
Wu Jin Ming mendekat ke arah guci unik itu dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya memegang sisi guci yang berlawanan. Dengan hati-hati Wu Jin Ming menggeser guci itu ke arah kanan. Tidak berhasil. Wu Jin Ming menggesernya ke arah sebaliknya dan juga tidak berhasil.
Wu Jin Ming melirik ke arah Rubby dan mengangkat kedua tangan dan bahunya secara bersamaan sebagai tanda tidak mengerti.
"Sepertinya ada sesuatu yang aneh dari guci ini. Sama seperti token kuno itu. Mungkin guci ini juga membutuhkan darahku untuk mengaktifkan mantra pembuka." Rubby kembali menusuk ujung jarinya untuk meneteskannya di guci kuno itu.
"Apakah itu akan bekerja, Sayang?" Wu Jin Ming memang mengetahui teknik ini namun dia belum pernah melakukannya.
"Kita coba saja dan mari kita lihat hasilnya."
Setelah darah keluar Rubby segera menekan ujung jarinya dan meneteskan darah yang keluar di atas guci. Memang ada sebuah mantra kuno yang memakai darah untuk mengaktifkannya. Itupun tidak sembarangan darah bisa digunakan.
Darah Rubby termasuk darah yang istimewa karena dia merupakan keturunan dari manusia dan bidadari. Perpaduan yang sangat langka dan bisa terus bermutasi di dalam tubuhnya seiring kultivasi yang dia jalani. Begitu juga dengan keturunannya yang memiliki 4 darah campuran yang akan membuatnya lebih istimewa nantinya.
Guci yang ditetesi darah oleh Rubby bersinar dan bergetar hebat. Rubby memundurkan langkahnya beberapa jengkal. Wu Jin Ming memegangi tubuh Rubby yang sempoyongan karena lantai di ruangan itu bergetar dengan dasyatnya.
Guci itu beputar dan terbukalah dinding batu di belakangnya. Ada sebuah ruangan yang menampilkan nuansa yang sangat terang. Apa yang ada di dalamnya tidak begitu jelas terlihat dari tempat Wu Jin Ming dan Rubby berada.
"Kak Wu! Itu apa?!" Mata Rubby terbelalak melihat sesuatu yang bercahaya muncul dari tengah-tengah ruangan yang baru saja terbuka itu.
"Ayo kita lihat!" Wu Jin Ming menggenggam tangan Rubby dan membawanya berjalan memasuki Ruangan.
"Apa ini?" Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah rumput yang sangat bercahaya.
"Ini adalah tanaman pembangkit roh! Aku tidak menyangka tanaman ini ada di sini. Ini adalah salah satu benda yang dibutuhkan dalam proses penyatuan jiwa untukmu Rubby," jelas Wu Jin Ming.
"Benarkah?! Wah! Tanaman ini sungguh berkilau. Apa kita akan mengambilnya sekarang?" tanya Rubby.
"Tidak! Jangan sentuh tanaman itu sebelum kita berniat untuk memakainya. Tanaman itu akan lebih aman berada di sini. Ini termasuk ke dalam tanaman yang sangat langka dan sulit untuk didapatkan."
"Baiklah!" Rubby menuruti kata-kata Wu Jin Ming dan berjalan mengelilingi ruangan yang tidak begitu luas itu.
Pandangan Rubby berhenti pada sebuah kitab kuno yang melayang-layang di sudut ruangan. Lagi-lagi Rubby tidak berani menyentuhnya sebelum bertanya kepada Wu Jin Ming. Kitab itu masih berwujud gulungan kuno yang dimasukkan ke dalam tabung perak sepanjang setengah hasta.
"Ini adalah kitab Dewa Petir. Ahh! Akhirnya aku menemukannya! Hahaha! Ini kitab yang sangat luar biasa Rubby. Jika jurus yang ada di sini dipadukan dengan jurus pedang milikmu ini akan menjadi jurus yang sangat hebat, Rubby!"
Wajah Wu Jin Ming terlihat sangat senang dan terlihat beberapa kali dia menggoyangkan tubuh Rubby karena terlalu senang.
