TIGER WU

TIGER WU
KEMBALI KE ISTANA


__ADS_3

Tengah malam Rubby terbangun karena mimpi buruk. Di dalam mimpinya Rubby melihat Moza sedang terikat. Keadaannya sangat lemah. Dia terus berteriak meminta pertolongan.


Ketika Rubby hendak menolongnya, pasukan yang berpakaian serba hitam menghadangnya. Rubby berperang melawan mereka dengan tangan kosong. Saat Rubby benar-benar terpojok, tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya.


Rubby terduduk. Tubuhnya basah oleh keringat dan napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton. Wu Jin Ming ikut terjaga melihat Rubby terbangun di tengah malam. Baru sekitar 2 jam mereka tertidur.


Rubby harus segera menemui Ratu Ivo untuk berlatih. Dia harus mengasah kemampuannya agar bisa melindungi diri dan menolong sesama jika diperlukan. Apalagi dia sering berjauhan dengan Wu Jin Ming ketika dia bekerja.


"Sayang, apa terjadi sesuatu?" tanya Wu Jin Ming.


"Aku hanya mimpi buruk saja," ucap Rubby sambil memaksakan diri tersenyum.


"Ya sudah, kembalilah tidur!" Wu Jin Ming menepuk-nepuk bantal Rubby agar lebih nyaman.


"Enggak. Sepertinya aku ingin berkultivasi saja malam ini."


"Baiklah, kita lakukan sama-sama. Tunggu di sini!" seru Wu Jin Ming. Di sibaknya selimut yang menutupi tubuhnya. Wu Jin Ming turun dari tempat tidur dan berlalu dari kamarnya. Sesaat kemudian dia kembali membawa 2 matras yang biasa mereka pakai.


Wu Jin Ming dan Rubby duduk bersila di atas matras dengan posisi saling berhadapan. Mereka mulai memejamkan mata. Wu Jin Ming terlihat sudah mulai mengolah energi yang masuk ke tubuhnya. Itu terlihat dari napasnya yang teratur.


Rubby belum mulai berkultivasi. Dia hanya berpura-pura memejamkan mata. Untuk memastikan Wu Jin Ming sudah benar-benar telah berada di alam bawah sadarnya, Rubby melihat dengan memicingkan satu matanya.


'Sudah tidur. Saatnya aku pergi menemui ibu ratu. Maafkan aku suamiku. Demi menjaga rahasia, aku harus berbohong dan kucing-kucingan seperti ini.' guman Rubby dalam hati.


Rubby duduk bersila lalu membanca mantra pembangkit Roh. Mantra itu tiba-tiba muncul dipirkannya. Bayangan tubuh Rubby mulai keluar dari raganya. Bayangan itu melayang di udara.


Setelah puas melayang di udara, Rubby mengeluarkan tongkat dan merubah penampilannya menjadi putri Virs.


Rubby mengetukkan tongkatnya 3 kali. Suasana di sekitarnya berubah. Kini dia sudah berada di salah satu ruang istana ratu Ivo.


"Salam Yang Mulia Putri!" seorang pengawal memberi hormat.

__ADS_1


"Bangunlah! Aku ingin bertemu dengan ibu."


"Mari saya antar Yang Mulia!" pengawal itu menunjukkan jalan kemana Rubby harus melangkah. Ternyata istana Ratu Ivo sangat luas dan megah.


Rubby berjalan dengan anggun. Dia seakan terlihat berbeda dari biasanya. Sifat periang dan manjanya tidak terlihat. Untuk beberapa saat dia menjadi sangat cantik dan elegan.


Sang ratu sedang bermeditasi ketika Rubby datang. Merasakan ada hawa putrinya, dia segera mengakhiri semedinya. Ratu Ivo membalikkan badannya karena posisinya sebelumnya dia membelakangi Rubby.


"Kamu datang Putriku. Duduklah!" seru ratu Ivo setelah mereka saling berhadapan. Ratu Ivo memberi isyarat pada pelayan untuk pergi dari sana. Saat ini ratu Ivo sedang berada di ruang pelatihan.


Rubby duduk bersila pada sebuah bangku yang berada di depan ratu Ivo. Mereka saling berhadapan. Ratu Ivo tersenyum melihat Rubby yang sudah bisa bersikap tanpa dia memberitahunya.


"Ibu! Aku ingin berlatih denganmu. Tadi aku terluka parah. Aku punya tongkat sakti darimu tapi tidak bisa memakainya dengan benar," cerita Rubby panjang lebar.


"Ibu tahu. Ibu juga melihat pertarunganmu. Ibu sengaja tidak membisikkanmu bagaimana cara memakai tongkat itu agar kamu segera datang menemui ibu. Nggak semua musuh sebodoh Shang Shang yang tergoda akan kecantikanmu." ratu Ivo mengambil sebuah cermin besar dari cincin penyimpannya.


