TIGER WU

TIGER WU
PENGECUT


__ADS_3

Wu Jin Ming dan Rubby terkepung di tengah. Mereka harus bersiap untuk menghadapi ketua sekte dan para tetua yang terlihat akan menyerang mereka secara bersamaan. Rubby dan Wu Jin Ming kembali mengatur posisi saling membelakangi seperti sebelumnya.


"Rubby, keluarkan pedang meteor milikmu!" ucap Wu Jin Ming sebelum dia mengeluarkan pedang legenda miliknya.


"Baik!"


Pedang meteor milik siluman laba-laba yang selama ini dia simpan, kini dia keluarkan untuk pertama kali.


Mata para tetua Sekte Air Api Suci terbelalak melihatnya. Itu adalah pedang yang sangat populer di kalangan kultivator dan pemburu kekuatan. Tidak di sangka pedang itu berada di tangan Rubby.


Belum hilang keterkejutan mereka akan pedang meteor, kini mata mereka kembali disuguhkan dengan kemunculan pedang legenda terhebat sepanjang masa. Pedang Naga Api Suci atau yang lebih dikenal sebagai pedang legenda pendekar Chin begitu berkilau di tangan Wu Jin Ming. Energi pedang itu sudah berhasil ditekan dan dikendalikan oleh Wu Jin Ming, namun masih sangat terasa gelombangnya yang begitu besar.


Para tetua terlihat pucat pasi melihat kejutan demi kejutan di hadapannya. Mereka tidak menyangka jika akan berhadapan dengan sepasang pemain pedang legendaris. 'Pantas saja jurus pedang mereka terlihat sangat hebat, rupanya mereka punya pedang sakti yang bisa diandalkan,' Guru Tong tertegun.


'Aku pasti bisa melawan mereka dan mendapatkan kedua pedang itu.' Guru Tong mencoba menghibur diri dengan keinginannya yang terlampau tinggi. Bisa di bilang jika ini adalah sebuah obsesi.


.


Wu Jin Ming mengangkat pedangnya ke atas, bersamaan dengan itu gemuruh petir terdengar begitu dekat di atas pondok yang mereka tempati.


Udara yang tadinya begitu tenang kini berhembus kencang seperti akan terjadi badai besar.


Nama Pendekar Chin tidak asing di dalam dunia persilatan, di mana dia merupakan manusia pertama yang memiliki tingkat energi setara dengan Dewa hingga dia bisa hidup beribu-ribu tahun lamanya terlepas dari pernikahannya dengan Ratu Ivo.


Kaki para tetua bergetar ketika merasakan kekuatan pedang itu semakin besar dan terus menimbulkan badai yang dahsyat. Barang-barang yang memiliki berat ringan, beterbangan di mana-mana hingga membuat ruangan kecil itu menjadi sangat berantakan.


Tidak ingin ketinggalan, Rubby pun ikut mengangkat tangannya ke atas bersama pedang miliknya berharap pedang itu juga akan menunjukkan kuasanya meskipun Rubby belum berhasil mengontrok kekuatan menyeluruh yang ada di dalamnya.


Benar saja, Pedang meteor yang ada di tangannya kini mulai memancarkan cahayanya ke langit.


Aliran listrik bertegangan tinggi mengalir di dalam pedang milik Rubby yang membuat tubuhnya juga teraliri oleh listrik.

__ADS_1


Suasana di dalam ruangan berubah menjadi sangat mencekam.


Rubby menunjuk sebuah lampu dengan pedangnya maka seketika lampu itu meledak bersama dengan seluruh kabel-kabel yang dialiri arus listrik terbakar.


Keadaan hari yang memang sudah sore ditambah lagi dengan lampu yang padam membuat ruangan itu gelap. Hanya cahaya terang dari kedua pedang legenda yang mendominasi.


Suasana di luar pun tidak kalah mencekam. Awan hitam tebal bergulung-gulung menyelimuti langit Sekte Air Api Suci. Terdengar jerit ketakutan para murid dan semua orang yang tinggal di sana tatkala mendengar petir yang seakan berada di atas kepala mereka.


Guru Tong tampak berpikir untuk melanjutkan pertarungan ini atau tidak.


Ada dua pilihan untuknya yaitu mundur dan di anggap pengecut demi menyelamatkan seluruh anggota sektenya atau tetap maju menjadi ksatria yang belum tentu menang melawan dua legenda pedang di depannya.


