
Rubby melangkah mundur beberapa langkah untuk menghindari percikkan energi yang dikumpulkan oleh Shang Shang. Sebagai putri Virs dia belum bisa mengontrol kekuatan yang dia milikku. Rubby melihat tongkatnya.
'Tongkat ini gimana cara pakainya, ya? Kemarin ibu bilang kalau aku mau ke sana ketuk 3 kali secara beruntun. Kira-kira kalau aku ketuk satu kali apa yang akan terjadi. Ah, kenapa kemarin aku nggak nanya sih.' sesal Rubby merutuki kebodohannya dalam hati.
Di sisi lain, Shang Shang sudah hampir selesai mengumpulkan energinya. Rubby sedikit kebingungan. Apalagi setelah melihat Shang Shang berubah wujud menjadi kelelawar raksasa.
"Hahaha... Ternyata hanya seorang gadis kecil." Shang Shang tertawa begitu keras. Sepertinya dengan kekuatannya yang sekarang dia bisa melihat Rubby.
Sekali lagi Rubby melirik tongkatnya. "Tongkat, aku mau tanya. Sebenarnya kamu untuk apa sih? Ah, pakai diem lagi. Jangan diem aja dong! Hiks!" Rubby terlihat ketakutan. Nyalinya menciut ketika melihat tubuh raksasa Shang Shang.
"Kamu takut? Hahaha! Baiklah, melihat kamu lumayan cantik aku ingin menawarkan hal yang menarik. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Shang Shang percaya diri.
"Hueeekkk!" rasanya Rubby ingin muntah mendengar tawaran Shang Shang.
Udah giginya tonggos. Perutnya buncit. Kulitnya hitam kehijauan. Kepalanya botak dengan wajah yang menyeramkan. Mulutnya selalu menganga hingga air liurnya menetes kemana-mana. Ih, jijik. Bukanya body shaming, tapi ini memang benar-benar membuat hilang selera makan.
"Aku bukan orang yang punya kesabaran. Mau tidak?" Shang Shang kembali bertanya.
"Nggak. Mending kita bertarung sampai akhir. Aku sudah siap!" Rubby mengambil kuda-kuda.
"Baiklah! Rasakan ini!"
Sriinnggg!
Shang Shang melepaskan serangan berupa cahaya merah menyala.
Cahaya itu berubah menjadi ledakan ketika Rubby berhasil menghindarinya. Dalam beberapa kali serangan Rubby berhasil menghindarinya. Hingga Shang Shang merubah strateginya.
Shang Shang melesat seperti bayangan yang bergerak mengelilingi Rubby.
Traankkk!
Tongkat Rubby terlepas dari tangannya ketika pukulan Shang Shang mengenai dirinya. Tubuh Rubby terhuyung ke belakang. Dadanya terasa panas seperti terbakar. Rubby terduduk sambil memegangi dadanya.
"Uhuk... uhukk...!" Rubby terbatuk. Darah segar akibat luka dalam mengalir di sudut bibirnya.
"Tawaran terakhir menyerahlah dan menjadi istriku atau mati sia-sia dan ku ambil energimu?" Shang Shang berbicara lembut sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rubby.
__ADS_1
Bau anyir menyeruak dari dalam mulut Shang Shang. Rubby menggeser tubuhnya mundur dan berpaling ke arah lain untuk menghindar. Senyum simpul terbit di bibir Rubby saat tangannya menyentuh sebuah benda. Tongkat saktinya.
Shang Shang mengira senyum Rubby sebuah tanda persetujuan. Dia mulai mengurangi kewaspadaannya. Dia juga diam saja ketika melihat Rubby mulai berdiri dengan tongkatnya karena dia tahu saat ini Rubby sedang terluka parah.
"Kamu mau aku jadi istrimu?" Rubby mengeluarkan senyum termanisnya.
Shang Shang mengangguk. Mulutnya semakin menganga. Matanya mengerjap-ngerjap menandakan dia sedang bahagia.
Dugg!
Rubby memukulkan tongkatnya satu kali. Berharap ada keajaiban yang terjadi setelah ini.
Angin kencang tiba-tiba berhembus. Bola-bola cahaya bermunculan dan bergerak melayang di udara. Jumlahnya tak terhitung.
Shang Shang bergerak mundur. Kali ini dia benar-benar silau. Dia menghalangi wajahnya dengan sayapnya. Bola-bola cahaya itu seperti sedang mengepungnya.
Sebuah bola cahaya turun di hadapan Rubby. Perlahan bola cahaya itu berubah menjadi sesosok pemuda yang berpakaian perang.
"Panglima Dao siap menerima perintah Tuan Putri!" pemuda jelmaan yang entah darimana datangnya itu berlutut memberi hormat pada Rubby.
