TIGER WU

TIGER WU
MULAI BUCIN


__ADS_3

Berkat senjata barunya Rubby selesai bermeditasi lebih cepat daripada Wu Jin Ming. Benar. Dia merasa tubuhnya kembali segar sekarang. Mungkin ini terasa aneh. Rubby merasa dia seperti bukan manusia normal lagi.


Tanpa mereka sadari waktu begitu cepat berlalu. Jam dinding sudah menunjuk angka lima. Senja mulai merayap dan sebentar lagi malam akan tiba.


Melihat Wu Jin Ming yang masih terlihat serius. Rubby bergerak mundur secara perlahan. Baru mundur beberapa langkah, Wu Jin Ming terlihat sudah selesai dari meditasinya.


"Sudah, ya." Rubby tersenyum garing.


"Hmm. Mau kemana?" tanya Wu Jin Ming sembari menggeliat merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


"Mau mandi. Kan udah sore." Rubby akhirnya balik lagi untuk membereskan matras.


"Kita mandi bareng, ya?" Wu Jin Ming mengambil matras dari tangan Rubby dan membawanya berjalan lebih dulu.


Rubby tak menjawab. Dia sudah tahu apa yang ada di otak suaminya saat ini. Baru saja energinya pulih, alamat akan segera terkuras lagi.


Sebelum pergi mandi, Rubby menenggak segelas jus dingin dari kulkas. Wu Jin Ming sudah mengisi bathup dengan air hangat dan wewangian saat Rubby masuk ke sana. Kelopak bunga juga bertebaran di sana. Entah dari mana Wu Jin Ming mendapatkannya. Banyak sekali barang yang dia simpan di cicin penyimpanannya.


"Rubby, apa kamu menyukainya?" Wu Jin Ming membawa Rubby dalam pelukannya.


"Sangat. Bunga - bunga ini sangat harum. Dari mana kau dapatkan?" Rubby tidak ingin larut dalam pelukan Wu Jin Ming. Dia sudah tidak sabar untuk berendam di dalam air mandinya.


"Ini bunga yang aku simpan sejak lama. Mungkin saat ini bunga jenis ini sudah punah dari muka bumi. Kalau pun ada pasti itu di daratan tinggi Tiongkok," jelas Wu Jin Ming.


"Pantas aku belum pernah melihatnya." Rubby melemparkan pakaiannya yang sudah terlepas ke dalam keranjang baju kotor.


Wu Jin Ming segera menyusul Rubby. Mereka menikmati harumnya bunga dengan hangatnya cinta. Menyusuri bebukitan yang indah dan menyelami danau teratai penuh warna.


••••


"Sayang, kamu laper nggak?" tanya Rubby sambil duduk bersandar di dada Wu Jin Ming. Dia begitu nyaman menikmati usapan lembut tangan Wu Jin Ming yang sejak tadi mengelus rambutnya.


"Sedikit lapar. Kalau kamu?" Wu Jin Ming balik bertanya.


"Tapi aku malas masak. Kita bikin mie instan aja ya?" Rubby mendongak menatap wajah Wu Jin Ming.


"Apa saja boleh," jawab Wu Jin Ming sambil tersenyum.


"Ya, Tuhan. Manisnya suamiku." bukannya segera bangun Rubby malah memeluk erat tubuh Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Jangan kayak gini, Sayang! Kalau kamu nggak mau aku terkam lagi," ucap Wu Jin Ming.


Gleg!


Rubby terkesiap mendengar ucapan Wu Jin Ming. Buru-buru dia melepaskan pelukannya dan beranjak duduk.


"Sayangggg!" Rubby mendelik kesal.


Wu Jin Ming tersenyum geli melihat tingkah lucu Rubby.


Tidak mau kena perangkap cinta suaminya lagi, Rubby lari terbirit-birit meninggalkan Wu Jin Ming di kamarnya. Dia lantas pergi ke dapur untuk memasak mi instan. Makanan cepat, nikmat, dan merakyat.


Wu Jin Ming menyusul Rubby ke dapur. Dia memilih duduk di meja makan. Dia takut Rubby mendampratnya jika dia mengganggu Rubby ketika sibuk memasak.


"Enak sekali baunya." Wu Jin Ming berkomentar.


"Udah laper ya? Sabar. Bentar lagi mateng kok." Rubby meletakkan pengaduk mi dan mengambil dua buah mangkok di pantri. Dia membagi mi yang dia masak menjadi dua bagian.


"Kak, kamu bantu bawa minumnya, ya. Kita makan di ruang tamu sambil nonton TV." Rubby menata mangkok mi di atas nampan lalu membawanya ke ruang tamu.


"Ok, Sayangku!" bahasa Wu Jin Ming sudah semakin gaul mengimbangi Rubby.


