
An Ning segera menguasai dirinya. Dia menyimpan pedangnya lalu menyusul Wu Jin Ming melayang ke udara. Perlahan tanduk dan sisiknya menghilang lalu muncul energi berbentuk naga putih yang mengitari tubuhnya. Sebuah bola energi keluar dari tangan An Ning untuk bersiap melawan Wu Jin Ming.
Di bawah kaki Wu Jin Ming pijakan mantra terus bermunculan seiring langkahnya. Pijakan mantra itu terbang sesuai yang Wu Jin Ming inginkan. Seperti sebuah lempengan yang terbang berputar, mantra-mantra itu menyerang siluman naga.
Seperti sebelumnya, siluman naga An Ning menghindari serangan itu sehingga mantra yang terlempar ke arahnya melesat mengenai apa saja di sekitarnya. Ledakan yang keras terdengar di mana-mana saat pijakan mantra Wu Jin Ming mendarat di sebuah tempat. Alam dimensi milik An Ning menjadi hancur berantakan.
"Kamu sudah mengobrak abrik dimensiku! Rasakan ini!"
An Ning melemparkan bola-bola energi ke arah Wu Jin Ming namun sia-sia. Bola-bola energi itu tersedot oleh lubang dimensi Wu Jin Ming yang berada di dalam telapak tangannya. Saat An Ning berhenti Wu Jin Ming mengembalikan bola-bola energi itu ke arah An Ning.
Tubuh An Ning bergerak ke sana ke mari untuk menghindari bola energi miliknya sendiri. Karena banyaknya bola energi itu, An Ning kewalahan menghindar.
Duaaarrr!
Sebuah bola energi menghantam tubuh An Ning. Beberapa bola energi yang tersisa kembali menghantam tubuhnya hingga membuatnya mengalami luka dalam yang sangat serius. Satu bola energi saja sudah membuat aliran darahnya menjadi kacau, apalagi lebih dari tiga bola api menghajar tubuhnya.
Senjata makan tuan. Itulah kata-kata yang tepat untuk An Ning. Dia mampu melawan kekuatan yang besar namun tidak bisa menghadapi kekuatannya sendiri.
"An Ning!" teriak bibi Ning. Berlari mendekati putranya yang sekarat terkena energinya sendiri.
"I... bu.... Ma... afkan... aku...." Terlihat An Ning memaksakan diri untuk berbicara. Baju yang dia pakai tercabik-cabik oleh energi yang telah melukainya.
"Sudah jangan bicara lagi!" Bibi Ning memeluk putranya dan menemaninya di saat-saat terakhirnya. Kenangan di antara mereka berdua melintas dalam ingatannya. Tanpa dia sadari air matanya menetes membasahi pipinya yang terlihat keriput. Bibi Ning tidak menyalahkan Wu Jin Ming yang telah menghabisi putranya karena di sini putranya lah yang bersalah.
Wu Jin Ming turun dan berubah menjadi Tiger Wu sebagai wujud manusianya. Luka bekas tusukan pedang An Ning di bahunya telah menghilang seiring perwujudan dewanya. Melihat Rubby masih tergeletak tak berdaya, Wu Jin Ming segera berlari ke arahnya.
Rupanya An Ning sudah menanamkan segel rahasia si tubuh Rubby. Entah segel macam apa itu, kekuatan Wu Jin Ming tidak bisa menembusnya. Wu Jin Ming melirik ke arah bibi Ning dan An Ning yang saat ini juga sedang menatapnya. An Ning melambaikan tangannya lemah meminta Wu Jin Ming untuk membawa Rubby mendekat ke arahnya.
Merasa aura jahat siluman naga telah menghilang, Wu Jin Ming pun menggendong tubuh Rubby dan membawanya mendekat ke arah An Ning.
Untuk beberapa saat An Ning terlihat memandangi wajah Rubby dengan perasaan yang mendalam. Air matanya terlihat menetes di sudut matanya dan dadanya sedikit berguncang. Merasa kematiannya semakin dekat, siluman naga An Ning ingin melakukan kebaikan di penghujung hidupnya.
__ADS_1
Tangannya meraih tangan Rubby lalu menghilangkan pengaruh mantra rahasia miliknya agar Rubby bisa segera tersadar. Dalam proses pelapasan segel itu An Ning juga mengalirkan energi kultivasi miliknya ke dalam tubuh Rubby sebagai tanda cintanya. Setidaknya kekuatan roh miliknya bisa terus bersamanya meskipun mereka tidak bisa bersatu.
Mata An Ning tertutup seiring berakhirnya pelepasan segel rahasianya selesai. Tubuhnya perlahan-lahan menghilang dan tidak meninggalkan bekas sama sekali. Bibi Ning mengusap air matanya saat tubuh An Ning benar-benar hilang dari pangkuannya.
