
Rubby terlihat bersemangat di hari pertama kuliah setelah liburan. Ingin rasanya dia terbang saja untuk pergi ke kampus. Tapi itu tidak mungkin. Pasti dia akan menjadi trending topik di semua media sosial jika sampai ada yang tahu dia bisa terbang.
Wu Jin Ming tidak mau ketinggalan. Dia berpenampilan sekeren mungkin meskipun hanya Rubby yang bisa melihatnya. Fashion pilihan Rubby memang sangat cocok untuk dipakainya.
*"Are you ready, Baobei?" tanya Rubby yang sudah siap berangkat kuliah. *(Apa kamu sudah siap, Sayang?)
"Ready! Let's go!" Wu Jin Ming menghampiri Rubby yang sudah menunggunya di depan pintu.
Tanpa banyak percakapan, mereka langsung meluncur ke kampus dengan motor bebek Rubby. Kali ini Wu Jin Ming yang menyetir di depan. Setelah pertukaran inti api pikiran, secara otomatis dia juga tahu bagaimana cara mengendarai motor.
"Rubby, bagaimana jika besok kita membeli sebuah mobil?" tanya Wu Jin Ming.
"Bukankah kita bisa terbang ke mana pun yang kita maumau?" Rubby mendekatkan kepalanya ke bahu Wu Jin Ming.
"Kita tidak bisa sembarangan terbang di dunia manusia, Rubby. Itu akan mengundang perhatian banyak orang."
"Kamu benar. Kapan kita akan beli mobil? Tapi... " Rubby ingat jika rumahnya tidak punya garasi.
"Kenapa, Rubby?"
"Rumah kita belum ada garasi mobil."
"Tenang saja kita bisa membuatnya dalam sekejap," jawab Wu Jin Ming santai.
"Ah, kau benar Sayang." Rubby mengeratkan pelukannya pada Wu Jin Ming.
Perjalanan ke kampus Rubby terasa singkat karena mereka melewatinya dengan mengobrol. Rubby meminta Wu Jin Ming pindah ke belakang dan tidak menampakkan diri sebelum mereka sampai di kampus. Orang hanya akan melihat Rubby saja yang masuk ke dalam kampus.
"Hai, Rubby!" sapa Ron yang juga memarkirkan motornya di dekat Rubby.
"Hai, Ron!" Rubby berjalan meninggalkan tempat parkir diikuti oleh Ron.
"Aku dengar kamu putus sama Moza." Ron berusaha menjajari langkah Rubby.
"Iya. Aku nggak sanggup lagi menghadapi sikap orang tuanya." sebenarnya Rubby enggan membahas masalah Moza lagi. Dia melirik Wu Jin Ming takut kalau dia akan cemburu seperti biasanya.
"Kamu benar. Mereka orang kelas atas selalu saja suka berbuat seenaknya."
"Sudah, jangan di bahas! Nanti kita bisa hilang semangat karenanya."
"Semangat, Rubby. Lupakan Moza! Banyak kog cowok di dunia ini. Aku salah satunya." Ron terkekeh.
__ADS_1
"Aku nggak suka barang obralan, ya!" Rubby ikut tertawa.
"Wooo, jangan salah! Ini spesial diskon hanya untuk orang tertentu saja. Jadi boleh, ya, aku ngedeketin kamu?" ucapan Ron semakin berani.
Wu Jin Ming sudah melotot ke arah Rubby.
"Nggak, makasih. Aku udah punya pacar," jawab Rubby santai.
"Yang bener. Cepet amat, sih! Padahal aku dah lama naksir kamu." wajah Ron terlihat kecewa.
"Telat! Udah deh, jangan bahas masalah hati lagi di sini. Tar otakku nggak bisa mikir pelajaran."
"Rubby!" panggil Lisa lalu bergabung bersama bersama Ron dan Rubby.
"Hai, Lis!" Rubby menjawab sapaan Lisa.
"Tadi kamu di anter ma kak Tiger, ya?" tanya Lisa.
"Em, nggak kog. Dia kan sibuk," jawab Rubby.
"Jadi dia kerja, ya. Kerja di mana sih, kepo aku?" Lisa melirik ke arah Ron.
"Kerja di mana aku lupa nanya. Yang penting dia kerja gitu aja," elak Rubby bingung memberi alasan.
"Aku percaya kog sama dia." Rubby melirik Wu Jin Ming yang hanya bisa di lihat olehnya.
"Dari tadi pada ngomongin siapa sih?" Ron merasa kesal.
"Cowok baru Rubby. Napa? Patah hati?" ejek Lisa yang sudah tahu jika selama ini Ron diam - diam naksir sama Rubby.
