
"Kalian kenapa, sih?" Rubby melihat penampilannya dan menelitinya takut ada yang sobek atau terbuka.
"Ah, tidak ada apa-apa, By! Kami hanya terkejut dengan kedatangan kamu." Manager Lin mencoba menutupi sikap aneh para kru.
"Apa senyum-senyum?!" lagi-lagi Rubby bersikap galak pada Bryan. Dia merasa risih dengan tatapan Bryan yang membuatnya salah tingkah.
"Kamu cantik." tanpa sadar Bryan mengucapkan kata-kata yang membuat Rubby semakin tidak suka. Bryan buru-buru menutup mulutnya dan tersipu malu. Ini pertama kalinya dia memuji wanita di hadapan banyak orang.
"Simpan kata-kata manismu itu untuk kekasihmu!" Rubby beranjak dari duduknya dan melihat pemotretan Wu Jin Ming dari dekat.
Wu Jin Ming sedang berpose bersama seorang model wanita yang tak lain adalah Catherine. Sama-sama menyebalkan. Duduk dan menunggu ada Bryan yang suka cari perhatian, melihat pemotretan harus menahan sebal karena melihat suaminya beradegan mesra dengan model centil bernama Catherine.
Rubby berjalan ke dekat jendela kaca dan menikmati pemandangan di luar gedung. Dia berdiri mematung sambil bersedekap. Perasaannya jadi lebih baik setelah melihat lalu lalang kendaraan di bawah sana.
"Mau minum?" Bryan menyodorkan sekaleng soft drink dingin untuk Rubby. Entah dari mana dia mendapatkan minuman itu. Perasaan Rubby tidak melihat dia pergi kemana-mana sebelumnya.
"Thanks!" Rubby menerimanya dan kembali melipat kedua tangannya di dada.
"Jangan menjauhiku! Jujur aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, tapi aku tidak akan mengganggu hubungan kamu dengan kekasihmu. Aku rela menjadi teman atau apalah, senyumannya kamu saja." Bryan berbicara serius pada Rubby.
"Baiklah! Aku hanya merasa aneh aja melihat semua orang diam ketika kita datang. Aku nggak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kita. Ada hati yang harus aku jaga di sini."
"Aku mengerti. Em, kalau boleh tahu siapa nama kekasihmu? Mungkin aku mengenalnya."
"Tiger Wu!"
"Oh, jadi dia! Lumayan, sih! Saingan yang berat." Bryan menenggak minumannya.
"Dia orang yang sangat spesial buatku. Mau ada yang lebih tampan, lebih kaya, atau lebih tenar, aku nggak peduli. Kak Tiger tetap nomer satu buatku."
Hati Bryan terasa ngilu saat mendengar kata-kata Rubby namun dia tidak ingin terlihat rapuh di depan orang yang dia kagumi.
"Berapa lama kalian saling mengenal?" Bryan mendudukkan separoh pantatnya di tepi jendela.
"Em... sekitar satu tahun yang lalu."
"Lama juga, ya? Tapi kalian jarang terlihat bersama." Walaupun hanya mengobrol hal yang tidak penting sama sekali, Bryan merasa senang. Setidaknya Rubby mau menjawab pertanyaannya dan tidak lagi menghindar.
__ADS_1
"Aku kuliah. Tapi kami berusaha untuk memiliki waktu bersama sebanyak mungkin."
"Baguslah! Semoga kalian langgeng. Jika kamu di sakiti olehnya, jangan ragu untuk mencariku! Aku akan menjaga perasaan ini untukmu."
"Oh, iya, dari tadi kamu mengobrol di sini saja apa kamu tidak bekerja? Atau kamu ke sini hanya ingin mengikutiku?" Rubby menatap Bryan penuh selidik.
"Ah, iya! Aku... bekerja... sebagai... em... asisten direktur! Haa... iya... itu...! Dia sedang tidak di tempat jadi aku bisa bersantai."
"Owh! Enak dong! Makan gaji buta!" ledek Rubby sambil tertawa.
"Tentu saja! Tapi kalau waktunya lembur yang lain enak tidur aku harus kerja sendirian."
"Em, iya juga, sih! Jatuhnya sama saja!"
"Nah, itu tahu!" Bryan terkekeh.
