TIGER WU

TIGER WU
OLAHRAGA PAGI


__ADS_3

Ban motor Rubby kempes di jalanan yang dekat dengan pasar. Ingin rasanya Rubby memakai sihirnya namun itu tidak mungkin dia lakukan di depan banyak orang. Bisa-bisa mereka berpikir yang tidak-tidak tentang Rubby.


Terpaksa Rubby menuntun motornya untuk mencari tempat tambal ban terdekat. Untung hari masih pagi sehingga Rubby tidak kepanasan saat mendorong motornya. Senyum manis Rubby terbit di wajah cantiknya ketika dia melihat sebuah tambal bab kira-kira sepuluh meter di depannya. Dalam hatinya bersorak girang seperti telah menemukan sebuah harta karun.


"Yahhh, tutup! Ke mana orangnya? Apa ini masih terlalu pagi, ya?" Rubby melirik jam tangannya yang saat ini menunjukkan jam delapan kurang limabelas menit.


Melihat bengkel yang sepi Rubby bersiap untuk melakukan sihir pada ban motornya. Masalah Rubby tidak tahu bagaimana caranya menambal secara manual dengan alat tambal. Suara klakson mobil yang sangat keras membuyarkan konsentrasinya.


"Hai, By!" sapa Arlan.


Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah kejadian kebakaran di rumah lama Rubby. Arlan tidak tahu Rubby pindah ke mana karena memang waktu itu Rubby belum ada rumah.


"Hai, Ar! Kamu duluan saja, aku nunggu tambal ban ini buka saja," sahut Rubby beralasan.


Rubby tetap akan membawa motornya ke tempat kerja karena menunggu taksi di sore hari itu melelahkan.


"Daripada kamu telat kerja mendingan aku antar, By! Tiger ke mana kok kamu jalan sendiri?" tanya Arlan penasaran.


Biasanya Rubby dan Wu Jin Ming ke mana-mana selalu bersama. Rasanya aneh saat melihat Rubby yang pergi sendirian, pakai motor butut pula.


"Aku nggak akan telat! Kamu duluan sana, gih!" usir Rubby.


Saat ini Arlan membuatnya tidak bisa melakukan sihir. Rubby belum tahu jika sebenarnya Arlan sudah tahu tentang Rubby yang bukan hanya sekedar kultivator biasa.


"Aku akan pergi, tapi jawab dulu pertanyaanku tadi. Tiger ke mana?" Bukannya ingin ikut campur dalam masalah pribadi mereka namun Arlan takut jika mereka bertengkar. Bisa hancur dunia ini kalau mereka sampai bertarung.


"Dia sakit. Semalam makan mie terlalu pedas membuatnya mulas-mulas dan diare. Ya, gitu deh!" terang Rubby.


"Hahaha! Kenapa bisa begitu? Tiger? Diare karena sambal? Oh, astaga!" Arlan tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air di sudut matanya.


Menurut Arlan ini adalah sesuatu yang lucu. Bagaimana tidak, seorang yang hebat seperti Wu Jin Ming bisa-bisanya terkapar tak berdaya hanya karena sambal. Arlan merasa geli membayangkan keadaan Wu Jin Ming saat ini.

__ADS_1


"Hah, kamu ini! Senang sekali kamu mendengar teman kena musibah." Rubby mendengus kesal.


"Aku merasa lucu aja, By. Orang sekeren dan sehebat Wu Jin Ming bisa merasakan itu juga. Bukankah dia bisa menetralisir makanan itu dengan energi kulitivasinya?" Arlan memancing Rubby untuk mengatakan rahasia mereka.


"Tidak semua hal itu harus diselesaikan dengan kekuatan, Ar! Kita juga harus selaras dengan alam dan mengikuti aturannya. Jangan lupakan jika dalam kultivasi kita juga menyerap energi alam!" jelas Rubby panjang lebar.


"Hmm. Iya... iya! Terus ini gimana? Kamu mau bareng aku atau nunggu tambal ban ini buka?" tanya Arlan.


"Kamu duluan aja! Aku tidak buru-buru kok. Lagipula sangat sulit nunggu taksi di sore hari," jawab Rubby kekeh dengan pendiriannya.


"Oke! Aku pergi! Kalau ada apa-apa hubungi aku!" seru Arlan sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya.



