TIGER WU

TIGER WU
Bab 270. Unjuk Gigi


__ADS_3

Rubby dan Wu Jin Ming tidak menjawab pertanyaan Tian Yu, mereka hanya memberinya isyarat untuk diam.


"Ayah, aku merasakan hawa siluman di sini," bisik Tian Yu lirih seolah mengerti jika dia tidak boleh berbicara keras.


Wu Jin Ming menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.


Tian Yu mengangguk tanda dirinya mengerti.


Walaupun berusaha tetap acuh dengan keberadaan siluman yang mengikutinya, Rubby tetap bersikap waspada dan terus melihat ke sekeliling untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


Jalan-jalan mereka menjadi tidak nyaman. Niat hati ingin menyenangkan Tian Yu tetapi malah membawanya ke dalam keadaan yang berbahaya. Di dunia manusia memang banyak di huni oleh para pemburu kekuatan yang mengincar siluman lain atau manusia yang memiliki energi spiritual. Belum lagi jika mereka bertemu dengan Zhu Zheng, pasti akan sangat merepotkan.


"By, kamu bawa Tian Yu ke tempat bermain. Aku akan berjaga-jaga di belakang kalian. Biarkan dia menikmati permainan di dunia manusia dengan tenang." Wu Jin Ming berusaha untuk membuat putranya bermain dengan bahagia di area bermain.


"Baiklah! Aku juga akan selalu berada di dekatnya." Rubby mengangguk lalu membawa Tian Yu membeli tiket untuk bermain di beberapa wahana yang aman untuk anak seusianya.


Tian Yu terlihat sangat gembira. Ini adalah yang sangat berkesan untuknya. Banyak sekali permainan yang dicobanya, namun yang paling dia sukai adalah bom-bom cart. Kecerdasan Tian Yu membuatnya menguasai berbagai macam permainan dengan cepat. Mata elangnya juga terus waspada meskipun kedua orang tuanya selalu menjaganya.


Rubby sangat senang melihat Tian Yu bisa tertawa lepas saat dia berhasil mengalahkannya di dalam permainan. Banyak juga anak seusianya yang bermain di sana karena ternyata hari ini memang hari libur. Tidak terasa sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu di sana.


"Sayang, ibu merasa lelah," ucap Rubby sambil menyeka keringatnya.


"Aku juga lelah, Ibu. Di mana ayah?" Tian Yu mencari-cari keberadaan Wu Jin Ming.


"Em, di mana, ya?" Rubby juga terlihat celingukan mencari suaminya itu.


Di kejauhan terlihat Wu Jin Ming datang membawa sebuah kantong plastik besar berisi minuman dan beberapa makanan ringan.


"Ayah datang!" pekik Tian Yu berlari menyongsong Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming membawa Tian Yu duduk di salah satu kursi tunggu yang berderet di depan area bermain.


Rubby menyusul mereka berdua dan ikut menikmati minuman dan makanan yang di beli oleh Wu Jin Ming.


"Rubby, mereka semakin dekat. Kita harus segera pergi dari tempat ini agar tidak banyak korban jiwa," bisik Wu Jin Ming.


"Hmm." Rubby mengangguk dan buru-buru menggendong Tian Yu.


Meskipun kedua orang tuanya tidak memberitahukan padanya tentang keberadaan siluman yang mengincar mereka, insting Tian Yu yang tajam bisa merasakan ada pasukan siluman yang hampir sampai di tempat itu. Tidak heran jika ibunya segera menggendongnya dan membawanya pergi dari tempat keramaian itu.


Saat ini mereka bertiga sudah berada di area parkir dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat keramaian itu.


Seperti dugaan mereka, di tengah perjalanan mobil mereka di hadang oleh pasukan siluman yang memakai jubah merah tua berlambang tengkorak.


Wu Jin Ming menepikan mobilnya lalu turun untuk menghadapi musuh yang berjumlah sekitar duapuluh orang itu.


"By, kamu tetap di sini saja untuk menjaga Tian Yu. Biar aku saja yang menghadapi mereka," ucap Wu Jin Ming sebelum turun dari mobilnya.


"Hati-hati, Sayang!" Rubby sebenarnya ingin membantu Wu Jin Ming namun yang terpenting baginya sekarang adalah menjaga putranya.


