
"Aku janji. Aku tidak akan mengungkit masalah ini di tempat kerja atau di manapun," ucap Jimmy mantap.
Saking senengnya, Rubby hampir saja melompat kegirangan. Untung bajunya terduduki oleh Wu Jin Ming sehingga dia tidak bisa beranjak dan bergerak bebas. Jika tidak, sia-sia sudah kerja keras mereka untuk berpura-pura sakit.
Mengingat Rubby hampir saja ketahuan, Wu Jin Ming berpikir untuk segera membawanya pergi dari sana. Takutnya mereka akan ketahuan jika berlama-lama di sana.
"Jim! Kami haru segera pulang. Kami akan pergi ke rumah sakit, takut kalau luka kami akan mengalami infeksi kalau tidak segera dibersihkan dan diobati," ucap Wu Jin Ming memohon diri.
"Apa kamu masih bisa membawa mobilmu, Tiger?" tanya Jimmy merasa khawatir.
"Lukaku tidak separah Rubby. Aku masih bisa pulang sendiri, jangan khawatir!" Wu Jin Ming meyakinkan Jimmy.
Jimmy terlihat menghela napas dalam.
"Baiklah! Mari aku antar kalian ke depan. Oh, iya bagaimana dengan saudaramu yang tadi?" Jimmy menanyakan Han.
"Dia menjadi korban Ha... maksudku Wella." Hampir saja Rubby salah bicara.
Jimmy mengangguk, tidak ingin membahasnya lebih jauh karena takut dirinya malah akan tersudut.
Wu Jin Ming dan Rubby melambaikan tangannya pada Jimmy yang masih menunggunya di depan pintu sampai mereka pergi meninggalkan rumahnya.
****
Tiga hari sejak kejadian itu.
Jimmy terlihat lebih ceria dan terbuka. Mungkin selama ini dia terpengaruh oleh kekuatan Haya. Dia pun telah pindah dari rumah itu dan membeli rumah yang lebih kecil darinya.
Rubby terlihat sangat mengantuk siang itu. Dia meminta OB untuk membuatkannya kopi namun tidak kunjung datang. Beberapa kali dia terlihat menguap padahal jam istirahat masih dua jam lagi.
"Hiyaaahhh!" Rubby berdiri lalu memutar tubuhnya.
"Ngantuk sekali aku. Semua ini gara-gara Kak Wu. Mentang-mentang aku sudah sembuh dia mengajakku lembur semalaman. Astaga, tulang belulangku rasanya seperti mau rontok."
Rubby menggerutu sambil terus melakukan gerakan ringan.
Akhirnya yang dia tunggu-tunggu pun datang. OB membawakannya secangkir kopi, camilan, dan sebuah surat.
'Surat? Surat apa ini?' batin Rubby penasaran ketika melihat surat di atas nampan yang di bawa sang OB.
__ADS_1
"Terimakasih."
"Saya permisi, Bu!" ucap OB itu.
'Astaga, apakah aku kelihatan sangat tua sekali?' Rubby meringis.
Rubby mengangguk lalu menatap OB itu pergi menghilang dari hadapannya.
Dengan gerakan cepat dia mengambil cermin di dalam tasnya. Rasa penasarannya mengalahkan rasa ingin membuka surat dan meminum kopi yang aromanya begitu menggugah selera.
Cermin kecil yang selalu dia bawa itu memantulkan wajah cantiknya yang terlihat memesona.
"Sama saja. Aku masih terlihat sesuai umurku. Bahkan aku terlihat lebih muda. Lalu kenapa OB itu memanggilku 'Bu', ya?" Rubby berbicara sendiri.
Setelah puas memandangi wajahnya di cermin, Rubby lantas menyimpan cermin itu kembali.
"Ini surat apa, ya? Tidak ada nama pengirim. Ah, surat kaleng."
Rubby membolak-baliknya sebelum membuka perekatnya.
"Aku buka tidak, ya?" Rubby meletakkannya kembali tanpa membukanya.
Rubby kembali menghadap laptopnya mencoba untuk fokus. Namun lagi-lagi surat kaleng itu mencuri perhatiannya. Rasanya dia benar-benar tidak tahan.
"Ya, sudah lah. Aku baca saja. Siapa tahu dari kak Wu mau ngasih aku kejutan."
Karena sudah tidak sabar, Rubby langsung merobek amplopnya.
Selembar kertas yang ada di dalamnya tidak menampilkan tulisan apa-apa. Kosong.
Criinggg!
Sebuah benda jatuh dari dalam amplop itu.
Mata Rubby mengikuti ke mana benda itu jatuh dan menggelinding.
Saat benda itu berhenti, Rubby menghampirinya, berjongkok, lalu mengambilnya.
"Cincin?"
__ADS_1
Rubby meletakkannya di atas meja lalu mengambil gagang telepon antar ruangan untuk menghubungi OB yang tadi mengantarkan kopi untuknya.
Bukannya menikmati kopinya, Rubby malah berjalan mondar mandir di depan pintu ruangannya untuk menunggu sang OB.
"Kamu ngapain, Sayang?" tanya Wu Jin Ming yang tiba-tiba muncul tanpa terdeteksi kedatangannya.
Sudah biasa. Wu Jin Ming memang ahli dalam menyembunyikan hawa kehadirannya dengan langkah tak terdengar.
"Nunggu OB," jujur Rubby.
"OB?"
Wu Jin Ming melirik kopi yang masih baru di meja kerja Rubby.
"Iya, tadi... itu...!" Rubby menunjuk amplop yang sudah dia buka dan sebuah cincin.
"Apa itu dari kamu?" tanya Rubby hati-hati.
Wu Jin Ming dengan cepat menggeleng.
Tidak berapa lama, OB yang mereka tunggu pun tiba di sana.
"Maaf, Bu! Ada yang bisa saya bantu?"
OB itu menunduk, sepertinya dia tahu jika saat ini Rubby sedang tidak baik-baik saja.
Rubby tidak langsung bicara namun berjalan mendekat ke arah OB tersebut.
OB itu tampak berkeringat dan terus menunduk. Apalagi ada Wu Jin Ming di sana. Dia merasa akan di adili oleh kedua atasannya itu.
"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanya Rubby.
OB itu dengan cepat menggeleng.
Wu Jin Ming yang tahu bagaimana sifat Rubby yang kekanakan dan suka seenaknya, berjalan maju ke depan untuk menggantikan posisinya.
"Duduklah! Biar aku yang urus!" seru Wu Jin Ming sambil membawa OB itu duduk di sebuah sofa panjang.
****
__ADS_1
Bersambung...