"Bangunlah!" Rubby mencoba belajar untuk bersikap. Dia ingin terlihat berwibawa di hadapan panglima itu.
"Musnahkan siluman itu!" Rubby menunjuk ke arah Shang Shang.
"Ampun Tuan Putri. Yang Mulia Ratu tidak menginginkan hamba untuk membunuh siluman." Panglima Dao mengatupkan tangannya.
"Apa? Jadi kita harus membiarkannya hidup berkeliaran dan membunuh manusia dan siluman lain gituh?" tanya Rubby. Dadanya naik turun karena emosi. Tangan kirinya mengelap kasar jejak darah di bibirnya.
"Bukan begitu Tuan Putri. Kami akan menangkap dan memenjarakannya di sangkar perenungan," jelas Panglima Dao dengan sedikit ketakutan melihat amarah di mata Rubby.
"Dia bisa saja lepas dan kembali membuat kekacauan jika tidak di bunuh. Tadi aku dengar dia baru saja keluar dari penjara yang mengurungnya." Rubby mendengus kesal. Dia merasa tidak habis pikir dengan ibu yang baru di kenalnya itu.
"Ampun Tuan Putri. Sangkar perenungan tidak bisa di buka oleh kekuatan apapun. Dia akan terbuka dengan sendirinya jika siluman di dalamnya berhasil merenungi kesalahannya dan berubah menjadi baik. Pasukan kita berasal dari siluman yang sudah bermutasi menjadi setengah bidadari."
Rubby mendengarkan penjelasan Panglima Dao dengan seksama. Masuk akal. Sepertinya dia harus belajar lembut dan welas asih seperti ibunya.
"Baiklah! Lakukan tugasmu dengan baik!" Rubby tidak ingin membuang waktu lagi. Kasihan orang-orang yang terkena jurus Shang Shang. Mereka harus segera di selamatkan sebelum mati lemas di dalam mobil karena minim oksigen.
__ADS_1
"Baik Tuan Putri!" Panglima Dao membantu pasukannya yang sedang bertarung melawan Shang Shang.
Rubby melihat pasukannya bertarung. Dia menunggu pertarungan selesai untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di sana. Kemunculannya akan menjadi berita viral di sosial media jika dia menyadarkan mereka sekarang.
Rubby begitu kagum melihat panglima Dao dan pasukannya bertempur dengan gagahnya. Seandainya belum ada Wu Jin Ming mungkin dia bisa saja jatuh cinta padanya. Panglima Dao tak kalah tampan dan hebat dari Wu Jin Ming.
"Ahh, mikir apa aku ini. Konyol!" Rubby tertawa geli mengingat kekonyolannya.
Panglima Dao berhasil membekuk Shang Shang. Dia membawanya ke hadapan Rubby.
"Tuan Putri, keluarkan sangkar perenungan untuknya!" pinta Panglima Dao.
"Maksudnya? Aku mana punya sangkar perenungan. Denger namanya saja juga baru hari ini." lagi-lagi Rubby bersikap konyol.
Panglima Dao sedikit jengkel juga menghadapi Rubby yang tidak tahu apa-apa. Harusnya dia belajar dulu di istana sebelum dia dilibatkan dalam bahaya.
"Perintahkan tongkat Tuan Putri untuk mengeluarkan sangkarnya. Tongkat itu bisa mendengar perintah Tuan Putri setelah Anda memutarnya," jelas Panglima Dao.
"Bilang dong dari tadi. Jadi aku bisa memerintahkan apa saja padanya?" tanya Rubby senang.
"Benar Tuan Putri."
"Tau gini aku pasti sudah bisa menang dan membunuhnya dari tadi," gerutu Rubby.
"Tidak boleh membunuh siluman Tuan Putri!" seru Wu Jin Ming mengingatkan.
"Iya... iya... bawel!" jawab Rubby sewot.
Rubby melakukan apa yang di minta Panglima Dao. Dia memutar tongkatnya dan memintanya mengeluarkan sangkar perenungan. Sangkar tanpa pintu muncul di hadapan Rubby. Tubuh Shang Shang terhisap ke dalamnya.
"Uhukk... uhukk...!" Rubby kembali terbatuk.
"Kami kembali ke istana Tuan Putri," pamit panglima Dao.
"Hmm. Pergilah!" Rubby memegangi dadanya yang terasa sakit. Dia bersiap untuk membatalkan sihir yang dikeluarkan oleh Shang Shang. Harus segera dilakukan. Rubby takut pingsan duluan sebelum orang-orang berhasil diselamatkan.
****
__ADS_1
Bersambung...