Tian Yu menurut ketika Rubby memintanya untuk tetap diam di dalam mobil bersamanya. Jiwa petarungnya bergelora ketika melihat ayahnya bertarung dengan gagah membantai musuh-musuhnya satu persatu tanpa ampun. Di dalam pandangannya, apa yang dilakukan oleh sang ayah terlihat sangat mudah.


"Suatu saat kamu juga akan sehebat ayahmu. Bahkan mungkin lebih hebat darinya." Rubby mengelus kepala Tian Yu pelan.


"Ayah sangat hebat. Aku bangga memiliki aya dan ibu yang hebat." Tian Yu berbicara sambil terus fokus melihat pertarungan yang dilakukan ayahnya.


Semua siluman yang menghadang mereka berhasil dihabisi oleh Wu Jin Ming. Tinggal satu orang saja yang selamat dan berhasil kabur dengan luka dalam yang cukup serius. Wu Jin Ming tidak ingin mengejarnya karena luka di tubuhnya tidak akan membiarkannya hidup lebih lama.


Hanya saja, jika dia berhasil selamat sampai di klannya, mungkin masalah baru akan muncul. Klan jubah merah pasti akan membalaskan dendam padanya.


Wu Jin Ming berjalan memasuki mobilnya lalu melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.

__ADS_1


"Ayah hebat!" Tian Yu mengacungkan jempolnya di hadapan Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming tidak menjawabnya melainkan hanya mengusap kepala putranya itu mengingat napasnya yang masih ngos-ngosan setelah pertempuran tidak memungkinkannya untuk menjawab.


"Biarkan ayah beristirahat sambil menyetir dulu, Sayang!" Rubby mengecup kepala Tian Yu.


"Iya, Ibu. Aku ingin seperti ayah." Tian Yu memeluk Rubby dan bersandar di bahunya.


"Tentu saja," jawab Rubby sambil tersenyum. Tangannya membalas pelukan Tian Yu dan mengusap rambutnya lembut.


Tian Yu terlihat menguap karena memang dia belum tidur siang hari itu.


"Tidurlah, Sayang. Rumah kita masih jauh dan perjalanan kita masih lumayan lama." Rubby membetulkan posisi Tian Yu agar lebih nyaman.


Tian Yu mengangguk dengan mata redupnya.


Tidak butuh waktu yang lama, Tian Yu pun terlelap dalam tidurnya.


"Syukurlah lawan kita hari ini sangat mudah untuk dihadapi," ucap Rubby ketika melihat Wu Jin Ming sudah lebih tenang setelah bertarung.


Wu Jin Ming menoleh ke arah Rubby sebentar lalu kembali menyetir mobilnya.


"Kita tidak boleh senang dulu, Sayang. Tadi ada satu orang yang berhasil melarikan diri. Bisa saja dia meminta bantuan untuk membalas dendam pada kita." Wu Jin Ming berbicara dengan nada serius.


Rubby mengerti kekhawatiran Wu Jin Ming. Sepertinya musuh yang dia hadapi baru saja hanyalah sebagian kecil. Mungkin anggota klan mereka akan datang lebih banyak lagi jika mereka ingin membalas dendam.


"Aku mengerti," jawab Rubby singkat.


Suasana kembali hening. Mobil mereka membelah jalanan yang cukup padat namun lumayan lancar sore itu. Wu Jin Ming dan Rubby larut dalam pikiran masing-masing memikirkan hal yang mungkin saja bisa terjadi.


Mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki kompleks perumahan yang mereka tinggali. Perasaan aneh menyelimuti hati mereka ketika melihat cuaca yang semula cerah kini berubah menjadi gelap gulita seperti akan terjadi badai. Tian Yu yang semula tidur dengan nyenyak tiba-tiba tersentak dan bangun dari tidurnya.


"Apa kamu terkejut, Sayang? Kita sebentar lagi akan sampai." Rubby menenangkan Tian Yu yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


Ucapan Tian Yu membuat Rubby dan Wu Jin Ming saling berpandangan. Sepertinya Tian Yu memiliki insting yang tajam dan terasah dengan cepat tanpa dia melatihnya. Wu Jin Ming menyadari jika putranya memang memiliki keistimewaan sejak lahir.


"Mungkin apa yang dikatakan oleh Tian Yu memang benar, By. Aku tidak menyangka jika mereka akan datang secepat ini untuk membalas dendam." Wu Jin Ming berbicara serius pada Rubby.


"Kita tidak bisa menghindar lagi. Kita harus membawa Tian Yu masuk ke dalam rumah sebelum mereka mencapai kita dalam pengejarannya."