Rubby tidak berani bertanya untuk apa cermin itu. Tidak mungkin kan kalau hanya untuk berkaca dan merapikan penampilan. Bahkan cermin unik itu tidak menampilkan bayangan wajahnya meski sedang menghadap ke arahnya.


"Baik Ibu!" Rubby mengangguk mantap.


"Baiklah kita mulai!" ratu Ivo terlihat sedang komat kamit untuk membaca mantra.


Perlahan di dalam cermin muncul sebuah bayangan. Orang di dalam cermin itu adalah ratu Ivo sendiri. Dia terlihat sedang mempraktekkan sebuah gerakan dengan tongkatnya dan gambaran apa yang tampak setelahnya.


Rubby memperhatikan dengan seksama. Dia juga mendengar mantra apa saja yang terbaca dari bibir ratu Ivo. Apa yang dia lihat dan dia dengar dengan mudahnya terserap ke dalam pikirannya. Mungkin karena dia merupakan putri keturunan langsung dari ratu Ivo. Di tambah lagi kekuatan Dewi Bulan yang juga turun kepadanya. Hanya saja dua kekuatan ini belum bisa memadu saat ini.


Ratu Ivo akan mengajari Rubby secara bertahap. Jika pengajarannya telah selesai baru dia akan mencoba teknik penyatuan kekuatan dewi bulan dan kekuatan yang berasal darinya. Rubby pasti akan menjadi ratu terkuat setelah penyatuan itu berhasil. Tapi sebelum itu, ratu Ivo harus banyak mengajarkan Rubby tentang kebaikan dan nilai-nilai kehidupan.


Ratu Ivo tidak ingin kekuatan yang besar milik putrinya digunakan untuk hal-hal yang tidak penting. Apalagi menindas makhluk yang lemah. Ratu Ivo benar-benar memikirkan itu.


"Aku sudah melihat semuanya, Ibu. Dan aku sudah mengerti," ucap Rubby setelah tidak ditemukan apa-apa lagi di cermin itu.

__ADS_1


"Bagus! Aku akan mengajarimu secara bertahap. Itu memang belum cukup untuk melawan kekuatan yang besar, tapi sudah cukup untuk melindungi dirimu dari bahaya."


"Terimakasih Ibu. Adakah yang harus aku pelajari?" tanya Rubby.


"Untuk saat ini, cukup ini dulu. Jika kamu ingin bertanya, bertanyalah!" seru ratu Ivo.


"Emm, aku penasaran dengan sangkar perenungan ibu. Apa sangkar itu benar-benar efektif? Apa Ibu nggak takut jika siluman yang kita tangkap akan lepas dan mengamuk?" tanya Rubby penasaran.


Ratu Ivo tersenyum lebar sebelum menjawab. Putrinya terlihat manis dengan pertanyaan konyolnya.


"Dengar Sayang, sangkar itu bukan ibu yang membuatnya melainkan hadiah dari langit. Sangkar itu tercipta dari sifat kasih sayang dan welas asih kepada semua makhluk. Tidak semua makhluk jahat itu akan terus menjadi jahat. Bagi yang memiliki kebaikan hati, maka aura jahat yang dia miliki akan terkikis habis ketika berada di dalam sangkar perenungan," jelas ratu Ivo.


"Owh, jadi begitu ya. Em, apa benar pasukan ibu berasal dari mereka yang sudah keluar dari sangkar perenungan?" tanya Rubby.


"Benar Sayang," jawab ratu Ivo sembari memainkan ujung rambutnya yang panjang.


"Apa mereka tidak akan kembali jahat lagi nantinya, Bu?" tanya Rubby yang merasa was-was jika bayangan buruknya benar-benar terjadi.


"Sangkar perenungan itu bukan sangkar sembarangan, Sayang. Kamu tidak perlu khawarir. Semua yang bisa keluar dari sana sudah benar-benar menjadi makhluk yang terpilih. Tidak ada lagi kejahatan di dalam hati mereka."


Senyum ratu Ivo tak pernah hiang dari wajahnya. Melihat putrinya penasaran dan sedikit khawatir menjadi hal yang sangat membahagiakan baginya. Sudah lama ratu Ivo menantikan saat-saat seperti ini.


"Syukurlah, Ibu. Aku akan mengurung banyak siluman jahat kalau begitu. Sebelumnya sih aku ingin membasmi mereka dengan cara membunuhnya atau menghukumnya dengan membuatnya lemah."


"Bagus Sayang. Ibu bangga padamu. Mari kita berkeliling. Aku ingin menunjukkanmu setiap sudut istana ini." ratu Ivo bangun dari duduknya.


Rubby dengan senang hati mengikutinya. Di depan ibunya dia tidak bisa lagi menekan sifat riangnya. Image seorang putri yang anggun menguap seketika saat dia sedang bermanja bersama ibunya.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2