
Tubuh Rubby berkeringat. Dia seperti sedang mimpi buruk saat tidak sadarkan diri. Wu Jin Ming tidak dapat berbuat apa-apa selain menunggu Rubby sadar.
Menembus alam bawah sadar Rubby tidaklah mudah. Saat ini Rubby bukan lagi seorang manusia biasa yang bisa dengan mudah di kendalikan dengan kekuatan spiritualnya. Selain perlindungan dari Dewa Dewi dia juga punya kemampuan yang sulit diperkirakan.
Dewa Dewi tidak mengatakan secara detail apa saja yang dimiliki oleh Dewi Bulan. Wu Jin Ming hanya tahu jika dia digariskan berjodoh dengan Dewi Bulan. Pertama bertemu dengan Rubby pun dia tidak mengenali ciri-ciri yang disebutkan oleh para Dewa.
Tik... tokk... tikk... tak...
Suara tetesan air menggema di dalam sebuah ruangan gelap dan sunyi. Ruangan yang tercipta di alam bawah sadar Rubby.
"Kak Tiger! Kak! Hiks aku di mana? Bukankah tadi aku berada di kamar." Rubby mencari-cari di mana sosok Wu Jin Ming. Dia mulai ketakutan.
Sejauh mata memandang yang ada hanya gelap. Udara terasa tenang di sana membuktikan bahwa itu sebuah ruangan minim celah. Kaki Rubby terasa menyentuh air saat berjalan. Entah di tempat seperti apa Rubby sekarang berdiri.
"Kak... Kak Tiger... Apa kamu yang membawaku ke sini?" lagi-lagi tidak ada sahutan.
Rubby terus berjalan tak tentu arah. Dia melangkah sembarangan karena tidak bisa melihat apa-apa. Matanya terasa silau saat tiba-tiba muncul cahaya kemilau tepat di depannya.
"Putri kecilku rupanya kamu sudah dewasa sekarang." sesosok wanita cantik bak bidadari berjalan mendekatinya. Seluruh ruangan menjadi terang. Dimensi berganti. Tidak ada lagi suara air dan ruangan gelap.
Wanita cantik itu memegang tangan Rubby dan membawanya naik ke sebuah singgasana. Dia meminta Rubby untuk duduk di sebuah singgasana indah yang letaknya sedikit lebih rendah ketimbang punya wanita itu. Seperti tersihir, Rubby menurut saja.
Rubby melihat sekeliling. Kini dia seperti sedang berada di sebuah istana. Beberapa orang yang asing di mata Rubby bermunculan.
Dalam sekejap ruangan itu sudah ramai. Semua yang hadir di sana menatap dingin ke arah Rubby. Entah apa yang mereka pikirkan tentangnya.
"Para pembesar kerajaan dan para tetua. Ini putriku Virs yang di rawat dan dibesarkan oleh ayah dan ibu sambungnya."
Rubby melongo tak percaya. Virs. Nama yang begitu asing. Dan benarkah wanita ini ibu kandungnya. Lalu mami.
"Salam hormat Putri Virs kami siap mengabdikan diri dan menerima perintahmu." salah satu tetua mewakili bicara. Semua orang mengikutinya untuk memberi hormat pada Rubby.
"Eh, tunggu... tunggu... Anda siapa dan namaku Rubby bukan Virs." Rubby bertanya pada wanita itu.
"Aku Ivo, ibu kandung kamu. Dulu aku seorang bidadari. Aku di usir dari istana karena jatuh cinta pada ayahmu yang seorang manusia."
"Lalu kenapa kamu meninggalkan aku dan ayahku? Kenapa kamu nggak pernah menemuiku sebelumnya?" ada rasa tak terima dalam ucapan Rubby.
__ADS_1
"Keberadaanku di sisi ayahmu membahayakan nyawanya. Bahkan mungkin nyawamu juga. Kamu akan dicari oleh para pemburu kekuatan spiritual jika mereka tahu kamu anakku. Aku selalu melindungimu dari jauh Virs."
"Lalu mami?" tanya Rubby lirih. Hatinya merasa sedih mengingat ibu yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Dia teman masa kecil ayahmu sewaktu masih di panti asuhan. Aku rela ayahmu menikah dengannya karena dia berhati baik. Sayangnya dia penyakitan sejak kecil."
"Apa tujuanmu membawaku ke sini?" Rubby masih sulit untuk menerima kenyataan.
"Aku merasakan energi yang mencelakakan ayahmu menempel di tubuhmu. Aku segera membawamu ke sini untuk memperkuat dirimu. Aku tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama dengan ayahmu."
