
Rubby mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi saat pulang ke rumah. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk mengutarakan keluh kesah dan apa yang dia alami hari ini pada Wu Jin Ming. Beruntung jam pulang kantor masih lama jadi Rubby bisa mengendarai motornya dengan leluasa.
Ketika sampai di rumah, suasana di rumah tampak sepi. Para pelayan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan Wu Jin Ming mungkin masih berada di kamar. Rubby tidak ingin makan. Dia hanya mengambil beberapa buah segar lalu membawanya ke kamar.
Kaki Rubby berjinjit saat berjalan mendekati pintu kamar. Dia tidak ingin suara langkahnya mengganggu Wu Jin Ming yang sedang beristirahat. Tangannya juga sangat hati-hati saat membuka dan menutup pintu.
Rupanya Wu Jin Ming sedang berkultivasi saat ini. Rubby duduk di sofa yang sedikit menjauh dari Wu Jin Ming agar tidak menggangu konsentrasinya. Dengan santai dia memakan buah di tangannya.
Belum juga habis buah yang dia makan, Wu Jin Ming telah selesai dan berjalan menghampiri Rubby.
"Sudah pulang, Sayang!" Meraih kepala Rubby lalu mengecup keningnya. "Bau asap knalpot!"
"Hihi... iya! Kan pakai motor, Sayang! Bagaimana keadaanmu?" tanya Rubby setelah Wu Jin Ming duduk di sampingnya.
"Sudah sangat baik!" ucap Wu Jin Ming sambil memperhatikan wajah Rubby.
Sebuah guratan merah di pipi Rubby terlihat juga olehnya. Jika diperhatikan memang tidak tergores namun kelihatan memerah.
"Kenapa pipimu?" tanya Wu Jin Ming sembari mengelusnya.
"Baru juga aku mau cerita. Sebentar aku habiskan buah apel ini dulu nanti jadi hitam kalau teroksidasi."
Baru akan menggigitnya lagi, Wu Jin Ming sudah merebutnya dan memakan buah itu.
"Cepat katakan! Aku bukan orang yang sabar untuk menunggu!" ucap Wu Jin Ming sambil memakan apel milik Rubby.
Sebenarnya Rubby tidak rela saat Wu Jin Ming mengambil apelnya tapi dia mencoba mengertinya. Mungkin Wu Jin Ming sangat ingin tahu dengan kabar yang dia bawa. Rubby mencoba menempatkan dirinya pada posisi Wu Jin Ming.
__ADS_1
Rubby menceritakan apa yang terjadi padanya mulai dia di kantin bersama Alfon, apa yang dia alami dalam tidurnya dan ancaman yang diucapkan oleh siluman laba-laba. Wu Jin Ming mendengarkannya dengan seksama lalu mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang di alami Rubby. Dia menduga sepertinya siluman laba-laba itu sudah menaruh racun sebelum masuk ke dalam alam bawah sadar Rubby.
"Coba sekarang munculkan kekuatanmu!" perintah Wu Jin Ming.
Rubby membuka telapak tangannya lalu mengeluarkan energi spiritual miliknya. Bisa. Tidak seperti saat dia terjebak di dalam mimpinya yang terasa nyata.
"Bisa! Tapi saat di dalam mimpi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Untung ada tongkat dan tiang logam itu. Jika tidak, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku." Rubby memanyunkan bibirnya mengingat kejadian menjengkelkan itu.
"Itu namanya racun ilusi dari siluman laba-laba. Sebelum dia masuk ke dalam alam bawah sadarmu dia sudah mengunci jalur energi yang mengalir di tubuhmu. Tanpa kamu sadari racun itu juga membuatmu tertidur selama yang dia mau. Dalam arti lain kamu sudah masuk ke dalam alam ilusinya." Jawaban Wu Jin Ming cukup jelas namun Rubby masih merasa penasaran dengan ilmu ilusi aneh itu.
"Apa racun itu masih ada di tubuhku dan aku bisa terjebak lagi seperti tadi? Ahh, sepertinya nanti malam aku ingin begadang saja lah! Aku takut dia akan menyerangku lagi dalam mimpi. Ihh,. seram!" seru Rubby.
"Hahaha! Kamu lucu sekali, Sayang! Kita bisa menyelesaikan masalah ini, jangan panik!"
