, Wu Jin Ming mulai mengarahkan energi itu ke permukaan telur emas yang ada di hadapannya. Telur emas yang awalnya masih menempel pada teratai putih, kini mulai melayang di udara.


Rubby mengikuti apa yang dilakukan oleh Wu Jin Ming. Saat dia membuka telapak tangannya, muncul energi berrwarna jingga di sana. Setelah enrgi itu stabil, Rubby memancarkan energi itu pada telur emasnya.


Telur emas itu bersinar lebih terang setelah menerima dua energi dari Rubby dan Wu Jin Ming. Kedipan cahayanya juga terlihat semakin cepat. Entah apa yang terjadi di dalam sana, Rubby yang biasanya heboh dan tidak sabaran, mencoba untuk tetap tenang.


Semua yang ada di tempat itu merasa harap-harap cemas menantikan cangkang telur itu terbuka.


Di permukaan telur emas itu mulai timbul retakkan. Retakan itu masih sangat kecil sehingga belum memperlihatkan apa yang ada di dalamnya. Walaupun begitu, hal itu sudah membuat Rubby dan Wu Jin Ming terlihat bahagia. Mereka saling berpandangan sejenak, saling tersenyum, lalu kembali menatap telur emas itu.


Energi dari Rubby dan Wu Jin Ming terus terserap ke dalam cangkang telur emas dan membuat retakan-retakan yang ada di permukaannya terus bertambah.


Semua dewa dewi yang ada di sana menatap takjub ketika dari celah retakan itu keluar cahaya warna-warni yang terpancar. Mereka yakin jika bayi Wu Jin Ming dan Rubby adalah seorang bayi yang luar biasa. Mereka juga sudah tidak sabar untuk melihatnya.


Rubby merasa bahagia dengan kelahiran anaknya, namun tiba-tiba dia terlihat murung ketika mengingat bahwa anaknya harus diasuh diistana langit selama dua tahun terlebih dahulu. Sebelum itu, dia tidak boleh membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


"Tetap fokus, sayang," ucap Wu Jin Ming mengingatkan Rubby, ketika melihat aliran energinya tidak stabil.


"Ah, iya." Rubby terlihat gelagapan.


Retakan di permukaan telur emas semakin menganga lebar dan ....


Pyarrr!


Cangkang telur emas itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil.


Wu Jin Ming dan Rubby segera menghentikan aliran energinya.


Cahaya terang yang menutupi bayi Rubby membuat silau semua mata yang melihatnya sehingga mereka belum bisa melihat dengan jelas keadaannya.


Rubby melangkah maju lalu membuka tangannya untuk menyambut bayinya dan Wu Jin Ming berdiri di belakangnya.


Cahaya menyilaukan itu perlahan turun dan sedikit demi sedikit mulai memudar terangnya.


Betapa terkejutnya Rubby dan Wu Jin Ming ketika melihat anaknya dari dekat. Mata mereka terbelalak dengan mulut yang menganga. Mereka setengah tidak percaya pada penglihatan mereka.


Bukan seorang bayi imut dan menggemaskan yang keluar dari dalam telur emas itu melainkan seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia tiga tahun. Anak laki-laki itu terlihat sangat mirip dengan Wu Jin Ming. Berwajah tampan dengan rambut putih panjangnya.


Melihat putranya masih telanjang tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, Rubby segera memakai sihirnya untuk membuatnya berpakaian.


"Ibu!" pekik anak kecil itu, melompat memeluk Rubby. Rupanya, bukan cuma tubuhnya yang terlihat besar namun dia juga sudah bisa berbicara.


Sebagai seorang pria, Wu Jin Ming lebih bisa mengendalikan dirinya. Meskipun hatinya juga dipenuhi keharuan yang sama, namun dia tetap berusaha menenangkan Rubby dengan mengelus punggungnya lalu ikut memeluk istri dan anaknya.


"Ayah!" pekik putranya sambil menatap ayahnya.


Wu Jin Ming mengangguk padanya lalu mengusap rambutnya.


Mereka bertiga masih berpelukan untuk beberapa saat lamanya, sampai Dewa Langit menghampiri mereka dan membuat mereka bertiga mengurai pelukannya.


Putra Wu Jin Ming terlihat mengamati dewa dewi yang ada di sekelilingnya satu persatu. Semuanya terasa asing baginya karena dia hanya bisa mengenali orang tuanya dari energi yang mereka miliki. Setelah puas memandang berkeliling, anak itu kembali melihat kedua orang tuanya bergantian.


