
Wu Jin Ming melepaskan genggaman tangannya ketika mereka telah berada di dalam kolam energi. Kedalaman kolam itu berbeda-beda, sepertinya permukaan dasar kolam tidak rata dan bergelombang. Kini Wu Jin Ming dan Rubby berada di kedalaman air kolam sejengkal di atas mata kaki.
Kekuatan mereka tidak berfungsi di tempat ini dan berjalan ke sana kemari pun tidak menemukan jalan keluar membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
'Apa aku dan kak Wu akan mati di sini?' Air mata Rubby meleleh membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada mereka.
'Anakku, maafkan ibu. Jika ayah dan ibu mati, jagalah dirimu dengan baik. Jadilah anak yang kuat dan tak terkalahkan. Ayah dan ibu mencintaimu, Sayang.' Rubby kembali bergumam dalam hati.
Berbeda dengan Rubby, Wu Jin Ming mengatasi kegelisahannya dengan bermeditasi. Sesaat setelah mereka masuk ke kolam itu, Wu Jin Ming segera duduk bersila mengambil posisi. Meskpun semua yang ada di sana masih misteri, Wu Jin Ming berharap dia bisa berkultivasi di sini dan menemukan jalan untuk mereka kembali.
Posisi Rubby masih dalam keadaan berdiri ketika Wu Jin Ming sudah larut dalam meditasinya. Untuk beberapa saat, Rubby belum menyadari hal itu hingga dia melihat cahaya warna warni mulai berdatangan. Rubby baru tersadar dan menoleh ke sampingnya, di mana Wu Jin Ming sedang berkultivasi.
Melihat tubuh Wu Jin Ming mulai diselimuti oleh kumparan energi, Rubby pun segera bersiap untuk melakukan hal yang sama. Siapa tahu setelah ini mereka menemukan jalan keluar, pikirnya. Hati Rubby sedikit merasa tenang dan merasa ada harapan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Dengan keadaan tubuh yang sedikit terendam membuat Rubby merasa kesulitan untuk berkonsentrasi. Pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya terus berseliweran muncul di dalam benaknya menambah kegagalan dalam konnsentrasinya. Rubby berusaha bersikap tenang dan menyingkirkan hal-hal yang mengganggu pikirannya.
Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya Rubby bisa berkonsentrasi dengan baik. Tubuhnya terlihat tenang dan siap menerima energi yang terus berdatangan mengelilinginya. Rupanya kolam itu memang menyediakan energi yang besar untuk mereka setelah energi jiwa mereka habis terkuras digunakan selama melakukan proses penyatuan jiwa.
Energi terus masuk ke dalam tubuh mereka berdua sedikit demi sedikit tanpa henti. Semakin lama mereka bermeditasi dan semakin banyak energi alam yang masuk, tubuh mereka terlihat bersinar. Aura kekuatan yang besar mulai terpancar dari keduanya walaupun kultivasi mereka belum berakhir.
Cukup lama mereka berkultivasi, namun batas maksimum tubuh mereka dalam menyimpan energi belum juga tercapai. Energi itu terus masuk dan terserap ke dalam dantian milik mereka. Sepertinya, Wu Jin Ming dan Rubby memiliki kolam energi yang semakin luas hingga memungkinkan mereka memiliki energi tanpa batas nantinya.
Tingkatan kultivasi tertinggi memungkinkan orang yang mencapainya memonopoli seluruh energi alam dan menyerapnya tanpa harus melakukan meditasi yang panjang.
__ADS_1
Di dimensi tempat Wu Jin Ming dan Rubby berada terlihat serba abu-abu. Tidak ada sesuatu yang bisa digunakan untuk mengukur waktu sehingga mereka tidak tahu berapa lama mereka telah berada di sana.
Di luar ruangan tempat penyatuan jiwa, hari sudah berganti. Dewa Langit meminta beberapa dewa bergiliran untuk berjaga di sana. Dari segel perlindungan yang terpasang di sana, Dewa Langit tahu jika mereka masih hidup dan menyelesaikan proses penyatuan jiwanya.