"Siap, Boss! Hati-hati di jalan!" Rubby melambaikan tangannya pada Arlan.


'Huft! Aku harus cepet-cepet, nih, sebelum ada orang lagi.' gumam Rubby dalam hati.


Dengan kekuatan sihirnya, Rubby membuat ban motornya itu tidak kempes lagi. Dia menunduk dan memeriksanya sekali lagi. Setelah di rasa aman, Rubby segera melanjutkan perjalanannya.


Mengingat ada pemotretan pagi dan harus mengatur ulang jadwal, Rubby langsung fokus bekerja tanpa memperhatikan sekitar. Ruang kerja teamnya masih sangat sepi. Baru ada beberapa orang kru yang datang, bahkan manager Lin pun belum terlihat.


"Hai, By!" sapa Alfon yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Rubby.


"Hai, Al! Sorry, aku agak sibuk hari ini!" Rubby masih fokus berbalas pesan dengan beberapa model yang jadwalnya di geser karena Wu Jin Ming sedang sakit.


"Apakah ada masalah? Katakan saja, siapa tahu aku bisa bantu!" seru Alfon sambil duduk di atas meja kerja Rubby.


"Sedikit mengatur ulang jadwal saja. Kak Tiger sakit jadi aku menggeser jadwal kerja beberapa model yang lain." Masih fokus pada pekerjaannya tanpa melihat ke arah Alfon.


"Oh, ya sudah! Kamu sudah sarapan kan?" tanya Alfon.

__ADS_1


Mendengar kata sarapan, perut Rubby terasa lapar. Sebelum berangkat dia hanya memakan sepotong roti dan segelas susu. Setelah mendorong motornya yang kempes sepertinya makanan-makanan itu sudah menguap bersama tenaga yang dia keluarkan.


"Emm... tadi aku sudah makan roti, sih. Tapi sepertinya aku masih merasa lapar," jujur Rubby.


"Bagaimana kalau kita ke kantin?" ajak Alfon merasa ada kesempatan untuk berdua bersama Rubby.


"Boleh. Tapi tunggu sebentar, ya?! Aku selesaikan ini dulu." Rubby kembali fokus ke layar laptop untuk mengganti file laporan kerja hari ini.


"Oke! Aku tunggu." Alfon memainkan sebuah game di ponselnya untuk mengusir kebosanan.


Ruangan itu sudah semakin ramai karena para kru dan model sudah berdatangan. Manager Lin juga terlihat telah memasuki ruangan dan langsung menghampiri Rubby. Dia merasa heran karena tidak melihat Wu Jin Ming ada di sana.


"Tiger mana, Adik kecil?" tanya manager Lin.


"Dia tidak masuk hari ini, Kak Lin. Sejak semalam dia mengalami diare," jelas Rubby.


"Kok, bisa?" Merasa heran dengan itu, Manager Lin mengerutkan keningnya.


"Iya,. dia memakan mie instan pakai sambal jadi mulas dan diare. Sebenarnya sudah berhenti, tapi dia masih lemas karena dehidrasi." Rubby menjawab sambil menunggu mesin printer selesai mengeluarkan kertas file yang dia cetak.


"Syukurlah kalau dia sudah membaik. Kasihan sekali. Diare memang sangat menyebalkan makanya aku jarang makan pedas," cerita manager Lin.


"Iya, Kak Lin! Oh, iya. Ini schedule hari ini. Aku mengatur ulang jadwal dan sudah menghubungi pihak-pihak yang terlibat dalam jadwal. Tolong Kak Lin handle dulu, ya, aku mau ke kantin dulu!" seru Rubby sambil memegang perutnya yang tengah lapar.


"Oke! Pergilah! Jangan sampai kamu ikut sakit!" ujar manager Lin sambil membaca berkas di tangannya.


Rubby dan Alfon berjalan meninggalkan ruangan menuju ke kantin yang ada di lantai bawah. Ketika berjalan melewati sebuah lorong, Rubby merasa bulu kuduknya meremang. Ketika dia menoleh ke belakang, dia tidak mendapati siapapun di sana. Rubby melanjutkan langkahnya mengikuti Alfon yang sudah berada jauh di depan.


****


Bersambung...

__ADS_1


Mau numpang promo novel karya temanku kak.. sambil nunggu punyaku up bisa mampir dulu ke mari...



__ADS_2