
Semakin mengikuti arah jalan yang ditunjukkan di layar GPS maka Rubby dan Wu Jin Ming semakin jauh tersesat. Mereka baru menyadari setelah satu jam perjalanan di mana mobil yang mereka tumpangi malah masuk ke daerah terpencil yang dikelilingi perbukitan. Jalanan yang sepi tanpa adanya kendaraan yang lewat selain mobil yang mereka tumpangi.
“Sayang! Sepertinya ini bukan arah jalan menuju tempat Kak Lin, deh!” Rubby mencoba mengingatkan Wu Jin Ming yang masih fokus menyetir.
“Iya... benar! Kok bisa, ya? Perasaan aku cuma mengikuti arah dari GPS.”
“Coba aku lihat! Astaga, sayang! Cepat hentikan mobilnya!” seru Rubby.
“Kenapa Sayang?” Wu Jin Ming melirik layar GPS yang menunjukkan arah ke Gunung Wei.
Mereka terlanjur dekat dengan gunung itu dan hari sudah sore. Jika mereka kembali sekarang ke arah tujuan semula, kantor yang melayani jual beli rumah pasti juga sudah tutup. Wu Jin Ming meminggirkan mobilnya ke tepi jalan untuk berdiskusi dengan Rubby terlebih dahulu.
“Jadi, bagaimana sayang?” tanya Wu Jin Ming ketika mobil mereka sudah menepi.
Energi mereka sudah banyak terkuras saat bertarung melawan Joe si siluman babi sehingga tidak bisa melakukan teleportasi lagi sebelum memulihkan tenaganya.
“Gimana, ya? Aku juga bingung. Eem... gimana kalau kita lanjut saja ke Gunung Wei sekalian piknik, Sayang? Besok pagi kita berangkat kerja dari sini. Lagian kita sudah tidak punya rumah lagi.” Raut wajah Rubby berubah menjadi murung megingat kembali rumahnya yang terbakar.
“Jangan bersedih, Sayang! Baiklah kita pergi ke Gunung Wei dan menenangkan diri di sana malam ini.”
“Hmm.” Rubby mengangguk. Wajahnya terlihat datar tidak seperti biasanya yang sangat ekspresif dan menggemaskan ketika mendapati sesuatu yang menyenangkan.
Wu Jin Ming kembali menjalankan mobilnya ke Gunung Wei yang berjarak kurang dari setengah jam perjalanan. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua, hanya suara deru mobil Wu Jin Ming yang memecah keheningan di sore itu. Di kanan kiri mereka tersuguh pemandangan yang indah memanjakan mata namun sedikitpun Rubby tidak meliriknya. Hatinya masih tertutup oleh kesedihan yang mendalam akibat kehilangan tempat tinggalnya.
“By, kita tidur di penginapan atau menyewa tenda dan berkemah di area pegunungan?” tanya Wu Jin Ming.
“Di penginapan saja. Aku masih trauma dengan hal-hal yang berbau perkemahan.” Rubby terkenang dengan pertemuan pertamanya bersama Wu Jin Ming.
“Jadi kamu nggak senang bertemu denganku?” Wu Jin Ming merajuk.
__ADS_1
“Emm... bukan! Bukan begitu maksudku. Aku senang pada akhirnya bertemu denganmu yang menjadi dewa penyelamatku tapi karena menuruti keinginan Moza untuk pergi kemah waktu itu membuatku hampir kehilangan nyawa dan setelah pulang ke rumah aku harus kehilangan mamiku,” jelas Rubby.
“Jadi teringat Moza, ya?” Lagi-lagi Wu Jin Ming terlihat tidak bersemangat ketika mendengar nama Moza. Orang spesial bagi Rubby sebelum dia datang dalam kehidupan Rubby.
“Ahh! Susah ngomong sama kamu! Pencemburu!” Mendengus kesal sambil membuang muka ke samping.
Mereka kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Entah kenapa Wu Jin Ming sangat cemburu pada Moza meskipun mereka sudah lama putus dan tidak lagi berhubungan, mugkin itu karena dia melihat Moza beberapa kali mencium dan memeluk Rubby di depan matanya. Bayangan kemesraan mereka tidak mudah hilang begitu saja dari ingatannya. Jika dia tidak bersama Rubby sekarang, Wu Jin Ming berpikir jika saat ini Rubby pasti masih bersama dengan Moza.
Gerbang menuju Gunung Wei sudah terlihat. Rumah-rumah penduduk khas pedesaan berjajar rapi di sepanjang jalan yanng mereka lewati. Rubby mulai menampakkan perubahan sikapnya meskipun itu tidak terlalu kelihatan. Senyum samar terbersit di wajah cantiknya.
