TIGER WU

TIGER WU
HOME STAY


__ADS_3

Setelah berkeliling untuk mencari penginapan, akhirnya Rubby dan Wu Jin Ming menemukan sebuah home stay yang dekat dengan pegunungan di tepi bantaran sungai. Rumah berdinding kayu itu menambah kesan natural yang kental. Tanpa pendinginan ruangan pun udara di sana sangatlah dingin dan segar.


Pemilik rumah tersebut tinggal di belakang home stay yang di sewa oleh Wu Jin Ming dan Rubby. Home stay itu dimiliki oleh sepasang suami-istri yang sudah cukup tua. Mereka sangat ramah dan melayani Rubby dan Wu Jin Ming dengan baik.


Hari sudah hampir gelap. Setelah mandi di kamar mandi sederhana yang berada di samping home stay, Rubby berinisiatif untuk membantu pemilik rumah menyiapkan makan malam. Mereka memesan paket lengkap di sana sehingga Rubby tidak perlu susah-susah untuk pergi mencari makan.


"Bibi! Bolehkah aku membantumu memasak?" tanya Rubby dari luar dapur yang tertutup.


Pintu dapur terbuka. Menyembul kepala si pemilik rumah, bibi Ning namanya. Wajahnya yang ramah tersenyum pada Rubby.


"Tidak usah, Nak! Kamu beristirahatlah! Semuanya sudah matang, sebentar lagi aku akan membawanya ke ruang makan," sahut bibi Ning.


"Baiklah, Bi! Kalau butuh bantuan, panggil saja aku!" seru Rubby.


"Iya, Nak! Pergilah!"


"Baik, Bi!"


Merasa tidak ada yang perlu dilakukan di sana, Rubby pun akhirnya kembali ke kamarnya menyusul Wu Jin Ming yang sedang sibuk bermain game di ponselnya. Ini pertama kalinya dia terlihat asyik dengan gadget miliknya. Saking asyiknya dia hanya melirik Rubby sebentar lalu kembali bermain ponsel.


Bosan dan bingung mau berbuat apa, Rubby akhirnya duduk di samping jendela sambil melihat senja yang mulai meremang. Bias warna jingga yang mulai memudar mewarnai langit sore Gunung Wei. Berulang kali Rubby mengusap lengan atasnya karena udara malam yang mulai dingin.


Sebuah jaket tersampir di bahu Rubby membuatnya menoleh sang empunya tangan yang memberikan jaket itu.


"Kak Wu! Kamu sudah selesai main gamenya?" tanya Rubby sambil tersenyum datar. Sepertinya saat ini masih ada yang dia pikirkan.


"Sudah! Aku hanya mencobanya saja. Aku penasaran kenapa para kru terlihat begitu asik bermain saat ada waktu senggang. Ternyata lumayan seru juga, sih!" Memeluk Rubby dari samping.


"Aku dulu juga suka bermain game di ponsel saat merasa bosan tapi sekarang aku bosan dengan permainan itu. Aku lebih senang melawan siluman sekarang," ucap Rubby mengundang tawa Wu Jin Ming.


"Hahaha! Tapi bukan aku, kan yang mau kamu lawan?" Menggigit telinga Rubby pelan.

__ADS_1


"Tergantung! Kalau telingaku lepas karena gigitanmu, tentu aku akan melawanmu! Auhh!" pekik Rubby ketika merasakan rasa geli yang menjalar di sekujur tubuhnya.


"Oh, ya? Kalau begini?" Wu Jin Ming tidak lagi menggigit namun memainkan lidahnya di sana.


"Ihh! Jangan mulai, deh!" Tubuh Rubby menggeliat dan mencoba melepaskan diri.


Setelah Wu Jin Ming merenggangkan pelukannya, Rubby segera berbalik menghadapnya. Kali ini Rubby yang balik menyerang Wu Jin Ming dengan ciumannya. Tangan kanan Rubby terangkat ke udara lalu menutup jendela dengan sihirnya tanpa melepaskan ciumannya.


Sepasang kaki Rubby menginjak kaki Wu Jin Ming dan berjalan mengikuti ke mana arah kaki Wu Jin Ming membawanya. Tubuh mereka ambruk di atas ranjang yang terbuat dari kayu dan beralaskan kasur yang tipis. Alhasil suara berisik terdengar seiring gerak tubuh mereka dan itu sangat mengaggu aktifitas mereka.