"Putraku, berilah hormat pada para dewa dan dewi. Lihatlah, ayah akan memberimu contoh." Wu Jin Ming mengajari putranya untuk memberi hormat pada semua dewa dan dewi yang ada di sana.


Wu Jin Ming membawa putranya berkeliling untuk memberi hormat pada mereka satu persatu.


Semua Dewa dan dewi yang ada di sana memberinya berkat. Mereka sangat kagum pada anak yang bisa dibilang ajaib itu. Dari sorot matanya sudah terpancar betapa cerdas dan kuatnya energi yang dimilikinya.


Anak itu terlihat sangat senang ketika para dewa dan dewi terus memberinya pujian. Dia terlihat lucu ketika menirukan ucapan mereka ketika memberinya pertanyaan. Anak Wu Jin Ming belum pandai merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan orang dewasa.

__ADS_1


"Dewa Suci, segeralah memberi putramu nama," ucap Dewa Langit setelah berdiri di dekat Wu Jin Ming.


"Saya sudah menyiapkan nama untuknya, Yang Mulia. Wu Tian Yu." Wu Jin Ming mengucapkan sebuah nama untuk putranya.


Rubby dan putranya saling berpandangan.


Wu Jin Ming membungkuk lalu mengangkat tubuh putranya dan membawanya ke dalam gendongannya.


"Putraku, mulai hari ini namamu adalah Tian Yu. Jika seseorang bertanya kepadamu, maka kamu harus menjawabnya dan memberitahu jika namamu adalah Tian Yu, Wu Tian Yu." Wu Jin Ming menjelaskan semuanya dengan lembut pada putranya.


Tian Yu mengangguk tanda mengerti.


"Namaku Tian Yu. Aku Wu Tian Yu." Tian Yu menirukan apa yang dikatakan Wu Jin Ming.


Rubby tersenyum senang melihat Wu Jin Ming dengan sabar mengajari putranya. Sebagai seorang anak laki-laki, memang seharusnya Tian Yu lebih dekat pada ayahnya. Rubby menyadari jika dirinya belum bisa bersikap dewasa, bisa-bisa putranya akan menjadi pribadi yang manja dan suka seenaknya.


Tian Yu menirukan apa yang dia dengar dan diajarkan padanya. Celoteh khas anak-anak yang terdengar sangat lucu dan menggemaskan. Semua orang yang ada di sana begitu terhibur dengan kehadirannya.


Setelah puas bercengkerama di taman seribu jiwa, Dewa Langit meminta Wu Jin Ming untuk membawa Tian Yu ke aula dan melanjutkan pesta yang masih berlangsung, sekalian untuk memperkenalkan Tian Yu pada semua yang ada di sana.


Wu Jin Ming menurunkan Tian Yu dari gendongannya dan membiarkannya berjalan sendiri.


Tian Yu berjalan paling depan diikuti kedua orang tuanya dan para dewa. Matanya terus melihat ke sekelilingnya dengan tatapan takjubnya. Dia tidak menyadari jika di hadapannya ada sebuah undakan. Kaki Tian Yu tersandung dan membuat tubuhnya terhuyung kehilangan keseimbangan.


Wu Jin Ming berlari untuk menolong putranya, namun hal di luar dugaan terjadi. Tubuh Tian Yu melayang di udara. Rupanya Tian Yu sudah menguasai ilmu meringankan tubuh sejak lahir.


Dewa Langit dan para dewa inti yang mengikutinya semakin ternganga di buatnya. Entah kejutan apalagi yang akan diberikan oleh Tian Yu untuk mereka. Para dewa merasa jika Tian Yu adalah anugerah yang tidak ternilai yang akan membawa cahaya di istana langit.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa, sayang." Wu Jin Ming meraih Tian Yu ke dalam pelukannya dan tidak membiarkannya berjalan sendiri lagi. Dia menggendongnya untuk pergi ke aula istana.


Rubby pun tidak kalah khawatirnya, dia mengelus-elus punggung Tian Yu. "Berhati-hatilah, sayang," ucap Rubby.


"Bilang pada ibumu, aku baik-baik saja, Ibu," ucap Wu Jin Ming mengajari anaknya bicara.


"Aku tidak apa-apa, Ibu." Tian Yu sedikit mengubah kata-kata yang diajarkan oleh Wu Jin Ming.


Rubby dan Wu Jin Ming tersenyum melihat Tian Yu yang sangat pintar dan menggemaskan.


Mereka kembali berjalan menuju ke aula dengan perasaan gembira yang memenuhi hati mereka.


****


Bersambung ...

__ADS_1


Kak numpang promo novel karya temanku ya... terimakasih



__ADS_2