TIGER WU

TIGER WU
SEBUAH KEBETULAN?


__ADS_3

Rubby duduk di belakang meja kerjanya sambil terus melirik ke arah Wu Jin Ming dan OB yang sedang serius mengobrol.


Pandangannya kemudian beralih pada cincin yang tergeletak di meja.


"Tidak terlalu bagus, tapi kelihatannya ini mahal."


Komentar Rubby terdengar oleh Wu Jin Ming yang sedang berjalan ke arahnya.


"Cincin itu dari dosen kampusmu. Dia tinggal bertetangga dengan OB tadi dan memintanya untuk memberikannya padamu," jelas Wu Jin Ming.


"Dosen? Aku tidak merasa pernah dekat dengan seorang dosen, apalagi terlibat dalam hubungan yang serius." Wajah Rubby tampak berpikir.


"Mana saya tahu, By. Mungkin dia pengagum rahasia kamu yang tidak kamu sadari keberadaannya."


Wu Jin Ming mulai memasang wajah cemburu.


Tanpa banyak berpikir, Rubby mengambil cincin itu dan hendak melemparkannya ke lubang jendela yang terbuka.


Wu Jin Ming ingin mencegah itu namun sudah terlambat, cincin itu terlanjur melayang di udara. Namun, kejadian terasa aneh ketika cincin itu melayang pelan seperti gerakan slow motion dalam film. Gerakan cincin itu semakin pelan dan berhenti sebelum mencapai jendela.


Rubby dan Wu Jin Ming saling pandang.


"Sepertinya itu bukan cincin biasa."


Wu Jin Ming maju ke depan lalu membuka telapak tangannya di udara dan mengeluarkan energi yang memancar menyentuh cincin itu.


Cincin itu bersinar dan berputar sangat cepat ketika terpapar energi yang dikeluarkan oleh Wu Jin Ming.


Setelah beberapa saat, sinar emas dari cincin itu membentuk sebuah simbol dan tulisan yang samar-samar terbentuk dan semakin jelas.


Tulisan kuno yang tidak Rubby pahami namun cukup dimengerti oleh Wu Jin Ming.


Pesan itu berisi tentang sebuah undangan yang meminta si pemegang cincin itu untuk datang.

__ADS_1


Sebenarnya tidak perlu membuka pesan di cincin itu karena cincin itu akan menarik si pemegangnya untuk datang ke tempat yang dimaksud.


"Apa kita harus pergi ke sana atau tidak, Kak Wu?" tanya Rubby sambil memainkan ujung jarinya.


"Entahlah! Waktu penyatuan jiwa kamu semakin dekat dan kamu harus menaikan tingkat kultivasimu juga. Tapi aku sangat penasaran dengan motif di balik pesan itu." Wu Jin Ming memegangi dagunya sambil berpikir.


Rubby juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Melihat gerak gerik Wu Jin Ming sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya tanpa berkomentar apa-apa.


Cukup lama mereka berdiam diri, sampai Wu Jin Ming duduk di atas meja milik Rubby.


"By, apa kamu punya pendapat untuk ini?" tanya Wu Jin Ming.


Rubby menggeleng malas.


"Baiklah! Kita tidak usah berangkat ke sana."


Wu Jin Ming mengambil keputusan yang dibalas dengan anggukan oleh Rubby.


"Aku masih harus bekerja, Sayang, lalu bagaimana dengan cincin itu?" tunjuk Rubby pada cincin yang masih melayang di udara.


"Simpan saja di laci."


Rubby melakukan apa yang diminta oleh Wu Jin Ming.


"Ya, sudah. Baiknya kita kembali bekerja."


Wu Jin Ming mendekati Rubby lalu mengecup bibirnya sekilas sebelum dia berjalan pergi. Ritual singkat yang membuat energi dan semangat mereka meningkat. Hal kecil ini membuat hubungan keduanya selalu romantis.


Wu Jin Ming sering mencuri-curi waktu di kala senggang untuk menghampiri Rubby walaupun hanya sekedar memberinya sebuah kecupan.


Perlakuan manisnya itulah yang membuat Rubby semakin merasa disayangi dan menjadi wanita yang sangat beruntung. Meskipun banyak rintangan yang mereka hadapi dan godaan yang silih berganti, itu tidak akan membuat cinta mereka goyah. Keduanya merasa sebagai pasangan saling melengkapi dan satu sama lain adalah bagian yang tidak akan terpisahkan.


Hari itu pekerjaan berjalan sangat lancar, sehingga mereka bisa pulang lebih awal. Rubby dan Wu Jin Ming berencana untuk mampir berbelanja dahulu di sebuah pusat perbelanjaan yang baru dibuka belum lama ini. Menurut informasi, banyak sekali diskon yang ditawarkan di sana.

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Siapkan uang yang banyak untukku, Sayang! Istrimu ini ingin menghabiskan uangmu untuk berbelanja!" seru Rubby sambil mengerling manja.


"Tenang saja sayangku! Semua uangku adalah milikmu. Kamu bebas memakainya sesukamu." Wu Jin Ming meremas tangan Rubby yang ada di samping tempat duduknya.


"Ahh, senangnya! Aku pasti akan memborong semua produk terbaru yang cocok untuk kita!" Mata Rubby berbinar senang.


Mereka terus besendau gurau dan bercengkrama sepanjang perjalanan. Bahagia, hanya satu kata itu yang pantas untuk mereka berdua. Seluruh kesedihan yang beberapa saat lalu mereka rasakan sudah terhapus seluruhnya.


Mobil yang dikendarai oleh Wu Jin Ming melintas di jalan raya yang sedang mengalami perbaikan. Jalur akses menuju ke pusat perbelanjaan tujuan mereka di alihkan ke jalan kecil yang diberi tanda. Meskipun sedikit kecewa, namun Wu Jin Ming dan Rubby tetap melanjutkan perjalanannya.


Mereka mengikuti petunjuk arah yang di pasang di jalan yang mereka lalui. Mobil mereka tidak bisa melaju dengan cepat karena kondisi jalan yang kurang layak. Banyak sekali lubang-lubang kecil dan jalanan terjal di jalan itu.


"Rencana pergi belanja, tak tahunnya harus jalan-jalan ke kampung dulu. Huuhh! Sebel!" seru Rubby kesal.


Wu Jin Ming meliriknya sesaat lalu kembali nenyetir mobilnya.


"Sudah, jangan mengomel! Nanti mood belanja kamu hilang."


"Kamu benar. Aku nyalakan musik saja, ya! Buat menghibur diri yang sedang gabut ini." Rubby memanyunkan bibirnya sehingga terlihat sangat menggemaskan.


"Putar saja dan jangan bertingkah seperti itu. Kamu membuatku ingin cepat pulang dan menerkamu saja!"


Mata Rubby membulat mendengar kata-kata Wu Jin Ming. 'Dasar laki-laki mesum!'


Tidak ingin memancing macan yang sedang jinak, Rubby memilih diam.


Tanpa mereka sadari, mobil yang mereka tumpangi berjalan melalui tempat di mana cincin yang di bawa OB itu mengundangnya.


****


Bersambung...

__ADS_1


Kak numpang promo karya kece temanku ya... semoga berkenan untuk mampir... Terimakasih...



__ADS_2