
"Hoaamm!" Rubby menutup mulutnya yang tengah menguap.
Perutnya yang kenyang membuatnya tidak bisa menahan rasa kantuknya. Biasanya dia ikut kerja di lapangan namun tidak untuk hari ini. Rubby harus berkutat dengan setumpuk file yang harus dia kerjakan.
Teamnya sedang melakukan shooting iklan dan pemotretan di ruangan yang lain. Suasana sepi di ruangan itu seakan mendukung rasah kantuknya. Rubby tertidur di atas meja kerjanya dengan berbantalkan kedua tangannya.
Sekelebat bayangan muncul dan bergerak berputar mengelilingi tubuhnya. Dia mengeluarkan energi yang berbentuk menyerupai jaring laba-laba. Jaring itu dia lemparkan ke tubuh Rubby dan membuat siluman itu menguasai alam bawah sadarnya dengan kata lain dia masuk ke dalam mimpinya.
Dalam tidurnya Rubby seolah berada di tempat yang asing. Tempat itu terlihat seperti sebuah rumah kosong yang lama tidak ditempati. Banyak sekali rumah laba-laba yang membuat suasana rumah itu terlihat menyeramkan.
"Ini di mana? Bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini?" Rubby mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi namun sia-sia. Ingatannya tidak mampu menjangkau kejadian yang membawanya ke tempat itu.
Rumah kosong itu terbilang cukup besar dan luas. Rubby berjalan berkeliling untuk mencari jalan keluar. Dia tidak ingin selamanya terjebak di sana.
Rubby ingin mencoba menggunakan sihirnya untuk membersihkan tempat itu agar terlihat di mana pintu keluar yang dia cari namun tidak bisa. Otaknya terasa tumpul dan tidak bisa memikirkan apa-apa. Merasa tidak berhasil dengan sihirnya, Rubby mencoba cara yang lain. Perlahan dia memusatkan pikirannya untuk mengeluarkan energi spiritualnya.
Lagi-lagi Rubby gagal. Kekuatannya seakan tersumbat oleh sesuatu yang tidak dia mengerti. Rubby mulai terlihat panik dan tidak bisa berpikir jernih. Dia berjalan ke sana kemari untuk mencari jalan keluar.
Ruangan-ruangan yang ada di rumah tua itu berbentuk seperti sebuah labirin yang sulit untuk di pecahkan. Tubuh Rubby terlihat sangat berkeringat dan lelah. Semua yang dia lakukan terasa percuma.
"Hei! Siapa yang berani-beraninya menculikku dan menyekapku di sini? Keluarlah! Kalau kamu berani!" teriak Rubby setelah tidak bisa menemukan jalan keluar.
"Hahaha! Ternyata kamu tidak sehebat yang aku kira!" sesosok bayangan muncul di hadapan Rubby.
Rupanya dia adalah siluman laba-laba yang Rubby temui di kantin agensi. Rubby masih mengingat wajahnya dengan jelas. Hal yang membuat Rubby penasaran ialah bagaimana dia bisa sampai di tempat ini.
"Jangan banyak basa-basi! Apa tujuanmu membawa aku ke sini? Tidak mungkin kan kalau kamu hanya ingin aku sekedar jalan-jalan atau menjadi tenaga cleaning servis sehari!" Rubby mengibas rambutnya yang terkena sarang laba-laba.
__ADS_1
"Kamu sudah membakar rumahku, jadi kamu harus merasakan bagaimana amarahku!" Siluman laba-laba itu mengangkat tangannya ke atas seperti hendak mengeluarkan kekuatannya.
"Tunggu! Tunggu!" Rubby menghentikan aksi yang dilakukan oleh siluman laba-laba itu.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya siluman laba-laba itu dengan sombongnya.
"Justru kamu yang penakut. Beraninya melawan setelah berhasil memblokir akses energi lawannya. Bukan itu yang membuatku menghentikanmu. Aku tidak tahu rumahmu di mana, bagaimana mungkin aku membakarnya?" seru Rubby lantang.
"Kamu bertempur dengan prajuri dari Raja Kegelapan dan mengeluarkan api yang tidak pernah bisa padam hingga apa yang dilalapnya habis. Entah kamu sadari atau tidak, rumahku terbakar setelah kenadian itu," jelas siluman laba-laba itu.
"Oh, jadi begitu ceritanya. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menindas makhluk lain kalau mereka tidak membuat keributan dan kekacauan di hadapanku!" seru Rubby menciba menjelaskan.
"Apa kamu pikir aku akan percaya padamu dengan mudah?"
