
Rubby segera memperkenalkan Arlan pada manager Lin. Manager Lin tertarik untuk menjadikan Arlan sebagai modelnya. Perawakan Arlan yang bagus dan wajahnya juga rupawan pasti bisa sekeren Wu Jin Ming nantinya.
Arlan punya peluang untuk menjadi model terkenal dan terfavorit bersama Wu Jin Ming. Manager Lin harus mengutarakan keinginannya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa mengorbitkan model-model kelas atas.
"Arlan kamu kerja di mana?" tanya manager Lin.
"Aku pengangguran Kak," canda Arlan.
Jawaban Arlan otomatis mendapatkan lirikan tajam dari Rubby.
"Nggak kerja tapi suka ngerjain orang. Hati-hati manager Lin, nanti kamu bakalan kena juga dikerjain sama dia!" celetuk Rubby.
"Masa sih?" manager Lin tidak mengerti dengan ucapan Rubby.
"Jangan dengerin dia Kak! Mana ada seorang Arlan suka ngerjain orang," bantah Arlan.
Arlan dan Rubby terus saja berdebat dengan kalimat-kalimat konyol mereka. Mereka juga saling memelototi dan Rubby tak segan untuk mencubit atau memukul bahu Arlan.
"Hmm. Kalian ini seperti anak kecil saja!" ucap manager Lin melihat Rubby dan Arlan yang masih saling olok satu sama lain.
"Nggak usah kaget manager Lin! Mereka memang Tom and Jerry versi manusia," ucap Wu Jin Ming yang tiba-tiba datang dan duduk di sandaran kursi di samping Rubby sambil menenggak sebotol air mineral di tangannya.
"Hai, Bro! Sudah selesai kah?" tanya Arlan pada Wu Jin Ming.
"Udah! Pak Bos tumben ada waktu untuk main-main ke sini!" seru Wu Jin Ming.
"Kebetulan aja tadi ada seorang gadis menyedihkan berdiri di pinggir jalan. Aku takut dia tambah jelek karena terkena debu dan terpapar sinar matahari siang," ucap Arlan sambil menyenggol lengan Rubby.
"Apaan sih! Capek ahh! Ribut mulu!" Rubby mendorong tubuh Arlan agar menjauh.
Mendengar Wu Jin Ming memanggil Arlan bos, manager Lin berpikir ulang untuk merekrut Arlan sebagai modelnya. Dari penampilan dan barang-barang yang dia pakai sudah jelas jika dia orang yang berkecukupan. Mana mungkin dia bersedia menjadi seorang model sementara dia sudah memiliki pekerjaan yang mapan.
"Kita makan yukk!" ajak Wu Jin Ming.
__ADS_1
"Ayok!" Rubby berdiri lebih dulu dan bergelayut manja di lengan Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming memperhatikan wajah Rubby yang terlihat pucat tapi dia urung untuk bertanya padanya. Mungkin hanya perasaannya saja. Beberapa saat yang lalu Wu Jin Ming merasa aneh dan energi spiritualnya juga sedikit bergejolak. Dia akan menanyakannya pada Rubby di rumah.
Saat mereka berhubungan di istana Harimau Suci, Wu Jin Ming merasa dia akan segera menjadi seorang ayah. Melihat keadaan Rubby sekarang sepertinya tanda-tanda kehamilan Rubby belum muncul. Dia masih terlihat biasa-biasa saja.
Arlan terpaksa mengikuti Rubby dan Wu Jin Ming makan di restoran yang ada di resort itu. Sebenarnya dia malas karena harus menahan diri melihat kemesraan mereka. Sampai saat ini Rubby masih menjadi ratu di hatinya meskipun dia tidak pernah mendapatkan cintanya.
Mereka mengambil tempat duduk di dekat sebuah kolam. Cahaya lampu remang-remang menambah kesan romantis di sana. Pengunjung di sana tidak banyak jadi suasananya tidak terlalu ramai saat itu.
"Kak! Kamu pakai minyak wangi apa sih?" tanya Rubby pada Wu Jin Ming.