Rubby dan Bryan terlihat semakin akrab. Mereka mengobrol santai dan tertawa bersama. Pemotretan Wu Jin Ming juga masih lama. Masih ada beberapa sesi yang harus dia selesaikan.
Vega, asisten Bryan tiba-tiba datang dan mencarinya untuk meminta tanda tangannya.
Rubby menatap tajam ke arah Bryan. Mendapat tatapan mematikan dari Rubby, Bryan terlihat gugup. Susah payah dia menyembunyikan identitasnya agar Rubby mau didekati harus sia-sia karena ulah asistennya.
"Kamu?! Aaaahh!" Bryan menatap Vega dengan penuh emosi.
"Anda bisa jelaskan ini Tuan Presdir?" Rubby berjalan mendekat dan memberi tatapan menghakimi.
"Maaf!" hanya itu yang bisa terucap dari mulut Bryan.
"Kamu seperti anak kecil. Bisa-bisanya membohongi seorang wanita agar bersimpati padamu!" hardik Rubby.
"Bu... bukan begitu, By! Aku... aku...."
"Oh...! Aku tahu... kamu takut aku pasos, ya, kalau kamu jujur dari awal sebagai seorang Presdir." Rubby mengangguk-angguk sambil menahan kekesalannya.
Vega merasa ketakutan. Kali ini posisinya terancam. Setelah ini dia pasti akan di pecat. Ketidaktahuannya menjebaknya dalam situasi yang rumit.
"Bukan begitu, Rubby! Aku melakukan ini semua karena aku ingin kamu berteman denganku tanpa melihat status sosialku. Kadang orang tidak bisa mengobrol nyaman denganku setelah tahu siapa diriku," jelas Bryan Lee.
__ADS_1
"Jelaslah! Kamu orang terkaya di negeri ini, siapa yang tidak akan merasa segan padamu! Maaf aku terlalu berani. Terimakasih sudah mau mengenalku."
Rubby berjalan meninggalkan Bryan Lee dan Vega. Baru melangkah beberapa jengkal, tangan Rubby di pegang oleh Bryan.
"By! Please, jangan jauhi aku! Apa yang aku katakan tadi semuanya benar kecuali identitasku sebenarnya," jelas Bryan.
"Aku tidak berniat menjauhimu. Aku hanya kecewa saja sama kamu. Biarkan aku pergi atau aku akan semakin marah padamu!" ucapan Rubby mulai melunak.
Dengan perasaan hancur, Bryan akhirnya melepaskan tangan Rubby. Dalam sehari dia harus merasa patah hati dua kali. Meskipun secara tidak langsung Rubby menolaknya tapi dia tidak ingin menyerah.
"By! Sudah lama?" Wu Jin Ming break sebentar. Waktu istirahatnya dia pakai untuk menyapa kekasihnya.
Melihat kaleng softdrink di tangan Rubby, Wu Jin Ming yang merasa haus langsung menyambarnya. Minuman itu masih utuh. Wu Jin Ming membuka kaleng itu dan menenggak isinya.
"Sudah lumayan lama, sih! Tadi aku juga melihat pemotretan kamu bentar."
"Masa, sih? Kog aku nggak lihat?" Wu Jin Ming mengerutkan keningnya.
"Kamu asyik berpose sama si ulat bulu. Aku lihat bentar aja dan langsung pergi karena takut alergi." wajah Rubby terlihat kesal. Entah kesal karena Catherine atau Bryan Lee.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, Bryan Lee dan Vega lewat di sebelahnya. Bryan terus melirik ke arah Rubby dengan wajah penuh harap. Dia berharap Rubby menyapanya atau paling tidak tersenyum padanya.
"Selamat siang Presdir Lee!" sapa Wu Jin Ming.
"Siang Wu! Apa kabar?" Bryan membalas sapaan Wu Jin Ming dengan ramah.
"Seperti yang Anda lihat. Oh, iya, perkenalkan kekasih saya. Rubby." Wu Jin Ming mengelus punggung Rubby memberi kode agar dia mengulurkan tangannya.
"Kami sudah saling kenal," jawab Rubby datar.
Wu Jin Ming menatap Rubby tidak mengerti.
"Jangan salah paham! Kami kebetulan bertemu di parkiran dan sama-sama jalan ke mari," jelas Bryan mencoba mengambil simpati Rubby kembali.
****
Bersambung...
__ADS_1