
Siluman laba-laba itu akhirnya menyerah. Berdiri terdiam di dalam sangkar dan tidak lagi banyak tingkah. Memaksa untuk mencoba keluar hanya akan membuang-buang tenaga saja.
Pada dasarnya semua siluman mempunyai sisi baik dan buruk. Mereka cenderung menjadi buruk jika terlalu menyerap energi negatif dan berkumpul dalam dunia hitam, begitu juga sebaliknya. Di istana Ratu Ivo sudah banyak sekali pasukan siluman yang terpilih mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi baik.
"Apa aku benar-benar bisa keluar dari sini?" tanya siluman itu sambil memegangi kepalanya yang terasa berat karena terlalu banyak berpikir.
"Bukan aku atau orang lain yang menentukan itu, tetapi dirimu sendiri! Nikmatilah hukuman mu di sini! Aku akan menunggu kamu keluar!" ucap Rubby sambil tersenyum.
Mata Wu Jin Ming menatap Rubby horor ketika melihatnya tersenyum pada siluman laba-laba itu. Suasana tiba-tiba menjadi sangat dingin. Tidak ingin memperpanjang masalah, Rubby segera membaca mantra untuk mengirim sangkar itu ke istana Ratu Ivo.
"Aku masuk dulu!" Wu Jin Ming berjalan di depan setelah merubah penampilannya menjadi manusia biasa.
"Tunggu, Kak Wu! Aku ikut!" Rubby pun telah berubah menjadi manusia.
Tangan Rubby meraih lengan Wu Jin Ming lalu memeluknya erat. Wu Jin Ming pasti kesal saat melihatnya terus berbicara pada siluman laba-laba. Apalagi dengan terang-terangan siluman itu menunjukkan ketertarikannya pada Rubby.
"Kalau kamu masih ingin berbicara bersama siluman itu, kenapa kamu sudah mengembalikan sangkar perenungan itu?"
Nada kesal Wu Jin Ming membuat Rubby mengerti jika saat ini dia sedang marah.
"Maafkan aku, Sayang! Aku tidak tertarik sama dia, kok! Suerrr, deh!" Rubby mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Tapi dia tertarik sama kamu! Aku tidak rela apa yang menjadi milikku di lirik orang lain." Wu Jin Ming masih saja bersikap dingin.
"Hmm. Iya... iya... aku mengerti!" Tidak tahu harus berkata apalagi, Rubby memilih untuk diam setelah mengatakan itu.
Mereka duduk santai di ruang keluarga sambil menunggu waktu makan malam tiba. Waktu itu masih terlalu sore untuk menyiapkan makanan. Tidak ada percakapan di antara mereka walaupun sesekali mereka mencuri pandang satu sama lain.
__ADS_1
Tidak tahan terus perang dingin, Rubby akhirnya memberanikan diri untuk bersandar di dada Wu Jin Ming.
"Sayang!" panggil Rubby.
"Hmm!" jawab Wu Jin Ming singkat.
"Masih marah, ya? Jangan lama-lama, dong! Nanti aku nangis, lho!" suara Rubby terdengar berat.
Mendengar ucapan Rubby, akhirnya Wu Jin Ming pun melunak. Tangannya merangkul bahu Rubby dan mengelusnya lembut.
"Aku tidak marah, kok! Hanya kesal saja pada siluman itu."
"Silumannya sudah pergi! Jadi marahnya juga harus pergi jauh juga!" ucap Rubby dengan suara dongkolnya.
"Iya... iya sayang! Maafkan aku!" Wu Jin Ming memutar tubuhnya menghadap ke arah Rubby lalu mengecup keningnya mesra.
"Jadi tadi kita melihat itu, Sayang?" tanya Rubby sambil tertawa.
Seketika Wu Jin Ming pun menoleh ke layar kaca dan ikut tertawa setelah menyadarinya. Dia pun teringat pertama kali dia melihat TV di rumah Rubby dan mengira jika itu benda sihir yang bisa menarik manusia masuk ke dalamnya.
Rubby menatap heran ke layar TV ketika chanel yang dia tekan menampilkan sebuah berita. Sebuah desa yang memiliki keunikan, di mana setiap penduduknya bisa berubah menjadi kupu-kupu pada hari-hari tertentu. Menurut legenda ada sebuah taman bunga langka yang ada di desa itu dengan satu bunga aneh. Siapapun yang menyentuhnya akan menjadi kupu-kupu.
"Ayo kita pergi ke sana besok!" ajak Wu Jin Ming.
"Sayang! Aku memang suka kupu-kupu, tapi apa kamu juga ingin melihatku menjadi kupu-kupu juga?" tanya Rubby.
Mukanya ditekuk dengan kedua tangan yang menyangga pipinya.
__ADS_1
"Bukan begitu, Sayang. Bunga yang mereka anggap aneh itu sepertinya bunga yang kita cari untuk penyatuan jiwamu."
"Oh, jadi begitu? Aku pikir kamu ingin aku menyentuh bunga itu dan menjadi kupu-kupu."
"Mana mungkin! Aku tidak akan bisa menangkapmu kalau kamu terbang di bawa angin."
"Ya, tidak usah di tangkap tapi tanamlah bunga yang banyak biar aku betah di rumah!" celetuk Rubby sambil terkekeh.
"Di halaman kan banyak. Apa masih kurang?" Wu Jin Ming menarik kepala Rubby dan meletakkannya di dada.
"Kurang! Jenisnya masih banyakan di rumah kita yang lama!" seru Rubby sambil memainkan tangan Wu Jin Ming.
"Besok aku akan meminta pelayan untuk menambahkannya lagi."
"Terimakasih, Sayang!" ucap Rubby sambil menggigit tangan Wu Jin Ming gemas.
"Auu.... Ahh! Apa kamu lapar?" tanya Wu Jin Ming meringis.
"Laparlah! Dari siang aku belum makan. Makan buah pun kamu ambil setengah!" gerutu Rubby.
Wu Jin Ming menggaruk kepalanya sambil tersenyum. Dia akan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam lebih awal. Setelah pertempuran mereka perutnya juga sudah merasa lapar juga.
****
Bersambung...
Numpang promo novel karya temen aku kak... sambil nunggu punyaku up...
__ADS_1