
Mantra yang dilepaskan oleh Wu Jin Ming mengirim Han dan Haya pergi ke negeri asalnya. Dalam satu kedipan keduanya sudah menghilang dari pandangan. Hanya tinggal Wu Jin Ming dan Rubby yang tersisa di sana.
Rubby melihat wajah suaminya dengan tatapan bingung.
"Ada apa, Sayang?" tanya Wu Jin Ming heran.
"Emm, aku bingung setelah ini kita mau bagaimana?" Rubby menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan yang terbentang luas di ruang dimensi itu.
"Kita hadapi saja, Rubby. Mereka pasti bisa mengerti." Wu Jin Ming menyusul Rubby lalu duduk di sebelahnya.
"Kita tidak bisa terlalu mengumbar kemampuan kita kepada orang lain, Sayang. Media akan menjadi gempar jika mereka sampai tahu siapa kita sebenarnya." Penjelasan Rubby membuat Wu Jin Ming kembali berpikir.
Jika mereka muncul di rumah Jimmy dengan keadaan baik-baik saja, tentu orang-orang akan menaruh curiga. Di era modern kejadian-kejadian di luar nalar masih sangat mengundang rasa penasaran publik.
Daripada menjadi bahan isu terhangat, mereka lebih baik tetap menyembunyikan identitas mereka sebenarnya.
"Sayang, lebih baik kita berpura-pura menjadi korban dari Haya. Eh, em, maksudku Wella." Rubby memberi usul.
Idenya memang terdengar konyol namun jika di pikir, itu masuk akal juga.
"Ah, terkadang aku harus siap terjebak dalam ide konyolmu juga, Sayang." Nada bicara Wu Jin Ming terdengar pasrah.
"Benar sekali. Biar kita menjadi pasangan konyol sepanjang masa," ucap Rubby meringis.
Dengan cepat Wu Jin Ming menggeleng yang disambut tawa cekikikan Rubby yang merasa geli melihatnya.
Bagaimana tidak, Wu Jin Ming yang cenderung serius dan susah untuk diajak bercanda, harus pasrah mengikuti perkataan Rubby untuk melakukan drama.
Rubby mulai menyusun rencana dengan berpenampilan seolah-olah sedang teraniaya. Dia pun melakukan hal yang sama pada Wu Jin Ming. Mulai dari mengacak-acak rambut, baju, dan membuat luka palsu agar terlihat meyakinkan.
Rekayasa yang mereka lakukan harus benar-benar membuat orang-orang berpikir jika mereka berdua adalah korban yang sangat menyedihkan.
"Hahaha, kamu lucu sekali, sayang!" Rubby tertawa lantang.
Penampilan Wu Jin Ming saat ini sangat konyol dan melenyapkan image, ksatria hebat yang tersemat di dalam dirinya. Sangat buruk sekali.
__ADS_1
"Aku seharusanya tidak usah melakukan ini." Wajah Wu Jin Ming terlihat memelas.
"Hei, jangan mengacaukan rencana yang sudah aku susun. Ini hanya sebentar saja, Sayang. Ingat, setelah ini kita harus berpura-pura kesakitan."
Wu Jin Ming mengangguk malas.
"Ayo kita keluar!" seru Rubby.
Seperti yang mereka perkirakan, Jimmy sudah tersadar dan sedang duduk bersandar di ruang tamu.
"Arrggghhh!" pekik Rubby dan Wu Jin Ming yang pura-pura jatuh dan terlempar dari dunia lain di hadapa Jimmy.
Jimmy terkejut.
Dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Rubby dan Wu Jin Ming untuk menolongnya.
"Tiger, Rubby! Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Jimmy panik.
Rubby pura-pura memegangi pipinya dan bersikap seolah kesulitan bicara.
"Pelayan! Bantu aku membawa teman-temanku duduk di sofa!" seru Jimmy memanggil pelayannya.
Mereka membawa Rubby dan Wu Jin Ming duduk di sofa ruang tamu.
"Syukurlah, kamu selamat, Jim!" ucap Rubby.
"Aku tidak ingat dengan apa yang terjadi."
"Tentu saja kamu tidak ingat, karena kamu pingsan ketika siluman ular itu membawa kami."
Jimmy mencoba mengingat-ingat.
"Maafkan aku, Jim. Mugkin istrimu tidak akan pulang kembali lagi ke mari. Ternyata dia adalah seorang silunman ular yang sangat menakutkan."
Rubby mulai mendongeng.
__ADS_1
"Ah, iya. Aku sedikit ingat. Aku pingsan karena terkejut melihat Wella berubah menjadi siluman. Aku benar-benar tidak menyangka," sesal Jimmy.
"Aku tahu ini berat, Jim. Maafkan aku!"
"Tidak Rubby. Aku yang seharusnya meminta maaf. Apa yang sudah dia lakukan pada kalian?"
Rubby menghela napas dalam sebelum melanjutkan cerita palsunya. Dia tetap harus terlihat serius agar Jimmy tidak menaruh curiga.
"Dia membawa kami ke tempat yang entah kami tidak tahu. Dia sepertinya berniat untuk memakan kami berdua. Kami berlari dan mencoba menghindar dari kejarannya. Beruntung kami berhasil melepaskan diri darinya. Huuffft." Rubby menghembuskan napas kasar.
"Lalu apakah dia masih hidup?" Ada nada khawatir dalam pertanyaan Jimmy.
"Aku tidak tahu, Jim. Kami mendorongnya hingga dia jatuh ke jurang. Setelah itu kami tiba-tiba terlempar kembali ke sini."
Jimmy mendengarkan setiap cerita Rubby dengan seksama. Dia tampak diam berpikir. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Jim, bukannya aku bermaksud untuk menakut-nakutimu atau apa, tetaplah berhati-hati. Kalau bisa, kamu segera pindah saja dari rumah ini."
"Kamu benar. Aku juga berpikir seperti itu. Terimakasih," ucap Jimmy.
"Satu lagi, Jim."
Ucapan Rubby membuat, Jimmy menoleh kepadanya.
"Katakan saja, By. Aku senang mendengarnya."
Sejenak Rubby menatap Wu Jin Ming sebelum dia melanjutkan bicaranya.
"Tolong kamu simpan rahasia ini. Biarlah cukup kita bertiga saja yang tahu tentang masalah ini."
Jimmy mengangguk setuju. Memang ini yang dia harapkan, karena masalah ini bersumber darinya.
****
Bersambung...
__ADS_1