TIGER WU

TIGER WU
Bab 261. Apa yang terjadi?


__ADS_3

Dewa Langit dan Dewa Gunung yang baru datang ke sana segera membantu Dewa Api berdiri. Mereka bertiga menatap ke arah ruangan yang masih terang benderang itu dari kejauhan, berjaga-jaga jika ada hal yang mengejutkan kembali terjadi. Perlahan cahaya terang itu mulai memudar, ketiganya berjalan mendekat ke arah pintu untuk melihat keadaan yang ada di dalam ruangan.


Mereka berjalan perlahan sambil tetap waspada. Dewa Langit berada di paling depan dan kedua dewa lainnya berada di belakangnya. Sepertinya Dewa Api sedikit merasa trauma setelah terlempar, padahal sebelumnya dia termasuk sebagai Dewa yang pemberani.


Dewa Langit menggelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir dengan kedua dewa itu.


Dari dalam ruang penyatuan jiwa terlihat seorang pemuda berambut putih dengan hanfu warna senada, berjalan berdampingan dengan seorang gadis yang memiliki warna rambut yang sama memakai hanfu warna jingga.


Ketiga dewa yang berdiri di depan pintu ruangan itu, menatap keduanya tak berkedip. Keduanya memiliki wajah dan penampilan yang baru, namun memiliki senyuman yang sangat tidak asing bagi mereka. Aura energi dasyat dengan tekanan yang besar, memaksa ketiganya untuk beringsut mundur ke belakang.


"Salam hormat, Yang Mulia Dewa Langit, Dewa Api, dan Dewa Gunung." Wu Jin Ming dan Rubby menyatukan kepalan tangan kanan dan telapak tangan kirinya sebagai tanda penghormatan.


"Diberkatilah kalian berdua." Wajah Dewa Langit masih diselimuti oleh rasa penasaran.


Dewa Api dan Dewa Gunung pun terlihat saling berpandangan merasa asing dengan Wu Jin Ming dan Rubby.


"Maafkan kami jika membuat Yang Mulia terkejut. Kami berhasil melakukan penyatuan jiwa dan mendapatkan wujud ini," jelas Wu Jin Ming.


Mendengar kata-kata itu, mereka bertiga akhirnya yakin jika kedua pasangan ini adalah Wu Jin Ming dan Rubby.


Ketiga dewa tersenyum penuh haru. Satu persatu mereka memberikan ucapan selamat pada keduanya. Mereka sangat bersyukur, Wu Jin Ming dan Rubby telah melewati pertarungan hidup dan mati di dalam proses penyatuan jiwa dengan selamat.


Di aula istana langit Wu Jin Ming dan Rubby sudah ditunggu oleh seluruh penghuni istana langit. Mereka menyiapkan sambutan yang sangat meriah untuk mereka berdua, bahkan sudah dipersiapkan sejak awal penyatuan jiwa di mulai. Seluruh penjuru aula didekorasi dengan apik, menghadirkan nuansa pesta penyambutan yang sangat meriah.


Wu Jin Ming dan Rubby menjadi pusat perhatian sejak mulai menginjakkan kaki di aula itu hingga berdiri di atas altar bersama para Dewa.


Semua yang hadir di sana berdecak kagum melihat penampilan baru Wu Jin Ming dan Rubby yang terlihat sangat memukau. Sebagian lain bukan lagi merasa kagum namun merasa ngeri saat merasakan aura energi yang dasyat dari keduanya. Sorot mata Wu Jin Ming dan Rubby memperlihatkan aura membunuh yang sulit dilawan.


Sebenarnya Wu Jin Ming dan Rubby sudah berusaha menekan dan menyembunyikan energinya agar tidak bocor keluar, namun karena energi mereka terlampau besar, energi itu masih terasa meskipun mereka menekannya.


Meskipun demikian, pesta tetap berlanjut dan berlangsung sangat meriah. Mereka bangga karena saat ini kekuatan tertinggi di dunia kultivasi dimiliki oleh Wu Jin Ming yang merupakan bagian dari istana itu. Dewa Langit tidak merasa tersaingi walaupun saat ini kekuatan Wu Jin Ming dan Rubby melampaui jauh di atasnya.


Kini Wu Jin Ming dan Rubby mendapat julukan baru dan menamai dirinya sebagai Dewa Suci dan Dewi Bintang Jingga.


Setelah puas berbincang-bincang bersama para dewa inti di atas altar, Wu Jin Ming membawa Rubby turun menyapa para dewa dewi yang sejak tadi sudah menunggu mereka.

__ADS_1


Para dewa dewi yang ikut meramaikan pesta itu merasa senang ketika Wu Jin Ming dan Rubby menyapanya. Bagi mereka, bisa berdekatan dengan Wu Jin Ming adalah suatu kehormatan. Alunan musik dan tarian dari para pengisi acara, menambah suasana di hari itu semakin meriah.