"Hmm." Wu Jin Ming sependapat dengan Rubby.


Berbeda dengan kedua orang tuanya yang sangat mengkhawatirkannya dan berusaha untuk melindunginya, Tian Yu malah berharap untuk bisa bertarung melawan musuh.


Di dalam hati dia berharap kesempatan itu akan datang. Tian Yu ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya walaupun dia masih anak-anak namun bisa menjaga dirinya. Dia bukanlah bayi lemah yang tidak bisa apa-apa.


Sepertinya apa yang diharapkan oleh Tian Yu terkabul. Beberapa orang siluman telah berdiri menunggu kedatangan mereka di halaman rumah tempat tinggal mereka. Jumlah mereka terus bertambah ketika mobil Wu Jin Ming mulai memasuki halaman rumahnya.


"Sepertinya berada di dalam mobil bukan solusi yang tepat," ucap Rubby sambil melihat ke luar jendela mobil yang memperlihatkan banyaknya siluman jubah merah yang ada di sana.


"Kamu benar. Jika ada kesempatan, bawalah Tian Yu masuk ke dalam rumah."


Rubby mengangguk.


Tian Yu memang tidak membantah ayahnya namun dalam hati dia berontak. Menjadi penonton saja itu terlalu membosankan untuknya. Sebisa mungkin dia ingin berusaha membantu kedua orang tuanya berperang melawan para pengacau itu.


Mereka bertiga bersama-sama menuruni mobil. Rubby menggendong Tian Yu sedangkan Wu Jin Ming berada di posisi paling depan untuk melindungi keduanya.


"Ada tamu rupanya," ucap Wu Jin Ming berbasa-basi ketika sudah berada di depan pemimpin lawan.


"Tidak usah banyak bacot. Beraninya kamu membantai anggota klan kami dan membunuh panglima kami." Pemimpin kelompok itu memperlihatkan wajah garangnya.

__ADS_1


Ada ratusan siluman jubah merah yang berada di tempat itu.


"Mereka yang datang mengantarkan nyawa padaku seperti yang kalian lakukan saat ini. Bukan kesalahanku jika klan kalian musnah di tanganku karena aku Dewa Penghukum bukan dewa pengampun." Wu Jin Ming tidak kalah garang.


"Banyak cakap! Serang mereka!" Pemimpin penyerangan itu memerintahkan anak buahnya untuk bergerak.


Pertarungan pun tak terelakkan lagi.


Wu Jin Ming mengalirkan energi di tangannya dan membentuknya menjadi sebuah pedang. Semua itu tidak luput dari perhatian Tian Yu. Saat itu juga dia merekam dengan cepat apa yang dilakukan oleh ayahnya.


Rubby juga melakukan hal yang sama dengan Wu Jin Ming. Walaupun sambil menggendong Tian Yu dengan tangan kirinya, namun Rubby cukup gesit membabat habis musuh di depannya. Entah sudah berapa kepala yang sudah berhasil dipenggalnya.


Wu Jin Ming menggunakan jurus pedang mertuanya. Walaupun hanya menggunakan pedang energi namun kehebatan jurus itu sudah cukup membuat musuh kalang kabut. Dalam sekali tebasan terkadang pedang Wu Jin Ming mampu membunuh dua atau tiga orang sekaligus.


Melihat keseruan kedua orang tuanya bertarung, akhirnya Tian Yu pun merasa tidak bisa menahan dirinya lagi. Tian Yu melompat dari gendongan ibunya lalu mengeluarkan pedang energi di tangannya. Beberapa jurus pedang yang digunakan ayahnya berhasil dia rekam di memori otaknya.


Rubby ingin mengejar Tian Yu namun musuh selalu datang menghadangnya. Terpaksa dia harus membiarkan putranya yang keras kepala itu bermain-main dengan bahaya. Saat melawan musuh, Rubby tetap memperhatikan Tian Yu. Dia sangat terkejut saat melihat Tian Yu mampu memainkan jurus pedang legenda milik ayahnya.


Setelah melihat aksi Tian Yu akhirnya Rubby memilih untuk membiarkan putranya itu ikut bertarung.


Wu Jin Ming juga tidak kalah terkejut ketika melihat Tian Yu bergerak dengan lincah di udara dengan menggunakan jurus pedang legenda pendekar Chin. Dia memainkan jurus itu dengan sempurna meskipun belum pernah sekalipun Rubby atau dirinya mengajarkannya. Mungkin mulai saat ini dia harus melatih putranya yang belum genap berusia setahun dari kelahirannya itu.


