
"Manager Lin, bisakah aku pulang lebih awal?" tanya Wu Jin Ming setelah sesi pemotretan selesai.
"Apa ada hal yang penting?" tanya manager Lin.
"Benar. Aku harus menemui kekasihku sekarang. Ponselnya tidak bisa aku hubungi," ucap Wu Jin Ming panik.
Manager Lin menggeleng. Dia mengira jika modelnya itu terlalu bucin pada kekasihnya sampai-sampai wajahnya terlihat sangat cemas hanya karena nomor kekasihnya tidak bisa dihubungi. Tapi itu juga membuat manager Lin merasa kagum, cowok setampan dan sekeren Wu Jin Ming tidak play boy dan setia pada pasangannya.
"Pergilah! Untuk hari ini kita sudah selesai. Ingat, besok jangan datang telat!" seru manager Lin.
"Terimakasih manager Lin. Aku pergi!" seru Wu Jin Ming sambil berjalan cepat meninggalkan manager Lin dan kru yang masih sibuk bekerja.
Wu Jin Ming segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dia pergi ke tempat terakhir di mana merasakan jejak energi Rubby tertinggal. Pandangan Wu Jin Ming terhenti pada sebuah taksi yang terparkir di pinggir jalan. Jejak energi Rubby terasa sangat kuat di sana.
Mobil Wu Jin Ming berhenti di belakang taksi yang di tumpangi oleh Rubby. Wu Jin Ming segera turun dan menghampiri pintu kemudi taksi tersebut. Terlihat sopir taksi itu sedang tertidur atau tidak sadarkan diri.
Wu Jin Ming membuka pintu taksi dan membangunkan sopir itu. Saat menyentuhnya Wu Jin Ming menyadari jika Rubby yang membuatnya tertidur. Mungkin dia tidak ingin sopir taksi ini melihatnya bertarung bersama siluman.
Mulut Wu Jin Ming terlihat komat kamit melafalkan mantra. Tak berapa lama kemudian sopir taksi itu pun bangun. Dia terlihat kebingungan melihat Wu Jin Ming tiba-tiba ada di depannya.
"Anda siapa?" tanya sopir taksi itu.
"Saya Wu. Kekasih orang yang tadi naik taksi ini. Saya ingin membayar ongkosnya. Maaf dia pergi tanpa memberitahu Anda. Saya juga berniat untuk mencarinya," jelas Wu Jin Ming.
"Tidak perlu Tuan. Kami tadi dalam bahaya. Mungkin dia pergi terbawa angin yang sangat kencang tadi." Sopir taksi itu menolak ongkos yang diberikan oleh Wu Jin Ming.
"Terima saja, Pak. Bapak punya keluarga yang harus Anda cukupi kebutuhannya." Wu Jin Ming meletakkan beberapa lembar uang di dashboard taksi lalu pergi berlalu.
"Ini terlalu banyak, Tuan!" teriak sopir taksi itu yang hanya di balas lambaian tangan oleh Wu Jin Ming.
Sopir taksi itu akhirnya mengucapkan terimakasih dan segera pergi dari sana untuk kembali mencari penumpang. Dalam hatinya dia berdoa semoga gadis yang naik taksinya tadi bisa segera ditemukan. Sopir taksi itu mengira jika Rubby hilang terbawa angin tornado yang menurutnya tidak masuk akal.
Wu Jin Ming melesatkan mobilnya menuju ke rumahnya. Dengan terpaksa Wu Jin Ming akan mengambil langkah yang sedikit ekstrim. Dia akan mengerahkan sebagian besar kekuatan yang di milikinya untuk menembus liontin dimensi miliknya yang entah berada di mana bersama Rubby.
Setelah melakukan kultivasi satu jiwa bersama Rubby, Wu Jin Ming bisa merasakan di mana keberadaan Rubby sejauh apapun. Wu Jin Ming mulai membentangkan matras dan bersiap untuk bermeditasi. Bukan hanya rohnya saja tetapi Wu Jin Ming juga ingin menyertakan raganya untuk menyusul Rubby.
__ADS_1
Tubuh Wu Jin Ming berubah menjadi seekor harimau putih untuk mempermudah jalannya masuk ke dimensi yang berbeda. Wujud aslinya memanglah seekor harimau putih di dunia para siluman. Manusia adalah wujud keduanya.
Mantra yang telah di baca oleh Wu Jin Ming sebelumnya kini sudah berubah menjadi sebuah jalan berupa lorong yang sangat bercahaya. Harimau Wu Jin Ming melompat masuk ke dalam lorong itu untuk menembus dimensi di mana Rubby berada. Lorong itu mengantarkan harimau Wu Jin Ming ke sebuah dimensi asing yang terbilang indah.
Harimau Wu Jin Ming merasakan keberadaan Rubby semakin dekat. Dia berlari cepat menyongsong di mana Rubby berada. Dalam hitungan detik sosok Rubby sudah terlihat dari kejauhan. Harimau Wu Jin Ming melihat Rubby sedang berdiri bersama seorang wanita yang masih asing baginya.
"Kak Wu!" teriak Rubby berlari menyambut Wu Jin Ming. Rubby melompat naik ke punggungnya dan memeluk lehernya.
"Apa kamu baik-baik saja Rubby?" tanya Wu Jin Ming khawatir.
"Aku sudah melewati masa kritisku," jawab Rubby.
"Pantas saja perasaanku tidak enak sebelumnya. Aku merasa jika kamu sedang dalam bahaya."