"Apa yang terjadi pada ayah?"
"Ayahmu meninggal saat bertarung melawan siluman yang ingin menculikmu. Untung identitasmu berhasil ditutupi dengan sihir Dewi Bulan yang aku dapatkan ketika melahirkanmu. Para siluman tidak akan mudah untuk menemukanmu. Mereka juga tidak akan mengenalimu sebagai putriku."
Rubby tertegun mendengar cerita hidupnya. Dia tidak menyangka jika jalan hidupnya serumit ini. Kepalanya merasa pusing memikirkan semua hal yang sulit dia mengerti.
"Apa yang harus aku lakukan... Ibu?" berat hati Rubby memanggil 'ibu' pada Ivo.
"Saat ini aku hanya membawa jiwamu ke sini. Ragamu tetap berada di alam manusia. Aku akan memberimu mahkota dan sebuah tongkat. Dengan begitu jiwamu bisa datang kemari kapan saja. Kamu harus sering kemari untuk berlatih."
"Bagaimana caranya aku kemari?"
"Ibu... kekuatan suamiku terus memanggilku. Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini." Rubby merasakan energi Wu Jin Ming begitu kuat menyentuh jiwanya. Sepertinya Wu Jin Ming sedang bersedih saat ini.
"Baiklah. Yar, ambilkan mahkota dan tongkat Putri Virs!"
Secepat kilat orang yang di panggil Yar itu pergi lalu datang seperti kilat. Dia menyerahkan mahkota dan tongkat yang di minta oleh Ivo.
"Hai, kalian semua saksikanlah. Mulai hari ini Putri Virs juga pemimpin kalian. Perintahnya adalah sebuah kewajiban. Menentangnya sama artinya menentang kekuasaanku!"
"Kami siap mengabdikan diri kepada Ratu Ivo dan Putri Virs."
Ivo memakaikan mahkota di kepala Rubby. Tubuh Rubby bersinar dan pakaiannya berubah. Dia seperti memakai gaun panjang yang terbuat dari cahaya kemilau.
"Ini tongkatmu! Apa yang kamu alami saat ini jangan pernah kamu ceritakan pada siapapun termasuk suamimu sendiri. Ingat pesan ibu. Selalu waspadalah!"
"Baik Ibu!" Rubby menunduk memberi hormat.
__ADS_1
"Segera kunjungi ibu lagi!"
"Ibu... bagaimana jiwaku pulang?" Rubby bingung untuk kembali ke tubuhnya.
"Pukulkan tongkatmu tiga kali!"
Rubby melakukan apa yang dikatakan Ivo. Dan benar saja. Ibu dan istananya berubah menjadi ruang gelap seperti saat pertama dia datang.
Ruangan itu lama-lama memudar dan tubuhnya seakan tertarik ke dalam tubuh fisiknya. Mata Rubby mengerjap-ngerjap saat tersadar. Wajah Wu Jin Ming tampak begitu dekat dengan wajahnya saat ini.
"Sayang, kamu sudah sadar!" Wu Jin Ming tersenyum lebar.
"Sayang, aku di mana?" tanya Rubby melihat sekeliling. Kepalanya terasa sangat berat. Dia tidak boleh menceritakan apa yang dialaminya pada Wu Jin Ming.
"Kamu di rumah, Sayang. Di kamar kita. Apa terjadi sesuatu pada tadi?" tanya Wu Jin Ming khawatir.
"Eemmh, nggak ada. Mungkin aku kelelahan saja." dengan wajah pucatnya Rubby mencoba tersenyum.
"Apa kamu ingin minum atau ingin aku mengambilkanmu sesuatu?" tanya Wu Jin Ming.
"Aku haus."
Wu Jin Ming mengambil sebuah botol minum yang selalu diletakkan di atas meja kamar.
"Terimakasih."
Rubby meminum air di botol itu hingga hampir habis. Wu Jin Ming keheranan melihatnya. Baru kali ini dia melihat Rubby sangat kehausan.
"Mau aku ambilkan minum lagi?" tanya Wu Jin Ming.
"Sudah cukup Sayang. Aku ingin tidur."
"Baiklah. Tidurlah! Aku akan memelukmu."
Sebenarnya Rubby sangat ingin menceritakan apa yang di alaminya pada Wu Jin Ming. Tapi dia tidak bisa melanggar perintah ibunya. Keselamatan dirinya dan Wu Jin Ming lebih penting saat ini. Suatu saat pasti Rubby akan menceritakan semuanya.
****
__ADS_1
Bersambung...