Tubuh kecil Tian Yu mampu mengecoh lawan dengan trik sederhana, entah belajar dari mana dia dengan jurus tipuan semacam itu. Yang jelas, hari ini adalah hari pembuktian bahwa Tian Yu bukan anak-anak biasa. Kemampuan bertarung dan daya tahan tubuhnya dalam mengatur energi yang harus dikeluarkan sudah sangat mumpuni. Jika di lihat dari serangannya, saat ini Tian Yu sudah naik di basis tujuh level sembilan.


Bukan cuma jurus dan trik Wu Jin Ming saja yang di tiru oleh Tian Yu namun juga jurus lawannya yang sekiranya menarik baginya.


Awalnya klan jubah merah menyepelekan kemampuan Tian Yu mengingat usianya yang masih balita, namun setelah melihat anggotanya banyak yang mati di tangannya kini mereka mulai terlihat waspada pada Tian Yu.


Tidak tanggung-tanggung, Tian Yu mengincar pemimpin penyerangan ini. Sambil melibas orang-orang yang menghalanginya, Tian Yu mulai merekam jurus yang digunakan oleh pemimpin itu. Dalam hati dia tersenyum sadis sambil bergumam 'Kamu harus mati di tanganku dengan jurusmu sendiri.'


Tian Yu semakin dekat dengan tujuannya, dengan tatapan membunuhnya dia datang menghampiri pemimpin dari klan jubah merah.


"Akhirnya kamu datang untuk mengantar nyawamu anak kecil!" Pemimpin klan jubah merah tersenyum dengan penuh kemenangan.


"Aku datang untuk mencabut nyawamu, orang tua jelek!" Tian Yu tidak mau kalah.


"Hohoho! Berani sekali kamu! Apakah kamu punya dua nyawa? Kecil-kecil sudah besar mulut!"


"Banyak bicara! Haaaa!" Tian Yu segera menyerang pemimpin itu dengan pedang energinya.


Dengan gesit Tian Yu memainkan jurus milik lawannya untuk menyerangnya. Pemimpin penyerangan itu tampak terkejut melihatnya. Dia saja butuh sekitar delapan tahun untuk mempelajari jurus itu, lagipula jurus itu adalah jurus rahasia klannya. Semua yang dilihatnya terasa mustahil.


Keterkejutan pemimpin itu dimanfaatkan dengan baik oleh Tian Yu, dia semakin memperdalam gerakannya dan memperbesar energi yang dialirkannya untuk mempertajam pedangnya.


Crasshh!


Sebuat tebasan membuat lengan kanan pemimpin itu putus.


"Aarrrgghh! Kurang ajar! Rupanya kamu adalah iblis kecil yang sangat kejam!"


Pemimpin penyerangan itu menyeringai kesakitan. Dengan sisa-sisa kekuatannya dia berusaha untuk kembali menyerang Tian Yu. Gelombang energi yang besar mengalir di telapak tangan kirinya.


Tian Yu sudah waspada dengan itu. Diam-diam dia menampung energi yang sangat besar di dalam mulutnya. Saat pemimpin itu melepaskan serangannya, Tian Yu membuka mulutnya lalu menghembuskan energi yang dia tampung di sana.


Lagi-lagi pemimpin itu kembali dibuat ternganga oleh kemampuan Tian Yu. Di saat dia berusaha untuk menghindar, energi Tian Yu terlalu cepat dan langsung menabrak tubuhnya. Tubuh pemimpin penyerangan itu hancur berkeping-keping dan menemui ajalnya.


Melihat pemimpinnya telah mati, anggota klan jubah merah terlihat kebingungan. Sebagian bertahan untuk melanjutkan pertempuran dan sebagian lain memilih untuk lari. Tapi tidak mudah bagi mereka untuk lari dari sana, Tian Yu yang tidak kenal ampun membantainya habis sebelum mereka berhasil kabur.


Semua musuhnya mati. Mayat mereka memenuhi halaman rumah itu. Hanya ada 1 yang selamat, anggota itu kabur saat pertempuran masih berlangsung dan ketakutan melihat pemimpin mereka menjadi bulan-bulanan seorang anak kecil.


Rupanya apa yang dia takutkan benar-benar terjadi, seluruh klan jubah merah yang ikut dalam misi ini habis dibantai kecuali dirinya.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2