
Setelah Rubby membayangkan wajah Wu Jin Ming dalam meditasinya, kini dia mulai bisa berkonsentrasi. Dalam keheningan hatinya, suara gemericik air menjadi sebuah melodi yang menariknya untuk mendekat. Roh Rubby yang terpanggil mengikuti alunan nada yang tidak konstan dari air terjun.
Tubuhnya seperti di tuntun untuk melakukan gerakan. Gerakan indah yang mirip sebuah tarian tetapi mengeluarkan gelombang energi. Gerakan yang tercipta cukup sederhana dan terus berulang. Tidak lebih dari lima mode gerakan saja.
Semakin diikuti dan dilakukan oleh Rubby, gerakan itu semakin ringan. Tubuh Rubby sudah menyerap dan menguasainya. Usai menguasai itu, di dalam meditasi Rubby muncul sesosok pria yang sangat tampan. Baru kali ini dia melihatnya.
"Virs, ini ayah." suara lembut pria itu seperti bergetar.
"Tapi, kata ibu, ayah sudah meninggal." Rubby memundurkan tubuhnya ketakutan. Dia teringat film horor yang pernah di tontonnya. Entah keberaniannya menguap kemana, sekarang dia seperti seekor kelinci kecil yang melihat pemangsanya.
"Jangan takut! Ini hanya kekuatan ayah yang tersimpan dalam jurus pembelah badai yang tadi kamu pelajari tadi. Tapi bukan itu yang ayah simpan untukmu," jelas pria itu.
"Apa kamu nggak akan menyakitiku?" pertanyaan konyol kembali keluar dari bibir mungil Rubby.
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, Virs. Sebentar lagi jiwa ayah akan menghilang. Aku akan menyampaikan kekuatan yang aku wariskan untukmu. Mendekatlah!" panggil pria yang mengaku sebagai ayah Rubby itu.
Rubby memberanikan diri mendekat dan berjalan ragu-ragu sambil menahan napasnya. Pikirannya masih dihantui dengan hal-hal yang berbau horor. Dia membayangkan orang yang sudah mati bisa saja menjadi vampir atau hantu buruk rupa yang haus darah.
Tapi jika benar dia adalah kekuatan ayahnya yang diperuntukkan baginya, pasti Rubby akan sangat menyesal jika tidak menerimanya. Rubby berusaha tenang. Kalau pun dia hantu jahat yang menyamar, Rubby harus berani menghadapinya. Memalukan jika dia takut pada hal yang belum pasti. Kini Rubby kembali percaya diri.
"Bagus! Bersiaplah putriku!" terlihat wajah sang ayah sangat sedih. Meskipun kekuatan rohnya saja, mungkin dia bisa mewakili perasaan seluruh jiwanya.
"Eits, tunggu... tunggu...! Mau ngapain?" tanya Rubby saat tangan pendekar Chin ingin menyentuh keningnya.
"Aku ingin memberikan kekuatan ayah padamu, Rubby. Setelah ini kamu akan menguasai sihir dan ilmu pedang milik ayah. Terimalah sebelum jiwa ayah kembali ke tempat yang seharusnya," jelas pendekar Chin.
"I... iya... a... yah...." akhirnya Rubby memanggil pria di depannya itu ayah.
Pendekar Chin mengulas senyum. Tidak ingin membuang waktu lagi, dia segera menyalurkan kekuatannya melalui telapak tangannya yang dia tempelkan ke kening Rubby. Rubby sedikit meringis merasakan hawa dingin dari kekuatan yang menyusup masuk ke dalam pikirannya itu.
Muncul bayangan-bayangan ayahnya saat menggunakan pedang, membuat atau menghilangkan sesuatu dengan sihir dan merubah sesuatu seperti yang dia inginkan. Rubby baru tahu jika ayahnya sehebat itu. Pantas saja ibunya yang seorang bidadari jatuh cinta padanya dan rela di usir dari istana para bidadari.
"Sekarang bukalah matamu!" seru pendekar Chin.
__ADS_1
"Ayah!" Rubby berhambur memeluknya setelah benar-benar percaya bahwa roh didepannya itu adalah ayahnya. Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi selain menangis dan menumpahkan kerinduannya.
"Putriku, maafkan ayah tidak bisa terus bersamamu. Ayah tidak bisa melindungimu dan membiarkan kamu berjuang sendiri selama ini." Pendekar Chin mengelus punggung Rubby.
"Jangan pergi lagi ayah! Aku ingin selalu melihatmu," rengek Rubby.
"Rubby, dengarkan ayah. Ayah yang sekarang ini hanyalah roh yang ayah tinggalkan untuk menunggumu. Roh yang ayah mantrai ketika Rubby Aurora merah dan biru bersatu makan ayah akan datang. Roh ayah sudah lama terkunci dalam mantra dua Rubby Aurora. Setelah selesai tugas ayah, ayah harus segera kembali bersama roh orang mati yang lain," jelas pendekar Chin.
"Tapi ayah, aku masih sangat... sangat... merindukanmu. Aku ingin merasakan kasih sayang seorang ayah lebih lama," ucap Rubby memelas.
"Maafkan ayah, Putriku...." suara pendekar Chin terdengar berat seperti menahan sesuatu yang menghimpit hatinya.