"Iya. Aku pikir aku akan mati di tangan siluman ular tua itu. Untung ibu mengirimkan panglima Dao yang datang membantuku dan membawaku ke istana ibu."
"Lalu, kenapa kamu berada di tempat ini?" tanya Wu Jin Ming penasaran.
"Ini adalah dimensi milik ibu. Ayo kita ke sana aku akan memperkenalkanmu padanya. Tapi...." Rubby tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi kenapa Rubby?" tanya Wu Jin Ming.
"Tentu saja. Tapi tunggu sesaat lagi. Aku harus memulihkan energiku terlebih dahulu," jelas Wu Jin Ming.
"Sudahlah! Aku nggak peduli kamu berpenampilan sebagai harimau atau manusia. Ayo kita temui ibu!" seru Rubby sambil menunjuk tempat di mana Ratu Ivo berada.
Setelah sampai di hadapan Ratu Ivo, Rubby melompat turun dari punggung Wu Jin Ming. Rubby berjalan sambil melompat riang mendekati Ratu Ivo seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Tangannya dia kaitkan di belakang tubuhnya sambil bergerak ke kanan dan ke kiri.
Belum juga Rubby mulai berbicara, Wu Jin Ming sudah berlutut memberi hormat dengan wujud yang telah berubah menjadi manusia.
"Salam hormat Yang Mulia Ratu Ivo! Maafkan kelancangan saya menembus dimensi ini tanpa seijin Yang Mulia." Wu Jin Ming menyatukan telapak tangannya dan menundukkan kepalanya sebagai penghormatan.
"Aku menerima salammu. Bangunlah!" perintah Ratu Ivo.
"Ibu!" Rubby ingin bicara tapi Ratu Ivo memegang tangannya dan tersenyum menatapnya. Mungkin Ratu Ivo ingin Rubby memberikan kesempatan pada Wu Jin Ming untuk berbicara. Rubby mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Aku sering mendengar namamu Panglima Harimau Suci Yang Agung. Baru kali ini kita dipertemukan. Aku juga sangat senang setelah tahu ternyata kamu yang menjadi menantuku." Ratu Ivo berusaha memecah kecanggungan antara dirinya dan Wu Jin Ming.
"Ampuni hamba Yang Mulia Ratu. Hamba menikahi putri Anda tanpa meminangnya terlebih dahulu pada Yang Mulia Ratu. Sebelumnya hamba tidak tahu jika Rubby adalah seorang putri dari seorang bidadari yang sangat dikagumi di langit."
"Kamu terlalu melebih-lebihkan diriku. Aku hanyalah putri buangan dari negeriku. Aku senang putriku menikah dengan orang yang tepat, seorang Panglima Besar, Raja dan Dewa Yang Agung sepertimu."
"Terimakasih Yang Mulia Ratu telah memberikan restu pada hamba." Wu Jin Ming tersenyum senang.
"Kalian terlihat kaku sekali! Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Raja, aku seperti sedang melihat drama kolosal yang membosankan!" seru Rubby kesal.
Rubby berjalan meninggalkan mereka berdua dan duduk di atas sebuah lempengan batu. Dia menaikkan kedua kakinya dan menyangga dagunya dengan kedua lututnya. Pantas saja Wu Jin Ming memilih bertualang daripada tinggal di istana. Mungkin dia muak dengan bahasa-bahasa seperti ini dan peraturan ***** bengek yang harus dipatuhi.
Wu Jin Ming dan Ratu Ivo saling pandang melihat kekesalan di wajah Rubby.
"Maafkan putriku jika sering merepotkanmu!" Ratu Ivo berjalan untuk menghampiri Rubby.
"Tidak masalah bagiku. Aku sudah terbiasa dengan semua sikapnya. Kami bisa saling memahami satu sama lain."
"Baguslah kalau begitu. Aku tidak merasa khawatir lagi." Ratu Ivo duduk di depan Rubby.
Wu Jin Ming menatap 2 bidadari di hadapannya itu dengan seksama. Mereka terlihat sangat mirip meskipun ada sedikit perbedaan di antara keduanya.
"Sayang, kenapa kamu marah?" tanya Ratu Ivo lembut.
"Siapa juga yang marah. Aku cuma nggak terbiasa saja mendengar orang bicara dengan bahasa baku dan itu terdengar sangat membosankan," ucap Rubby masih duduk di posisi yang sama.
"Lalu, kamu ingin kita bagaimana?" tanya Ratu Ivo lagi.
"Bisa nggak kita ngomongnya nggak usah pakai Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Raja, atau apalah kalau kita lagi bicara secara pribadi. Aku nggak masalah kalau lagi di dalam istana dan berhadapan dengan para pembesar kerajaan kita berbicara seperti itu. Rasanya lucu sekali kalau kita menerapkan bahasa baku di sini," jelas Rubby.
"Hmm... kamu ingin ibu memanggil suamimu siapa? Ibu hanya ingin memberinya penghormatan tadi." Ratu Ivo mencoba memahami keinginan putrinya.
"Kak Wu kan menantu ibu. Panggil saja menantu Wu atau Wu saja. Dan Kak Wu juga, bisa kan memanggil ibu sama seperti aku."
Wu Jin Ming mengulum senyum. Sikap kekanakan istrinya memang terkadang keterlaluan tapi itu membuatnya terlihat sangat lucu. Dia suka memperdebatkan hal-hal yang tidak penting seperti ini.
__ADS_1
****
Bersambung...