"Terserah! Kamu menganggapku musuh, Oke! Mau menganggapku sebagai teman, Oke! Asal kamu jangan menganggapku sebagai kekasih
"Baiklah, karena kamu memberi aku pilihan maka aku ingin memanggilmu calon istri. Menyerahlah dan ikuti saja apa mauku. Aku sedikit tertarik dengan wajahmu yang sangat cantik itu!" Suara siluman laba-laba itu sedikit melunak.
Wajar saja siluman laba-laba itu tertarik padanya, wajah Rubby memang memiliki aura kecantikan yang sangat kuat. Setiap manusia dan siluman yang memandangnya pasti secara alami akan langsung tertarik padanya. Naluri bidadari dan Dewi yang memesona di tambah lagi kekuatan jiwanya yang tinggi membuat dirinya semakin bersinar.
"Tapi aku tidak tertarik padamu! Kamu rumahmu terbakar saja sudah bikin heboh. Apalagi jika hatimu yang terbakar."
"Kamu bicara seperti itu karena belum mengalami kehilangan rumah seperti diriku. Apa yang kamu lakukan jika tahu siapa yang membakar rumahmu? Pasti kamu juga akan sangat marah!" jelas siluman laba-laba itu.
"Aku baru saja mengalaminya. Beberapa waktu lalu rumahku yang berada di jalan X terbakar hingga rusak parah. Tapi aku masih bersyukur karena aku memiliki kekasih yang sangat menyayangiku." Rubby mencoba memancing rasa cemburu siluman laba-laba itu agar mau melepaskannya.
"Aku tahu! Dia pasti laki-laki yang bersamamu di bukit itu. Tidak terlalu tampan juga!" siluman laba-laba itu tidak rela untuk mengakui rivalnya itu tampan.
__ADS_1
"Jadi! Kamu akan melepaskanku, kan?" Rubby mencoba bersikap lembut.
"Tidak! Kamu sekarang punya dua kesalahan padaku! Yang pertama kamu sudah membakar rumahku dan yang kedua kamu sudah menolak cintaku!"
'Sia-sia aku banyak bicara padanya sampai mulutku berbusa! Dia siluman yang kolot sekali! Huhh!' Rubby mengomel di dalam hati.
Siluman laba-laba itu kembali mengangkat tangannya ke atas dan mengeluarkan sebuah jaring cahaya. Jaring itu kira-kira memiliki diameter sepanjang 3 meter dengan kerapatan anyaman sedang. Rubby mencoba menganalisa kekuatan jaring itu dan bagaimana cara melawannya.
Tidak ingin menyerah dengan kegagalan sebelumnya, Rubby kembali mencoba untuk menggunakan kekuatannya. Hasilnya tetap sama. Rubby melihat ke sekeliling mencoba mencari-cari apakah ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk senjata.
Tiang-tiang penyangga rumah itu terbuat dari pipa-pipa logam yang berbentuk silinder. Ada satu pipa logam yang berukuran kecil yang menjadi ruji-ruji pembatas. Keberuntungan sedang berpihak pada Rubby, dia bisa mencabutnya sebuah.
Walaupun tanpa energi spiritual dan wujud hebatnya, Rubby tidak ingin menyerah. Dia akan terus melawan siluman laba-laba itu hingga titik darah penghabisan. Bukan sifatnya jika harus pasrah dan menyerah kepada musuh sebelum mencoba untuk melawannya.
"Rasakan ini!" siluman laba-laba itu melemparkan jaring energinya itu ke arah Rubby.
Rubby berlari mendekati tiang untuk menghidar. Jaringan laba-laba itu membentur tiang itu hingga terdengar suara nyaring dari tiang logam itu. Siluman laba-laba itu menutup telinganya dan tidak mengendalikan lagi jaring laba-laba miliknya.
Melihat kejadian ini, Rubby mengira jika tiang yang ada di hadapannya itu sangat hebat. Tidak ada salahnya jika Rubby berlindung di bawah tiang itu dan menjadikannya tameng.
Siluman laba-laba yang lumayan cerdas itu tidak kalah akal. Dia melempar sebuah jaring energi lagi dan memutarnya mengelilingi tubuh Rubby dan melilitnya di tiang itu. Lilitan itu berhasil mengikat Rubby dari bagian dada hingga ke kaki. Beruntung sekali kedua tangan Rubby tidak terikat dan dinaikkan ke atas.
"Hahaha! Kamu tidak bisa lari lagi, Cantik!" siluman laba-laba berjalan mendekati Rubby sambil terus tertawa. Gigi-giginya yang memiliki panjang tidak beraturan terasa aneh jika dilihat.
****
Bersambung...
__ADS_1