Rubby segera melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi ayahnya. Perasaannya campur aduk. Dia merasa senang, sedih, kecewa, dan tak rela melihat ayahnya harus pergi untuk selamanya. Rubby berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik sikap marahnya.
"Pergilah! Aku nggak mau melihat ayah lagi!" teriak Rubby sambil menangis.
"Maafkan ayah, Sayang...." suara berat pendekar Chin kembali terdengar.
Sringgg!
"Ayah... jangan pergi! Aku ingin ayah tetap di sini...! Ayah...!" teriak Rubby.
Tubuh pendekar Chin mulai tak bisa di peluk oleh Rubby. Dia masih terlihat namun hanya sebuah bayangan saja. Berkali-kali Rubby berusaha mendekapnya namun ayahnya tak tersentuh bagai udara. Rubby terduduk lemah dan menangis sekencang-kencangnya.
"Ayah menyayangimu Virs. Ayah menyayangimu. Ayah akan selalu bersamamu meskipun kamu tidak bisa melihatnya. Maafkan ayah...." Kata-kata lembut pendekar Chin mengakhiri pertemuannya dengan Rubby. Rohnya mulai terangkat ke langit.
"Ayahhhh! Ayahhhh! Jangan pergi ayahhhh! Aku juga menyayangimu...!" teriak Rubby sambil terduduk tak berdaya.
Rubby terus saja bergumam memanggil ayahnya dalam tangisnya. Belum hilang kesedihannya, roh Rubby sudah tertarik kembali untuk masuk ke dalam raganya. Rubby terhenyak setelah rohnya kembali. Perlahan dia membuka matanya setelah semuanya selesai.
Ratu Ivo masih bermeditasi. Rubby kembali teringat akan ayahnya yang membuat airmatanya kembali menetes. Rubby menangis tanpa suara karena tidak ingin mengganggu konsentrasi ibunya.
Tak lama kemudian, Ratu Ivo pun selesai berkultivasi. Dia terlihat kebingungan mendapati putrinya menangis dengan penampilan yang menyedihkan. Wajah cantiknya terlihat begitu murung dan dari kelopak matanya terus meneteskan bulir bening yang keluar tiada henti.
__ADS_1
"Virs... apa yang membuatmu bersedih seperti ini?" Ratu Ivo berjalan mendekat ke arah Rubby dan mencoba untuk menenangkannya.
"Ayah," jawab Rubby singkat. Dia belum bisa mengeluarkan kata-kata lebih dari itu.
"Ayah? Kenapa dengan ayah?" tanya Ratu Ivo penasaran.
Rubby berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak setelah bertemu dengan ayahnya. Rasa tidak rela berpisah darinya masih membuatnya bersedih. Baginya pertemuan singkat dengan sang ayah belum bisa menebus seluruh kerinduan yang terpendam selama ini.
"Aku bertemu ayah. Dia jahat ibu! Dia sangat jahat!" seru Rubby tangisnya semakin dalam.
Ratu Ivo mengerti apa yang ada di benak Rubby. Sepertinya suaminya menemui Rubby dalam kekuatan spiritual yang dia tinggalkan untuknya. Ratu Ivo segera memeluk Rubby erat untuk menenangkannya.
"Ibu tahu jika kamu sangat merindukan ayah. Ibu juga tidak ingin berpisah dengan ayah. Bahkan jauh sebelum ayahmu tiada." ucapan Ratu Ivo membuat Rubby menghentikan tangisnya sejenak.
"Kalau mau pergi lagi, untuk apa ayah muncul di hadapanku. Harusnya dia nggak boleh pergi lagi." Rubby mulai berhenti menangis.
"Virs... dalam kehidupan ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Kamu pasti juga bisa merasakan jika ayahmu juga tidak ingin berpisah dengan mu. Dahulu ibu juga merasakan hal yang sama. Ibu tidak ingin berpisah dengan kamu dan ayahmu, tetapi jika kita terus bersama saat itu mungkin kita bertiga sudah tidak ada. Percayalah Rubby, ayahmu sangat menyayangimu," ucap Ratu Ivo penuh haru.
"Ibu... bisakah aku bertemu dengan ayah lagi?" tanya Rubby di antara isaknya yang masih tersisa.
"Ibu tidak tahu. Tapi jika kamu menggunakan kekuatan yang dia berikan padamu, pasti ayah akan menyertaimu di sana."
"Maksud ibu? Aku bisa merasakan kehadiran ayah?" Rubby menatap ibunya penuh harap.
"Hmm. Iya. Kamu putri dari ayahmu. Tentu saja jiwa kalian saling berhubungan. Mungkin juga dalam kultivasimu ayahmu juga bisa muncul meskipun itu jarang."
Rubby segera menghapus air matanya. Kini dia memiliki harapan untuk bisa melihat ayahnya lagi. Semangatnya kembali muncul. Rubby akan rajin melatih ilmu yang diberikan oleh ayahnya.
"Aku akan membuat ayah dan ibu bangga. Aku ingin ayah dan ibu melihatku tumbuh menjadi seorang yang membawa cahaya untuk dua alam. Aku berjanji padamu ibu, aku akan menjadi ratu yang tak terkalahkan!" seru Rubby penuh semangat.
"Aku selalu bangga padamu, Putriku. Kamu adalah cahaya yang tak akan pernah padam. Jika tiba saatnya nanti, ibu yakin jika kamu akan membawa banyak perubahan."
****
__ADS_1
Bersambung...