TIGER WU

TIGER WU
PERJALANAN KE DESA YAO


__ADS_3

Rubby menoleh Feng Lu sebentar lalu berpaling ke arah lain. Sangat terlihat jelas jika Feng Lu tidak tulus untuk meminta maaf. Semua itu pasti dia lakukan atas dorongan pak Feng.


Belum sempat Rubby menjawab permintaan maaf Feng Lu, ada beberapa orang yang datang dengan berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka berempat. Dari wajahnya mereka kelihatan sangat panik. Salah satu dari mereka adalah warga yang ikut pergi ke desa Yao dan baru saja kembali.


"Feng! Gawat Feng! Ailie dan Lilea belum diketahui jejaknya. Warga yang mencari mereka tidak berani mengambil resiko dan memilih untuk pulang ke rumah!" seru warga itu.


Wang, ayah dari Ailie dan Lilea datang dengan berlari dan langsung memeluk Feng.


"Feng! Apa yang harus aku lakukan, Feng? Aku tidak bisa menemukan Ailie dan Lilea!" ucap Wang sambil menangis.


Feng Lu terlihat kebingungan karena dia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Siang tadi dia tidak pergi ke Desa Yao karena harus menjual batu mineral yang dia dapatkan kemarin. Biasanya dia selalu bersama Ailie dan Lilea untuk pergi ke Desa Yao.


"Paman! Apa yang terjadi pada Ailie dan Lilea? Kenapa mereka tidak pulang seperti biasanya?" Feng Lu tidak dapat menahan diri untuk bertanya.


Wang merenggangkan pelukannya dari Feng. Saat ini dia beralih menatap keponakannya itu. Bagaimanapun juga Feng Lu adalah sepupu Ailie dan Lilea. Kabar ini pasti membuatnya terpukul.


"Ailie dan Lilea belum kembali dari Desa Yao, Lu. Paman tidak tahu kenapa mereka belum juga pulang sampai sekarang. Tadi pagi paman dan mereka berangkat bersama-sama tapi kami terpisah. Paman pikir mereka sudah pulang jadi paman meninggalkan mereka di sana. Sungguh paman orang yang bodoh." Wang duduk di lantai sambil terus merutuki dirinya.


Feng Lu menyusulnya duduk di sebelahnya.


"Mari kita cari bersama-sama, Paman. Apapun resikonya, aku tetap akan pergi mencari kedua saudariku itu, Paman." Setelah mengatakan itu, Feng Lu masuk ke dalam rumah untuk bersiap.


"Aku juga akan membantumu mencari keponakanku!" Feng masuk ke dalam rumah untuk mengambil apa saja yang dibutuhkan untuk di bawa ke Desa Yao.


"Maaf kami tidak berani masuk lagi ke Desa Yao!" seru salah satu warga yang tadi ikut mencari Ailie dan Lilea.


"Tidak masalah. Terimakasih kalian sudah membantu kami sejak tadi," ucap Wang.


"Kami permisi pulang dulu. Pasti keluarga kami sangat khawatir," ucap warga itu lagi.

__ADS_1


"Hmm." Wang mengangguk.


Wu Jin Ming dan Rubby saling berpandangan. Mereka berdua harus ikut dalam pencarian ini. Sepertinya medan di Desa Yao sangat sulit untuk di lalui. Rubby dan Wu Jin Ming belum pernah ke sana dan mereka harus berhati-hati untuk itu.


"Rubby! Apa kamu bersedia untuk ikut?" tanya Wu Jin Ming.


"Aku ikut. Tapi kamu harus jauh-jauh dari wanita genit itu. Aku tidak suka!" ketus Rubby.


"Aku akan selalu berada di dekatmu. Jangan khawatir!" Wu Jin Ming berusaha menenangkan Rubby.


Setelah Rubby setuju untuk membantu mencari anak pak Wang, Wu Jin Ming berjalan mendekati pak Wang dan mengatakan keinginannya itu.


Mereka berlima berangkat bersama ke Desa Yao dengan peralatan seadanya. Jalan setapak menuju ke Desa Yao sangat gelap. Hanya lampu senter yang menerangi jalan mereka.