Rubby mendorong tubuh Wu Jin Ming agar berhenti mencumbunya namun dorongan Rubby tidak dia hiraukan karena jiwanya sudah terbakar gairah. Merasa sia-sia dengan apa yang dilakukannya akhirnya Rubby pun memilih kembali larut dan menikmati permainan yang diciptakan oleh Wu Jin Ming.


Tokkk... tokk... tokk...


Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka berdua.


"Nona! Tuan! Makan malam sudah siap!" Suara panggilan bibi Ning menggema di luar pintu kamar.


Rubby beranjak dari atas ranjang dan hendak pergi keluar menyusul bibi Ning namun tangannya di pegang oleh Wu Jin Ming di sela-sela merapikan bajunya yang terkoyak.


"Ayolah, Kak! Aku sudah lapar!" rengek Rubby.


"Rapikan bajumu! Kamu mau semua orang melihat benda berharga milikmu!" Wu Jin Ming melepaskan tangannya lalu berdiri membantu Rubby membetulkan pakaiannya yang berantakan.


"Owh, iya!" Wajah Rubby memerah menahan malu ketika tidak menyadari penampilannya.


Mereka berdua berjalan mengikuti bibi Ning yang ternyata masih menunggu di luar pintu. Ada rasa canggung di antara mereka bertiga. Mungkin sebelumnya bibi Ning sedikit mendengar keributan yang mereka lakukan di dalam kamar karena kamar itu berdinding kayu yang tidak mampu meredam suara.


Aroma makanan lezat tercium memenuhi seluruh ruangan membuat cacing di perut berjoget ria untuk menanti jatah makan mereka. Di sebuah meja panjang tersaji beberapa jenis menu yang menggugah selera. Mereka makan dengan lesehan di lantai kayu yang beralaskan tikar yang terbuat dari dedaunan tanaman perdu yang biasa tumbuh liar di hutan.


"Silakan di nikmati menu sederhana kami, Nak! Maaf kalau masakan bibi tidak enak!" ucap bibi Ning sambil memberikan piring dan sumpit untuk Rubby dan Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Ayo! Segera cicipi makanannya! Jangan sungkan-sungkan lagi! Anggap saja di rumah sendiri!" imbuh paman Ning.


"Terimakasih, Paman, Bibi! Maaf kami sudah merepotkan kalian berdua!" Kini Wu Jin Ming yang berbicara.


"Cepatlah makan! Nanti kalau sudah dingin tidak enak!"


Bibi Ning mengambil makanan untuk suaminya terlebih dahulu lalu baru mengambil untuknya. Semua itu tidak luput dari perhatian Rubby. Mungkin itu sebuah contoh untuknya di mana seorang istri harus melayani suaminya dengan baik.


"I.. iya, Bi!" jawab Rubby menirukan apa yang dilakukan oleh bibi Ning.


Wajah Wu Jin Ming berbinar senang ketika menerima perlakuan manis dari Rubby. Saat ini dia merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia karena memiliki istri yang sempurna seperti Rubby. Senyumnya terus mengembang menghiasi wajah tampannya.


"Bibi dan paman sudah lama tinggal di sini?" tanya Rubby di sela-sela makannya.


"Sudah! Sudah sangat lama semenjak tempat ini belum di jadikan tempat wisata," jawab paman Ning.


"Ohh, jadi dulunya Gunung Wei hanya gunung biasa, ya, Paman?" tanya Rubby lagi.


"Benar! Bahkan dulu hanya ada beberapa rumah saja yang ada di gunung ini sebelum datang penduduk yang berdatangan untuk mencari rejeki di sini."


"Oh, ya... ya.... Pasti dulu sangat sepi dan terpencil." Rubby berpendapat.


"Iya, benar! Bahkan di sini dulu juga banyak sekali si-lu-man yang membaur bersama manusia." Ucapan terakhir paman Ning terdengar terbata-bata karena bibi Ning memberinya tatapan aneh yang sulit untuk diartikan.


****


Bersambung...


Numpang promo novel karya temanku ya kak...


__ADS_1


__ADS_2