“Cantik!” Satu kata yang terucap dari bibir mungil Rubby.
“Seperti kamu. Andaikan suamimu itu bukan aku, pasti kalian setiap hari bertengkar.” Kata-kata Wu Jin Ming membuat Rubby menoleh padanya.
“Kok, bisa gitu? Masalahnya apa coba?” Rubby terlihat tidak terima dengan pikiran konyol suaminya.
“Ya, jelas bertengkarlah, orang banyak sekali cowok yang suka dan mendekati kamu dengan berbagai motif. Sepertinya Presdir Lee juga memiliki perasaan sama kamu, hanya saja dia tidak berpotensi untuk merebut kamu dariku. Aku tahu dia itu tipe cowok yang seperti apa.”
“Karena aku tahu kamu tidak mungkin menyukainya dan suamimu adalah aku. Tidak ada sesuatu yang bisa lepas begitu saja dari pengamatanku meskipun kamu tidak menyadari jika aku sedang mengawasimu.”
“Terserahlah! Aku tahu maksud dan tujuanmu. Kamu ingin kita selalu bersama-sama begitu juga dalam pekerjaan.”
“Pintar! Itulah yang aku pikirkan. Tidak mungkin Presdir Lee berani macam-macam padamu karena aku selalu berada di dekatmu.”
“Iya... deh... iya! Kita sudah memasuki area wisata pegunungan. Kita cari penginapan di mana, Sayang?” Wajah Rubby terlihat berbinar setelah memasuki area pegunungan yang indah.
“Kamu menyukainya?” tanya Wu Jin Ming memelankan laju mobilnya.
“Sangat! Kak Wu! Bisakah kamu buka jendela mobilnya? Aku sangat ingin menghirup udara segar pegunungan.”
__ADS_1
Matahari yang tidak lagi panas, membuat Wu Jin Ming bukan hanya membuka jendela saja melainkan juga penutup atas mobilnya. Mereka menikmati pemandangan dengan mobil terbuka. Rambut panjang mereka berdua terbang melambai di tiup angin sore yang sejuk.
Tidak puas dengan udara yang menyentuh wajahnya, Rubby melepas sabuk pengamannya dan berdiri untuk menikmati angin yang berhembus. Dia merentangkan tangannya dan membiarkan baju dan rambutnya berkibar-kibar di tiup angin. Beberapa saat Rubby memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan alam pegunungan yang begitu sejuk dan menyegarkan hati dan pikirannya.
Ketika membuka matanya, mobil mereka melintasi jalan bertebing. Rubby meminta Wu Jin Ming untuk berhenti sejenak di sana. Mobil Wu Jin Ming berhenti di tepi tebing yang curam.
Rubby turun lebih dulu dan berjalan ke tepi jurang.
“Jangan terlalu ke pinggir,Sayang!” teriak Wu Jin Ming.
“Tenang saja! Aku bisa berhati-hati kok!”
Wu Jin Ming berdiri di belakang Rubby dan menjaganya dari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Tidak ada yang bisa menyangkal kemalangan dan menduga sebuah kemujuran. Bagi Wu Jin Ming dia lebih rela dirinya yang terluka ketimbang Rubby.
“Kak Wu! Aku ingin teriak sekencang-kencangnya, boleh?” tanya Rubby ketika merasakan tangan Wu Jin Ming melingkar di pinggangnya.
“Lakukanlah jika itu membuatmu bahagia! Buang semua kesedihanmu bersama teriakanmu yang kau lepaskan!”
“Aaaaaaaaaa! Aku rindu padamu ayaaaaahhhhh! Aku rinduuuuuuuu!”
Suara teriakan Rubby semakin melemah dan berubah menjadi isak dalam tangisan. Wu Jin Ming membalikkan tubuh Rubby menjadi menghadap padanya dan mencoba menenangkan hati Rubby yang sedang gamang. Saat mereka larut dalam keharuan, tiba-tiba sebuah bayangan hitam muncul dan menyerempet tubuh mereka.
Beruntung saat itu Wu Jin Ming bersikap waspada sehingga mereka tidak jatuh ke jurang. Wu Jin Ming menedarkan pandangannya mencari sosok makhluk yang tadi menyenggol mereka. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Hari sudah semakin sore. Kita harus segera mencari penginapan!" bujuk Wu Jin Ming agar dia mau segera pergi dari tempat itu.
"Hmm. Ayo!" Rubby juga merasa ada yang tidak beres baru saja. Bulu kuduknya meremang seperti hawa dingin yang tiba-tiba berhembus menyapu kulitnya.
****
__ADS_1
Bersambung...