Sesekali dewa-dewa lain yang tidak ditugaskan untuk berjaga pun datang ke ruang penyatuan jiwa itu untuk menunjukkan simpati mereka pada Rubby dan Wu Jin Ming. Para Dewa masih sangat mempercayai ramalan tentang Putri Virs dan pasangannya yang mampu membawa perubahan besar dan kedamaian di seluruh alam. Mereka sangat bersyukur karena ternyata yang menjadi pasangan putri dalam ramalan adalah Wu Jin Ming, perpaduan dua ras terkuat di alam semesta.
Lain halnya dengan para dewa, para dewi sibuk sendiri untuk mendekorasi aula istana langit untuk menyambut Rubby dan Wu Jin Ming. Mereka sangat antusias menyiapkan pesta dan sangat yakin jika keduanya akan berhasil melakukan penyatuan jiwa itu. Setelah kepergian dewi Lamora, tidak ada lagi yang nekat untuk mendekati Wu Jin Ming meskipun ada beberapa dewi yang sejak lama mengaguminya.
Mereka tahu, Wu Jin Ming adalah tipe pria yang setia. Hanya Rubby yang mampu menggeser posisi Mimi di hatinya setelah sekian lama.
"Menurutmu, apakah wujud Dewi Bulan dan Dewa Harimau akan berubah?" tanya seorang dewi.
"Aku rasa akan begitu. Mereka sudah beberapa kali mengalami perubahan dan mungkin perubahan kali ini adalah wujud paling sempurna." dewi yang lain menanggapi.
"Jangan mimpi untuk memilikinya, Dewi. Kamu tidak akan mempunyai kesempatan untuk itu," seru dewi yang lain.
"Iya, aku tahu. Mana berani aku bersaing dengan Dewi Bulan yang ternyata juga putri dalam ramalan," jawabnya sambil mendengus kecewa.
"Baguslah kalau kamu tahu. Kita harus berbahagia untuk mereka sambil menanti pasangan yang cocok untuk kita."
"Itu pasti. Mari kita lanjutkan pekerjaan kita. Kita harus membuat mereka berdua berkesan dan betah tinggal di sini. Aku ingin sekali bersama lebih lama dengan Dewi Bulan dan membawanya berkeliling."
"Aku juga. Ayo kita lanjutkan!"
__ADS_1
Para dewi itu pun segera melanjutkan mendekorasi untuk memperindah aula istana langit dengan penuh semangat.
Hari ini sudah hari ketiga Rubby melakukan penyatuan jiwa. Ruangan tempat proses penyatuan jiwa itu kembali bergetar. Kali ini getarannya lebih lama dan lebih kencang dari sebelumnya. Dewa yang berjaga di depan ruangan itu saling berpandangan tanda tidak mengerti.
"Dewa Api! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dewa Gunung.
"Kita tunggu sebentar. Jika guncangan ini tidak berhenti maka kita harus melapor pada Dewa Langit dan memintanya untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruangan ini!" seru Dewa Api.
Getaran dari ruangan itu membuat benda-benda yang berada disekitarnya berjatuhan dan bergeser dari tempatnya.
Merasa getaran itu tidak juga berhenti, Dewa Api meminta Dewa Gunung untuk melaporkan kejadian ini pada Dewa Langit. Dewa Gunung mengambil langkah seribu untuk menemui Dewa Langit di istananya. Rupanya Dewa Langit sudah merasakan getaran itu, Dewa Gunung bertemu dengannya yang terlihat tergesa-gesa di tengah perjalanannya menuju ke istana langit.
Dewa Api terlihat mondar-mandir dengan wajah paniknya saat getaran itu semakin kencang dan membuat tubuhnya terhuyung kehilangan keseimbangan.
Duaarrr!
Daun pintu ruangan itu yang terbuat dari ukiran kayu melesat jauh dan terlepas dari pengaitnya.
Gelombang energi yang dashyat membuat tubuh Dewa Api terpental. Rupanya gelombang energi itu mampu menembus segel pelindung yang dibuat oleh Dewa Langit. Apa yang ada di dalam ruangan itu belum terlihat jelas karena cahaya yang sangat menyilaukan memenuhi ruangan itu dan memancar keluar.
****
Bersambung ...
__ADS_1