
Sudah kepalang tanggung, gadis itu tetap saja merengek berharap Wu Jin Ming membantunya berdiri.
Namun harapannya harus kandas ketika malah Rubby yang maju ke depan untuk menolongnya.
"Buruan pegang tanganku!" seru Rubby tidak sabar.
"Iya-iya, sabar!" sewot gadis itu.
"Si sabar mati ketabrak kereta kemarin sore!" celetuk Rubby asal.
Pupus sudah harapan gadis itu untuk bisa berpegangan pada Wu Jin Ming. Padahal rencana selanjutnya dia ingin berpura-pura terkilir agar Wu Jin Ming memapahnya, syukur-syukur mau menggendongnya. Semua itu kini tinggal angan-angan saja.
Setelah dia berdiri dengan benar, Rubby menarik tangan Wu Jin Ming dan meninggalkan gadis yang menabraknya tadi tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Sepertinya istriku sekarang mulai posesif, nih?" ledek Wu Jin Ming ketika mereka sudah berada di depan food court yang akan mereka kunjungi.
"Udah dari dulu kali. Kamu aja yang tidak merasa."
Jawaban Rubby membuat Wu Jin Ming tercengang. Dalam hatinya merasa bangga ternyata Rubby benar-benar takut kehilangan dirinya. Senyumnya terus terkembang dan tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum, Sayang? Rasa laparmu tidak membuatmu lemas, tapi malah terlihat bersemangat. Apa sebenarnya kamu tidak lapar?" Rubby bertanya dengan wajah polosnya ketika mereka sudah duduk berhadapan di sebuah meja.
"Aku lapar, tapi aku juga sedang bahagia. Tersenyum kan tidak memerlukan banyak energi. Hanya butuh menarik sudut bibir sedikit saja."
"Benar juga, ya." Rubby mengangguk.
"Eh, tapi bukan karena habis ketabrak buldozer tadi kan, Sayang?" tanya Rubby lagi.
"Apa? Buldozer?" Wu Jin Ming tidak mengerti apa yang dimaksud Rubby.
"Ya, elah pura-pura tidak ingat."
Wu Jin Ming menatap Rubby sambil berpikir.
"Sudah, lupakan! Ayo kita makan!" Rubby menggeser mangkuk dan piring makanan yang disajikan oleh pelayan.
Pesanan datang lumayan cepat, padahal Rubby baru memesannya belum lama saat mereka masuk tadi. Mungkin karena tempatnya belum terlalu ramai dan pegawainya sangat cekatan. Rubby berharap rasanya tidak akan mengecewakan.
Mereka menikmati makanan itu dengan lahap. Meskipun harganya recehan, namun rasanya tidak kalah dengan menu yang ada di restoran. Dalam waktu singkat, makanan itu sudah berpindah ke dalam perut mereka berdua.
"Saatnya belanja!" seru Rubby bersemangat.
Wu Jin Ming menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah lucu Rubby.
__ADS_1
Rubby tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia berjalan sambil berjingkrak seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru. Berjalan berkeliling memilih dan mengambil apa saja yang dia mau.
Wu Jin Ming merasa senang bisa membuat Rubby bergembira dan menikmati hari berbelanjanya meskipun sempat tertunda beberapa saat sebelumnya.
***
Di rumah malam hari usai berbelanja.
Wu Jin Ming dan Rubby selesai membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.
"By!" panggil Wu Jin Ming.
"Hmm." Rubby bersandar di bahu Wu Jin Ming di bawah selimut yang sama.
"Sepertinya kita harus segera melakukan penyatuan jiwa."
Rubby menegakkan tubuhnya dan bangkit dari tidurnya.
"Harus cepet-cepet, ya?" Wajah Rubby menampilkan mimik sedihnya.
Wu Jin Ming ikut terbangun.
"Lebih cepat lebih baik. Dengan adanya kejadian tadi membuatku berpikir untuk segera melakukannya. Takutnya ada pihak-pihak lain yang mengincar kertas mantra itu."
"Aku tahu. Aku bergantung padamu," ucap Rubby pasrah.
