
"Kakak, kenapa kamu memberiku sepatu sport sih?" tanya Rubby kesal. Saat ini Rubby dan Wu Jin Ming sedang berjalan pulang menunju rumahnya.
"Kan tadi kita buru-buru. Kamu juga sih, bukannya melek malah jalan sambil merem. Nggak lihat kan kalau sepatunya salah."
"Iya juga, sih. Ini aku sudah ngantuk lagi. Eh, tapi kado dari tante Sofi kamu taruh di mana, Yang?" tanya Rubby. Dia hampir lupa untuk membuka kado itu.
"Di kulkas," jawab Wu Jin Ming santai.
Rubby menepuk jidatnya mendengar kekonyolan yang dilakukan oleh Wu Jin Ming.
"Kamu kira kado itu makanan. Hais... aneh-aneh aja kamu, Sayang."
"Aku nggak tahu. Aku masukin aja bareng kuenya. Kebetulan sampai sekarang kita juga belum memakan kuenya."
Sesampainya di rumah, mereka langsung membuka kulkas untuk memeriksa kado yang disimpan di sana oleh Wu Jin Ming. Benar saja, kado dari Sofi masih tersimpan rapi di sana. Hanya saja bentuk pembungkusnya sudah tidak beraturan.
Dengan antusias Rubby membuka kado dari Arlan dan Sofi. Arlan memberinya sebuah tas branded keluaran terbaru sedangkan Sofi memberinya sebuah kalung dengan liontin berlian yang berkilau. Wu Jin Ming membantu memakaikannya.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Aku juga punya sesuatu untukmu." Wu Jin Ming mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya.
Sepasang anting giok yang sangat cantik berwarna hijau kebiruan Wu Jin Ming berikan untuk Rubby.
"Wow, cantik sekali! Aku akan memakainya sekarang." Rubby melepaskan tindik yang sedang dia pakai saat ini dan menggantinya dengan anting yang Wu Jin Ming berikan untuknya.
"Secantik pemakaiannya." Tatapan penuh kekaguman Wu Jin Ming membuat Rubby tersipu.
"Kamu juga sangat tampan. Apa aku boleh meminta satu hal lagi?" tanya Rubby.
"Katakan saja. Asal bukan hal yang aneh dan masuk akal pasti aku penuhi."
__ADS_1
"Ih, curigaan banget, sih! Mentang-mentang aku suka iseng. Aku cuma minta gendong ke kamar aja kok. Udah ngantuk banget. Males jalan," ucap Rubby manja.
"Kalau minta gendong yang ada kamu nggak akan tidur setelah ini. Apa kamu berani membayar konsekuensinya?" Wu Jin Ming balik bertanya.
"Bayarnya nggak pakai duit kan?" Rubby mengedipkan sebelah matanya.
Tanpa menunggu aba-aba lagi Wu Jin Ming segera menggendong Rubby ke kamarnya. Bukannya tidur mereka malah melakukan hal yang lain. Pasangan yang bahagia dengan hal sederhana yang mereka lakukan bersama setiap harinya.
....
"Aarrrgghh!" Teriak seorang pemuda yang tak lain adalah Moza. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa sakit. Jiwanya berusaha mendorong jiwa lain yang menguasai tubuhnya.
"Yang Mulia! Yang Mulia kenapa?" Panglima Chen terlihat panik melihat Raja Kegelapan yang terlihat kesakitan.
"Berhenti! Jangan mendekat!" teriak Moza yang saat ini menguasai tubuhnya.
Panglima itupun berhenti karena mengira Moza adalah rajanya. Sebenarnya dia merasa tidak tega melihat Moza yang terlihat kesakitan dan terus memegangi kepalanya. Mungkin rasa sakit yang dia rasakan sangat menyiksa sampai-sampai Moza jatuh berlutut di lantai.
"Huhh, sial! Bocah itu berusaha untuk mengendalikan tubuhnya kembali." Raja Kegelapan mengibas-ngibaskan tangannya untuk merapikan penampilannya yang berantakan oleh ulah Moza.
"Ampun Yang Mulia. Hamba tidak menolongmu. Tetapi hamba juga tidak tahu bagaimana cara menolongmu," ucap Panglima Chen.
"Kamu tidak akan bisa menolongku. Bocah tengik itu juga berada dalam tubuh ini. Jika kamu membunuhnya akibatnya juga akan buruk padaku," jelas Raja Kegelapan.
