
"Setiap orang mempunyai jalan hidup masing-masing Mes. Aku malah nggak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah," ucap Rubby sedih.
"Maaf By. Aku nggak bermaksud untuk mengungkit tentang ayah kamu. Jadi... kamu tinggal sendiri By? Atau masih ada ibu?" tanya Messy.
"Nggak papa Mes. Aku tinggal sendiri," ucap Rubby. Dia tidak ingin mengatakan tentang ibu kandungnya yang masih hidup. Di dunia manusia maminya sudah tiada dan Rubby hidup sebagai yatim piatu.
"Bagaimana kalau kamu tinggal bersamaku saja? Aku nggak punya saudara kandung By. Ibuku pasti juga akan senang," ajak Messy.
"Terimakasih Mes. Aku menghargai kebaikanmu tapi aku nggak bisa menerimanya. Mungkin sebentar lagi aku akan menikah dengan kekasihku," jelas Rubby.
"Apa kalian sudah tinggal bersama?" tanya Messy.
Rubby mengangguk. Tidak ada gunanya berbohong. Cepat atau lambat pasti semua orang juga akan tahu kalau dia dan Wu Jin Ming sudah tinggal serumah.
"Wah, selamat ya! Aku tunggu kabar baik dari kalian," sahut Lila.
"Semoga impian kalian segera terwujud," imbuh Chika.
"Terimakasih semuanya." Rubby tersenyum senang melihat ketiga sahabat barunya itu mau menerimanya dengan baik.
"By, habis ini kami ada kelas. Sorry ya kalau kami nggak bisa menemani kamu lagi," ucap Messy sambil melirik arlojinya.
"Nggak papa. Aku juga mau ke perpustakaan nyari bahan buat mengerjakan tugas kuliah," jawab Rubby.
"Em... kapan-kapan boleh nggak kita main ke rumah kamu?" tanya Chika.
"Boleh! Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian."
"Inget besok dateng ke pesta ulang tahunku ya!" Messy kembali mengingatkan soal undangannya.
"Nanti aku kabarin dateng enggaknya. Eh, tapi kita belum saling bertukar nomor ya?" tanya Rubby.
"Hihi... iya... keasyikan ngobrol jadi lupa!" seru Chika.
Mereka berempat saling bertukar nomor ponsel. Mulai hari ini mereka sepakat untuk berteman dan saling memberi kabar. Rubby senang selain trio ciwi dia punya sahabat yang lain.
Setelah saling menyimpan nomor telepon, Rubby pergi ke perpustakaan sementara ketiga teman barunya masuk ke dalam kelas mereka.
__ADS_1
"Rubby! Tunggu!" Panggil seseorang saat Rubby dalam perjalanan menuju ke perpustakaan.
"Rocky! Kamu nggak ada jam kuliah?" tanya Rubby.
"Aku diusir dari kelas karena nggak ngerjain tugas Minggu lalu," ucap Rocky sambil membetulkan tas ranselnya.
"Hahaha...! Anak yang rajin!" Rubby mengacungkan jempolnya. "Tumben kamu sendirian?" tanya Rubby kemudian.
"Iyalah! Mana ada orang yang mau menemani orang kena hukuman. Coba kalau aku pergi ke kantin atau ngadain acara makan-makan pasti banyak yang nemenin!" seru Rocky.
"Benar juga ya.... Habis ini kamu mau kemana?" tanya Rubby.
"Nggak tahu mau ke mana. Kamu sendiri?" Rocky balik bertanya.
"Aku mau ke perpustakaan. Daahh aku pergi dulu ya!" pamit Rubby.
Rubby berjalan meninggalkan Rocky namun Rocky mengejarnya.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Rocky mencoba berjalan menjajari Rubby.
"Boleh. Tapi tempat itu nggak boleh untuk mengobrol. Kita bisa kena semprit kalau berisik," ucap Rubby.
"Kayak zaman penjajahan aja masih pakai surat menyurat," ucap Rubby.
"Kamu nggak ngerasa kalau sudah menjajah hatiku."
"Enak aja aku di samain penjajah," sungut Rubby tak terima.
"Yeee... emang bener kok!" sahut Rocky.
"Serah. Sssttt diam! Kita sudah sampai di area terlarang untuk bercanda," ucap Rubby ketika mereka sudah berada di depan perpustakaan.
Mereka berdua segera masuk ke dalam perpustakaan. Ada beberapa mahasiswa yang sudah berada di sana. Rata-rata mereka adalah mahasiswa tingkat atas yang sedang mencari bahan untuk skripsi.