"Benarkah? Aku pikir kamu tidak tahu bagaimana cara menghadapi ilusi itu!"
Rubby menurut saja. Tubuhnya berputar ke kiri dan memposisikan dirinya memunggungi Wu Jin Ming. Rasa hangat mulai terasa ketika energi dari telapak tangan Wu Jin Ming mengalir ke dalam tubuhnya. Cahaya putih dari energi Wu Jin Ming menekan racun energi berwarna biru kehitaman dari dalam tubuh Rubby.
Setelah racun energi dalam tubuh Rubby keluar, Rubby merasakan kesegaran tubuhnya kembali. Sebelumnya tubuhnya terasa berat dan lelah. Dia mengira jika itu adalah efek dari pertempurannya di alam mimpi.
"Ahhh! Segarnya!" Rubby memutar kedua bahunya lalu memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Jangan lengah dalam keadaan apapun! Ketika kamu tidur, usahakan kamu lindungi dirimu dengan mantra pelindung."
"Iya! Salahku juga tidur di kantor. Lebih tepatnya, sih, ketiduran. Tidak ada kamu di sana aku seperti hilang semangat." Rubby mengalungkan tangannya di leher Wu Jin Ming.
"Aku juga sangat merindukanmu. Jangan pernah bosan untuk mencintaiku, Sayang!" Wu Jin Ming merangkul tubuh Rubby dan membelainya dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak akan. Kamu tidak akan pernah tergantikan! Sebesar apapun ujian yang kita hadapi, aku akan tetap berjalan bersamamu untuk menghadapinya. Tapi kalau aku capek berjalan aku minta gendong, ya?" Selalu ada celah bagi Rubby untuk membuat Wu Jin Ming merasa gemas padanya.
"Aku gendong sekarang aja, ya?" Wu Jin Ming mengangkat tubuh Rubby dan membawanya ke tempat tidur.
"Eehh... ehh... mau ngapain? Ini masih siang, Sayang!" Rubby mencoba melepaskan diri namun Wu Jin Ming malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa bedanya siang dan malam, Sayang? Kita sudah lama tidak melakukannya," bujuk Wu Jin Ming.
"Emmhh. Baiklah! Tapi aku mandi dulu! Kamu bilang aku bau asap knalpot!" Rubby menahan tubuh Wu Jin Ming namun dia tidak peduli.
"Aku tidak peduli! Tidak bau, tidak pelayan, tidak siluman, tidak ada yang boleh menggangguku!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Wu Jin Ming mengangkat tangan kanannya dan membuat dinding pelindung di kamarnya. Dia ingin menikmati waktunya bersama Rubby setelah berhari-hari tidak melakukan itu.
••••
Di luar rumah para pelayan dihebohkan dengan kehadiran ratusan laba-laba yang membuat sarang di halaman rumah Wu Jin Ming. Di halaman itu ada sebuah taman dan tumbuhan rindang untuk memperindah halaman yang sangat luas itu. Dalam waktu singkat, sarang laba-laba membungkus bunga-bunga indah yang ada di taman itu.
Para pelayan membersihkan halaman itu namun seperti sia-sia. Laba-laba itu jumlahnya tidak terhitung dan terus bertambah. Mereka menyerah dan membiarkannya saja.
Wu Jin Ming melindungi rumahnya dan menutupinya dengan energi gaib yang tidak bisa di tembus oleh siluman dari luar. Kebakaran rumah mereka sebelumnya membuatnya harus waspada. Memalukan jika kejadian itu sampai terulang kembali.
Seorang pelayan yang memiliki indera pendeteksi yang tajam merasakan hawa siluman yang terus mendekat. Dia segera memperingatkan temannya dan mengajak mereka untuk mundur ke teras. Mereka tidak akan bisa tersentuh oleh siluman itu karena terlindung oleh pelindung gaib Wu Jin Ming.
Salah seorang pelayan berlari masuk ke dalam rumah untuk melaporkan kejadian ini pada Wu Jin Ming. Seperti yang diketahui sebelumnya, saat ini Wu Jin Ming sedang tidak ingin di ganggu. Berkali-kali pelayan itu mengetuk pintu kamar Wu Jin Ming namun tidak ada jawaban.
****
Bersambung...----
__ADS_1