TIGER WU

TIGER WU
KEGALAUAN ARLAN


__ADS_3

Arlan menjatuhkan tubuhnya di kasur. Hatinya kacau memikirkan Rubby yang entah di mana. Arlan tahu dia salah karena tidak pernah menghubungi Rubby selama di luar negeri, tapi tidak seharusnya Rubby berubah dan mengacuhkannya seperti ini. Sejauh apa hubungan Rubby dengan pacar barunya itu. Arlan menutup matanya, mencoba menghapus bayangan Rubby yang terus menari di pelupuk matanya.


"Arlan... Jika kita besar maukah kamu menikah denganku?" Rubby kecil terus saja bertanya seperti itu ketika mereka bermain bersama.


"Kau jadi putri yang paling berkilau dulu baru aku akan menikah denganmu. Kamu saja masih sering menangis, pasti telingaku akan sakit jika kamu menjadi istriku." Arlan kecil sering menggoda Rubby.


"Ya, sudah kalau tidak mau. Aku akan mencari pangeran tampan untuk melamarku." Rubby tak memutar tubuhnya ke arah lain.


"Mana ada pangeran yang suka sama gadis jelek sepertimu," ejek Arlan.


"Tante Sofi... Arlan jahat... Huuaaaa..." Rubby berlari ke ruang tengah menyusul Sofi yang sedang merajut sebuah tas tangan.


"Arlan... Kamu itu ya, suka banget godain Rubby." Sofi meletakkan alat rajutnya. Sofi meraih Rubby ke dalam pelukannya.


"Siapa sih, Ma, yang godain Rubby. Dianya aja yang cengeng," seloroh Arlan sambil duduk di depan mamanya.


"Bohong, Tante. Tadi dia bilang Rubby jelek. Arlan nggak mau nikah sama Rubby. Hu... huuuu..." Rubby masih menangis sesenggukan.


"Tar beneran aku nikahin lho, Arlan. Biar kalian bisa akur," ucap Sofi balik menggoda Arlan.


"Ihh, Mama... Siapa juga yang mau nikah sama gadis cengeng seperti dia. Kekanak - kanakan!" elak Arlan.


"Ha ha ha... Kamu pikir kamu udah besar apa? Kalian itu sama saja. Sama - sama anak kecil. Udah ah, jangan berantem lagi. Mama ambilin es krim, tapi kalian baikan dulu." Sofi tertawa meliat kedua bocah yang saling bertengkar itu.


"Rubby cantik, maafkan aku, ya!" Arlan mengulurkan tangannya.


"Mau dapet es krim aja bilang aku cantik." bibir Rubby maju beberapa inci sambil melirik jengah ke arah Arlan.


"Beneran kamu cantik kog. Aku suka aja kalau liat kamu ngambek. Lucu." Arlan menjelaskan dengan gaya cueknya.


"Tuh kan. Sekarang kamu tau kan Rubby. Arlan itu sebenarnya suka sama kamu. Tapi gengsi. Mama setuju kog kalau kalian sudah besar beneran nikah." Sofi beranjak dari duduknya untuk mengambil es krim di kulkas.


"Mama!" teriak Arlan yang merasa malu mendengar ucapan mamanya.


Rubby merasa senang atas ucapan Arlan dan mamanya. Saat itu dia tidak tahu apa arti sebuah pernikahan. Dia hanya terobsesi dengan dongeng yang di bacakan maminya. Baginya sosok tampan Arlan mirip seperti pangeran dalam cerita dongeng.


"Yeee, anak mama malu - malu." sambil berjalan Sofi masih terus terkekeh menggoda Arlan.

__ADS_1


Arlan tersadar dari lamunan masa kecilnya. Dia merindukan saat - saat yang dia lalui bersama Rubby. Mereka dulu tak terpisahkan, sampai - sampai mereka di kira sepasang anak kembar. Maminya Rubby yang sibuk bekerja sering menitipkannya di tempat Arlan. Sofi juga sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Rubby... aku merindukanmu," guman Arlan masih dengan mata yang terpejam.


•••••


Wu Jin Ming tidak bisa tidur. Dia terus membolak balikan badannya. Ingin rasanya dia memulai kultivasi lebih awal, tapi dia tidak tega meninggalkan Rubby berkultivasi sendiri nantinya.