"Ya, elah gitu doang! Tapi kalau boleh jujur sih, iya!" Ron memasang muka memelasnya.
"Kalah cepet sih, kamu. Makanya kalau lihat barang incaran itu gercep!" tak henti - hentinya Lisa menggoda Ron.
"Pada ribut mulu. Aku sumpahin kalian jadikan biar tahu rasa!" ucap Rubby.
"Eiits, nggak bisa! Ron bukan tipeku, ya!" tolak Lisa.
"Pede! Siapa juga yang tertarik sama kamu. Aku nggak suka ya, sama cewek barbar." ucapan Ron seketika mendapat sikutan dari Lisa.
"Beneran. Pasti seru banget kalau kalian jadian." Rubby menutup mulutnya yang sedang tertawa lebar melihat tingkah Ron dan Lisa.
__ADS_1
"Dah, ah, aku mau masuk kelas. Lama - lama kena rabies kalau kelamaan deket sama Lisa. Bye, Rubby!" ucap Ron sambil berlari sebelum Lisa menghajarnya.
"Awas kamu, Ron! Dasar kutu kucing. Bikin aku gatel pengen nggaruk mukanya aja!" gerutu Lisa.
"Ha ha ha... Sudah... sudah. Ayo kita masuk ke kelas!" Rubby melangkah ke dalam kelas bersama Lisa.
Di dalam kelas, Bella dan Cindy sudah tiba di sana lebih dulu. Meja mereka berempat saling berdekatan. Setelah duduk di kursi masing-masing, mereka berempat mengobrol santai untuk menunggu dosen masuk.
Wu Jin Ming menepati janjinya pada Rubby. Dia tetap setia menemani Rubby dan selalu berada di dekatnya. Dia tidak pernah menghilang dari jarak pandang Rubby.
Perasaan Wu Jin Ming merasa tidak tenang. Dia merasakan hawa siluman yang sangat kuat mendekat ke ruang kelas Rubby. Melihat banyaknya orang di dalam kelas, dia tidak mungkin menghalau siluman itu agar tidak masuk ke sana.
Seorang dosen cantik masuk ke dalam ruangan. Dia dosen baru yang di rekrut oleh kampus belum lama ini. Dia mengajar sastra kuno. Pelajaran yang membuat Rubby sakit kepala sebelumnya. Tapi setelah bertukar api pikiran, dia tidak akan kesulitan lagi untuk pelajaran ini.
Wu Jin Ming terperanjat melihat dosen yang masuk untuk mengajar. Siluman Serigala. Pandai sekali dia membaur bersama manusia. Sepertinya dia juga mencium keberadaan Wu Jin Ming di sana. Siluman Serigala ini usianya lebih tua dari Wu Jin Ming. Itu bisa di lihat dari warna dan jumlah cincin energinya.
"Selamat pagi!" sapa Felly dosen wanita yang merupakan penjelmaan dari Siluman Serigala.
"Pagi, Miss!" jawab seisi kelas serentak.
"Hari ini aku akan membagikan modul untuk quiz minggu depan. Kita akan mulai mempelajarinya hari ini." Felly mebawa setumpuk modul dan menyerahkan pada mahasiswa yang duduk di meja paling depan untuk di bagi.
Dosen Felly berjalan berkeliling sambil menunggu modulnya selesai di bagi. Tatapannya berhenti pada liontin giok yang bertengger di leher Rubby. Dia tersenyum menyeringai setelah melihatnya.
'Rupanya Raja Siluman itu sudah bangkit. Pantas saja sejak tadi aku merasakan hawa keberadaannya di sini. Lalu siapa gadis itu? Kenapa liontin dimensi itu bisa ada padanya?' Felly bermonolog dalam hatinya.
"Ehhmm, siapa nama kamu?" Felly mendekati Rubby dan bertanya.
"Saya Rubby, Miss Felly." Rubby berdiri lalu membungkukkan badannya memberi hormat.
"Ah, kalau tidak salah kamu belum melakukan perbaikan nilai bulan lalu." Felly mencari alasan agar dia dapat memancing Raja Siluman untuk datang.
"Benar, Miss. Besok saya akan membawa tugas perbaikan saya." Rubby merasa kesal.
'Inget saja nih orang. Padahal udah lama tugas itu berlalu.' gerutu Rubby dalam hati.
"Tidak perlu. Kamu cukup temui saya di ruangan saya sepulang kuliah nanti." Felly tersenyum senang.
"Baik, Miss Felly. Terimakasih." Rubby kembali duduk karena Miss Felly sudah kembali ke depan kelas untuk mengajar.
'Semoga saja tidak di beri tugas yang berat untuk remidiasi.' harap Rubby dalam hati.
__ADS_1
*****
Bersambung...