"Tunggu sebentar! Ini masih terlalu panas Sayang." melihat Wu Jin Ming sudah mengangkat sendoknya dan tak sabar ingin makan mi instan beraroma sedap itu.


"Aku tahu. Aku nggak akan langsung memasukkannya ke dalam mulut, Sayang. Aku akan memakannya pelan." Wu Jin Ming menyendok mi dengan garpu sedikit demi sedikit agar cepat dingin suhunya. Setelah di rasa hangatnya pas, Wu Jin Ming baru memakannya.


Melihat Wu Jin Ming begitu lahap, Rubby pun tergoda. Dia tak mau ketinggalan untuk memakan mi miliknya. TV memang menyala tidak mereka pedulikan. Mereka asik dengan makan malamnya.


Di tengah-tengah makan, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Rubby hendak beranjak untuk melihat siapa yang datang. Wu Jin Ming memegang tangannya tanda melarang. Dia tidak bicara karena mulutnya masih penuh dengan mi.


"Kenapa, Sayang?" Rubby kembali duduk. Dia penasaran dengan siapa yang datang, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan larangan Wu Jin Ming.


"Arlan," ucap Wu Jin Ming singkat setelah berhasil menelan makanannya.


"Arlan? Maksudnya yang datang Arlan gitu?" tanya Rubby. Tidak heran. Pasti Wu Jin Ming sudah melihat ke luar rumah dengan mata batinnya.


"Hmm. Makanlah lagi. Kalau dingin nggak enak nanti mi kamu." Wu Jin Ming kembali menyelesaikan makannya.


"Iya." Rubby melanjutkan menghabiskan mi instanny. Sesekali dia melirik Wu Jin Ming ketika Arlan terdengar mengetuk pintu.

__ADS_1


Wu Jin Ming selesai makan lebih dulu. Dia menyangga dagunya dengan tangan di atas meja sambil memperhatikan Rubby makan.


"Mau lagi?" Rubby menawarkan mi miliknya.


"Sudah, tadi kamu memberiku porsi yang lebih banyak dari punya kamu." itu memang benar. Rubby memang sengaja mengurangi porsinya. Dia takut kekenyangan nantinya.


Suara ketukan pintu masih terdengar saat Rubby membereskan alat makannya di dapur. Wu Jin Ming lama - lama merasa risih juga dengan suara ketukan pintu dari Arlan. Dia akhirnya memilih untuk membukakan pintu. Wu Jin Ming ingin tahu apa yang Arlan inginkan datang malam - malam.


"Selamat malam!" Wu Jin Ming menyandarkan tubuhnya di bibir pintu.


Arlan sedikit tersentak melihat bukan Rubby yang membukakan pintu.


"Malam. Rubby ada?" tanya Arlan mencoba bersikap biasa.


"Ada. Ada hal penting apa yang membuat kamu datang bertamu malam - malam?" Wu Jin Ming masih berdiri untuk menghalangi jalan masuk.


"Aku... ingin bertemu Rubby saja." Arlan merasa sebal. Apa dia butuh alasan untuk bertemu dengan teman masa kecilnya? Bahkan mereka sudah sangat dekat sebelumnya.


Mendengar suara percakapan dari luar, Rubby segera berjalan untuk melihatnya. Dia tidak menyangka jika Wu Jin Ming mau membukakan pintu untuk Arlan.


"Hai, semua!" sapa Rubby pada Arlan dan Wu Jin Ming.


"Kog diem. Ayo masuk!" Rubby bergelayut di lengan Wu Jin Ming dan membawanya ke ruang tamu. Rubby tahu jika perasaan Wu Jin Ming sedang tidak baik melihat kedatangan Arlan.


"Rumah kamu agak beda ya sekarang." Arlan melihat sekeliling saat berjalan menyusul Rubby ke ruang tamu.


"Iya, Kak Tiger yang membantuku mengaturnya." Rubby sengaja memperjelas nama Tiger. Dia tidak ingin Wu Jin Ming semakin cemberut.


"Owh," jawab Arlan singkat. Di luar bayangannya. Harusnya dia bisa mengobrol bebas dengan Rubby malam ini. Dia juga sudah membawa cincin dan ingin menyatakan cintanya pada Rubby. Sepertinya dia harus kembali menelan kekecewaan.


"Duduk, Ar! Kalian mengobrol dulu. Aku akan membuatkan minum untuk kalian." Rubby bangkit berdiri.


"Nggak usah, By! Kita ngobrol saja. Aku cuma sebentar kog," cegah Arlan.


Rubby kembali duduk. Mereka bertiga terlihat canggung. Hening. Belum ada yang memulai berbicara.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2