TIGER WU

TIGER WU
MIE RAMEN


__ADS_3

Pemadam kebakaran berhasil memadamkan api yang berkobar namun rumah Rubby sudah sangat rusak. Beruntung api tidak merembet ke bangunan yang lain karena rumah Rubby termasuk rumah yang paling kecil dengan satu lantai diantara deretan rumah megah yang berjajar di sampingnya. Keadaan rumah itu saat ini rusak lebih dari 50 persen.


"Tiger! Kalian bisa tinggal di rumahku selama yang kalian mau. Walaupun mama Sofi dan papa sedang tidak di rumah, mereka tidak akan pernah keberatan jika kalian tinggal di rumah. Rubby sudah seperti keluarga bagi kami."


"Terimakasih, Ar! Tapi sepertinya dengan tinggal di dekat rumah Rubby itu tidak akan bagus untuk emosinya. Dia akan terus bersedih ketika melihat rumahnya yang tidak bisa di tinggali lagi."


"Kamu benar. Tapi kalian mau tinggal di mana? Aku punya sebuah rumah di jalan Y, kalau kalian mau bisa kalian tempati. Tempat itu cukup jauh dari sini."


"Terimakasih, Ar! Nanti aku akan membicarakannya dengan Rubby. Kalau aku sih, bisa tinggal di mana saja yang terpenting adalah Rubby." Wu Jin Ming tidak bilang pada Arlan jika mereka sebenarnya punya rencana untuk membeli rumah di dekat manager Lin di daerah G.


"Aku selalu mendukung kalian. Jika ada apa-apa jangan pernah ragu untuk mengabariku." Menepuk bahu Wu Jin Ming pelan.


Mereka berdua lalu berjalan menyusul Rubby yang berdiri mematung menatap nanar rumahnya yang hanya tinggal puing-puing saja. Dia membayangkan tadi pagi dia masih ada di sana bersama Wu Jin Ming tapi sekarang....


Tidak ada lagi airmata yang keluar seakan telah habis tercurah beberapa saat yang lalu. Setelah api benar-benar padam dan menjadi dingin, Rubby melangkah masuk ke dalam puing-puing bangunan rumahnya. Arlan dan Wu Jin Ming mengikutinya di belakang.


Wu Jin Ming merasakan jejak energi yang tertinggal di sana. 'Rupanya ada yang sengaja membakar rumah ini tadi.' Wu Jin Ming terus berjalan sambil melacak siapa pemilik jejak energi itu.


Rubby juga merasakan hal yang sama dengan Wu Jin Ming. Jejak energi itu sangat jelas terasa, Rubby langsung melacak kejadian sebelum kebakaran itu terjadi. Lisa. Amarah Rubby seakan meledak. Jika tidak ada Arlan di sana mungkin dia sudah pergi dan mencari di mana Lisa berada.


"Kak Wu!" bisik Rubby ketika mereka berdiri bersebelahan dan sedikit menjauh dari Arlan.


"Iya, aku tahu. Lisa." Wu Jin Ming menjawabnya dengan suara pikiran.


"Benar. Aku ingin sekali menghajarnya saat ini juga," ucap Rubby dengan suara pikirannya juga.


"Tenanglah, Sayang! Jangan gegabah!" suara Wu Jin Ming masih dengan pikirannya.


Arlan datang mendekat dan mengajak mereka untuk datang ke rumahnya. Dia merasa tubuhnya sangat lengket dan gerah setelah membantu memadamkan kebakaran rumah Rubby. Wu Jin Ming dan Rubby menolak secara halus ajakan Arlan karena mereka masih ingin di sana.


Tidak ingin memaksa, Arlan pun pulang seorang diri dengan berjalan kaki.

__ADS_1


"Kak Wu! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rubby yang sudah tidak lagi menangis.


"Kita cari tempat tinggal baru secepatnya. Ayo kita datangi lokasi rumah yang direkomendasikan oleh kak Lin."


"Baik! Ayo kita pergi!"


Berjalan mendahului Wu Jin Ming menuju ke mobilnya dengan membawa kesedihan dan amarah yang bercampur menjadi satu. Di dalam mobil pun Rubby masih terdiam. Bayangan wajah Lisa terus menggoda emosinya.