"Kak Wu akan menjadi Dewa terhebat setelah ini! Kita akan segera menyelesaikan semua jurus pedang warisan ayah setelah kembali dari sini," ucap Rubby sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Wu Jin Ming.
"Kamu jadi berhenti kuliah setelah ini?" tanya Wu Jin Ming memastikan.
"Tentu saja! Aku juga akan bekerja sepertimu. Mungkin aku bisa juga berkecimpung di dunia hiburan atau seni peran seperti kamu."
"Nggak! Nggak boleh! Kamu pikir aku punya hati yang besar untuk melihatmu menjadi tontonan jutaan pasang mata." Wu Jin Ming tidak ingin Rubby menjadi artis.
"Kenapa bisa begitu? Aku saja bisa melihatmu seperti itu," gerutu Rubby kesal.
"Beda, Sayang, beda! Aku laki-laki. Aku tidak ingin apa yang menjadi milikku di lirik oleh orang lain. Jika sampai ada yang menyentuhmu akan aku buat seisi dunia manusia hancur! Lihat saja!" ancam Wu Jin Ming.
__ADS_1
"Huuhhh! Baiklah! Iya... iya... aku nggak jadi bekerja menjadi artis. Aku akan mencari pekerjaan lain saja."
"Terserah kamu mau kerja apa asal tidak mengekspose tubuh kamu di depan umum. Aku tidak suka. Sepertinya menjadi pengarah gaya seperti kemarin itu cocok untukmu."
"Aku malas bertemu Bryan Lee," ungkap Rubby.
"Dia jarang sekali pergi ke studio. Kamu tidak akan sering bertemu dengannya. Memangnya ada apa dengannya? Apakah dia menggodamu?" tanya Wu Jin Ming.
"Tidak juga! Hanya saja aku tidak suka dia membohongiku. Dia bilang dia hanyalah seorang asisten direktur, nyatanya dia adalah bosnya." Cerita Rubby dengan nada kesalnya.
"Mungkin dia hanya ingin menjadi orang yang tidak menyombongkan diri dan menunjukkan kekuasaannya."
"Terserah! Mentang-mentang dia bos Kak Wu terus saja membelanya."
Rubby berjalan keluar ruangan itu meninggalkan Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming mengambil kitab kuno itu dan menyimpannya di dalam cincin penyimpanannya lalu berlari mengejar Rubby. Jika Rubby mencabut token kuno di depan ruangan maka Wu Jin Ming akan terkurung di sana selamanya.
"Hei! Jangan marah, Sayang! Kamu tidak perlu bekerja. Honorku sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita di dunia manusia. Harta benda ku juga masih utuh. Kamu bisa membeli apa saja yang ingin kamu miliki."
"Hmm!" Rubby masih enggan bicara banyak.
Tanpa menoleh ke arah Wu Jin Ming, Rubby terus saja berjalan meninggalkannya. Setelah mencabut token kuno itu, Wu Jin Ming segera menjajari langkah Rubby naik ke atas menuju ke istana.
"By! Please! Jangan marah! Kamu tahu aku tidak pandai merayu wanita yang sedang marah," ucap Wu Jin Ming memelas.
"Haapp! Aku akan membawamu ke sana." Wu Jin Ming mengangkat tubuh Rubby dan membawanya ke dalam gendongannya.
Kamar tidur yang sangat luas dengan dinding yang terbuka di mana-mana membuat udara segar dari luar dengan leluasa keluar masuk ke dalam kamar itu.
"Kamar ini banyak sekali jendela tanpa pintunya. Apa tidak akan ada orang yang mengintip kita ketika sedang tidur?" pertanyaan Rubby membuat Wu Jin Ming mengulum senyumnya.
"Dewa sangat sibuk dengan urusannya masing-masing, By. Kamu tenang saja. Emmmm... aku ingin melanjutkan yang tadi sempat tertunda."
"Tapi... tapi... aku!" Belum sempat Rubby mengatakan hal yang lebih dari itu, Wu Jin Ming sudah menyerangnya dengan ciuman mautnya.