Melawan salah satu legenda pedang saja mereka belum tentu mampu, apalagi dua.


Rubby mengagumi kecerdasan Wu Jin Ming saat melihat wajah-wajah kacau para tetua sekte. Tanpa harus membuka identitasnya, rupanya dengan pamer kekuatan saja sudah membuat mereka ketakutan. Banyak sekali muncul ide usil di kepala Rubby untuk mengerjai para tetua itu namun urung dia lakukan sebelum mereka mendahului untuk menyerang.


Wu Jin Ming bersiap-siap menyerang ketika Guru Tong berjalan maju ke arahnya. Pedangnya dia ayunkan perlahan ke depan hingga sejajar dengan bahunya. Sejauh tiga meter dari ujungnya masih mengeluarkan kumparan energi yang menyalak siapapun yang mendekatinya.


"Tuan Pendekar. Aku menyerah!" ucapnya sambil berlutut di hadapan Wu Jin Ming.


Apa yang dilakukan oleh Ketua Sekte itu membuat semua tetua dan seluruh anggota sekte yang ada di sana terperanjat.


Mereka tidak menyangka jika sang ketua tiba-tiba menjadi seorang pengecut. Ada pro dan kontra di antara mereka yang membentuk mereka menjadi dua kubu. Satu ikut menyerah dan satu kubu yang lain tetap menyerang.


"Kak Wu! Jangan percaya!" seru Rubby.


Wu Jin Ming masih terdiam menunggu reaksi para tetua.


Apa yang dikatakan Rubby tidak sepenuhnya salah. Seorang tetua yang berada di paling ujung maju untuk melakukan serangan dan lemparan energi.


Duaarrr!

__ADS_1


Energi yang dia lempar di tangkis oleh Rubby dengan pedangnya dan jatuh mengenai dinding hingga berlubang.


Rubby mengarahkan ujung pedangnya pada laki-laki itu yang membuat tubuhnya seperti tersengat oleh aliran listrik bertegangan tinggi.


"Aarrrgghh!" laki-laki itu berteriak meregang nyawa dengan tubuh yang menghitam dan berasap karena terbakar.


Melihat itu, Ketua Sekte kembali berdiri.


"Dengarkan Para Tetua! Aku sudah menyerah. Setelah ini kalian berhak memilih ketua Sekte yang baru jika tidak setuju dan menganggapku lemah! Pikirkan teriakan anak-anak yang berada di luar ruangan ini!" ucap Guru Tong lantang.


Semua tetua sekte terdiam. Menurutnya apa yang dikatakan oleh Guru Tong memang benar. Mereka juga melihat di depan mata mereka sendiri, seorang tetua mati mengenaskan dalam sekejap saat mencoba melawan.


Satu persatu mereka menjatuhkan diri berlutut dihadapan Wu Jin Ming dan Rubby mengikuti Guru Tong yang sudah kembali berlutut sebelum mereka.


"Aku tidak butuh kepatuhan kalian. Aku hanya ingin tetap memiliki kertas mantra itu dan keluar dari sini dengan aman." Wu Jin Ming akhirnya mulai berbicara.


"Kami tidak akan menuntut itu lagi, Tuan Pendekar!" ucap Guru Tong pasrah.


Wu Jin Ming tidak puas dengan jawaban itu. Dia tiba-tiba berpikir untuk mendapatkan kelanjutan kertas mantra yang sebagian masih mereka simpan. Pasti lanjutan mantra penyatuan jiwa itu juga memiliki peran penting dalam prosesnya.


"Aku punya satu persyaratan untuk membebaskan kalian!" seru Wu Jin Ming.


"Katakan saja Tuan. Selama itu bukan nyawa kami dan permusuhan maka kami tidak bisa menolaknya." Guru Tong menatap Wu Jin Ming heran.


"Berikan bagian kertas mantra yang terpotong dari kertas mantra yang aku bawa!"


Mendengar permintaan Wu Jin Ming yang seolah merupakan perintah yang harus ditaati, Guru Tong tidak banyak berpikir lagi. Dia mengeluarkan kertas itu dari dalam cincin penyimpannya mengingat atap dan tiang penyangga ruangan yang mereka tempati mulai goyah. Tentu ruangan dan kamar-kamar yang lain tidak jauh berbeda. Badai lokal akibat pedang legenda bisa memporak-porandakan rumah jika tidak segera dihentikan.


****


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2