Panglima Chen mengangguk.
"Pergilah untuk memperbanyak pasukan. Aku akan bermeditasi." Raja Kegelapan berbalik dan duduk bermeditasi di atas sebuah batu hitam.
Panglima Chen berubah menjadi asap hitam dan terbang keluar dari dalam goa. Dia pergi untuk mencari mangsa dan mengawasi pasukannya yang sedang mencari pengikut yang bersedia menjadi hamba dari Raja Kegelapan. Mereka berkeliling siang malam untuk melakukan tugasnya. Mereka berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain.
__ADS_1
Ketika terbang di atas sebuah wilayah, Panglima Chen melihat sebuah cahaya berkilauan di sana. Panglima Chen merendahkan posisi terbangnya dan mencoba melihatnya dari dekat. Rupanya itu adalah sebuah pedang yang ada dalam legenda. Pedang itu tertancap dalam sebuah batu yang menelan setengahnya.
Tidak ada siapapun di sana. Panglima Chen mencoba peruntungan untuk mencabutnya. Siapa tahu pedang itu cocok dengannya.
Pertama-tama Panglima Chen mencabutnya tanpa tenaga, tapi tidak berhasil. Kedua kalinya dia mencabutnya sekuat tenaga, tetap tidak berhasil. Ketiga kalinya panglima itu mengalirkan energi untuk mencabutnya, masih juga tidak berhasil. Cara yang terakhir, panglima yang sudah tersulut emosi itu mengerahkan seluruh kekuatannya dan berniat untuk memecahkan batu yang menjadi tempat pedang itu bersarang.
Duaarrr!
Ledakan energi yang dashyat membuat tubuh Panglima Chen terpental jatuh ke belakang. Sebelum terjatuh tubuh Panglima Chen sempat membentur sebuah pohon besar. Dia meringis kesakitan.
"Sial! Pedang Naga Api Suci itu tidak bisa ku cabut. Uhukk... uhuk...." Panglima Chen terbatuk dan mengeluarkan darah di mulutnya. Dia segera duduk bersila untuk menutup pembuluh darahnya yang pecah akibat terluka dalam.
Pedang Naga Api Suci merupakan pedang legenda yang pernah dimiliki oleh seorang pendekar sakti. Pedang itu terbuat dari campuran batu meteor dan besi abadi yang keluar dari tengah gunung berapi. Kekuatannya sangat dahsyat dan akan semakin dahsyat jika dipadukan dengan energi si pemilik yang mumpuni.
Setelah tenaganya pulih, Panglima Chen memilih untuk meninggalkan tempat itu. Dia masih sayang nyawanya. Pedang itu hampir saja membunuhnya.
...
Telinga Wu Jin Ming berdenging. Seperti ada sebuah energi yang memanggilnya. Wu Jin Ming terduduk. Rela tidak rela dia harus pergi sebentar untuk meninggalkan Rubby yang tertidur pulas.
Sebelum pergi Wu Jin Ming mengecup kening Rubby dan menaunginya dengan mantra perlindungan. Dengan cara itu, Wu Jin Ming akan tahu jika terjadi sesuatu padanya. Setelah puas memandangi wajah cantik Rubby, Wu Jin Ming segera menghilang dari sana.
Wu Jin Ming terbang melayang di udara. Dia melihat ke sana kemari untuk mencari sumber energi yang terhubung dengannya. Gelombang energi itu semakin terasa dekat, Wu Jin Ming memelankan laju terbangnya dan menurunkan ketinggiannya.
Sinar kemilau yang menyilaukan mata mulai terlihat. Gelombang energi itu rupanya berasal dari san. Wu Jin Ming berjalan mendekati sinar itu yang tak lain adalah pedang legenda yang tadi diincar oleh Panglima Chen.
"Sepertinya tadi ada yang baru saja datang ke sini untuk mencabut pedang ini. Jejak energinya masih sangat terasa. Sepertinya bukan dari kalangan manusia," gumam Wu Jin Ming setengah berbisik.
Wu Jin Ming mengamati pedang itu sebelum mencabutnya. Untuk mengetahui pedang itu selaras denganya atau tidak, Wu Jin Ming mengalirkan energi di telapak tangannya. Telapak tangannya memancar cahaya putih terang yang tak kalah menyilaukan. Perlahan dia mengarahkannya pada pedang itu.
__ADS_1
****
Bersambung...