Rubby mencari buku yang sesuai dengan jurusan yang dia ambil. Sastra kuno memang jurusan yang unik dan sedikit peminatnya. Buku-buku yang memuat tentang sastra kuno terlibat rapi seperti tak tersentuh.
Rubby berkeliling untuk memilih buku yang dia cari. Tanpa sengaja tangannya menyenggol dan menjatuhkan sebuah buku. Buku itu seperti buku lawas yang sudah tidak ada di pasaran.
__ADS_1
Rubby membuka lembar demi lembar buku lawas itu. Merasa tertarik, Rubby membawanya ke atas meja untuk dia baca. Butuh kerja keras untuk membaca buku itu karena masih dengan ejaan lama.
Rocky menyusul Rubby dan duduk di depannya. Dia memperhatikan Rubby yang terlihat cantik ketika sedang serius membaca. Bukannya membaca buku di hadapannya, Rocky malah bertopang dagu melihat Rubby tak berkedip.
Merasa diperhatikan Rubby melotot ke arah Rocky tidak terima dipandangi terus olehnya. Rocky tersenyum lalu pura-pura kembali membaca ketika Rubby memelototinya. Tapi saat Rubby fokus dia kembali menatapnya.
Tidak mau mempedulikan Rocky lagi Rubby kembali fokus membaca buku di tangannya. Buku itu berisi tentang legenda siluman harimau putih dan putri bidadari. Dia ingin tahu seperti apa cerita di buku itu, siapa tahu ada hubungannya dengan dirinya dan Wu Jin Ming.
Di awal kisah dalam buku itu terlihat sangat mirip dengan kisahnya saat pertama kali bertemu Wu Jin Ming. Meskipun buku itu menyebutkan nama yang lain namun Rubby tertarik untuk membacanya. Dia merasa penasaran.
Rubby mengaktifkan mode baca cepat dengan kekuatan yang dia miliki. Kesimpulannya, cerita di dalam buku itu hanya karangan fiksi tanpa bukti. Tak ingin membuang waktu lagi, Rubby mengembalikan buku itu dan kembali ke tujuan awalnya.
Saat akan mengembalikannya tiba-tiba terlihat sebuah kertas usang terselip di sana. Rubby membukanya dengan hati-hati. Huruf yang aneh tertulis di kertas itu. Rubby melihat sekeliling, merasa tidak ada yang memperhatikannya dia buru-buru mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. Mungkin Wu Jin Ming bisa membaca tulisan itu.
"By!" bisik Rocky yang tiba-tiba ada di belakangnya.
Rubby tersentak dan berbalik menatap tajam ke arah Rocky. Tanpa sadar Rubby mengeluarkan energi spiritual dalam tatapannya karena reaksi tubuhnya merasakan adanya ancaman. Rocky jatuh pingsan setelah mendapat tatapan Rubby.
'Ya ampun! Kenapa jadi begini sih?' gumam Rubby dalam hati. Belum hilang keterkejutannya karena kedatangan Rocky yang tiba-tiba malah di tambah dengan lagi dia pingsan.
"Kak! Tolong!" panggil Rubby pada mahasiswa yang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Kenapa dia?" tanya mahasiswa itu.
"Nggak tahu. Dia tiba-tiba pingsan." Rubby berbohong. Dia sudah tidak kuat lagi menahan tubuh Rocky. Bisa-bisa membuat rak buku roboh kalau dibiarkan lama-lama. Tanpa kekuatan spiritualnya, Rubby hanyalah gadis biasa yang lemah.
"Tunggu sebentar!" mahasiswa itu meletakkan bukunya dan berlari ke arah Rubby.
Rocky di papah dan di bawa ke kursi yang paling dekat dari sana. Mahasiswa itu mengipasi Rocky dengan bukunya sementara Rubby bingung mau melakukan apa. Mereka kini menjadi pusat perhatian di sana.
"Em, Kak! Aku nitip dia sebentar ya. Aku mau ambilkan dia minum." Rubby mencari alasan. Sebenarnya dia ingin mencari tempat yang sepi agar dia bisa menggunakan sihirnya dan menyadarkan Rocky.
"Iya! Tapi jangan lama-lama! Dia temanmu kan?" tanya mahasiswa itu.
"Iya Kak! Aku akan segera kembali," ucap Rubby segera beranjak dari sana melewati kerumunan dan melipir ke deretan rak untuk bersembunyi.
****
__ADS_1
Bersambung...