"By, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Kamu sudah baik-baik saja, kan?" Walaupun Wu Jin Ming sangat ingin namun dia tidak akan memaksakan keinginannya jika Rubby belum siap.
"Aku... baik-baik saja!" jawab Rubby dengan pipi yang memerah menahan malu.
Merasa mendapatkan lampu hijau dari Rubby, Wu Jin Ming segera melanjutkan aksinya. Dalam urusan ranjang sebagai seorang siluman harimau dia sangat liar. Jika Rubby adalah manusia biasa mungkin dia tidak akan mampu untuk mengimbanginya. Wu Jin Ming yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Wu Jin Ming yang belum berpengalaman seperti sebelumnya. Saat ini dia sudah menguasai teknik-teknik di mana dia bisa memuaskan dirinya dan pasangannya.
Malam semakin larut, mereka berdua mencoba tidur meskipun saat pergulatan mereka berakhir hari sudah hampir pagi. Di istana langit, para Dewa Dewi akan berkumpul di pagi hari untuk melakukan upacara pelepasan energi. Itu mereka lakukan agar keseimbangan alam terjaga. Masing-masing orang bebas melakukan pelepasan energi sebesar kemampuannya.
Bukan mereka yang menentukan besarnya energi itu namun sebuah neraca energi yang mengambil energi mereka.
Rubby terbangun ketika sebuah daun kering terbang masuk melalui jendela dan jatuh menerpa wajahnya.
"Aahhhmmm!" Rubby menguap sambil menggeliat merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Rasa kantuk masih menguasai dirinya namun hari sudah pagi. Matanya berkeliling melihat sekitar mencari-cari di mana letak kamar mandi berada.
__ADS_1
"Sudah bangun, By!" Wu Jin Ming mengucek matanya dan membetulkan rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Sudah! Emm... Kak! Di mana kamar mandinya? Aku ingin mandi." Rubby membuka selimutnya dan ingin beranjak.
"Tunggu sebentar lagi!" Wu Jin Ming yang telah terduduk, meraih tubuh Rubby ke dalam dekapannya.
"Aahh! Ini sudah pagi, Sayang. Kita tamu di sini. Bagaimana kalau Dewa Langit datang dan melihat penampilan kita masih seperti ini?" gerutu Rubby kesal.
"Dewa Langit tidak punya waktu untuk mengurus hal sekecil ini, Sayang. Paling hanya para dayang yang akan datang untuk mengurus keperluan kita. Mereka datang untuk mempersiapkan pakaian dan membantu kita mandi."
"Ayo kita mandi!"
"Boleh aku memelukmu sebentar lagi. Sebentar saja, Sayang!" Bukannya melepaskan, Wu Jin Ming malah mengeratkan pelukannya.
Bibirnya bergerak lembut mengecup bagian sensitif Rubby hingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Sayang... jangan membangunkan ular phyton yang sedang tidur, deh!" seru Rubby sambil mencoba melepaskan diri.
"Terlambat! Dia sudah bangun."
"Ahh! Tuh... kan... kan...!" Rubby merasa sebal dengan tingkah mesum Wu Jin Ming pagi itu.
"Tenanglah! Aku tidak akan memintamu untuk menjinakkannya. Kita mandi bersama saja."
"Benar kamu tidak akan macam-macam di kamar mandi?"
"Di sana akan banyak pelayan, Sayang. Ya, nggak mungkinlah aku menyerangmu di hadapan mereka. Paling aku hanya bisa menelan ludah melihat kamu mandi di depanku."
"Kak Wu nggak ada puas-puasnya, ya?! Hmm...."
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Rubby!"
"Aku tau. Udah, ahhh! Ayo kita mandi!" seru Rubby.
"Pakai jubahmu! Hanfu yang kamu pakai terlalu tipis. Kita akan melewati koridor utama untuk pergi ke pemandian istana ini."
"Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah! Mungkin karena leluhurku dulu ingin pemandian dan istana ini terpisah."
"Sudahlah! Ayo kita berangkat!" Rubby turun dari atas ranjang terlebih dahulu.
****
*Bersambung...
Numpang promo novel karya temanku ya kak.. semoga berkenan mampir*...
__ADS_1