Hati - hati Wu Jin Ming membuka selimutnya dan melepaskan diri dari pelukan Rubby. Sebelum pergi dia meniupkan mantra ke mata Rubby agar dia bisa tahu jika Rubby terbangun nanti. Sudah lama dia tidak menikmati kebebasannya setelah lama betapa di hutan larangan.


Sebelum Wu Jin Ming pergi, dia mengeluarkan barang belanjaan Rubby dulu dari cincin penyimpanannya. Dia menatanya di atas meja. Setelah semuanya beres, dia kemudian merubah tampilannya menjadi seperti seorang pengembara dengan hanfu putihnya.


Cup.


Sebuah ciuman dari Wu Jin Ming mendarat di kening Rubby.


Secepat kilat Wu Jin Ming menembus dinding dan atap rumah Rubby. Dia berdiri di atas atap lalu melompat tinggi ke atas awan. Dengan kekuatan spiritualnya dia melukis simbol di atas awan untuk dia duduk bermeditasi.


Cahaya terang keluar dari tubuh Wu Jin Ming. Energi pengontrol mata batin di aktifkan. Energi yang hampir mencapai tingkat Dewa. Hal ini bisa terjadi karena dia menyerap kekuatan dari dua dunia yang berbeda setelah menikah dengan manusia.


Cahaya - cahaya bermunculan di hamparan permukaan bumi. Hanya Wu Jin Ming yang bisa melihatnya. Dia bisa melihat titik - titik cahaya yang menjadi pusat energi siluman. Wu Jin Ming ingin tahu apakah Zhu Zheng sudah bangkit kembali atau belum. Dia harus berhati - hati karena ini menyangkut keselamatan Rubby.


"Kak Tiger!" suara Rubby menggema di ruang batin Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming segera mengakhiri penyelidikannya. Dia harus segera kembali sebelum Rubby kebingungan mencarinya. Wu Jin Ming melukis simbol teleportasi dan dalam sekejap mata dia sudah sampai di kamar Rubby.


Rubby tersentak ketika melihat Wu Jin Ming tiba - tiba muncul di hadapannya.


"Kakak dari mana?" tanya Rubby sambil mengusap airmatanya.


"Kau menangis, Rubby?" Wu Jin Ming memegang pipi Rubby.


"Aku tanya, Kakak, dari mana?" muka Rubby berubah cemberut.


"Aku hanya berjalan - jalan keluar sebentar, Rubby," ucap Wu Jin Ming berusaha mendekat ke arah Rubby namun Rubby menghindarinya.


"Apa kau marah?" tanya Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Hiks.. hiks... pasti Kakak pergi diam - diam untuk bertemu siluman cantik kan?" Rubby menelungkupkan wajahnya di bantal sambil menangis.


"Bukan. Buat apa aku bertemu siluman, istriku saja manusia cantik reinkarnasi seorang Dewi yang sangat hebat," rayu Wu Jin Ming.


"Kakak, nggak bohong, kan?" tanya Rubby masih dalam mode ngambek.


"Mana mungkin aku membohongimu. Aku hanya mencintaimu Rubby. Aku sudah menunggu saat seperti ini selama ribuan tahun lamanya," jelas Wu Jin Ming dengan lembut.


"Iya, tapi Kakak tadi kemana?" Rubby kembali bertanya. Level kekesalannya sudah mulai menurun satu tingkat.


"Aku pergi ke atas awan untuk melihat titik - titik energi siluman yang berada di sekitar kita." Wu Jin Ming masih menutupi kekhawatirannya akan kemunculan Zhu Zheng agar Rubby tidak merasa takut.


"Beneran cuma itu saja." nada bicara Rubby sudah mulai melembut.


"Iya. Aku pergi baru sebentar, Rubby. Aku tidak bohong." Wu Jin Ming mulai berbicara tegas.


"Iya... iya... ini udah tengah malam, kita jadi mulai bermeditasi nggak?"


"Kendalikan emosimu terlebih dulu, Rubby. Kamu akan sulit berkonsentrasi jika masih marah."


"Enggak. Siapa juga yang marah. Tadi aku cuma takut. Takut Kakak pergi meninggalkanku sendiri," jujur Rubby.


"Itu tidak akan terjadi. Ayo kita mulai!"


"Hmm." Rubby mengangguk.


Rubby menyiapkan dua matras seperti biasa. Mereka duduk di atas matras saling berhadapan. Tanpa perlu banyak penjelasan lagi, kini Rubby sudah bisa memulai kultivasinya sendiri.



Wu Jin Ming



Rubby


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2