"Maafkan aku, Bibi! Aku tidak bermaksud untuk membunuhnya! Aku sendiri juga tidak tahu jika kelemahannya adalah kekuatannya sendiri." Nada penyesalan tergambar jelas dalam ucapan Wu Jin Ming.
"Kamu tidak salah, Nak! Putraku lah yang telah mengganggu kalian lebih dulu. Harusnya bibi yang meminta maaf kerena datang terlambat."
"Kita sama-sama salah!" satu ucapan Wu Jin Ming mengakhiri perdebatan mereka berdua.
Rubby terlihat menggeliat. Berangsur-angsur dia mulai sadar. Ada yang berubah dari tubuhnya, mungkin efek dari roh naga yang tertanam di tubuhnya.
"Panas...! Panas!" teriak Rubby sambil menggaruk-garuk kulitnya yang terasa gatal dan panas.
Wu Jin Ming tampak kebingungan dan berusaha menyalurkan energinya ke dalam tubuh Rubby.
"Tenanglah, Nak! An Ning memberikan kekuatannya untukmu. Keliatannya dia benar-benar jatuh cinta padamu. Duduklah dengan benar lalu berkultivasilah. Stabilkan energi itu dan buatlah dia menyatu dengan energimu yang lain!" Bibi Ning memberi arahan pada Rubby.
"An Ning?! Siapa An Ning?" tanya Rubby dengan wajah bingung.
"Hmm."
Rubby mulai memposisikan tubuhnya untuk melakukan meditasi. Tubuhnya memancarkan cahaya berwarna biru dan juga putih bercampur keemasan. Cahaya itu membumbung tinggi ke atas lalu berputar dan perpendar.
Wajah Rubby timbul sisik lalu menghilang. Itu terjadi berulang-ulang hingga sebuah cahaya berbentuk seekor naga berhasil keluar dari dalam tubuhnya dan membumbung tinggi ke atas menembus energi yang berputar itu. Rubby berhasil mengendalikan roh naga api milik An Ning dan membuatnya terpisah dari raganya.
Tatapan kagum dari Wu Jin Ming dan bibi Ning menyambut berakhirnya kultivasi yang dilakukan oleh Rubby.
"Kamu berhasil, Nak! Gunakan kekuatan itu dengan bijak. Jangan kamu gunakan untuk menindas yang lemah ataupun sekedar bermain-main dengan lawanmu." Bibi Ning kembali memberi nasehat.
"Apa yang sudah aku lewatkan, Bibi, Kak Wu?" Rubby berusaha meminta penjelasan.
__ADS_1
Bibi Ning menatap Wu Jin Ming seakan memintanya untuk merahasiakan apa yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa, Sayang! Tadi hanya ada seorang siluman naga yang mengacau saja. Dia pergi setelah memberikan kekuatannya padamu." penjelasan Wu Jin Ming sedikit tidak masuk akal.
"Benar begitu, Bibi?" Tidak puas dengan jawaban Wu Jin Ming, Rubby beralih menatap Bibi Ning dan meminta penjelasan darinya.
"Beb... benar, Nak! Ayo kita keluar dari sini!" seru bibi Ning.
"Oh, iya! Ini di mana? Perasaan tadi itu malam hari dan aku sedang tertidur. Dimensi apa ini? Apa siluman naga itu yang membawa kita ke sini?"
"Iya. Ayo!"
Bibi Ning beranjak berdiri lalu berjalan mendahului mereka berdua menuju sebuah batu besar di tepi danau. Tangan bibi Ning terangkat ke depan membuat sebuah segel mantra yang berbentuk segi delapan dengan beberapa simbol di dalamnya. Telapak tangan bibi Ning mengeluarkan cahaya keemasan lalu ia menempelkannya pada sebuah simbol dan memutarnya.
Perubahan seketika terjadi. Mereka kembali berada di home stay tempat mereka menginap sebelumnya. Mereka bertiga berdiri di depan kamar yang di sewa oleh Rubby dan Wu Jin Ming.
"Terimakasih, Bibi!" seru Wu Jin Ming.
"Sama-sama! Hari sudah hampir pagi! Beristirahatlah!" ucap bibi Ning sebelum pergi meninggalkan mereka. Dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya mengingat kepergian An Ning.
Setelah bibi Ning menghilang di balik dinding papan, Wu Jin Ming dan Rubby masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Lagi-lagi Wu Jin Ming berkultivasi ketika Rubby tertidur lelap. Kekuatannya banyak sekali yang terkuras dan luka tusuknya masih terasa meskipun sudah tidak berbekas. Dia harus mengatasi itu semua sebelum bertambah parah.
Di ruangan lain, bibi Ning menyalakan lilin dan membuat sebuah patung naga berukuran kecil untuk mengenang putranya.
****
Bersambung...
Rubby
__ADS_1
Wu Jin Ming