"Tapi sebelum kita pergi ke istana langit, sebaiknya kita mempelajari dulu bagian lain dari kertas mantra yang kita dapatkan tadi."
"Hmm." Rubby mengangguk.
"Apa kamu lelah?" tanya Wu Jin Ming.
Rubby tidak menjawab karena dia tahu apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Tidak ada yang salah, siapapun yang memulai lebih dulu. Malam itu, Rubby memulainya dan bertingkah sangat liar.
Biarlah mereka saja yang tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Pagi-pagi sekali, Rubby berdiri di depan cermin dengan tubuh yang segar sehabis mandi. Wu Jin Ming terlihat masih bersembunyi di dalam selimutnya karena hari masih terlalu pagi untuk bersiap-siap kerja. Rubby saja yang terlalu bersemangat karena ingin segera mengenakan baju barunya.
Bak seorang foto model, Rubby bergaya di depan cermin untuk mencoba baju yang dia beli satu persatu. Semalam dia sudah terlalu mengantuk hingga dia rela bangun pagi-pagi untuk mencoba semuanya. Ada beberapa model yang tidak dia sukai, dia menyisihkannya dan berniat untuk memberikannya pada pelayannya.
Saking asyiknya, tangan Rubby menyenggol alat kosmetik miliknya hingga menimbulkan suara yang nyaring.
Suara itu membuat Wu Jin Ming terbangun dan segera bangkit dari tempat tidur karena terkejut.
__ADS_1
"Astaga, Rubby! Apa-apaan ini?!" Wu Jin Ming shok saat melihat kamar yang berantakan.
Baju-baju yang selesai Rubby coba berserakan di lantai dan membuat kamar itu menjadi lautan baju.
"Hihi! Maaf, Sayang. Nanti aku bereskan! Kamu coba sekalian baju punya kamu!" Rubby menunjuk beberapa kantong yang berisi baju milik Wu Jin Ming.
"Hoaamm! Masih ngantuk. Aku mandi dulu!" Wu Jin Ming mengangkat tangannya ke atas dan menggeliat.
"Baiklah! Aku akan memilah baju-baju yang aku beli. Sebagian mau aku berikan pada pelayan saja." Rubby duduk di lantai sambil mengingat-ingat baju yang mana saja yang ingin dia pakai.
"Terserah kamu saja!" Wu Jin Ming menggaruk kepalanya masa bodoh dengan apa yang akan dilakukan Rubby.
Menghadapi wanita yang sedang memilih terlalu lama hanya akan membuatnya pusing. Lebih baik dia menyingkir dan membiarkan Rubby melakukan apa yang dia suka. Akan lebih membingungkan lagi jika dia sampai meminta pendapatnya.
Saat Wu Jin Ming keluar dari dalam kamar mandi, Rubby sudah membereskan kekacauan yang dia buat sebelumnya.
Wu Jin Ming tersenyum melihatnya.
"Giliran kamu mencoba baju milikmu, Sayang!" Rubby berjalan menghampiri Wu Jin Ming dan membantunya untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Cup!
Diam-diam Wu Jin Ming mencuri cium pipi Rubby karena merasa gemas.
"Ihh, nyium nggak bilang-bilang!" omel Rubby.
"Takut kamu minta lebih, bisa-bisa kita nggak jadi kerja kalau itu sampai terjadi."
"Mana ada!" Rubby mendengus tak terima.
"Aku lapar!" ucap Wu Jin Ming mengalihkan topik pembicaraan.
Itu juga menjadi jurus untuk menghindari keinginan Rubby yang memintanya mencoba baju-baju miliknya.
"Ya, sudah. Kita turun untuk sarapan. Tapi kamu harus mencoba baju-baju itu nanti malam."
Wu Jin Ming menghembuskan napas kasar. Setidaknya dia bisa lolos dari Rubby pagi ini. Untuk nanti malam, dia bisa memikirkan alasan yang baru untuk menghindar dari mencoba baju-baju itu.
Mereka juga harus segera mempelajari lanjutan kertas mantra pengaturan jiwa yang baru mereka rebut dari Sekte Air Api Suci.
****
Bersambung...
__ADS_1