"Pakai yang biasanya aku pakai tuh!" merasa penasaran, Wu Jin Ming mengendus-endus tubuhnya sendiri. Sepertinya tidak ada yang aneh dan masih sama seperti sebelumnya. "Masih sama!"
"Udah jangan dengerin dia! Tadi aja dia habis muntah-muntah di jalan," ucap Arlan yang semakin membuat Wu Jin Ming penasaran.
"Muntah-muntah? Itu bener By?" tanya Wu Jin Ming.
"Kamu bunuh orang?" Wu Jin Ming menatap Rubby tajam. Berkali-kali Wu Jin Ming sudah memperingatkan Rubby agar tidak sembarangan membunuh manusia atau siluman kecuali terpaksa.
Rubby mengerti arti tatapan dari Wu Jin Ming. Dia harus bicara melalui pikirannya agar Arlan tidak mendengarnya.
"Aku terpaksa melakukannya!" ucap Rubby dalam pikirannya.
"Jelaskan saja nanti di rumah!" jawab Wu Jin Ming dengan bahasa pikirannya juga.
"Kamu jangan salah paham sama Rubby!" ucap Arlan.
"Aku tidak suka dengan sikap cerobohnya itu Ar! Dia sangat suka bermain-main dengan bahaya." Wu Jin Ming masih menatap Rubby dengan kesal. Dia tidak suka jika Rubby bertindak seenaknya tanpa mempedulikan keselamatannya.
"Awalnya aku juga berpikir begitu Wu. Tapi dia tadi sungguh hebat. Aku nggak menyangka jika Rubby bisa sehebat itu," jelas Arlan.
Wu Jin Ming semakin tajam dan dalam melihat Rubby. Dia khawatir jika Rubby menunjuk wujud sucinya di hadapan manusia. Hatinya sedikit merasa lega saat Rubby memberinya kode dengan melambaikan tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Hebat dari mana? Rubby itu gadis paling sembrono yang pernah aku temui di muka bumi. Selalu saja dia suka bertindak konyol dan susah di atur," ucap Wu Jin Ming.
"Nggak usah di perjelas lagi. Aku sudah hapal sama sifatnya itu. Udah di luar kepala malah. Kamu yang sabar aja ngadepin dia!" seru Arlan.
'Kalau kamu udah nggak kuat, kembalikan saja padaku.' batin Arlan.
"Iya... iya... maaf dah bikin kalian khawatir. Habis aku suka nggak tahan lihat kesewenang-wenangan di muka bumi. Tanganku rasanya gatal kalau nggak menghajar mereka."
"Iya kalau lawan kamu itu mudah dihadapi, lha kalau dia lawan yang lebih hebat dari kamu. Nggak lucu kan kita niatnya nolongin orang tapi malah mati konyol," jelas Arlan yang mewakili kekhawatiran di wajah Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming mengangguk setuju. Kali ini dia sependapat dengan Arlan. Mereka tidak melanjutkan obrolannya karena pesanan mereka sudah datang.
"Rubby! Apa yang kamu lihat?" tanya Arlan.
"Aku nggak suka ini. Baunya nggak enak!" Rubby mendorong piringnya yang berisi steak kesukaannya.
"Bukannya kamu suka steak?" tanya Wu Jin Ming heran.
"Iya... tapi aku sudah nggak suka! Baunya amis sekali!" seru Rubby sambil menutup hidungnya.
"Lalu kamu mau yang mana? Pilih gih selagi semuanya masih utuh!" ucap Arlan kembali meletakkan sendoknya karena belum jadi makan dan menunggu Rubby memilih makanan yang dia suka.
"Emm... aku pilih kerang sama udang aja!" Rubby mengambil makanan yang dia inginkan.
Wu Jin Ming kembali merasakan hal yang aneh. Tidak biasanya Rubby memilih-milih makanan. Sebelumnya semua jenis makanan dia menyukainya. Wu Jin Ming semakin merasa yakin kemungkinan besar saat ini Rubby sedang hamil anaknya.
"Mau aku suapin?" sikap Wu Jin Ming melembut berbeda dari sebelumnya.
Rubby menatapnya heran karena merasa sikap Wu Jin Ming berubah begitu cepat.
****
Bersambung...
__ADS_1