Pak Feng berada di barisan paling depan sedangkan pak Wang paling belakang. Mereka berdua yang membawa penerang. Sebenarnya tanpa penerangan itu, Rubby dan Wu Jin Ming bisa melihat dalam gelap, mereka hanya berpura-pura seperti layaknya manusia biasa.


Rubby berusaha menekan emosinya dan menahan amarahnya agar energi apinya tidak bocor. Penyamaran mereka akan ketahuan jika sampai itu terjadi. Mereka tidak boleh tahu dengan identitas Rubby dan Wu Jin Ming untuk saat ini.


Merasa tidak ada respon dari Wu Jin Ming, Feng Lu mencoba mencari akal. Dia pura-pura terjatuh agar mendapatkan simpati darinya namun sia-sia. Wu Jin Ming tidak berusaha untuk menolongnya. Pak Wang lah yang membantunya berdiri dan kembali berjalan.


"Kak Wu! Bolehkah aku berpegangan padamu? Rubby maafkan aku, ya?" Feng Lu memasang wajah memelasnya.


"Silakan! Asal itu bukan alasan kamu aja!" jawab Rubby datar.


Feng Lu merasa senang. Dia seperti mendapat angin segar untuk bisa menempel pada Wu Jin Ming. Sebenarnya dia tahu jika Rubby tidak ikhlas dalam ucapannya, namun dia tidak peduli akan hal itu.


"Busyet! Udara malam ini panas banget, ya!" Rubby merasa gerah dengan polah Feng Lu yang berpegangan terlalu erat pada Wu Jin Ming.


"Apa kamu sakit? Malam begitu dingin tapi kamu kepanasan!" seru Feng Lu meledek Rubby.

__ADS_1


"Aku tidak sakit. Hanya tidak terbiasa jalan berdesak-desakan bertiga seperti ini." Rubby berusaha berbicara dengan tenang.


"Ya, sudah, kalau begitu kamu jalan sendiri saja di depan, biar tidak gerah," ucap Feng Lu santai.


"Dasar tidak tahu diri!" seru Rubby sambil melepaskan tangannya dari tangan Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming yang tidak tahu jika Rubby akan melepaskan tangannya sedikit terkejut. Dia berusaha untuk meraih tangan Rubby kembali namun Rubby sudah melenggang jauh di depannya. Saat Wu Jin Ming brjalan cepat untuk mengejar Rubby, Feng Lu dengan sengaja menjatuhkan dirinya seolah-olah itu adalah kecelakaan.


Rubby merasa gusar. Dia terus saja berjalan saat semua orang berhenti untuk mengurusi kepura-puraan Feng Lu. Untuk kali ini, emosinya sudah tidak terkendali.


Wujudnya berubah menjadi Dewi Bulan ketika itu juga lalu api suci biru miliknya keluar menyelimuti tubuhnya. Jejak kakinya meninggalkan bekas terbakar yang masih panas. Tatapan matanya lurus ke depan tanpa mempedulikan keterkejutan pak Feng, Feng Lu dan pak Wang.


Wu Jin Ming segera bangkit dari duduknya dan mengejar Rubby. Saat ini Wu Jin Ming harus segera menenangkan Rubby yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Dengan kondisinya saat ini, Rubby bisa menyerang siapa saja yang mencoba mengusiknya.


"Kak Wu! Apakah iblis wanita itu istrimu? Aku tidak menyangka, wajahnya yang begitu cantik ternyata jelmaan seorang iblis," ucap Feng Lu menyindir Rubby tanpa rasa takut.


"Lu! Jaga bicaramu! Kata-katamu bisa menyinggungnya! Kamu akan berada dalam masalah jika terus membuatnya marah!" seru pak Feng menasehati Feng Lu.


"Ayahmu benar, Lu! Hati-hati kalau bicara!" imbuh Wang.


"Aku tidak mengada-ada, kan? Aku hanya berbicara fakta." Feng Lu masih saja membantah nasehat ayah dan pamannya.


****


Bersambung...


Numpang promo novel karya temanku ya kak...


__ADS_1


__ADS_2