Meskipun wujudnya telah berubah dan kekuatannya meningkat, itu tidak membuat sifat konyol dan kekanak-kanakannya menghilang juga.


Saat perutnya terasa sangat lapar, dia mengendap-endap dan diam-diam pergi meninggalkan Wu Jin Ming untuk menikmati hidangan yang disajikan di bagian tepi ruangan.


Wu Jin Ming yang sedang asyik mengobrol dengan para dewa yang terus memberinya pertanyaan, tidak menyadari jika Rubby pergi dari sisinya.


Rubby tersenyum puas karena berhasil mengerjai Wu Jin Ming.


Sesampainya di dekat meja perjamuan pesta, Rubby sudah disambut oleh para dewi dan dayang-dayang istana yang ingin melayaninya. Rubby sangat senang menerima perlakuan manis mereka. Para dewi memintanya untuk duduk, dengan senang hati mereka mengambilkan apa yang diinginkannya.


Jika dilihat dari kejauhan, Rubby tidaklah tampak karena dikelilingi oleh para dewi yang mengerumuninya sejak kedatangannya di sana.


Para dewi merasa sangat senang karena ternyata Rubby adalah pribadi yang supel dan mudah akrab dengan siapa saja. Mungkin selama ini mereka tidak tahu karena Rubby hanya sesaat berada di istana langit. Dia ke sana hanya untuk menyelesaikan urusannya lalu kembali ke alam manusia. Berbeda dengan saat ini, Rubby bebas menghabiskan waktu di manapun dia mau. Wu Jin Ming belum mengatakan rencana mereka setelah ini.


Aula istana langit semakin ramai. Sebagian para dewa dewi ikut menari mengikuti musik yang mengalun indah. Para penari saling bergantian menyajikan keahlian mereka dalam seni.


Ketika selesai berbicara pada para dewa yang ada di hadapannya, Wu Jin Ming melihat ke samping untuk mencari keberadaan Rubby. Dia sedikit merasa bingung saat tidak mendapati Rubby di sana. Wu Jin Ming berjalan berkeliling sambil melihat-lihat ke sana kemari untuk mencari Rubby.


Beberapa kali dia terlihat bertanya pada dewa dewi yang ditemuinya berharap mereka tahu keberadaannya.


"By!" panggil Wu Jin Ming.


Semua orang melihat ke arahnya karena merasa aneh dengan panggilan itu.


"Dewi Bintang Jingga!" Wu Jin Ming meralat panggilannya.


Rubby yang semula sedang bercanda dengan para dewi akhirnya menoleh pada Wu Jin Ming setelah seorang dewi memberitahunya perihal kedatangan Wu Jin Ming.


Melihat suaminya menatapnya dengan wajah marah, Rubby memasang senyum termanisnya lalu beranjak dari duduknya.


Wu Jin Ming pura-pura cuek karena masih sangat dongkol padanya.


"Aku tadi laper banget, jadi ...." Rubby menggantung kalimatnya karena seorang dewi yang biasanya menjaga taman seribu jiwa berlari ke arah mereka.

__ADS_1


"Itu, ada yang mencari kita!" seru Rubby menunjuk ke arah dewi itu.


"Jangan membuat-buat alasan yang tidak masuk akal Rubby. Aku tahu, kamu pasti akan kabur lagi jika aku menoleh ke belakang." Wu Jin Ming tidak menghiraukan apa yang dikatakan Rubby.


"Aku beneran, suerr, deh!" seru Rubby.


Wu Jin Ming masih tidak bergeming dan tidak menoleh ke belakang.


Rubby yang merasa gemas, menarik tangan Wu Jin Ming agar memutar tubuhnya untuk berbalik dan melihat siapa yang datang.


"Sekarang kamu percaya, kan?" Sekarang giliran Rubby yang terlihat kesal.


Wu Jin Ming tersenyum malu.


"Salam hormat Dewa Suci dan Dewi Bintang Jingga!" Wajah dewi itu terlihat gelisah.


"Berkat kami untukmu, Dewi!" ucap Wu Jin Ming.


"Ampun, Dewa, saya telah mengganggu kesenangan Anda," ucap dewi itu lagi.


Rubby menatap Wu Jin Ming seolah memintanya untuk bertanya pada dewi itu.


"Apakah kamu membawa kabar yang penting untuk kami?" tanya Wu Jin Ming.


"Benar Dewa, ini menyangkut telur emas yang tersimpan di dalam teratai putih. Kami melihatnya bersinar sangat terang saat teratai itu terbuka. Kami merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus kami lakukan." Dewi itu menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Sayang, ayo kita ke sana!" rengek Rubby.


"Baiklah! Tapi kamu harus tenang. Jangan biarkan pikiranmu diracuni oleh kekhawatiran berlebihan!" ucap Wu Jin Ming.


Rubby mengangguk.


****


Bersambung ...

__ADS_1


Kak numpang promo novel karya temanku ya... terimakasih...



__ADS_2