Sesekali Wu Jin Ming melirik Rubby sambil menyetir. Setelah mereka mendapatkan rumah impian mereka, dia berjanji untuk mengalahkan Lisa untuk Rubby. Apapun alasannya, hal yang dilakukan Lisa benar-benar tidak bisa dimaafkan.


"Kita makan dulu, Sayang! Kamu ingin makan apa?" tanya Wu Jin Ming ketika mereka sudah melewati setengah perjalanannya.


"Lisa!" jawab Rubby asal. Sebelumnya dia tidak mendengarkan pertanyaan Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming menggeleng. Dia tahu Rubby tidak mendengarkan apa yang dia katakan.


"Kita makan apa, Sayang?" Wu Jin Ming mengulang pertanyaannya.


Mendengar pertanyaan Wu Jin Ming, Rubby menoleh ke arahnya, dia merasa tadi sepertinya salah bicara.


"Baik Tuan Putri! Sepertinya di depan sana ada restoran yang menjual mie ramen." Wu Jin Ming melirik monitor GPS di mobilnya yang menampilkan lokasi dan jalan yang dia lewati.


"Hmm." Angguk Rubby menyetujui ucapan Wu Jin Ming setelah melihat layar monitor itu juga.


Mobil yang mereka tumpangi berbelok menuju restoran yang ingin mereka kunjungi dan berhenti untuk parkir.


"Perasaanku tidak enak, By! Apa kita cari tempat lain saja?"


Sepertinya ada energi aneh di dalam restoran. Akan menjadi ancaman jika orang-orang yang mengenal Wu Jin Ming melihatnya bertarung melawan siluman di dalam sebuah restoran.


"Tanggung, Kak! Bagaimana kalau kita menyamar saja?!" muncul ide konyol di benak Rubby.

__ADS_1


"Menyamar?" Wu Jin Ming berpikir sejenak. "Boleh juga," ucapnya kemudian.


Akhirnya mereka merubah penampilannya menjadi orang yang berbeda. Rubby merubah penampilannya menjadi seorang gadis tomboi sedangkan Wu Jin Ming memakai jas dan berambut cepak seperti seorang pengusaha. Tidak akan ada yang mengenali mereka karena wajahnya tidak mirip dengan wajah asli mereka.


Saat ini mereka berdua menjadi pasangan yang terlihat kontras. Wajah Rubby tidak begitu menarik dengan adanya tompel besar di pipi kirinya sedangkan Wu Jin Ming berpenampilan keren dan parlente. Bisik-bisik pengunjung restoran terdengar mengomentari penampilan keduanya sejak kedatangan mereka.


Rubby tersenyum miring. Ini berarti penyamaran mereka berhasil.


Pandangan mata Wu Jin Ming mengedar ke seluruh penjuru restoran dan mencari-cari di mana sumber energi siluman di sana. Ketemu. Siluman babi yang menyamar menjadi seorang anak kecil duduk di pangkuan seorang ibu muda. Kelihatannya ibu muda itu telah terperdaya oleh wajah imut siluman babi itu yang menyamar.


"Apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan?" bisik Rubby setelah menyerahkan buku menu dan memilih pesanannya.


"Lihat anak kecil itu!" Wu Jin Ming menunjuk anak kecil yang duduk berjarak 4 meja dari tempatnya sekarang.


Kepala Rubby menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Wu Jin Ming. Tidak ada yang aneh. Hanya seorang anak kecil yang sedang disuapi oleh ibunya.


"Kamu tidak salah merasakan energi dari siluman lain, kan?" Kedua alis Rubby bertautan.


"Kamu aktifkan saja mata iblismu. Jika tidak terlihat pakai mata batinmu."


"Kenapa penglihatan kamu bisa setajam ini sekarang?" Mata Rubby mengerjap heran.


"Aku memiliki sebagian kekuatan yang sama denganmu setelah bermutasi di malam itu. Malam di mana kita bertemu dengan Moza."


"Owh!" Mengangguk sambil memejamkan mata dan merasakan energi halus yang tidak mudah dideteksi oleh mata biasa.


Benar. Anak kecil yang terlihat menggemaskan itu bukanlah manusia. Lalu bagaimana dia bisa bersama ibu itu?


****


Bersambung...

__ADS_1


Numpang promo novel karya temanku ya kak...



__ADS_2